
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 97 ( Melepas Novia )
Pukul 12 siang bel makan siang telah berbunyi menandakan sudah waktunya seluruh karyawan untuk menghentikan sejenak kegiatannya karena waktunya makan siang dan beristirahat.
Dengan malas Diki keluar ruangannya menuju ruang makan yang disediakan perusahaan. Sudah beberapa hari dia tak selera makan apalagi harus makan satu ruangan dengan Candra otaknya selalu berfikir jelek tentang Candra dan Novia
Diki datang sedikit terlambat karena dia mampir ke toilet. Memasuki ruang makan dari kejauhan dia melihat Candra sedang makan siang bersama seorang laki laki yang tak terlihat itu siapa karena mereka membelakangi pintu masuk.
Mengingat perkataan Nuri hatinya langsung bergolak. Andai dia punya banyak keberanian ingin rasanya dia memukul Candra tepat di wajahnya agar tidak bisa lagi menggoda Novia.
Setiap harinya dia selalu membayangkan keakraban Novia dan Candra apalagi mereka satu departement dan posisi mereka atasan dan bawahan pastinya pertemuan mereka akan sering. Terkadang fikiran kotor sedikit melintas.
Rasanya menyesal sekali Diki membiarkan Novia bekerja, andaikan dia tahu dari awal pastilah akan menyuruh Novia mencari pekerjaan baru.
Sebab seandainya Novia tidak bekerja dia akan kewalahan menanggung kebutuhan rumah tangganya. Bisa bisa ibunya marah karena jatahnya dikurangi.
Masuk ke ruang makan dia bingung hampir semua kursi terisi. Hanya kursi di sebelah kiri Candra yang masih kosong. Mau tak mau dia harus duduk di sebelah Candra.
Sebenarnya dulu mereka sering duduk satu meja bahkan bersebelahan, entah sejak kapan Candra seperti menghindar walaupun Diki memberi ruang padanya.
Kini Diki sudah mendapat jawaban mengapa Candra tak mau duduk di dekatnya , ternyata Candra menyukai istrinya.
Setelah mengambil jatah makan siang tanpa permisi dan basa basi Diki langsung duduk di sebelah Candra, duduk dengan kasar hingga menarik perhatian Candra yang sedang makan untuk melihat ke arahnya.
Mata mereka langsung bersitatap " Dasar laki laki mesum pebinor " maki Diki dalam hati.
Tentu saja Diki hanya berani bicara dalam hati, karena dia sadar posisi. Di perusahaan ini posisi Candra lebih tinggi darinya bahkan keluarga Candra memiliki saham di sini.
Cukup mudah bagi Candra mendepaknya andai dia berani macam macam.
Candra yang melihat Diki duduk disampingnya tak memberi komentar dia langsung melanjutkan makan siangnya.
" Jadi kapan mau kesana lagi? "
Terdengar Candra berbicara dengan orang disebelah kanannya. Diki tak bisa melihat orang yang diajak bicara Candra karena posisi Diki di sebelah kiri Candra.
__ADS_1
Tadi Diki tak bisa melihat orang yang berada di sebelah kanan Candra karena ketika dia datang posisi duduk membelakanginya. Dan setelah duduk posisi Candra berada di tengah mereka.
" Nanti lah tunggu kabar dari Teh Manda "
Degh
" Manda, kenapa mereka menyebut Manda emang siapa yang di ajak ngobrol si Candra ? " ucap Diki dalam hati.
" Nanti kabarin saya saja ya, kalau kita rame rame sepertinya seru "
Karena penasaran Diki pura pura berdiri mengambil air minum di meja seberang, agar dia bisa melihat jelas laki laki tersebut.
Dengan tergesa Diki mengambil air mineralnya kemudian membalikan badannya langsung menatap ke arah laki laki yang bersama Candra.
" Haahhh Adrian, kok mereka bisa akrab gitu? " pertanyaan itu muncul begitu saja.
" Kenapa mereka bisa akrab padahal aku lihat dia juga akrab dan dekat dengan Novia. Kalau misal iya mereka memperebutkan Novia dan duduk bersama berarti sekarang kami duduk bertiga yang artinya sama sama mengejar Novia. Hahaaa lucu sekali " Diki terus saja bermonolog dalam hati.
" Tapi kalian tetap kalah dariku karena Novia masih istriku bahkan kalian akan menerima bekasku. Kalian boleh lebih ganteng dan lebih kaya tapi tetap aku yang menang hahaaa "
Brakk
Untung saja Candra sigap dia segera menggeser kursinya mundur sehingga tumpahan air tidak mengenai pakaiannya.
Kejadian tersebut mengundang perhatian orang sekelilingnya. Mereka melihat ke arah Diki dengan tatapan heran.
Seorang OB langsung berlari membawa lap untuk membersihkan meja. Tanpa mengucap maaf Diki langsung pergi. OB tersebut hanya melongo.
" Kenapa dia? "
" Orang aneh, bukannya minta maaf "
" Berani beraninya dia sama Pak Candra, cari masalah saja "
Ada beberapa orang mulai berbisik bisik ketika Diki pergi begitu saja.
Candra dan Adrian saling berpandangan kemudian tersenyum simpul. Tanpa mereka bicara mereka berdua tahu Diki cemburu.
__ADS_1
" Huhhh bikin gak selera makan saja, pantas saja aku kalah telak ternyata sainganku berat. Sudahlah sepertinya aku kalah karena aku sudah menjatuhkan talak dan sidang ketiga tinggal beberapa hari lagi.
Sebaiknya aku tak datang karena percuma aku kesana. Mending aku ikuti mau Amah untuk menerima Nuri. Dia juga lumayan berada, masih muda single pula. Selamat tinggal Novia, aku pun bisa mencari penggantimu "
Sambil berjalan pulang kembali ke ruangannya Diki terus berbicara dalam hatinya. Kini keputusannya sudah bulat untuk berpisah dengan Novia.
Karena jam istirahat masih tersisa Diki membelokan arahnya ke mushola, hal yang sudah lama tidak dikerjakannya.
Tanpa disangka dia berpapasan dengan Novia yang hendak berwudhu. Calon mantan istrinya hanya memasang wajah datar. Berbeda dengan Diki dia langsung membuang wajahnya.
Novia pun merasa heran tapi dia tak perduli dan gak mau ambil pusing. Ketika mereka berselisih Diki bergumam " Dasar nakal " dan masih terdengar Novia.
Novia pun kesal dan membalasnya sedikit keras dan pasti terdengar Diki " Dasar pengecut "
Karena gumaman mereka terdengar keduanya mendongak saling menatap dengan wajah dipenuhi amarah setelah sekian detik mereka sama sama membuang wajah mereka ke arah berbeda.
Beruntung jam istirahat hampir habis banyak karyawan yang sudah kembali ke tempatnya. Sehingga tidak ada yang melihat adegan konyol mereka.
Diki menyelesaikan sholatnya dengan cepat setelah salam tanpa berdo'a terlebih dahulu dia langsung berdiri. Sekilas dia melihat Novia di paling belakang yang masih khusuk dengan sholatnya.
Diki langsung keluar dari mesjid menggunakan sepatunya dan bergegas kembali ke ruangannya. Dalam hatinya sudah berjanji akan melepas Novia dan membuka hati pada Nuri.
Dia yakin Amah dan keluarganya akan setuju, tinggal dia mendekatkan diri dengan Nuri. Dia pun berencana menghubungi Nuri untuk mengajaknya jalan jalan.
Duduk di kursinya Diki membuka ponselnya dan mengirimi pesan.
[ Nur, nanti malam ada waktu gak? Aa mau ngajak kamu jalan ] send
Semenit, dua menit..Ting...ada pesan masuk dan ternyata dari Nuri.
[ Boleh A' nanti Aa jemput aku ke rumah saja atau aku ke rumah A' Diki? ]
" Lebih baik aku ke rumah Nuri sajalah agar terlihat keseriusanku. Semoga saja nanti Novia atau keluarganya melihatku bersama Nuri biar mereka tahu aku juga sudah move on " gumamnya.
[ Aa saja yang jemput kamu ] send
[ Baik A' nanti malam aku tunggu ya ]
__ADS_1
Setelah selesai berbalas pesan dengan Nuri, Diki beralih melihat foto kedua anaknya di ponselnya. Itu pun satu satunya foto yang ada karena ponsel Diki lebih banyak berisi foto anak cantika dan anak Robi. Miris kan? Ckckk
" Nak, kalian bukan hanya akan segera mendapat ayah baru, tapi kalian juga akan segera mendapat Ibu baru. Semoga kalian suka ya " ucap Diki.