
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 143 ( Pilihan Adrian )
Danu dan Adrian berboncengan, ada dua rumah yang saat ini di tuju Danu.
" Belok kanan dulu A', kita lihat rumah punya Pak Wirya. Paman dengar rumahnya mau dijual murah karena sudah lama gak di isi padahal rumahnya bagus dan luas " titah Danu pada Adrian.
" Iya Paman " sahut Adrian, diambilnya belokan ke kanan sesuai titah Danu karena rumah yang dituju ada di seberang jalan.
Adrian dan Danu sudah tiba di depan rumah tersebut. Dari luar rumah tersebut nampak bagus walau sedikit tak terurus mungkin karena memang sudah lama tak di isi.
Rumah dua tingkat dengan cat putih dan termasuk bangunan baru, pagar pun tak terlalu tinggi. Halaman depan luas sebagian di tanami rumput dan ada halaman menggunakan batu koral bisa digunakan untuk parkir 2 mobil dan 3 motor. Cukup luas menurut Adrian.
Adrian berdiri di luar pintu pagar dan melihat ke arah dalam. Dilihatnya ada perempuan mengintip mereka dari balik gorden.
Adrian menganggukan kepalanya namun wanita tersebut tak membalasnya, dia malah menutup kembali gorden tersebut. Adrian merasa heran dengan tingkah wanita tersebut tapi dia abaikan saja.
Danu membuka pintu pagar dan masuk kedalam " Ayo, simpan saja motornya di luar gak apa aman kok " titahnya pada Adrian.
Danu berdiri bersama Adrian sambil melihat sekeliling, terselip sedikit rasa heran kenapa perempuan tadi tidak mempersilahkan mereka masuk. Danu pun hanya berdiri tidak memanggil pemilik rumah.
" Paman kok kita ngga masuk " tanya Adrian.
Tiittt Tiiitt
Suara klakson motor terdengar nyaring dari luar.
" Ini Paman nunggu kunci dari si Ujang, tadi sudah Paman Wa tapi malah kita duluan yang datang " jawabnya.
" Mang Danu nih kuncinya, kalau mau lihat lihat sok aza. Aku tunggu di luar ya " jawab lelaki yang di panggil Ujang tersebut.
" Eh kamu teh gak jelas mau jualin rumah teh, giliran komisi mata kamu langsung ijo " ucap Danu menggerutu.
" Heheee kalau soal duit mah gak usah disebut. Tapi kalau masuk ogah ah "
Adrian makin bingung dengan percakapan kedua laki laki tersebut. Kenapa Ujang tak mau masuk ke dalam padahal dia kan sebagai calo istilahnya yang jadi penghubung dengan pemilik rumah tersebut tapi tak mau melayani calon pembeli, kan aneh pikir Adrian.
Satu lagi keanehan yang dirasa Adrian, kenapa kunci ada di Ujang yang membuat mereka menunggu padahal bukankah tadi Adrian melihat ada seorang wanita yang mengintipnya dari dalam lewat gorden jendela tersebut. Dia sangat yakin dengan penglihatannya tadi.
Danu mengambil kunci dari Ujang yang berdiri diluar karena keukeuh tak mau masuk. Lalu Danu berjalan ke arah Adrian " Ayo kuncinya sudah ada kita lihat lihat ke dalam " ajaknya.
Adrian termenung dan melihat ke arah gorden, kembali di lihatnya ada wanita yang mengintip " Tunggu, rumah ini gak ada penghuninya kan? makanya kita nunggu Ujang bawa kunci "
Seru Adrian sambil mencengkram tangan Danu erat " Iya lah, kalau ada orang dari tadi Paman panggil orang rumahnya gak usah nunggu di Ujang. Ini kan udah lama kosong. Emang kenapa? " tanya Danu menatap Adrian.
Glek
Adrian menelan ludahnya kasar lalu beristighfar " Astagfirullah, Astagfirullah, Astagfirullah "
Tanpa melepas cengkraman tangannya Adrian langsung menarik Danu dari halaman rumah itu lalu keluar dari pintu pagar " Saya gak mau beli rumah ini Paman "
__ADS_1
Sampai diluar Adrian memejamkan matanya. " Maaf Paman, Kang Ujang sepertinya saya gak minat sama rumahnya "
" Wah kenapa kan belum dilihat dalamnya " jawab Ujang dengan wajah kecewa.
" Ini saya kasih uang rokok saja buat Kang Ujang hitung hitung uang bensin nganterin kunci " Adrian menyerahkan 2 lembar uang merah pada Ujang.
Wajah Ujang langsung berbinar " Wah banyak sekali, ini sih bisa buat bensin 2 minggu hehee. Makasih ya "
Danu hanya melongo melihat Adrian menyerahkan uang pada Ujang " Enak banget kamu Jang cuma anterin kunci dapat dua ratus ribu "
Ujang nyengir mendengar perkataan Danu " Ini namanya rezeki Mang "
" Paman kita lihat rumah yang satu lagi, nanti aku cerita di jalan " ucap Adrian berbisik di telinga Danu.
" Ya sudah ayo " mereka memutar arah kembali, sesuai informasi Danu ada dua rumah yang akan di jual dan Adrian mengajak untuk melihat satu rumah lagi.
" Kamu kenapa A' ? " tanya Danu karena melihat wajah Adrian pucat.
Adrian menghentikan laju motornya di pinggir jalan " Tadi aku lihat ada wanita membuka gorden pas baru datang dan pas Paman ngajak aku ke dalam. Aku baru ngeuh bukannya di dalam gak ada orang, tapi aku yakin ada wanita disana "
" Haahhh yang benar kamu A'? pantesan si Ujang gak mau masuk sepertinya dia sudah tahu rumah itu berhantu. Ah sial*n untung saja kamu tadi lihat. Pantas saja rumah itu di bandrol murah. Maafin Paman ya, Paman beneran gak tahu kan udah lama gak disini " Danu merasa tak enak pada Adrian.
" Gak apa Paman, yang penting rumah yang nanti dilihat aman dari hal hal berbau mistis. Mahal dikit tak apalah, tapi kalau bisa antar ke rumah Pak Ustadz dulu lah. Ini pundak kok berasa berat " ujar Adrian sambil menggerak gerakkan kepalanya.
" Wah sepertinya penunggu disana ngikut, tahu saja sama orang ganteng. Ayo ke rumah Pak Ustadz dulu bahaya di rumah banyak anak anak " jawab Danu.
Adrian kembali melajukan motornya mengikuti arahan Danu menuju rumah Pak Ustadz.
Sampai di rumah Pak Ustadz mereka langsung turun dan mengetuk pintu, beruntung yang membuka langsung Pak Ustadz yang mereka cari.
" Assalammu Alaikum "
" Waalaikum Salam " jawab Pak Ustadz.
" Silahkan masuk Pak Danu, lama gak bertemu datang kesini langsung bonceng tiga " ujar Pak Ustadz.
Adrian dan Danu langsung berpandangan, mereka berbarengan melihat ke arah belakang. Ya kali si Ujang ngikutin mereka. Tapi tak ada, hanya mereka berdua yang datang. Mereka berdua pun langsung bergidik.
" Tak apa, dia suka sama si Aa nya ganteng katanya hehee " ujar Pak Ustadz.
Adrian bukannya senang mendengar pujian dari Pak Ustadz, dia malah merinding ngeri.
" Gak apa A'. Sekarang Aa sama Pak Danu sholat Ashar dulu ya nanti saya kasih air do'a untuk diminum " ujarnya sambil tersenyum.
" I-iya Pak Ustadz " mereka berdua bergegas ke mushola di samping rumah untuk berwudhu kemudian sholat berjamaah bersama Pak Ustadz. Kebetulan sekali kehadiran mereka bertepatan dengan adzan Ashar.
Selesai sholat mereka kembali duduk di teras rumah Pak Ustadz. Adrian dan Danu meminum air yang disediakan Pak Ustadz.
" Udah aman A' dia udah pulang. Untung tadi Aa gak masuk ke dalam. Alhamdulillah Allah masih melindungi "
" Alhamdulillah, makasih Pak Ustadz saya sekarang tenang "
__ADS_1
Lalu mereka pun melanjutkan obrolan, Danu memperkenalkan Adrian pada Pak Ustadz dan bercerita kalau Adrian ingin membeli rumah untuk hadiah perkawinan.
Pak Ustadz pun memberi informasi bahwa rumah saudaranya pun mau dijual bahkan jarak rumahnya dengan Danu hanya terhalang 5 rumah.
" Oalah jauh jauh nyari keluar rupanya masih satu RT mau dijual. Mana ngalamin uka uka dulu " ucap Danu sambil tertawa.
" Biasalah memang harus ada drama dulu " timpal Pak Ustad.
" Kalau rumah yang ini dijamin A' bangunannya bukan bangunan baru tapi kokoh. Ada kolam ikannya juga di belakang udah gitu Paman jagainnya gak terlalu jauh " ujar Danu sambil mengangkat dua ibu jarinya.
" Ya sudah kita lihat sekarang saja, biar gak kesorean " ajak Adrian.
Mereka langsung bergegas ke rumah saudara Pak Ustadz sekalian mereka pulang.
Pertama kali melihat Adrian langsung jatuh cinta karena benar benar seperti rumah impiannya dengan halaman rumah penuh bunga dan terdapat kolam ikan hias di depannya.
Sedangkan di belakang ada kolam ikan yang bisa dipakai memancing ditambah ada lapang kecil yang bisa digunakan untuk badminton.
" Rumah ini masih di isi karena memang menunggu pembeli. Saya pastikan rumah ini bersih tak ada hantu seperti yang tadi hahaa " goda Pak Ustad pada Adrian.
" Hahaaa " Adrian dan Danu tertawa bersamaan.
" Ya sudah saya cocok dengan rumah ini, lagipula ini dekat dengan rumah Paman jadi lebih mudah mengontrolnya " ucap Adrian.
Akhirnya mereka deal dengan harga yang sudah di tetapkan. Adrian pun berjanji akan membayar besok sekalian mengurusnya di notaris. Setelah sepakat Adrian pamit untuk pulang.
" A' Sebaiknya langsung pulang jangan sampai pulang pas gelap. Kecuali Aa mau nginap disini " Pak Ustadz memberi saran pada Adrian.
" Baik Pak Ustadz saya paham, terima kasih untuk semua bantuannya "
Mereka pun bersalaman dan berpisah, Adrian dan Danu langsung pulang karena Novia sudah menelepon menanyakan keberadaan mereka.
Sampai di halaman rumah Adrian disambut Novia tanpa senyum.
" Nah ini enaknya punya istri pulang kelayapan dimanyunin " bisik Danu pada Adrian. Mereka berdua pun terkikik.
" Happy banget darimana saja sih? kok lama banget. Dari pemancingan ya? terus kalian minum kopi disana " cecar Novia karena melihat Danu dan Adrian tertawa terkikik berdua.
Danu hanya melongo melihat Novia yang bicara tak henti, sedangkan Adrian tersenyum karena tahu Novia takut Adrian mampir di warung.
" Gak ada kok, Yang kita pulang sekarang ya. Aku ada telepon penting dari resto. Paling nanti saja kita jalan jalan sama anak anak pake motor baru kalau sudah pulang di rumah "
Adrian berbohong, karena kalau bercerita Novia pasti akan bertanya soal rumah yang akan dibelinya.
" Sebenarnya kasihan anak anak aku sudah janji mau ajak jalan jalan, tapi gak apalah. Aku juga gak mau kemalaman di jalan " tambah Novia.
Akhirnya Novia dan Adrian pulang setelah pamit pada semua. Mereka langsung menaiki motornya.
Keluar dari gapura desa Adrian melihat sosok wanita tadi berdiri memandanginya dengan tatapan tajam.
Tanpa diliriknya Adrian langsung tancap gas dan tak memalingkan muka dia hanya fokus melihat jalanan. Tangan Novia menelusup ke pinggangnya lalu tubuh Novia pun merapat.
__ADS_1
Kali ini Adrian tidak merasa senang dengan perlakuan Novia. Dia hanya terdiam dan membiarkannya.
" Hati hati " samar terdengar suara di telinga Adrian membuat bulu kuduk Adrian langsung meremang.