
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 49 ( Bertemu Rival )
Pov Diki
Aneh aneh saja Amah ini pagi pagi udah bikin ulah sampe disiram tetangga, mau ketawa takut dosa. Aku dan bapak hanya bisa menahan tawa agar amah tidak bertambah marah.
Kami sudah malas ribut sama amah, orangnya tak bisa dinasehati selalu merasa paling benar.
Segera kukeluarkan motor dari rumah, bergegas pergi ke pabrik. Jangan sampai aku kesiangan, hari ini akhir bulan banyak sekali pekerjaan yang harus dibereskan.
Tiba di pabrik aku langsung memarkir motorku, sebenarnya aku berharap bertemu Novia ingin mendapat penjelasan soal gosip yang disampaikan Bu Teti.
Aku tidak percaya gosip itu yang ku tahu Novia tidak pernah macam macam. Namun melihat perubahannya aku jadi sedikit curiga.
Pantas saja dia menghindar dariku ternyata dia sudah memiliki penggantiku. Bahkan setiap aku menelepon seakan diabaikan pesanku pun tak pernah di balasnya.
Andaikan itu benar aku gak bisa terima perlakuannya, awas saja kamu Novia kamu pasti menyesal kalau berani bermain curang dibelakangku.
Pagi pagi seperti ini biasanya aku masih dimeja belum berkeliling ke area produksi. Aku selalu memeriksa target hasil kerja anak anak terlebih dahulu.
" Pak Diki hari ini ada tim audit datang berkeliling lapangan, mohon dipersiapkan ya terutama untuk kebersihan dan kerapihannya " tiba tiba atasanku Pak Hendra datang menghampiriku.
" Baik pak, mau kapan pun selalu siap. Kondisi lapangan selalu rapih "
" Baiklah saya harap jangan sampai ada complain atau keluhan ya "
" Baik pak " aku menganggukan kepalaku pertanda faham akan permintaannya. Untung saja aku tidak kesiangan bisa malu aku sama Pak Hendra.
Kutemani atasanku berkeliling sebentar ke lapangan untuk melihat persiapan produksi. Setelah dirasa cukup Pak Hendra pamit kembali ke ruangannya.
Ada audit akan datang, apakah orang itu yang digosipkan bersama Novia. Aku jadi penasaran seperti apa sih orangnya?
Aku tidak mungkin kalah ganteng, jabatanku pun cukup bagus. Apa karena dia memakai mobil sehingga Novia berpaling? bisa saja itu mobil kreditan belum lunas atau mungkin milik orang tuanya.
Tidak tidak aku tak boleh berprasangka buruk dulu. Nanti aku coba pancing orang itu supaya tahu ada hubungan apa mereka.
Bukannya aku ingin Novia kembali, sebaiknya aku bersabar dan mencari tahu terlebih dahulu supaya tidak menambah masalah.
** Pukul 13. 15
__ADS_1
" Pak ada tamu di ruang produksi menunggu bapak " salah satu karyawan mendatangiku di meja.
" Tamu dari mana ya? "
" Sepertinya dari office pak, orangnya kelihatan rapih "
" Baiklah saya sebentar lagi kesana, makasih ya "
Sepertinya ini saatnya aku bertemu dengan orang yang kutunggu dan aku benar benar penasaran seperti apa sih rupanya.
Aku segera beranjak dari kursi dan merapihkan pakaianku. Jangan sampai aku kalah saing dengan rivalku ini.
Dari kejauhan aku lihat orangnya lumayan juga, baiklah aku tak boleh kelihatan minder atau takut nanti dia bisa besar kepala.
" Selamat siang pak " Aku menghampiri tamuku dan mengajaknya bersalaman.
" Selamat siang, saya Adrian. Ini dengan Pak Diki? "
" Iya pak saya Diki, suami Novia " dia menautkan alisnya ketika aku menyebut nama istriku. Biar kena mental dia, difikirnya aku bakal kalah saing gitu. No way.
" Oh " dia hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum miring seperti meremehkanku. Apa maksud senyumnya itu, seperti menyepelekanku.
Kulihat sekeliling banyak karyawan yang memperhatikan kami, karena disini bagian produksi walaupun bekerja tetap saja mereka kepo untuk melihat dan mencuri dengar . Biar saja mereka melihat supaya mereka tahu kalau aku berani menghadapi rivalku.
" Sudah lama pak bekerja jadi auditor? " disela sela obrolan kami aku berusaha mencoba mengakrabkan diri siapa tahu bisa cari informasi.
" Sedari saya lulus kuliah saya langsung jadi auditor " jawabnya tanpa panjang lebar.
Bahkan dia menjawab tanpa melihatku, sombong sekali huhhhh.
" Bapak asli orang sini? " lanjutku.
" Bukan, tapi saya lama di kota ini. Orang tua saya lama dinas di sini ".
" Kalau saya orang sini pak, istri saya juga bekerja disini dibagian gudang namanya Novia Nabila " aku mencoba untuk memancingnya.
" Oh.. "
Haahhhh cuma itu saja? kok dia tidak terkejut ya. Apa dia sudah tau aku suami Novia.
" Sepertinya cukup pak saya melihat proses kerja disini. Nanti kalau saya ada pertanyaan saya akan mencari bapa ".
__ADS_1
Mungkin dia mau menghindar dariku, atau mungkin juga dia takut hahaaa. Diki di lawan.
" Baiklah pak kalau begitu, kalau ada yang kurang jelas bapak tinggal cari saya " aku mencoba tersenyum dan menahan rasa geram kala ingat ucapan Bu Teti kalau laki laki ini yang bersama Novia.
Walau bagaimana pun ini tempat bekerja harus bisa menahan emosi, jangan sampai terjadi keributan aku bisa rugi sendiri nantinya.
" Baiklah pak Diki, saya permisi kembali ke ruangan saya. Terima kasih untuk waktunya ".
" Sama sama pak "
Kami pun berjabat tangan kembali, kuantar dia sampai pintu keluar.
Dengan obrolan kami tadi aku melihat dia terlihat biasa saja. Atau mungkin dia sudah tahu aku suami Novia jadi dia tidak kaget.
Kalau misal dia sudah tahu, berarti dia laki laki tak tahu malu cocok disebut pebinor.
Akhirnya aku bisa melihat laki laki yang jalan dengan Novia seperti apa. Ah sudahlah biarkan saja semoga saja dia tahu diri dan menjauhi Novia.
" Pak Diki, nah itu orangnya yang naik mobil sama Bu Novia " bu Teti tiba tiba ada dibelakangku.
" Cuma salah faham aza bu Teti, tenang saja sudah beres. Dia bukan tandingan saya " aku berkata sambil menjentikan jariku.
" Masa sih pak, kalau saya lihat dia lebih ganteng dan gagah dari bapak malah punya mobil lagi. Kalau saya jadi Bu Novia pasti saya pilih bapak tadi "
Kurang ajar Bu Teti ini, ngelunjak beraninya dia ngebandingin aku. Langsung kutatap matanya tajam.
" Maksud Bu Teti apa? asal Bu Teti tau ya kalau saya pengen mobil juga bisa beli. Saya hanya gak mau pamer, saya mau terlihat sederhana.
Lagipula kalau dia punya mobil emang ibu yakin kalau itu punya dia?
Jangan jangan punya orang tuanya, atau mobilnya kredit belum lunas. Bisa saja kan?" aku sedikit membentaknya.
Bu Teti terlihat kaget karena bentakanku. Dia sampai terperanjat.
" Maaf pak bukan gitu, saya cuma bercanda heheee " ucapnya sambil cengengesan.
" Lain kali kalau ngomong hati hati ya!"
" Iya pak maaf, saya permisi dulu mau kerja lagi bebersih di belakang "
Bu Teti pergi setengah berlari sambil membawa peralatan perangnya sapu dan pengki.
__ADS_1
Huuhhh baru juga jadi cleaning service sudah banyak omong. Ngomong sembarangan di depanku.