arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Nasib Nasi Kotak


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami


Bab 107 ( Nasib Nasi Kotak )


Bu Murni lari secepatnya walau hanya memakai sandal sebelah saja. Sementara Ayu menyusul dari belakang.


Mereka buru buru masuk kedalam rumah kemudian mengunci pintunya. Wajah mereka terlihat ketakutan dengan nafas tak beraturan.


" Sepertinya si Euis gak ngejar kita yah Yu? " setelah agak tenang Bu Murni merebahkan badannya di sofa.


Ayu duduk di kursi sebelahnya dengan nafas masih memburu " Nggak Mah, aman kayaknya "


" Hiks hiks "


Ayu melihat ke arah suara ternyata mertuanya sedang menangis " Mah kenapa, jangan nangis lah lagian Ceu Euis enggak ngejar kita ".


" huaaa huaaaa "


Bukannya berhenti tangis Bu Murni malah makin menjadi membuat Ayu kebingungan.


" Mah udah dong, nangisnya kok gitu amat nanti dikira orang yang lewat Amah di apain lagi " menantunya itu mulai panik sampai sampai dia berdiri melihat ke arah luar lewat kaca jendela.


Dia takut dikira menganiaya mertuanya padahal yang ada dia dianiaya mertuanya itu. Dia gak pernah menganiaya mertuanya kalau menipu sering hehee.


Diki yang sedang berisitirahat di dalam kamar langsung keluar karena terganggu tangisan ibunya.


" Loh Amah kenapa Yu? bukannya tadi mau bagiin nasi kotak ya. Kok malah nangis sih "


" Huaaa huaaa " tambah keras saja suara Bu Murni. Diki yang kebingungan berniat menelepon Cantika dan Robi. Tanpa menunggu lama panggilan langsung tersambung.


[ Tik, kamu pulang dulu lah, ini Amah menangis ]


[ Kok nangis sih kan tadi bilangnya mau nungguin nasi kotak datang. Emang belum datang ya? padahal dari cateringnya udah konfirmasi ke aku nasinya sudah diterima ]


[ Nasinya tadi ada udah aku lihat, tapi gak tahu kenapa Amah nangis ]


[ Tapi disini kan lagi repot, gimana sih ]


[ Salah satu dari kalian aza yang pulang, aku bingung nih cara nenangin Amah ]


[ Ya sudah aku tanya Robi siapa yang mau kesana ]


[ Ok ]


Sambungan telepon langsung ditutup, Diki langsung duduk di dekat ibunya.


" Udah Mah bentar lagi Cantika kesini, Amah jangan nangis terus malu sama tetangga udah tahu kita hidup di gang. Gimana sih? mana nangisnya sampai kejer gitu Ckckk "


" Hiks hiks "


Kini suara tangisnya tidak terlalu kuat mungkin Bu Murni lelah, tapi dia masih terisak. Matanya melihat ke langi langit plafon rumahnya. Sepertinya perasaannya begitu tersakiti.

__ADS_1


" Yu gimana kejadian sebenarnya? " tanya Diki pada Ayu yang sedari tadi tidak mengeluarkan suaranya.


" Mmhhhh "


Brrmmmm bbrrmmm


Ayu belum mulai bercerita di luar sudah terdengar suara motor. Ternyata Cantika datang menggunakan motor Robi karena terburu buru.


" Amah kenapa, kok nangis sih? " kali ini Cantika yamg bertanya. Dia menjadi khawatir melihat ibunya melamun dengan pandangan kosong.


" Huaaa huuaaa "


Diki langsung membuang wajahnya, dia merasa kesal melihat Ibunya yang terlalu mendramatisir. Dulu kalau ibunya menangis seperti ini biasanya ada keinginannya yang tidak dituruti. Maka dia akan berdrama mencari perhatian.


Jadi Diki memutuskan lebih baik dia pergi dan kembali ke kamarnya. Melihat Diki pergi Bu Murni langsung berteriak.


" Diki kamu mau kemana bukannya menghibur orang tua ini malah pergi, kamu sudah gak peduli sama Amah "


Walaupun kesal Diki membalikan badannya menghadap ibunya " Lagian Amah aneh dari tadi di tanya kenapa eh malah nangis gak jelas. Bikin telingaku panas saja "


Ayu dan Cantika saling berpandangan kemudian mereka tersenyum samar. Mereka sudah tau watak Bu Murni tapi kadang sudah malas untuk menegur.


" Amah lagi kesel kalian ngerti gak sih "


" Nggak " anak dan menantunya kompak menjawab membuat Bu Murni geram dan kembali menangis.


" Udah ah Mah malah balik nangis lagi mending aku ke kamar saja lah, udah tua kayak anak kecil saja " gerutu Diki.


" Loh kok bisa di keroyok? " tanya Cantika kaget.


" Kamu kayak gak tahu Amah paling Amah duluan yang bikin gara gara. Iya kan? " Timpal Diki.


" Gak kok Amah udah berusaha sabar nahan emosi tapi Ibu- Ibu itu aza yang bar bar " belanya lagi


" Amah juga kesel si Ayu bukan bantuin Mamah malah melongo kayak orang bego giliran lari malah ikut lari " mendengar cerita ibunya Cantika langsung menatap tajam Ayu.


Ayu langsung gelagapan " Bu-bukan gitu Mah, lagian tadi salah Amah ngelempar sandal ke Ceu Euis "


" Maksudnya gimana Yu? " tanya Diki penasaran.


" Iya tadi ibu-ibu ngolok Amah karena dari minggu kemarin udah gembar gembur mau ngadain selamatan undang Pak Ustadz sama anak anak yatim, eh taunya gak jadi cuma bagiin nasi kotak aza "


Mendengar penjelasan Ayu, Cantika merasa bersalah karena batal mengadakan acara pengajian. Tapi pilihan itu harus di ambil karena dananya tidak mencukupi.


Andaikan Ibunya tidak gembar gembor terlebih dahulu hal ini pasti tidak akan terjadi.


" Bukan aku gak mau ngadain selamatan tapi dananya gak ada. Masa mau dipaksain. Lagian kalau ada duit mending aku beliin kalung kayak kamu Yu. Benar gak A' " ucap Cantika sambil mengedipkan matanya.


" Iya bener " jawabnya singkat.


Ayu yang merasa disindir langsung gelisah, entah kenapa sedari tadi Cantika terus membicarakan kalung membuat Ayu jadi merasa bersalah.

__ADS_1


" Terus itu gimana soal sandal yang kamu ceritain tadi? " lanjut Diki.


" Amah ribut sama duo Y, terus Amah mau lempar Ceu Yati pake sandal tapi dia ngelak eh malah kena Ceu Euis yang berdiri di belakangnya. Ya marahlah, dia mau ngejar Amah. Untung Amah lari, aku juga takut jadi ikut lari "


" Mmmhhhh Amah juga main lempar lempar saja gimana sih? pantes saja Ceu Euis marah. Kalau Amah kena bisa di smackdown mau? " ucap Diki sambil menakuti Ibunya.


" Eng-enggak lah, makanya tadi Amah lari " sahut Bu Murni yang sedari tadi hanya diam menyimak.


" Makanya Mah lain kali kalau belum pasti gak usahlah pamer pamer dulu, kalau udah gini kan jadi malu sendiri " ujar Diki.


" Sok nasehatin orang tua, macam bener aza kamu " jawab Bu Murni.


" Amah kalau dinasehati susah suka mau maunya sendiri, kalau gitu tanggung aza akibatnya " Diki membuang wajahnya karena kecewa pada Ibunya.


" Ini semua kan gara gara Tika yang ga jadi selamatan jadi aza Amah malu hiks hiks " Bu Murni terus saja berkilah dan tak merasa bersalah.


" Iya udah aku minta maaf ini kan udah tanggung terjadi, yang pasti harus jadi pelajaran buat ke depannya. Amah gak usah lagi pamer pamer segala kan jadi malu sendiri " balas Cantika, dia lebih baik mengalah daripada meladeni ibunya gak akan pernah ada beresnya.


" Kok jadi Amah yang harus belajar harusnya kamu dong kalau janji harus di tepati, jangan PHP. Coba kalau kamu gak PHP gak akan ada kejadian ini "


" Aarrgghh ya udah kita ngadain pengajian besok " ucap Cantika dan terdengar geram.


Wajah Bu Murni langsung sumringah tak percaya, ternyata aktingnya berhasil. Tapi kalau rasa kesalnya itu nyata bukan akting.


Diki dan Ayu langsung melotot, kenapa Cantika tiba tiba menyanggupi. Kalau misal bisa kenapa gak dari kemarin saja pasti gak usah ada drama sendal melayang.


" Benaran Tik kita mau selamatan? " Bu Murni memastikan ucapan anaknya karena dia tidak mau di PHP lagi.


" Bener, tapi kita jual dulu emas Amah pasti kita bisa selamatan " ucap Cantika sambil tersenyum penuh kemenangan.


Bu Murni langsung mendelikan matanya " Dasar anak durhaka "


Dia pergi sambil bersungut sungut. Cantika, Diki dan Ayu tertawa tawa melihat tingkah ibu mereka.


" Yu kamu udah beres bagiin nasinya? " tanya Cantika.


" Belum tadi kan kami lari dikejar Euis " jawab Ayu sambil nyengir.


" Kamu emang gak beres bukannya dibawa. A' ambilin dong sayang kan di tinggalin biar kita bagiin aza " pinta Cantika pada Diki.


" Kamu ngerjain aza " walaupun malas Diki tetap berdiri dan keluar.


Sekitar 15 menit kemudian Diki datang membawa satu keresek besar di tangannya dengan wajah kecut.


" Itu sisanya A' masih banyak gak? " tanya Cantika.


" Sisa apaan ini tinggal sampahnya, habis entah dimakan siapa? "


" Hahhh terus ngapain di bawa sampahnya? " kali ini Ayu yang bertanya.


" Ceu Juju ngomel halamannya kotor jadi aku bawa "

__ADS_1


" Uughh dasar tetangga gak punya akhlak. Nasi nya mau tapi malah ngehina hina kita " geram Ayu.


__ADS_2