
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 91 ( Masih Di Lapang Parkir )
" Hahhh gono gini? " Novia dibuat heran dengan perkataan calon mertuanya itu.
" Iya gono gini bukannya hal yang lumrah kalau suami istri bercerai harus membagi harta gono gininya " jawab Bu Murni.
Karena suara Bu Murni yang keras, orang orang di sekitaran mulai memperhatikan mereka. Bahkan ada yang berbisik bisik membicarakan mereka.
" Bagus lah teh Amah bicara kencang seperti itu, biar si Novia malu " Ayu berbisik di telinga Cantika. Dibalas dengan seringaian Cantika.
" Iya kamu jangan serakah menikmati hasil kerja A'Diki enak banget hidupmu " setelah mendapat bisikan Ayu, Cantika ikut memanasi Amah dia juga ingin membuat Novia malu di depan banyak orang.
" Bener yang Cantika bilang, seenaknya kamu meminta cerai membawa hasil kerja keras Diki " tambah Bu Murni.
" Begitu ya Mah? emang apa sih yang udah A'Diki belikan buat aku selama kami menikah? " tanya Novia bahkan suara Novia tak kalah kencangnya.
" Baiklah A' akan aku ladeni keluargamu, sepertinya mereka ingin membuatku malu. Tapi itu tak akan terjadi, aku yang akan buat kalian malu " Novia bermonolog dalam hatinya.
" Mmhhh ya itu kamu kan diberi nafkah itu sama saja kan uang Diki " jawab Bu Murni dengan terbata.
Sebenarnya dia juga bingung karena memang Diki tak pernah membelikan apapun untuk Novia karena gajinya habis untuk diberikan padanya dan istrinya. Dan yang pasti dia yang mendapat jatah paling besar.
" Ckkk apa gak salah kalian berbicara gono gini? baiklah aku akan berbicara disini sekarang mumpung banyak orang. Hey semuanya dengarkan ya " Novia tiba tiba berteriak memanggil orang disekitarnya. Dan teriakan Novia berhasil menarik perhatian.
" Ini ada calon mantan mertua saya dia bilang minta gono gini karena saya telah bercerai dengan anaknya. Bahkan uang nafkah pun dipermasalahkan. Apa pantas nafkah untuk istri dan anak diminta kembali? Padahal nafkahnya sedikit karena lebih banyak diberikan pada ibunya "
Melihat Novia berteriak wajah Bu Murni dan yang lainnya langsung memerah. Mereka tak menyangka Novia akan berbuat seperti itu.
Bahkan telinga mereka mulai terasa panas karena mendengar bisik bisik dari orang sekitar dan tatapan meremehkan yang ditujukan pada rombongan Diki.
{ Wah gak bener ini, masa uang nafkah dihitung gono gini }
{ Gak jelas ini mertuanya, lakinya yang mana sih kalau aku jadi istrinya sudah aku maki habis habisan }
{ Mertua modelan gitu mah karungin aza buang ke sungai }
{ Ini pasti satu keluarga pelit, sampe nafkah saja dipermasalahkan }
__ADS_1
{ Pantas saja istrinya minta talak pelitnya gak ketulungan }
Masih banyak lagi suara suara yang menggunjingkan Bu Murni dan Diki.
" Hehhh kamu ngapain teriak teriak bikin malu saja " bentak Bu Murni pada Novia.
" Vi kok kamu gitu sih tega banget mempermalukan kami " tambah Diki.
" Loh yang bikin malu siapa, kan kalian yang nyamperin aku. Inilah kebiasaan kamu A' gak pernah bisa berubah selalu menyalahkan aku "
" Bukan gitu Vi, harusnya kamu gak usah berteriak seperti itu kan kamu bisa bicara pelan " ucap Diki, dia mulai tak nyaman dengan pandangan orang sekitar.
" Yang mulai teriak siapa, lagipula untuk apa membahas gono gini. Apa kamu tak malu atau kamu lupa berapa nafkah yang kamu beri padaku. Bukankah Ibumu ini mendapat lebih banyak bagian dari gajimu. Kamu jangan mendadak lupa gitu dong " Novia membalas ucapan Diki dengan santai.
Diki semakin terlihat salah tingkah dia melihat ke arah ibu dan adiknya.
" Gimana masih mau lanjut? " Novia tersenyum menyeringai tangannya bersedekap di depan dada seakan menantang.
" Sudah cukup Novia kamu membuat malu aku dan keluargaku " bentak Diki.
Kedua alis Novia bertaut " Kenapa kamu marah? kalian yang memancingku. Kalau kamu gak manggil aku, mungkin sekarang kami sudah di perjalanan "
" Sebaiknya kamu fikirkan lagi tentang gono gini, kalau kamu maksa Oke aku ladenin. Yang pasti kamu gak akan mendapatkannya karena memang tak ada harta gono gini.
" Iya benar "
Novia tersenyum karena didukung banyak orang. Dia pun kembali menantang Diki dan keluarganya, dia ingin melihat sampai sejauh mana nyali keluarga Diki.
" Sudah Vi sebaiknya jangan kamu ladeni lagi, mending kita jalan sekarang " ucap Adrian mengingatkan Novia.
" Ada lagi yang mau kalian bicarakan? kalau tidak sebaiknya aku pulang saja " Novia masuk mobil kemudian pintunya di tutup Adrian yang kemudian dia menyusul masuk di kursi sopir.
Kali ini kepulangan Novia diantar oleh pandangan sinis calon mantan suami dan keluarganya.
Adrian melajukan mobilnya perlahan sebelum pergi dia membunyikan klakson, yang dibalas dengan tatapan tajam dari Diki dan keluarganya.
Keluar dari gerbang pengadilan agama Novia terdiam dia melihat ke arah luar jendela. Adrian mengerti suasana hati Novia dia tidak berani mengganggunya.
" Ekheemm " mendengar suara deheman Adrian Novia langsung melirik ke arah Adrian.
__ADS_1
" Mmmhhh maaf pasti kamu gak nyaman dengan suasana tadi. Aku malu seperti wanita tidak punya etika, tapi rasanya sudah jengah menghadapi mereka satu keluarga "
" Gak apa aku ngerti kok, lagian kamu jangan khawatir keributan di kantor pengadilan sudah di anggap biasa namanya juga sidang perpisahan. Terkadang ada yang memang belum bisa melepas pasangan masing masing "
" Kok tahu, pengalaman ya? " ucap Novia sambil tersenyum.
" Isshhh enak saja, jangan sampai aku mengalaminya "
" Apa kamu masih mau makan siang bareng? " tanya Novia.
" Tentu saja, kenapa aku harus berubah fikiran? apalagi aku sudah sangat lapar " jawab Adrian sambil memegang perutnya.
" Ya kali mood kamu hilang karena lihat aku ribut tadi "
" Kamu salah justru aku makin lapar lihat kejadian tadi "
Mereka berdua saling berpandangan kemudian keduanya tertawa bersama sama.
" Aiissh kasian banget, ya sudah kita makan sekarang. Kamu aza yang pilih mau makan dimana, aku ngikut deh "
" Oke kita makan di restoran sunda aza ya, itu kan resto favorit kamu "
" Iya boleh, kamu masih ingat saja " senyum terulas di bibir Novia. Hati Adrian mulai tenang melihat Novia kembali tersenyum.
" Mana mungkin aku batalin makan siang kita Vi, aku tuh pengen banget makan berdua bareng kamu " gumam Adrian dalam hatinya.
Setelah sepakat Adrian langsung membawa Novia ke restoran tempat makan mereka dulu.
Adrian tek berhenti tersenyum, wajahnya terlihat berbinar. Jalan berdua bersama Novia adalah hal yang sangat didamba olehnya.
Dia tak ingin melepaskan kesempatan ini, bahkan kalau bisa dia ingin setiap hari bisa makan siang bersama Novia.
Tanpa sadar Adrian tersenyum sendiri. Novia yang berada disampingnya merasa heran.
" Kenapa kok kamu senyum senyum gitu, menang lotre ya? " tanya Novia.
" Eh nggak kok, lagi ingat hal lucu aza "
" Gitu ya, jangan jangan kamu ngetawain aku ya gara gara lihat kejadian tadi " Novia memicingkan matanya.
__ADS_1
" Nggak kok, sudah gak usah bahas yang gak penting nanti bikin badmood, mending sekarang kita makan dulu. Ok? "
" Iya kamu benar, ayo kita makan " sahut Novia, kemudian mereka berjalan masuk ke resto bersisian.