arisan bodong keluarga suami

arisan bodong keluarga suami
Rebutan Motor


__ADS_3

# Arisan Bodong Keluarga Suami


Bab 57 ( Rebutan Motor )


Diki dan Robi hanya terdiam melihat Ibu nya menangis dan masuk ke dalam kamar.


" Senang kalian bikin orang tua susah? bikin malu saja " Pak Imam berbicara sambil memelototi kedua anaknya.


Lalu dia mengeluarkan HP dari sakunya kemudian menelepon.


[ Assalammu alaikum, Tika kamu kesini sekarang ya, penting ]


[ ............. ]


[ Ya sudah sendiri saja gak usah nunggu suami kamu ]


[ ............. ]


Setelah selesai menelepon Cantika, Pak Imam kembali menelepon.


[ Assalammu alaikum, Yu kamu kesini ya sekarang ]


[ .............. ]


[ Robi ada disini, naik ojeg online saja. Sudah buruan keburu malam ]


Suara Pak Imam sangat tegas sepertinya dia mendapat penolakan dari Ayu. Sehingga diucapan terakhir terdengar seperti membentak.


" Bapak ngapain nyuruh Ayu kesini ini sudah maghrib kasihan Chila " Robi bertanya pada Pak Imam, namun lebih tepatnya lebih seperti protes.


" Sengaja biar nanti gak nanya bolak balik soal motor. Istrimu itu kan sama seperti kamu, gak mau rugi "


Mendengar ucapan Bapaknya Robi langsung mendelikan matanya. Beda dengan Diki dia tersenyum miring merasa puas mendengarnya.


" Pokoknya aku mau balikin motor titik " ujar Robi sambil membuang wajah kesebelah kanan.


" Aku juga mau ambil motorku titik " Jawab Diki sambil membuang wajahnya ke arah kiri.


" Kalian sama saja seperti anak kecil bahkan lebih parah. Kamu, kamu gak ada mendingnya bisanya bikin masalah "


Pak Imam menunjuk wajah mereka bergantian.


" Dia yang mukul aku duluan " Tunjuk Robi pada Diki


" Makanya serahkan kunci motornya, udah minjam tapi gak tahu diri "

__ADS_1


Braakkk


" Sudah berisik, kalian gak lihat Amah menangis? bukannya menyesal dan minta maaf malah ribut "


Diki dan Robi tersentak, mereka kaget melihat Bapaknya menggebrak meja.


Diki pun pergi ke kamarnya, dia merasa malas berdekatan dengan Robi. Kalau didekat Robi dia takut khilaf ingin memukul lagi.


***


Menjelang Isya Ayu datang menggunakan ojeg online sambil menggendong Chila disusul Cantika menggunakan mobilnya yang diparkir di depan gang.


" Pah kenapa mereka lihatin aku pas masuk rumah tadi, emang ada yang salah sama dandananku ya? " Ayu bertanya pada Robi sambil melihat penampilannya sendiri.


" Iya tadi juga aku dilihatin, malah mereka berbisik bisik. Gak jelas ngomong apaan.


Ini ada apaan sih aku sampe disuruh kesini. Kasihan anak anakku di tinggal di rumah " timpal Cantika.


" Bentar bentar Pah kok muka kamu lebam, ih ini kan kayak bekas dipukul " dibolak baliknya ke kanan ke kiri wajah Robi sambil diusap usap Ayu.


" Tika panggil Amah dan Diki di kamar " Cantika pun beranjak dari duduknya menuju kamar Ibu dan kakaknya.


" Nah sekarang sudah berkumpul semua. Ayu, Cantika kakak dan suami kamu bertengkar karena berebut motor mereka tadi bahkan saling pukul untung dibantu tetangga untuk melerainya " Pak Imam mulai membuka pembicaraan.


" Loh ngapain berebut motor, kalian seperti anak kecil saja " Cantika mendecih mendengar penuturan Pak Imam.


" Kok bisa diambil, terus kalau motor yang di pake A' Robi diambil nanti kita pake apa? aku gak mau kalau sampe motornya diambil. A' Diki aza yang ambil motor di Novia " Ayu merajuk tak tahu malu sama saja seperti suaminya.


Melihat itu Diki pun tersenyum sinis. " Kamu sama saja seperti suami kamu udah minjam gak mau balikin, gak tahu malu "


Robi terlihat berang dia langsung berdiri mendengar Ayu di cemooh. Namun Diki tak mau kalah dua juga ikut berdiri. Kini mereka saling berhadapan kembali.


" Apa, gak terima kamu? bukannya mikir, hidup maunya gratisan terus "


" Aarrggh kalian bikin Amah pusing hiks hiks " melihat Ibu mereka menangis akhirnya keduanya kembali terduduk.


" Aku faham sekarang, kita berkumpul pasti ingin cari solusi untuk soal motor kan. Tapi aku tegaskan ya aku gak mau ikut patungan buat penyelesaiannya karena aku gak bakal pakai motornya " Cantika mengambil kesimpulan sendiri.


Dia sudah faham cara berfikir Ibunya yang selalu membebankan semua pada salah satu anaknya untuk mengatasi masalah anak yang satunya lagi.


Dan yang sering menjadi korban adalah Diki, karena dia tak pernah mau membantah Ibunya yang suka memakai alasan dosa jika membantah atau karena Diki anak pertama yang harus selalu berkorban untuk adik adiknya.


Mendengar ucapan anak perempuannya Bu Murni langsung tersenyum, namun dibalas Cantika dengan delikan matanya.


" Kalau kalian gak mau saling bantu ya sudah tak masalah. Bapak mengerti kalian sudah punya keluarga masing masing.

__ADS_1


Tapi Bapak minta kamu Robi, untuk kembalikan motor Diki karena itu memang miliknya "


Wajah Diki terlihat protes lalu memandang Bu Murni seperti meminta pertolongan.


Melihat tatapan Robi dia langsung mengerti maksudnya " Jangan jangan Amah punya solusi lain, solusinya pasti lebih baik "


Semua punencoba mendengar apa yang akan di bicarakan Bu Murni.


" Menurut Amah mending jual aza motor Diki nanti uangnya buat DP motor. Ambil 2 motor sekaligus 1 buat Diki, 1 buat Robi "


" Ah ngga ngga, enak aza dia dibayarin DP pake uang motorku. Lebih baik tidak aku jual saja, belum nanti buat cicilan bulananannya pasti dia gak mau bayar "


Diki langsung menolak mentah mentah saran Amah, Robi yang tadi sudah tersenyum mendengar saran Ibunya mukanya berubah kecut mendengar penolakan kakaknya.


" Ya terus gimana, Amah gak mau malu. Apa nanti kata tetangga kalau Robi gak punya motor. Bisa diketawain 1 RT nantinya. Kamu mau Amah diketawain orang "


" Ya bukan berarti Amah ngorbanin aku terus dong, aku tuh anak Amah bukan sih? tiap ada apa apa aku yang kena getahnya "


" Hiks hiks kamu gak ridho bantuin Amah? "


" Terserahlah aku gak mau pusing " Diki berdiri seraya mengambil kunci motor, langsung pergi ke kamar tak menghiraukan panggilan Ibunya.


" Diki, Dikiiii "


" Dasar anak gak berbakti gak kasian sama orang tua " Robi mencibir Diki yang masuk ke dalam kamar.


" Hehh yang ada kamu yang suka nyusahin keluarga. Kawin mau gratis, motor pun gratis, rumah pun gratis.


Kamu fikir aku gak tahu Amah yang bayarin kontrakan tahunan kamu itu " Cantika membalas cibiran Robi, dia kesal dengan tingkah adiknya yang selalu ingin gratisan.


" Heheee " Robi pun menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" Udah ah aku mau pulang gak mutu banget ngurusin yang beginian. Pokoknya aku gak bisa bantu titik. Aku pulang dulu "


" Tik tik kamu jangan pulang dulu dong ini gimana? "


" Atur atur saja sama Amah, biasanya juga gitu kan " Cantika menjawab sambil membuka pintu hendak pulang.


" Yaahh malah pulang. Jadi gimana dong motor buat aku "


" Ngesod aza sanah " Pak Imam pun ikut berdiri tak peduli rengekan Robi.


" Kalau aku gak ada motor aku gak bisa kerja dong Mah. Kalau gitu Amah yang nanggung biaya sehari hari deh "


" Lah biasanya juga gitu kan? " Bu Murni mencebikan bibirnya.

__ADS_1


" Sekarang kita pulangnya gimana Pah? " Ayu merengek pada Robi. Namun dibalas Robi dengan mengangkat kedua bahunya.


__ADS_2