
# Arisan Bodong keluarga Suami
Bab 68 ( Janda Muda )
Pov Candra
Selesai memarkirkan mobil aku melewati parkiran motor karyawan. Keadaan pun sudah lengang karena memang sudah jam bekerja. Bel pun sudah berkali kali berbunyi.
Aku heran mengapa di jam bekerja aku masih melihat ada karyawan di parkiran motor. Jalanku langsung berbelok menuju dua orang tersebut berniat menegur mereka.
Samar samar aku dengar mereka seperti sedang cekcok. Sepertinya mereka pasangan suami istri.
Aku mulai mendekati mereka, tapi sepertinya aku mengenal suara perempuan itu. Ya dia Novia bawahanku, berarti yang satunya lagi pasti Diki suaminya.
Aku pun lebih mendekat karena khawatir, takutnya Diki lepas kontrol dan KDRT pada Novia.
Sebelumnya aku pun pernah melihat Diki melempar kunci motor ke wajah Novia untung saja waktu itu Novia bisa menghindar kalau tidak pasti wajahnya terluka.
Saking seriusnya mereka berdebat sampai tidak sadar akan kehadiranku. Benar saja pertengkaran mereka makin memanas, Diki mengayunkan tangannya hendak menampar Novia.
Beruntung aku datang tepat waktu, tangan itu mengambang tertahan oleh tanganku. Diki langsung menoleh padaku.
" Sudah Pak Diki jangan ribut disini, malu. Kalau punya masalah rumah tangga tolong diselesaikan di rumah "
Mendengar ucapanku tangannya langsung dihempaskan kebawah. Kulihat dia berusaha menetralkan amarahnya.
Novia membuka matanya, dia melihatku dan Diki bergantian mungkin dia syok.
Dengan nafas yang masih belum beraturan Diki mengucap talak pada Novia.
" Hari ini aku Diki Permana talak kamu Novia Nabila, diantara kita sudah tak ada hubungan suami istri lagi dan aku bebaskan kamu "
Kata kata itu merupakan kata keramat, bagi sebagian wanita itu adalah hal yang menyakitkan tapi bagi sebagian wanita lain justru itu awal untuk meraih kebahagiaan.
Aku harap Novia menjadi wanita yang masuk ke dalam kategori wanita yang beruntung agar bisa meraih kebahagiaan sesungguhnya setelah talak ini.
Bukan aku mendo'akan hal jelek hanya saja aku tahu Diki seperti apa. Walau kami tak dekat karena kami sering duduk bersebelahan dan sering mendengar Diki berinteraksi dengan keluarganya di HP aku sudah bisa menyimpulkan dia orang yang bagaimana.
Mendengar ucapan suaminya Novia hanya melongo mungkin dia masih syok. Ralat sekarang mantan suami ya hehee.
Diki pun pergi dengan wajah yang terlihat masih emosi. Andaikan dia ingin melanjutkan keributan aku siap melindungi Novia.
Selain aku suka padanya, aku juga merasa wajar membelanya karena dia bawahanku langsung dan tidak sepantasnya seorang laki laki berbuat kasar pada wanita. Apalagi ini istrinya sendiri, ibu dari anak anaknya.
__ADS_1
Aku yakin Diki tak akan berani padaku secara jabatan aku lebih tinggi darinya, dia hanya Supervisor dan aku Manager. Belum lagi saudaraku salah satu direksi di perusahaan ini. Maaf bukan sombong reader hehee.
Setelah Diki pergi, Novia pun menyusul pergi pandangannya seperti kosong. Sekilas kulihat matanya sudah berembun.
Dia berjalan menunduk menuju gedung tempat kami bekerja. Aku hanya mengikutinya dari belakang.
Khawatir saja dia tiba tiba limbung dan terjatuh, aku siaga berada tidak jauh dari belakangnya.
Untung dia wanita yang kuat, dia bisa sampai ke ruangannya tanpa pingsan dan tanpa menangis setelah apa yang dialaminya.
Dia duduk di kursi, temannya Lori hanya melongo kebingungan. Untung saja dia langsung faham situasinya. Diambilnya segelas teh hangat dan diletakkan di meja Novia.
Kuberi dia kode untuk menjauh, dia pun pergi. Aku datang dan menempati kursinya. Sekarang aku duduk di meja yang bersebelahan dengan Novia.
" Menangis saja kalau kamu mau menangis, semoga dengan menangis semua sakitmu akan terbawa oleh air mata yang terbuang " ucapku.
Novia menatapku kemudian air matanya pun turun menganak sungai, dia menangis walau dengan suara tertahan.
Dia pasti tak mau orang lain mengetahui permasalahannya. Tangisannya hanya aku, dia dan Lori yang tahu.
" Minumlah " kugeser gelas teh hangat yang dibuat Lori lebih mendekat padanya.
Dia pun meraihnya kemudian meminumnya " Kamu sudah merasa tenang? " aku kembali bertanya.
" Saya duda " jawabku.
Dia langsung menundukan wajahnya namun kulihat dia tersenyum. Mungkin dia malu sudah bercerita padaku.
" Vi menjadi janda itu bukanlah aib. Apalagi kalau kita sudah berusaha bertahan setelah sekian lama "
Mendengar ucapanku Novia kembali mengangkat wajahnya. Ah apakah dia curiga aku tau permasalahannya walaupun belum tentu 100% tepat.
" Saya sudah mengalami fase itu " kulanjutkan ucapanku agar dia tak curiga.
Dia pun terlihat mengangguk walau pelan. " Saya malu Pak, di usia muda saya sudah menjadi janda "
Aku faham maksudnya, dia pasti khawatir akan nasib anak anaknya dan takut membuat kecewa keluarganya.
" Justru ada sedikit keberuntungan, usiamu masih muda masih ada harapan untuk berjuang. Andaikan kamu bercerai di usia tua. Apakah kamu masih bisa bertahan sendirian mengurusi anak anak? "
" Kamu jangan takut dan juga jangan malu, seharusnya kamu lebih termotivasi agar berjuang lebih keras untuk anak anakmu " lanjutku.
Dia terdiam sejenak kemudian mengangguk " Saya faham Pak, saya tidak akan bersedih lagi. Saya akan berjuang untuk anak anak saya "
__ADS_1
" Baguslah kalau begitu, jangan menangis lagi. Itu membuat musuhmu tertawa, justru kamu harus terlihat kuat bahkan lebih baik walaupun ditinggalkannya " aku terus memberi motivasi padanya.
" Iya Pak terima kasih untuk masukan dan dukungannya "
" Kamu masih kuat untuk bekerja atau ingin pulang menenangkan diri terlebih dahulu? " aku menawarkan beberapa pilihan padanya.
" Tidak Pak saya mau bekerja, saya mau berjuang untuk anak anak saya. Dan saya tidak mau terlihat lemah di hadapan suami saya. Eh maaf mantan suami " ucapnya begitu yakin dengan penekanan di akhir kalimatnya.
Kami pun tertawa, lalu aku pamit untuk kembali ke ruanganku. Sekarang ada sedikit perasaan lega kalau Novia sudah menerima keadaan dan satu lagi sekarang aku punya kesempatan untuk mendekatinya.
Ku panggil Lori lalu aku beritahu sedikit permasalahan Novia, aku minta dia agar menghibur dan menguatkannya.
Mereka kini sudah duduk berdua aku perhatikan dari kejauhan Novia mulai bercerita, namun sudah tidak menangis lagi . Aku yakin tadi dia hanya syok saja.
Setelah duduk di ruanganku, kubuka HP dan mencari kontak Manda kakaknya Novia.
Dulu dia minta aku dan dia bertukar nomor HP alasannya agar mudah menghubunginya apabila Diki menyakiti Novia lagi katanya.
Tuuttt Tuuuttt
[ Assalammu alaikum ]
[ Waalaikum salam, pagi Teh ini dengan Candra ]
[ Oh iya Pak, atasan Novia ya. Apa ada masalah Pak dengan Novia? tumben Bapak menghubungi saya ]
[ Iya Teh, ini ada sedikit masalah. Saya melihat Novia ribut di parkiran dengan Diki. Hampir saja Novia di tampar Diki. Alhamdulillah saya datang tepat waktu. Saya berhasil menahan tangannya. Tapi, maaf saya tadi mendengar dan melihat langsung Diki menalak Novia ]
[ Seperti itu ya Pak, sekarang keadaan Novia gimana? ]
Walaupun dari suaranya tenang, tapi aku mendengar nafasnya menderu seperti menahan emosi.
[ Alhamdulillah dia sudah tenang, saya sudah menyuruhnya pulang untuk menenangkan diri tapi dia menolak ]
[ Iya Novia memang seperti itu, saya nanti akan meneleponnya. Kebetulan saya baru tiba di kantor. Saya titip Novia ya Pak ]
[ Baiklah saya mengerti, Assalammu Alaikum ]
[ Waalaikum Salam ]
Aku akhiri obrolan bersama kakaknya, lagipula dia sedang bekerja.
Mungkinkah hari keberuntunganku dimulai hari ini??
__ADS_1