
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 63 ( Restu Amah )
" Untung saja aku pulang menjelang Maghrib jadi sudah tidak ada yang nongkrong di gang " Diki memasukkan motornya ke dalam teras rumahnya.
Samar samar terdengar suara riuh anak kecil di dalam rumahnya " Ini pasti si Robi sudah datang, gercep banget dia tau motor kejual langsung datang kesini "
" Eh A'Diki baru pulang kencan ya hehee " tiba-tiba saja Yati nongol, Diki sampe terhenyak kaget.
" Ini orang kenapa bisa muncul dimana aza, apa dia gak punya kerjaan lain selain ngintipin kehidupan orang " dia menggerutu dalam hati.
Padahal Diki tak berharap bertemu orang, apalagi modelan Yati atau Yuyun yang sudah terkenal CCTV berjalan di daerah mereka.
" Kencan apaan ngarang aza " Diki berusaha membantah ucapan Yati.
" Ah A'Diki laki laki emang gitu suka ngeles. Kita banyak yang lihat kok tadi A'Diki boncengan mana dipeluk erat lagi hehee so sweett "
" Ngarang aza, udah ah gak usah bikin gosip gak jelas. Mau maghrib bukannya sholat " ditinggalkannya Yati melongo seorang diri.
" Huhhh sombong amat sih, timbang nanya aza apa susahnya tinggal jawab " Yati menggerutu sambil pergi.
Walaupun Diki masuk tapi samar masih mendengar gerutuan Yati, dia hanya tersenyum " Dasar tukang gosip "
Di dalam rumah Diki melihat ada Robi dan keluarga kecilnya tapi dia tidak tertarik untuk bergabung.
" Ki bukannya kamu nganterin motor kok motornya di bawa lagi? " Tanya Amah.
" Katanya aku boleh pake motornya dulu sebelum aku dapat ganti " jawab Diki tanpa melihat Amah dia terus berjalan menuju kamarnya.
" Sini dulu lah kita bahas soal motor kalian, tapi apa bener kamu di kasih pinjam motornya? Baik banget ya " puji Amah.
" Iya " jawabnya pendek terdengar seperti malas. Terpaksa Diki ikut duduk bergabung karena dipanggil Ibunya.
" Bagus kalau gitu, ya udah pinjam aza terus jadi uangnya bisa disimpan " timpal Robi.
" Hehhh jangan samain aku kayak kamu yang maunya gratisan " Diki menjawab sambil menatap tajam Robi.
" Maksud kamu apa? " Robi balik menatap tajam.
" Sudah jangan bertengkar lagi, kalian itu masih belum puas ribut kemarin " Bu Murni langsung melerai mereka.
" Jadi kamu mau ambil motor apa Ki? " lanjut Amah.
" Aku mau ambil motor biasa aza Mah, biar bayarnya gak mahal "
" Berapa DP nya? "
" Semua penjualan motor aku tadi mau kujadikan DP lah biar cicilannya kecil "
" Lah terus DP motor adikmu gimana kok kamu tega sih " Amah dan Robi langsung kelihatan gelisah.
__ADS_1
" Ya cari sendiri lah, ini bukan soal tega atau ngga Mah. Dia udah aku pinjemin motor aku gak bersyukur amat sih. Harusnya dipakai kesempatan dia buat nabung padahal lama banget minjeminnya, ini malah keenakan "
" Kamu gak bisa gitu Ki, tega amat sih "
" Amah juga tega sama aku, aku juga sama anak Amah tapi aku terus yang harus berkorban. Udah ah aku cape " Diki langsung berdiri tak peduli Ibunya terus berteriak memanggil.
Bu Murni mengejar Diki ke kamarnya untuk memaksa agar Diki membantu DP motor Robi.
" Ki, Ki kamu jangan gitu lah sama saudara harus saling tolong menolong "
" Lah Amah, saudara yang gimana dulu? lagian ya aku tuh bosan nolongin dia terus malah kadi keenakan "
" Ya udah kalau kamu gak mau bantu, berarti kamu gak peduli sama Amah. Seneng kamu ya Amah di tertawakan tetangga gara gara Robi gak ada motor hiks hiks " drama pun dimulai Bu Murni mulai menangis.
" Lebay, mana ada tetangga yang menertawakan Itu bisa bisanya Amah aza. Amah mau nangis semalam suntuk juga aku gak peduli " Diki langsung menutup seluruh wajahnya dengan bantal tak peduli isakan Bu Murni.
Bu Murni lelah pura pura menangis karena tidak dipedulikan, dia pun berdiri sebelum pergi dia ambil 1 bantal dan di lemparnya pada Diki.
" Dasar anak durhaka, pelit "
Bruughhh
Pintu kamar Diki dibantingnya. Diki langsung membuka bantal penutup wajahnya dia langsung tertawa tanpa suara bahkan sampai terguling guling.
Lalu dia langsung berdiri di belakang pintu ingin mendengar percakapan Robi dan Amah.
" Gimana Mah, ngasih berapa buat DP? " tanya Robi sangat antusias.
" Gak ada kakakmu gak ngasih "
" Ya udah Amah kasih DP 2 juta tapi atas nama kamu aza " "
" Ya kalau 2 juta nanti cicilan besar, tapi ya terserah Amah lah kan nanti yang bayar cicilannya kan Amah hehee "
" Enak saja ya kamu lah yang bayar, kamu yang pake kok Amah yang bayar. Itu kamu bisa bayar ojeg, udah aza uangnya kamu kumpulin pake buat cicilan motor tiap bulannya. Sama aza kan "
" Ih Amah kita duit dari mana Ayu gak mau ah " Ayu pun ikut menolak keputusan Amah.
" Ya sudah kalau kalian gak mau gak usah, dikasih DP saja sudah untung. " tiba tiba suara Pak Imam terdengar ikut berbicara.
" Bapak dengar percakapan kalian dari tadi. Benar kata Diki kalian itu sudah dikasih pinjam dalam jangka waktu yang lama harusnya dipakai untuk menabung supaya bisa beli motor sendiri. Ini berharap gratis saja "
Robi dan Ayu terdiam, tapi wajah Robi terlihat kesal.
" Harusnya Amah juga tidak memberi DP itu sama saja tidak mendidik udah tua tapi gak bisa mandiri " selesai berkata Pak Imam langsung berdiri dan keluar dari rumah.
" Kalian mau gak kalau gak ya sudah Amah gak maksa. Mending uangnya Amah pake buat beli cincin "
" Ya udah aku mau daripada gak ada " jawab Robi sambil merengut.
" Nanti surveynya ke rumah kamu aza jangan kesini, Amah gak mau tetangga tahu kita kredit motor "
__ADS_1
" Aku juga malu dong Mah, nanti apa kata tetangga kalau mereka tau aku kredit juga "
" Kalian tuh selalu pengen enaknya saja, kalian kan rumahnya di komplek gak akan terlalu kelihatan. Beda sama disini rumah gang orang kentut aza kedengeran "
" Ya sudahlah ribet amat mana uangnya aku mau ke dealer besok "
Merasa percuma terus memohon Robi pun akhirnya setuju. Setelah menerima uang dari Amah, Robi dan Ayu pamit untuk pulang.
Setelah Robi pulang, Diki keluar kamar kembali. Dia duduk di sebelah Amah.
" Ngapain keluar lagi? " tanya Bu Murni ketus.
" Malas liat si Robi sama istrinya. Lagian Amah manjain dia emang mau selamanya hidupnya gitu? "
" Bukan gitu Ki, Amah cuma gak tega saja " sanggah Bu Murni.
" Gak tega sama Robi tapi tega sama aku. Aku bosan dengar alasan Amah "
Bu Murni pun diam, difikirnya apa yang diucapkan Diki memang ada benarnya juga.
" Jadi gimana kamu belum ngasih Amah uang loh bulan ini "
" Ya udah aku kasih tapi 2 juta saja, aku kan disini sendiri makan di rumah pun jarang "
" Kan dulu biasanya 4 juta, masa dikurangi " Bu Murni merajuk.
" Kalau mau ambil, nggak ya sudah. Mending aku ngekost biayanya lebih murah "
" Huhuu ya udah sini daripada ngga. Ki kayaknya si Nuri suka sama kamu deh "
" Ngarang Amah ini " Diki berusaha menyanggahnya walau dia sempat berfikir hal yang sama karena dari perlakuan Nuri Diki merasa sangat berlebihan.
" Beneran Ki, tapi kalau misal kamu cerai sama Novia kamu udah ada gantinya. Mana lebih muda anak tunggal lagi. Wajahnya juga gak jelek jelek amat. Amah setuju lah "
Diki terdiam tak menjawab, lalu dia teringat sesuatu.
" Ah iya Mah aku baru ingat ternyata rumah Bu Siska di komplek yang sama dengan Novia. Kalau tau gitu aku gak mau ngaterin "
" Wah masa sih, dulu rumah Bu Siska di daerah xxxx udah pindah mungkin ya. Lagian bagus lah jadi kalau kamu jalan sama Nuri bisa nunjukin ke Novia kalau kamu bisa dapat yang lebih dari Novia "
" Gak enak lah Mah, aku aza tadi kaget sampe ngebut takut ada Novia atau keluarganya lihat "
" Ngapain takut si Novia aza udah berani jalan sama yang lain, justru ini kesempatan bagus buat kamu manasin Novia "
Mendengar kata ' manasin ' Diki jadi memiliki ide untuk membuat Novia cemburu.
" Bener juga kata Amah, lagian Nuri lebih muda. Soal cantik masih cantik Novia sih karena lebih natural. Aku pengen liat reaksinya Novia kalau aku dekat dengan perempuan lain.
Lagipula sepertinya rumah tanggaku sudah tidak bisa dipertahankan. Novia aza membawa laki laki lain di dukung keluarganya. Dasar jal*ng keluarga gak beres " Diki berbicara dalam hatinya.
Ting
__ADS_1
Diki mendengar Hpnya berbunyi sepertinya ada pesan masuk. Dia pun membuka Hp nya. Karena Diki duduk bersebelahan dengan Bu Murni, dia jadi mengintip isi pesan tersebut.
Diki dan Bu Murni langsung saling berpandangan setelah membaca pesannya. Kemudian mereka berdua tersenyum lebar.