Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
sepuluh


__ADS_3

Kehidupan yang di jalani Ayudia berjalan seperti biasanya saat  gadis itu belum kenal dengan Benedict.


Waktu berlalu, tak sekalipun Benedict menghubunginya, tak terlalu berpengaruh pada gadis itu, mungkin karena dari awal memang ia sudah membentengi dirinya sendiri, agar tidak mudah memberikan hatinya.


Dari awal Ayudia tak berniat berhubungan dengan siapapun, karena ia berpikir prioritasnya dalam hidup ini adalah ketiga adiknya, sebagai kakak tertua dengan kedua orang tua yang telah tiada, membuatnya enggan memikirkan kesenangannya sendiri.


Mungkin saat dirinya dekat dengan Benedict hanya sebatas rasa nyaman dengan perhatian lelaki itu, alasan ia menerima Benedict menjadi kekasihnya, karena ia merasa rugi sudah berciuman dengan lelaki yang bukan kekasihnya.


Ayudia juga bersyukur saat lelaki itu hampir merenggut mahkotanya, PMS nya datang, ia tidak bisa membayangkan jika dirinya hamil sementara tanggung jawab untuk membiayai dan membesarkan adiknya terhambat, jika dia harus mengalami hal itu.


Setelah ujian semester satu usai, Ayudia mendaftarkan kedua adik kembarnya untuk mengikuti sunatan masal, ia sebenarnya merasa bersalah pada kedua adiknya, karena baru sekarang melakukan hal wajib untuk laki-laki.


Ayudia mengajukan cuti kepada Rama, ia beralasan akan pulang kampung mengantar adik-adiknya untuk liburan, ia sengaja berbohong agar rekan-rekan kerjanya tidak mengetahuinya, ia tak enak karena tidak ada acara apapun sebagai syukuran khitanan adik kembarnya.


Di hari H, dengan di bantu sepupunya Samsul yang tinggal di Bekasi, ia mengantar adik-adik mengikuti sunatan masal yang diselenggarakan oleh salah satu BUMN.


Ia bersyukur adiknya tidak menangis saat keduanya di khitan, sebelum tengah hari mereka sudah kembali ke rumah dengan menumpang taksi online.


Di rumah sudah ada Anin, bude Marini dan bibi Atun adik satu-satunya dari mendiang bapaknya, mereka memasak untuk dibagikan kepada tetangga sebagai wujud rasa syukur telah mengkhitan si kembar.


"Gimana tadi Arya sama Aryo nangis nggak pas di sunat?" Tanya bibi Atun ketika Ayudia, Samsul dan si kembar baru saja tiba di rumah.


"Nggak dong bi, kita kan anak hebat ya nggak Arya?" Ujar Aryo.


Dari sunatan masal itu dari pihak panitia memberikan hadiah berupa tas sekolah beserta isinya, Snack dan makan siang, serta uang tunai sebesar lima ratus ribu.


"Kalau dapat uang buat apaan nih Arya sama Aryo?" Tanya bude Marini yang sedang menyiapkan makanan untuk diantarkan ke tetangga sekitar.


"Buat dikumpulin bude, kita kan mau mondok iya kan mbak Ayu,"jawab Aryo dan Ayudia hanya mengangguk.


"Emang mau kamu masukin pondok mana Yu?" Tanya Samsul.


"Di kampung aja mas, bulan depan udah pendaftaran," jawab Ayudia.

__ADS_1


"Bude setuju, pondok yang nggak jauh dari rumah bude itu kan?" Tanya bude Marini


"Benar Bude, mudah-mudahan pas tes masuk mereka bisa di terima, terus rencana Ayu juga Anin kuliah di sana juga, biar rumah ini, ayu kontrakan," jawab nya.


"Lah terus kamu mau tinggal dimana kalau rumah ini di kontrakan?"Tanya bibi Atun.


"Ada temen SMA Ayu ngajakin kerja jadi TKW, gaji di cafe nggak cukup kalau buat biayain mereka,"


"Tapi itu bahaya Yu, kamu cewek,"protes Samsul.


"Tenang mas, Ayu diajak kerja di perkebunan kok, dan pekerjanya banyak dari Indonesia kok, jadi aman deh," ujar gadis yang  sibuk menyuapi kedua adik kembarnya, "makanya nanti Ayu titip adik-adik ya bude,"


Mata bude Marini berkaca-kaca  "yang sabar ya nduk, kamu kuat, bude yakin kamu bisa melalui ini, masalah adik-adik, kamu nggak usah khawatir, bude akan jaga mereka," ucapnya mengelus punggung keponakannya itu.


"Masalah rumah Ayu nitip sama bibi ya, masalah uang kontrakan tolong dikirimin ke adik-adik," pesannya pada bibi Atun,


"Iya, nanti bibi urusin pokoknya, kamu nggak usah khawatir ya!" Ujar bibi Atun menyakinkan keponakannya.


"Nunggu adik-adik lulus, rencananya sekitar bulan Oktober tahun depan, Ayu juga udah mulai belajar bahasa, ya walau masih dari google, bulan depan Ayu juga mau bikin paspor dan mulai ngajuin Visa,"jelasnya.


"Pokoknya kalau kamu butuh bantuan, jangan sungkan ngomong sama mas ya!" Ucap Samsul.


Mereka mengobrol dan ada beberapa tetangga dan orang tua teman sekolah si kembar yang datang memberikan amplop.


Senyum mengembang menghiasi kedua adik kembarnya karena mendapatkan banyak amplop.


Malam harinya Bude dan Samsul pulang, disusul dengan bibi Atun yang hanya berbeda RT dengan tempat tinggal Ayudia.


Ayudia dan Anin mengurus kedua adik-adiknya yang sempat rewel ketika malam tiba, katanya perih dan ngilu.


Tidak sampai seminggu, luka khitan si kembar sudah mulai kering, sehingga ketika Ayudia mulai bekerja, ia bisa tenang meninggalkan si kembar.


"Mbak Ayu ingat nggak sekitar sebulan yang lalu, mbak nginep di rumah teman?" Ucap Anin kala itu saat dirinya menyetrika baju.

__ADS_1


Ayudia yang sedang memotong-motong sayur di dapur berkata, "kenapa emang dek?"


"Anin juga baru tau, pas kemarin abis sunatan si kembar, mbak kan nyuruh Anin masukin uang amplop ke tabungan Anin kan? awalnya waktu mbak wa Anin bilang udah transfer dan menyebutkan nominal yang mbak transfer saat itu, kirain mbak cuman ngeledek Anin, makanya saat Anin setor ke Bank, Anin kaget banget pas lihat jumlah saldonya, seingat Anin kan jumlah uang amplop si kembar sama hadiah dari panitia kan nggak sampai tiga juta kan?  masa jumlah saldo Anin hampir delapan juta mbak?" Jelasnya.


Ayudia mendengar itu tentu kaget, dan langsung menghampiri adiknya, "kemarin kamu print rekening korannya nggak dek?"


Anin mematikan setrikanya dan langsung beranjak ke kamarnya di atas, tak lama, ia turun dan memberikan kertas berisi transaksi tabungan kepada kakaknya.


Tertera di sana saat tanggal dimana Ayudia menginap di apartemen Benedict, ada uang masuk sebesar lima juta ke rekening adiknya, tertera juga di sana nama yang mentransfer pada adiknya.


"Emang Benedict siapa mbak?"tanya Anin penasaran.


"Temen mbak, ya udah yang lima juta jangan di pakai dulu ya dek, nanti kalau temen mbak udah balik kesini, mau mbak balikin, soalnya dia lagi di luar negeri,"


Anin mengangguk menuruti perintah kakaknya.


Sudah sebulan lebih Benedict benar-benar tidak menghubungi Ayudia, sebenarnya gadis itu tak mengharapkan apapun dari lelaki itu, hanya saja karena uang lima juta yang lelaki transfer pada adiknya itu, cukup  membebaninya, ia merasa  telah dibayar karena dirinya mau di cumbu oleh lelaki itu, ia tersinggung.


Keesokan harinya saat Ayudia mulai bekerja, saat jam istirahatnya, ia menemui Rama selaku sahabat dari lelaki itu,


"Ada apa Ayu, tumben kamu nemuin saya di luar urusan pekerjaan?"Tanya Rama pada gadis yang berdiri di seberang meja kerjanya.


"Mas Rama tau nomornya mas Ben kan? Boleh Ayu minta," ucapnya.


"Ada masalah Yu?" Tanyanya heran, sepertinya salah satu waiters cafenya sedang dalam keadaan marah dilihat dari raut wajahnya.


"Ayu mau ngomong sama mas Ben, penting," ucapnya datar.


Rama mengernyit, ia bingung ini pertama kalinya ia melihat gadis itu marah, "tapi di sana sepertinya masih malam, mungkin Ben sedang istirahat,"


"Biar Ayu yang hubungi sendiri mas," ujarnya sedikit memaksa.


"Gini aja Ayu, nanti kalau pulang kerja, kamu balik lagi kesini, nanti coba saya sambungkan ke Ben,"jelas Rama dan disetujui oleh Ayudia, gadis itu segera undur diri.

__ADS_1


__ADS_2