Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
delapan puluh tiga


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Benedict, dari raut wajahnya, ia terlihat kesal.


Tak ada yang berani mengajaknya berbicara, suasana di mobil hening, hanya terdekat suara klakson kendaraan lain diluar sana.


Sesampainya di rumah, Benedict langsung berjalan menuju ruang kerjanya, entah apa yang akan dilakukannya.


Sementara Ayudia dan Anna bersama si kembar menuju play ground yang ada dilantai dasar rumah besar itu, sekitar satu tahun lalu, Benedict menyediakan ruangan itu untuk anak-anaknya bermain tanpa harus ke mall.


Ruangan itu cukup besar, lumayan lengkap untuk sebuah tempat bermain yang ada di rumah.


Sebelum memulai bermain kembali, Ayudia dibantu maid, mengganti baju anak-anaknya terlebih dahulu, sedangkan Anna duduk bersandar di sofa yang tersedia.


Aileen antusias menaiki rumah-rumahan sedangkan Ainsley menaiki kereta mini.


"Bu, kayaknya mbak Lusi kecewa banget, setelah tau, kalau istrinya mas Ben itu Ayu,"ucapnya menghampiri mertuanya.


"Nggak usah dipikirin nduk, kamu pikir selama ibu tinggal bersama Lusi, dia nggak menanyakan soal Ben, ibu sampai bosan mendengarnya,"


"Bukannya mbak Lusi sama pak Arnold, menikahnya udah lama ya Bu, kok kesannya mbak Lusi masih mengharapkan mas Ben ya!"


"Nggak tau lah nduk, mungkin Lusi merasa bersalah pernah mengkhianati Ben, padahal setau ibu, Arnold mencintai Lusi dengan tulus loh, bahkan di rumah itu, yang jadi nyonya besarnya itu Lusi, Ronald juga menyayangi menantunya, tapi kenapa Lusi masih mengejar-ngejar Ben hingga sekarang, padahal saat dulu mereka berpacaran, Ben itu dingin banget sama Lusi, sikapnya sama kayak sekarang, ketus dan seenaknya sendiri,"jelas Anna panjang lebar.


"Tapi dulu mbak Lusi pernah curhat sama Ayu, kalau pak Arnold pernah berselingkuh dengan sekretarisnya yang namanya mbak Dona,"


"Mungkin Lusi belum tau, kalau Dona itu adik beda bapak dengan Arnold, jadi setau ibu, mamanya Arnold, pernah berselingkuh saat masih berstatus istrinya Ronald, dan dari perselingkuhan itu lahirlah Dona yang hanya berbeda tiga tahun dari Arnold,"


"Ronald yang tau istrinya selingkuh dan hamil, langsung menceraikan mama Arnold, saudara sekandung itu baru bertemu, ketika mereka sudah dewasa, karena bagi Ronald, Dona itu aib, makanya ia tidak mau mengakui bahwa wanita itu adik dari Arnold, rumit memang keluarga itu, dan bodohnya ibu, malah ikut-ikutan terlibat,"ada penyesalan diakhir kisah itu.


"Bukannya mantan suami ibu, sayang banget sama ibu ya!"


"Sayang sih sayang, tapi keluarga besar Ronald itu kebanyakan drama, makanya ibu sampai punya rumah rahasia, buat menenangkan diri,"


"Kirain hidup orang kaya enak ya Bu, karena udah nggak mikirin mau makan apa besok, ternyata kelebihan harta nggak menjamin kebahagiaan ya Bu,"


"Itu bagi keluarga mereka, bagi keluarga kita, kelebihan harta patut kita syukuri, ibu lebih tenang sejak tinggal disini, meskipun harus disuguhi pemandangan manjanya putra ibu ke kamu,"


Ayudia tertawa mendengar kata-kata mertuanya, "Ayu juga nggak pernah kepikiran punya suami manja macam anak ibu, Ayu malah nggak kepikiran bakal berumah tangga, misal dulu ada kesempatan berumah tangga, itu aja nunggu minimal Anin udah kerja, dan tipe ideal Ayu ya kayak mas Samsul yang dewasa dan mengayomi, punya kerjaan jadi karyawan pabrik dengan rumah cicilan BTN,"


Anna tertawa mengetahui tipe ideal menantunya, "sayangnya kamu dapat suami yang manjanya nggak ketulungan sama keras kepala, dan kelebihannya, Ben nggak perlu nyicil kalau mau beli rumah,"


"Antara bersyukur dan lucu aja Bu, ternyata nasib Ayu malah terdampar jadi istri mas Ben, untuk punya mertua baiknya minta ampun,"


"Kamu nih bisa aja, ibu juga seneng punya mantu yang nggak banyak gaya kayak kamu, cuman hobby kaburnya yang bikin pusing,"

__ADS_1


Ayudia tertawa terbahak-bahak, hingga kedua anaknya dan maid menghampirinya.


Ponsel milik Anna berbunyi, ia melihat siapa yang meneleponnya, ada id mantan suaminya, ia mengangkatnya.


"Halo, ada apa Ro?"sapa Anna sambil men-speaker ponselnya.


"Apa kabar An?"sapa Ronald diseberang sana.


"Baik, ada apa? tumben telpon,"


"Aku langsung to the point aja ya, tolong bujuk Benedict, agar tidak membuat kekacauan di perusahaan aku, sebenarnya ada masalah apa? Aku sampai menurutinya untuk menceraikan kamu, tapi kenapa malah dia berbuat seperti ini? Apa salah aku An?"


"Maaf Ro, coba nanti aku tanya ke Ben, kalau gitu aku tutup dulu ya!"ucap Anna mengakhiri panggilan dengan mantan suaminya itu.


"Mas Ben bikin ulah apa Bu?"tanya Ayudia bingung.


"Kayaknya Ben marah gara-gara Lusi tadi,"


"Kok sampai pak Ronald telpon ibu, apa hubungannya?"


"Ibu juga nggak tau, tapi kayaknya ini masalah lumayan besar deh,"


"Jadi kita harus gimana Bu?"


Anna terdiam sejenak, perempuan paruh baya itu berpikir keras, ia menghela nafas, "nduk, kalau misal perusahaan Ronald dan Arnold goyah, akan ada banyak keluarga yang dirugikan, jadi coba kamu bujuk Ben, biasanya dia selalu dengarkan kamu,"


"Terserah kamu nduk, itu PR buat kamu, udah sana temui suamimu,"


Ayudia menuruti ucapan mertuanya, ia berlalu menuju lantai dua untuk menemui suaminya.


ia tak mendapati lelaki itu diruang kerjanya, ia mencari di kamar, juga tak mendapatinya namun setelah melihat balkon, ternyata lelaki itu tengah berenang,


Ayudia mengirimi pesan pada mertuanya, agar jangan ada yang naik ke lantai dua, terutama balkon, dan mertuanya hanya membalas "ok"


Perempuan dua anak itu berjalan menghampiri suaminya yang sedang berenang, diam-diam Ayudia melepaskan Hoodie dan celananya hingga menyisakan dalaman dengan warna maroon, terlihat seksi untuk seorang ibu dari dua anak itu.


Ayudia meregangkan tubuhnya sejenak sebelum akhirnya bergabung dengan suaminya di kolam renang itu.


Benedict terkejut dengan keberadaan istrinya di kolam yang sama, jarang sekali wanita itu mau bergabung dengannya untuk berenang.


"Ada apa Ay, tumben mau berenang bareng aku,"


"Emang kamu nggak mau kalau aku disini?"tanya Ayudia ketus.

__ADS_1


"Aku seneng malah Ay,"


Ayudia tak menanggapi lagi ucapan suaminya, ia lebih memilih berenang menjauhi suaminya.


Benedict sudah terbiasa dengan sikap istrinya, ia tak peduli, ia menghampiri istrinya yang berseberangan dengannya, namun saat dirinya berenang ke arah istrinya, wanita itu malah kembali berenang menjauhinya.


Selalu seperti itu selama beberapa saat, seolah-olah mereka sedang bekeja-kejaran di kolam itu.


"Kenapa si Ay, setiap aku deketin, kamu menghindari aku?"teriak Benedict yang berseberangan dengan istrinya.


Ayudia hanya tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.


Benedict mengerahkan tenaganya untuk berenang secepat mungkin ke arah istrinya.


Namun belum sempat istrinya tertangkap, wanita itu terlebih dahulu naik menuju kursi santai di pinggir kolam.


Ayudia berbaring terlentang sambil memasang kacamata milik suaminya untuk melindungi matanya dari pancaran sinar matahari.


Benedict duduk di kursi bersebelahan dengan istrinya, "kamu kenapa sih Ay, masa aku samperin menghindar terus sih?"tanyanya kesal.


"Nggak biasa aja,"jawabnya santai.


Benedict melihat tubuh istrinya yang hanya berbalut bikini,  membuatnya menelan ludahnya, terlihat jakunnya naik turun.


Meskipun sering melihat tubuh istrinya berkali-kali, namun ia paling tidak tahan dengan godaan tubuh istrinya.


Ia duduk disamping tubuh itu, tepat nya disisi sebelah perut wanita itu, kedua tangannya mengurung tubuh ramping itu, ia merunduk dan berbisik, "apa kamu sedang menggoda aku Ay?"


Ayudia membuka kacamata itu, dan mendapati wajah suaminya tepat dihadapannya.


"Kalau iya kenapa?"ucapnya santai.


Tak membuang waktu, Benedict ******* bibir itu, ah... Hanya dengan ******* bibir itu, hasratnya langsung naik, di bagian bawah tubuhnya mulai mengeras.


"Tanggung jawab Ay, punya aku bangun,"bisiknya melepaskan sejenak ******* itu dan kembali membungkam bibir yang selalu menjadi candu untuknya.


Ayudia membalas *******-******* itu, ia mengalungkan tangannya di leher suaminya.


"Mau coba disini mas?"tawar wanita itu.


Benedict tersenyum senang, sepertinya istrinya menginginkan sensasi yang berbeda, tentu ia tak akan keberatan.


Dan mereka melakukan kegiatan panas itu di kursi, didalam kolam dan berakhir dengan berendam di bathtub.

__ADS_1


"Makin sayang aku sama kamu Ay, makin aku nggak mau jauh dari kamu,"ucap lelaki yang sedang memangku tubuh polos istrinya.


"Aku juga sama, makin sayang sama kamu,"sahut Ayudia yang membuat Benedict semakin bahagia, ia tau sekarang ini istrinya mulai benar-benar mencintainya.


__ADS_2