Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
sembilan puluh tiga


__ADS_3

...My wife...


Ben, ini gue Nando, ancaman gue berlaku mulai sekarang.


Benedict baru membuka pesan dari istrinya, yang ternyata ponsel wanita itu di pegang oleh sahabatnya.


Ia mencengkram ponselnya erat, nafasnya memburu, ia marah, sahabatnya mengancamnya dengan kelemahan terbesarnya.


Namun sepertinya ia tak bisa berbuat banyak, ia tau betul istrinya sangat mempercayai Nando, bahkan putrinya yang masih balita sangat dekat dengan lelaki itu.


Benedict teringat pernah memberikan anting dan kalung yang ia pesan khusus untuk istrinya, agar dengan mudah ia menemukan keberadaan wanita itu.


Titiknya ada di apartemen milik sahabatnya, ia menelpon Nando,


"Halo," sapa Nando dari seberang sana.


"Balikin istri dan anak gue, brengsek," maki Benedict pada sahabatnya.


"Ben Lo tau mau gue kan?"


"Iya gue tau do, tapi tunggu gue sama Ayu pergi dari sini, kan tadi gue jelasin Ayu nggak setuju Lo sama Amara,"


"Gue nggak mau tau Ben, Lo tau kan selain kerjaan gue nggak pernah minta apapun sama Lo, gue cuman minta Amara bisa kerja bareng gue, itu doang,"


"Iya gue tau do, tapi tunggu gue sama Ayu pergi dari sini, besok pagi gue pastiin dia bisa Deket Lo, sabar kenapa sih, jangan kayak bocah Lo, sekarang balikin  istri sama Anak gue,"


"Sayangnya gue nggak tau mereka dimana, gue cuman pinjem hape sama kalung dan anting bini Lo,"ucapnya santai.


"Cari mereka cepat, gue nggak mau tau, mereka harus balik sekarang,"perintah Benedict tak mau dibantah.


"Biarin aja sih Ben, entar juga balik, kali aja Ayu lagi ketemu sama cinta pertamanya,"


Berbagai cacian Benedict ucapkan pada sahabatnya, namun Nando memutuskan panggilan itu secara sepihak.


Benedict tak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa menunggu kepulangan istrinya, ia kesal sekali, sahabatnya yang lain baru saja pergi beberapa saat yang lalu, tak mungkin ia menyuruh mereka kembali lagi.


Langit sudah mulai gelap, istri dan anak-anaknya tak kunjung pulang, Benedict semakin gelisah, ia mondar-mandir di teras depan rumah.


Anna hanya diam melihat kegelisahan putranya itu, ia juga tak bisa berbuat banyak, ia hanya berharap, menantu dan cucunya segera kembali, perempuan paruh baya itu memasuki rumah begitu mendengar suara Azan berkumandang.


Tak lama kemudian, ada motor yang memasuki halaman luas rumah besar itu.

__ADS_1


Benedict melihat istri dan anaknya berboncengan dengan seorang pria yang mengendarai motor itu.


Ayudia turun dari motor sambil menggendong Aileen, dan langsung memberikannya pada Benedict.


Perempuan itu kembali untuk menggendong Ainsley yang juga tertidur di atas motor, dengan di pegang oleh pengendara motor itu.


"Mampir dulu yuk,"ajaknya kepada pengendara itu.


Benedict yang sedang menggendong Aileen, hanya bisa diam melihat interaksi antara istrinya dan lelaki dengan Hoodie berwarna Army.


Mereka masuk ke dalam rumah, Ayudia menaiki lift menuju lantai dua sambil menggendong Ainsley diikuti oleh suaminya yang juga mengendong putrinya.


Tak banyak bicara ia meletakan dengan hati-hati putranya, di atas kasur khusus balita, diikuti oleh suaminya.


Setelah memastikan anak-anaknya tidak terbangun ia turun lagi kebawah untuk menemui lelaki yang tadi mengantarnya.


"Sorry ya Dikta, lama nunggunya ya!"ujar Ayudia.


Pradikta yang baru saja meminum teh yang disajikan oleh Maid tersenyum memperlihatkan lesung pipinya, "nggak apa-apa Ay,"


Benedict yang mengikuti istrinya, melebarkan matanya, melihat lelaki yang mengantarkan istri dan anaknya.


"Oh ya mas Ben, kenalin ini Pradikta, tadi kita nggak sengaja ketemu pas makan mie ayam,"jelas Ayudia mengenalkan lelaki itu.


Ayudia mengernyit, ia bingung juga heran, bagaimana suaminya bisa kenal dengan Pradikta.


"Nggak usah dipikirin Ay, kita cuman ngobrol dikit doang pas itu, tenang aja, kita nggak nyampe berantem kok, kan kamu tau, aku cinta damai,"ujar Pradikta dengan senyuman yang menurut Benedict cukup menyebalkan.


Ada keheningan di ruang tamu, rumah besar itu, tak ada yang membuka suara, sampai Benedict yang sedari tadi menahan amarahnya, akhirnya angkat bicara, "jadi seharian kamu sama dia Bun?"tanyanya.


"Iya tadi aku jenguk Tante Arini, kebetulan ibunya Dikta baru pulang dari rumah sakit, kami keasikan ngobrol sampai lupa waktu,"jawab Ayudia,


"Oh ya, hape aku dipinjam sama A Nando, makanya aku nggak bisa kabarin kamu, maaf ya! Aku nggak hafal nomor hape kamu,"lanjutnya tak enak.


"Kamu tau kan kita mau pergi, sore tadi,"Benedict mencoba mengingatkan istrinya.


"Maaf ya,"ujarnya sambil menangkupkan kedua tangannya.


"Sorry, tadi gue emang sengaja nahan Ayu di rumah gue, udah lama gue nggak ketemu dia,"ujar Pradikta.


"Dikta apa-apaan si,"ucap Ayudia menegur lelaki itu, "ada Tante Arini di rumah ko, aku nggak berdua doang sama Dikta, "lanjutnya berbicara menghadap suaminya.

__ADS_1


"Terima kasih Lo udah anterin ISTRI gue, mending sekarang Lo balik, udah nggak ada perlu apa-apa lagi kan sama ISTRI gue?"Benedict menekankan kalimat istri pada setiap kata itu.


Pradikta tersenyum miris, "Lo ingat omongan gue tiga tahun yang lalu kan, itu berlaku hingga sekarang, Lo ngerti kan maksud gue?"ucapnya sambil berdiri.


Ayudia berniat mengantarkan Pradikta keluar rumah, "kamu mau kemana Bun?"tanya Benedict


"Aku mau antar Dikta nunggu ojek di depan,"jawab Ayudia sambil berlalu meninggalkan suaminya.


Ayudia berjalan berdampingan dengan Pradikta, sambil berbicara, "Dikta pokoknya kalau  kita ketemu lagi, aku minta kamu penuhi permintaan Tante Arini,"


"Kenapa kamu maksa aku sih? Kamu kan tau alasannya Ay,"


"Tapi kasihan mama kamu,"


"Tapi aku nggak bisa Ay,"


Ayudia menghentikan langkahnya, Lalu menghela nafas, "Dikta coba terus, kamu pasti bisa,"


"Ay, aku udah berkali-kali coba, kamu paling tau alasannya,"


"Aku pusing Dikta, kamu bikin aku merasa bersalah tau nggak sih?"


Pradikta melirik Lelaki yang sedari tadi mengikuti dirinya dan Ayudia.


"Yang harusnya merasa bersalah itu bukan kamu Ay, tapi suami kamu,"


Ayudia menaikan sebelah alisnya, "maksud kamu apa?"tanyanya bingung.


"Dia tau kalau kita saling mencintai, tapi karena adanya dia, kita nggak bisa bersatu kan?"ucap Pradikta dengan suara agak keras, ia sengaja agar Benedict mendengarnya.


"Dikta kamu apa-apaan si?"


"Tanya aja sama dia Ay, apa yang aku Omongin tiga tahun lalu,"


Benedict yang sedari tadi berusaha menahan amarahnya, akhirnya menghampiri Pradikta, ia mencengkram Hoodie yang dikenakan lelaki itu.


"Iya gue tau, kalau bini gue nggak pernah cinta sama gue, lalu Lo mau apa? Lo mau rebut dia dari gue? Huh... Jangan mimpi, sampai matipun gue nggak bakal lepasin Ayudia, apapun yang terjadi, mending Lo cabut dari sini, sebelum Lo gue abisin,"


Pradikta melepas tangan yang mencengkram Hoodie nya, "huh... Hanya waktu yang menjawab akan bagaimana akhirnya, mungkin sekarang Lo bisa miliki fisik dia, tapi sampai kapanpun hatinya tetap buat gue,  ingat Lo sakiti dia, gue bawa dia lari dari Lo,"


Pradikta menghampiri Ayudia yang diam mematung melihat kedua lelaki itu, "nggak usah dipikirin Ay, kalau dia nyakitin kamu, kamu Taukan kemana harus lari, aku masih disini menunggu kamu, jaga diri baik-baik ya Ay,"setelah mengucapkan itu, Pradikta memeluk Ayudia dan tak lupa mencium keningnya lembut.

__ADS_1


Dan Benedict hanya bisa mengepalkan tangannya, melihat interaksi antara istrinya dan lelaki itu.


__ADS_2