Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
delapan puluh empat


__ADS_3

Usai mandi plus-plus, pasangan suami istri itu berakhir berbaring di ranjang saling berhadapan, keduanya saling tatap dan berciuman.


"Mau lagi ay?"bisik Benedict ditelinga istrinya.


Ayudia tersenyum, "emang kamu masih mau nambah mas?"tanyanya.


"Kalau untuk hal itu, aku ingin terus melakukannya sama kamu Ay,"


"Gila nih laki gue, nafsunya gede bener, pinggang gue udah pegel ini,"ucap Ayudia dalam hati.


"Nanti dulu ya, aku pengen begini dulu,"ujarnya sembari mengecup bibir suaminya.


"Aku seneng Ay, menghabiskan waktu berdua sama kamu, nggak ada bosannya aku, makin hari aku makin cinta sama kamu Ay,"ungkap Benedict dengan debaran masih sama setiap berdekatan dengan istrinya.


Ayudia mengelus rahang tegas suaminya, ia menatap penuh sayang, "aku juga seneng selalu dekat sama kamu, tapi kan ada anak-anak yang masih butuh perhatian kita, nggak apa-apa sesekali kita menghabiskan waktu berdua kayak gini, aku nggak keberatan sama sekali,"


Benedict mengecup bibir istrinya lagi, "kenapa kamu bikin aku candu sih Ay? Kalau dekat kamu pikiran aku blank, logika aku nggak jalan, yang ada di otak aku, gimana caranya kamu harus sama aku terus,"


Ayudia tertawa, "masa sih? Oh ya  aku mau tanya, tadi kan aku lagi ngajak anak-anak main di bawah, terus ibu dapat telpon, kayaknya dari Ronald, bukannya itu mantan suami ibu ya? Kayaknya ibu ngomong serius banget sama beliau, kira-kira kenapa ya? Apa ada hubungannya sama kita yang ketemu mbak Lusi tadi?"


"Terus ibu cerita sama kamu nggak, mantan suaminya ngomong apa aja,"


"Aku kan nggak kepo urusan orang lain mas,"dusta wanita itu, "sebenarnya ada apa sih mas?"


Benedict berbaring terlentang menatap langit-langit kamarnya, "aku cuman kasih sentilan sedikit, supaya menantunya nggak ganggu kamu,"


Ayudia mengernyit heran, ia bangun dan duduk menghadap suaminya, "maksudnya gimana mas? Aku nggak ngerti, maksud sentilan itu apa? Bisa jelasin nggak biar aku paham,"pintanya.


Benedict meraih tangan istrinya ia mencium lembut Punggung tangan itu, lalu menggenggamnya erat, "biar perusahan mantan suami dan anak tiri ibu goyah dikit,"


"Bangkrut gitu?"

__ADS_1


"Nggak sampai bangkrut kalau memang Arnold pinter mengatasinya, tapi kalau dia bodoh ya ujung-ujungnya pailit dan jadi gembel,"


Wanita itu melepas paksa tangannya, ia memijit dahinya, pening tiba-tiba menyerang, " terus mas kalau udah begitu berarti bakal banyak karyawan yang kena PHK dong,"


"Itu urusan dia, aku nggak peduli, salah sendiri dia nggak bisa didik istrinya, sampai mengatai kamu, aku nggak terimalah,"


"Mas, kamu lihat aku sekarang, aku baik-baik saja kan? Aku nggak terluka, nggak lecet dan nggak nangis, bahkan tadi kita bercinta kan, terus kenapa kamu mesti buat orang lain susah sih?"protesnya tak terima.


"Aku nggak peduli, itu urusan dia, minta tanggung jawab aja sama menantunya itu,"


Ayudia memutar bola matanya malas, ia baru tau kalau suaminya ternyata orang yang cukup licik, wanita itu bangkit dan mengambil piyamanya, tak lupa guling dan bantal, namun baru beberapa langkah, lengannya sudah ditahan suaminya.


"Kamu mau kemana Ay, kok bawa bantal sama guling segala?"


"Aku nggak mau tidur sama orang yang sudah membuat keluarga lain kesusahan,"


"Istrinya Arnold udah menghina kamu Ay, aku nggak suka,"


"Mas, yang bermasalah itu mantan pacar kamu sama istri kamu, nggak ada hubungannya sama perusahaan, kamu nggak mikir apa, gimana rasanya orang tiba-tiba di PHK? Kamu nggak mikir anak karyawan yang nggak bisa sekolah karena ayahnya nggak bisa kerja lagi,"


Benedict menarik lengan istrinya untuk duduk di ranjang, sedangkan dirinya mengambil ponsel diruang kerjanya.


Lelaki itu menghubungi salah satu investor perusahan Ronald dan mengatakan tidak jadi menarik uang investasinya.


"Udah beres, jadi sekarang kamu disini aja, nggak usah kemana-mana,"ucapnya setelah mengakhiri panggilannya.


Ayudia menuruti perkataan suaminya, ia kembali membaringkan tubuhnya disisi ranjang.


"Mas, masalah yang kamu dapat proyek di pulau pribadi, kamu serius mau ngajak aku?"tanyanya sambil memandang langit-langit kamarnya.


"Ya serius lah Ay, minimal dua sampai delapan bulan paling lama mungkin setahun,"jawab lelaki itu santai.

__ADS_1


"Kok sampai setahun sih, terus anak-anak bagaimana?"


"Kan ada ibu yang jagain cucu-cucunya,"


"Tapi mas, kenapa mesti ngajak aku sih? Kan biasanya kamu juga pergi sendiri sampai berbulan-bulan, nggak masalah tuh kamu jauh dari aku, kenapa sekarang jadi minta aku dampingi kamu sih, Sampai setahun lagi,"


"Justru karena lama, aku nggak mau jauh dari kamu, apa kamu keberatan? Kalau kamu nggak mau, bisa aja sih aku batalkan kontraknya tapi aku harus tanggung resikonya,"


"Resiko apa maksudnya?"


"Bayar biaya pembatalan kontrak, ya sekitar dua puluh jutaan lah,"


"Oh dua puluh juta, aku ada uang yang dari ibu, aku gantiin deh,"ucapnya polos.


"Jadi ibu pernah kasih uang ke kamu? Kapan? Kok aku nggak tau?"tanya Benedict langsung duduk mendengar ucapan istrinya.


"Sebelum kita nikah, ibu kasih uang hampir dua em, kan waktu aku lagi hamil terus kabur, aku pakai uang yang dari ibu,"jawab wanita itu polos.


"Pantas saja, aku nggak bisa lacak kamu, kamu sama sekali nggak pakai kartu dari aku dan kartu kamu, ternyata kamu pakai uang dari ibu begitu? Makanya kamu bisa beli tiket pesawat dan membiayai hidup kamu selama nggak sama aku begitu?"


Ayudia duduk bersila  menghadap suaminya, "udah lewat mas, nggak usah dibahas, jadi masalah denda karena kamu batalin kontrak, kalau cuman dua puluh juta aku masih ada, kamu mau?"tawarnya.


"Bukan dua puluh juta rupiah Ay, tapi dua puluh juta dolar,"


Ayudia melongo mendengar nominal yang disebutkan suaminya, "mahal banget mas?"


"Karena proyeknya juga mahal Ay, aku ada uang segitu Ay, masalahnya, beliau itu klien tetap aku diluar pekerjaan aku di perusahan Wright, aku udah dari masih kuliah kerjasama dengan beliau buat design bangunan milik beliau, beliau juga yang ngenalin aku ke beberapa klien aku di timur tengah dan Afrika, kalau aku hanya mengandalkan gaji aku sebagai CEO dari perusahaan Wright, nggak kebeli itu pesawat sama pulau,"


"Ya udah kamu yang pergi aja, aku disini jaga anak-anak,"


"Ay, please kamu ikut, aku janji kamu nggak bakal nganggur di sana, aku kasih kamu kerjaan dan juga gaji, dulu kamu pengin jadi TKW kan? Jadi anggap aja kamu lagi jadi TKW,"

__ADS_1


Ayudia diam, matanya menerawang keatas, berfikir sejenak, menimbang-nimbang keputusan apa yang akan dibuat, "aku omongin dulu sama ibu dulu deh,"


"Oke, aku tunggu, dan kamu ingat Ay, aku tidak terima penolakan,"


__ADS_2