
Anna sudah menunggu dari beberapa menit yang lalu di balik kemudi, lama-lama bosan juga, perempuan paruh baya itu beberapa kali membunyikan klakson.
Tak lama menantunya muncul, dengan penampilan yang menurutnya sama sekali tidak sesuai dengan tempat tujuan mereka.
Hoodie abu kebesaran, celana juga sama, dan yang lebih membuat Anna geleng-geleng kepala, saat melihat wajah menantunya, tanpa polesan apapun, walau masih terlihat manis, namun penampilan menantunya itu sangat bertolak belakang dengan dirinya.
"Nduk, nggak salah penampilan kamu begitu mau ke mall? Seingat ibu, isi lemari kamu kan bajunya modis-modis, kenapa baju Ben, kamu pakai?"Anna akhirnya angkat bicara, sambil mulai mengemudikan mobil.
Ayudia menghela nafas kasar, ia menatap wajah mertuanya, "anak ibu yang suruh, makanya Ayu lama didalam, tadi pas Ayu udah dandan, mas Ben suruh Ayu ganti baju dan hapus make up juga,"
"Suamimu itu benar-benar deh, perasaan, dulu daddy-nya nggak segitunya, udah lah, nanti kamu ibu ajak ke salon langganan ibu sekalian belanja baju, oh ya kamu di kasih uang sama suamimu kan?"
Ayudia menunjukan kartu hitam yang ia ambil dari dalam Sling bag hitam yang berada di pangkuannya, "mas Ben nggak mau kasih uang, Ayu dikasih ini Bu,"
Anna yang sedang mengemudi, melirik sejenak ke arah kartu yang ditunjukkan oleh menantunya, ia hampir saja mengerem mendadak.
"Benedict kasih kamu kartu itu?"tanya Anna tak percaya.
"Iya Bu, kata mas Ben, Ayu bisa beli apa aja dengan kartu ini, bukannya sama aja kayak ATM yang ibu kasih dulu ya! Cuman beda warna aja kan?"
"Beda nduk, kartu yang dikasih suamimu, bisa borong isi mall,"
Mendengar perkataan mertuanya, Ayudia malah tertawa, "mana bisa Bu? lagian ruangan baju di rumah aja, udah kaya toko di mall,"
"Serah kamu nduk, nanti kita buktikan ya! Kita belanja pakai kartu itu,"
Obrolan berlanjut hingga mobil memasuki parkiran mall elite di ibukota.
Anna mengajak menantunya untuk mengunjungi salon langganannya, keduanya hanya melakukan perawatan rambut dan kuku tangan serta kaki,
Usai dari salon Anna mengajak Ayudia untuk makan terlebih dahulu di salah satu restoran mewah.
Setelah dari restoran, mertua dan menantu itu memasuki toko berlian, awalnya Ayudia menolak, namun dengan bujuk rayu Anna, akhirnya ia menurut saja.
Anna memilihkan satu set perhiasan bertahtakan berlian untuk menantunya, awalnya pelayan toko sedikit ragu melihat penampilan Ayudia, namun setelah Anna meminta menantunya menunjukan kartu hitam itu pada pelayan toko itu, dengan sigap pelayan itu memberikan pelayanan eksklusif, bahkan manager sampai ikut melayaninya.
__ADS_1
Dari toko perhiasan, Anna memasuki toko yang menjual jam tangan ekslusif, perempuan paruh baya itu meminta untuk ditunjukkan jam tangan couple.
Ayudia diam-diam bertanya pada pelayan toko, soal harga dari jam tangan couple itu, dan perempuan dua anak itu, sampai melotot saat mendengar harganya.
Namun seperti biasa berkat bujuk rayu Anna, Ayudia tak kuasa menolak, ia memberikan kartu hitam itu pada pelayan toko.
Sama reaksinya, mereka kaget melihat kartu itu ada ditangan oleh perempuan dengan penampilan biasa itu.
Anna yang tak tahan dengan pandangan aneh orang-orang pada menantunya, akhirnya memutuskan untuk memasuki salah satu butik mewah.
Perempuan paruh baya itu memilihkan dress selutut berwarna navy, tak lupa satu set perhiasan yang tadi ia pilihkan untuk menantunya, ia juga meminta pelayan butik untuk mendandani menantunya itu.
Saat menantunya sedang didandani, Anna berinisiatif untuk membelikan high hells yang akan digunakan oleh menantunya.
Anna tersenyum bangga melihat penampilan baru menantunya, puas rasanya, akhirnya impiannya untuk berbelanja dengan menantunya terwujud.
"Oh ya Nduk, kamu sudah ada rencana untuk melakukan kontrasepsi belum? Kamu udah lepas masa nifas kan?"tanya Anna saat keduanya akan memasuki toko khusus menyediakan pakaian dalam wanita.
"Belum Bu, ibu tau sendiri, mas Ben, membatasi Ayu, tapi emang perlu ya Bu? Ayu pernah dengar, kalau kasih ASI eksklusif otomatis KB alami,"
"Baik Bu, nanti Ayu Konsul sama Asha,"
Anna memilihkan beberapa lingerie berbagai warna untuk menantunya, lagi-lagi Ayudia protes, kenapa pakaian tak layak pakai itu sampai dijual, namun lagi-lagi ia tak berdaya menolak kemauan mertuanya.
Sebelum pulang, Ayudia meminta mertuanya untuk mampir ke toko baju anak, ia teringat kedua anaknya.
Juga tak lupa memberikan suaminya baju tidur couple dengan dirinya.
Sedangkan untuk mertuanya, ia sengaja memaksa Anna untuk memilih tas yang menurutnya bagus, meski tadi saat membeli, ia tidak menanyakan harganya.
Belum sampai parkiran, Ayudia meminta ijin, untuk ke toilet terlebih dahulu, sedang mertuanya, berjalan terlebih dahulu menuju mobilnya.
Sekembalinya dari toilet, nama Ayudia dipanggil,
"Kamu Ayu kan? Karyawan Rama di cafe?"tanya wanita bersama temannya.
__ADS_1
Ayudia melebarkan matanya, kenapa dari sekian tempat, ia harus bertemu dengan mantan kekasih suaminya dan mantan tunangan sahabat suaminya.
"Ayu, aku tadi hampir nggak mengenali kamu loh?"ungkap Citra yang tak lain mantan tunangan Rama.
Ayudia menanggapinya dengan senyuman, lalu berkata, "mbak Lusi sama mbak Citra apa kabar?"tanyanya ramah.
"Baik yu, aku dengar kamu udah nikah ya? Kayaknya kamu dapat suami kaya ya! Soalnya dari penampilan kamu, sekarang beda banget," ujar Citra memindai penampilan wanita dihadapannya.
"Alhamdulillah, Ayu dapat suami baik mbak,"
"Nikah nggak kasih undangan ke aku sih?"protes Lusi.
"Nikahnya sederhana kok mbak, nggak sebar undangan juga,"jelas Ayudia.
"Ngomong-ngomong, terakhir ketemu, Benedict bilang udah nikah ya! Kamu tau nggak siapa istrinya? Terus cantikan mana sama aku?"tanya Lusi penuh selidik.
Ayudia sedikit gugup, "em.. iya mbak, mas Ben udah nikah, udah punya anak juga,"
"Wah cepat juga y! Tapi kamu kenal sama istrinya nggak Yu?"tanya citra penasaran.
"Ke...kenal mbak,"jawabnya gugup.
"Kenalin dong yu, aku kan pengen tau, wanita seperti apa yang buat Ben nolak balikan sama aku,"pinta Lusi.
"Emang mau ngapain mbak? Nanti mas Ben ngamuk lagi kayak waktu dulu loh,"
"Aku pengen tau aja, apa dia lebih cantik dan seksi dari aku, apa servisnya lebih bagus dibanding aku,"ucap Lusi menjurus ke vulgar.
"Hal pribadi gitu masa mau ditanyain mbak, kan malu," ungkap Ayudia tak enak.
"Penasaran aja, kenapa bisa Ben lebih memilih wanita itu dibanding aku,"
Ayudia yang merasa sudah malas melayani obrolan dengan mantan kekasih suaminya, memohon untuk undur diri, namun sebelumnya, ia berkata, "maaf mbak Lusi, mendingan mbak nggak usah mengharapkan mas Ben lagi, kan masing-masing udah punya pasangan, mendingan mbak Lusi harus lebih perhatian sama pak Arnold dan nona Cleo,"
Setelah berkata seperti itu, Ayudia benar-benar meninggalkan kedua wanita itu.
__ADS_1