Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
delapan puluh lima


__ADS_3

Malam hari setelah memastikan istrinya tertidur, Benedict menghampiri Anna, sudah beberapa bulan ini, ibu kandungnya tidur terpisah dengan cucu-cucunya,


Benedict mengetuk pintu, Anna mempersilahkan masuk, perempuan tua itu sedang membaca buku sebelum tidur.


"Ada apa Ben? Tumben kamu nemuin ibu malem-malem,"tanyanya heran.


Benedict duduk di sofa yang berada tak jauh dari ranjang, "apa ibu pernah kasih uang ke istri Ben, sebelum kami menikah?"tanyanya balik.


"Apa istri kamu cerita?"


Benedict mengangguk, "Ayu masih nggak mau ikut aku ke pulau, bahkan saat aku bilang ada denda pembatalan kontrak, Ayu malah mau menggantinya, katanya uang dari ibu dulu, karena uang itu, dia bisa lari dari aku saat kami masih di Amerika, pantas saja, aku nggak bisa lacak penggunaan kartu, ternyata gara-gara ibu, dan kabur yang terakhir juga sama ibu kan?"


"Kenapa sih Bu? Ibu nggak suka kalau aku jadi suaminya Ayu? Apa karena Ayu terlalu baik buat aku? Makanya ibu berbuat itu?"


Anna tersenyum ambigu, "ya gimana ya Ben, kalau bisa dibilang iya juga, sayang banget perempuan baik seperti Ayu, bisa punya suami macam kamu, tapi mau bagaimana lagi, mau nggak mau, Ayu udah terlanjur hamil cucu-cucu ibu, coba kalau belum, pasti setelah menikah, ibu akan bawa Ayu pergi jauh dari kamu, apalagi sekarang ibu sudah lepas dari Ronald,"


"Emang menurut ibu, Ben nggak pantas dapat perempuan baik-baik seperti Ayu Bu?"


"Untuk Ayu yang polos, ibu menyayangkan, tapi karena Ayu pula kamu sedikit manusiawi, jadi mau nggak mau kan ibu biarkan kamu disisi menantu ibu,"


Benedict memegangi tengkuknya, "Ben beneran cinta sama Ayu Bu, emang ibu pikir selama ini, Ben cuman main-main sama Ayu, bahkan karena Ayu juga, Ben melepas jabatan di perusahaan kakek,"


"Ibu tau Ben, maka dari itu ibu biarkan kamu bersama Ayu, walau ibu tau, Ayu akan sering tersakiti karena sifat dan sikap kamu,"


"Jadi karena itu, ibu sengaja bawa Ayu lari dari Ben, dua tahun yang lalu?"


Anna mengangguk, "saat tau kamu menyakiti Ayu, ibu sengaja meminta Asha untuk membujuk kamu untuk pergi terlebih dahulu kan? Itu sudah jadi rencana ibu untuk menghindarkan Ayu dan anak-anaknya dari laki-laki macam kamu, ya karena bujukan Nando, akhirnya Ayu mau kembali sama kamu,"


"Yang sebenarnya Anak ibu, Ayu atau Ben sih?"


"Ben, ibu menganggap Ayu seperti putri ibu sendiri, dan ibu tau betul kamu lelaki seperti apa, kamu manipulatif, egois, kasar dan akan melakukan apapun agar keinginan kamu tercapai, Ayu akan lari jika tau sifat asli kamu seperti apa,"

__ADS_1


"Ya jangan sampai Ayu tau Bu, kalau ibu dan sahabat aku nggak ngasih tau, ibu tau betul kan apa yang akan aku lakukan jika sampai Ayu meninggalkan aku, gara-gara salah satu dari kalian, aku nggak peduli meski ibu sekalipun, dan satu lagi, tolong bujuk Ayu, untuk ikut Ben ke pulau, bagaimanapun caranya, Ayu harus ikut Ben,"ujarnya berlalu meninggalkan ibu kandungnya.


Anna memijat kepalanya, putranya tak pernah berubah, putranya hanya terlihat baik ketika dihadapan istrinya.


Perempuan paruh baya itu sampai bercerai dengan Ronald karena ingin melindungi menantu dan cucu-cucunya.


Yang mengetahui sifat asli lelaki itu hanyalah Anna dan sahabat-sahabat Benedict saja,


Dulu saat putranya memutuskan kembali ke tanah kelahirannya, Anna memang sempat depresi karena harus jauh dari putra satu-satunya, tapi disisi lain ia juga berharap, Benedict berjodoh bukan dengan perempuan Indonesia, ternyata harapan tinggal harapan, Benedict malah menikah dengan wanita polos seperti Ayudia.


Keesokan paginya usai sarapan, Anna mengajak menantunya untuk berkebun di kebun belakang antara rumah utama dan rumah pekerja.


"Nduk, gimana keputusan kamu soal ikut suamimu ke pulau?"tanya Anna disela-sela dirinya sedang memberi pupuk pada tanaman cabe nya.


"Menurut ibu bagaimana?"tanya Ayudia.


"Kalau menurut ibu sih, kamu mendingan ikut,"jawabnya.


"Kan ada ibu yang jagain anak-anak kamu,"


"Bu, anak-anak udah mulai aktif banget, Ayu takut ibu kecapekan,"


"Ibu bisa minta bantuan sama bude kamu atau sama bibi Atun, ada banyak maid yang bisa dipercaya di rumah ini nduk,"


Ayudia terdiam berfikir, cukup lama, hingga ia menarik nafas dan menghembuskannya berkali-kali, dan akhirnya, "baik Bu, Ayu akan ikut mas Ben,"


"Keputusan yang tepat nduk, jangan khawatir soal anak-anak ya, kamu percaya kan sama ibu?"


Ayudia mengangguk, "maaf ya Bu, Ayu ngerepotin ibu,"


Sebelum keberangkatannya untuk mengikuti suaminya bekerja, Ayudia mendatangi rumah bibi Atun juga Samsul untuk berpamitan, sedangkan bude masih di kampung, belum datang ke ibu kota, rencananya bude akan datang dua hari sebelum keberangkatan keponakannya itu.

__ADS_1


Benedict selalu menempel pada istrinya, kemanapun istrinya pergi, lelaki itu akan mengantarkannya, mungkin dia tidak mau istrinya diam-diam pergi darinya.


"Kenapa sih mas, ikutin Ayu terus, aku risih ih lama-lama,"ungkapnya saat keduanya baru pulang dari rumah Samsul.


"Kan biasanya aku juga sama kamu terus,"ujar Benedict santai.


Ayudia melepaskan rangkulan di bahunya, ia berbalik dan berkacak pinggang, "mas, nanti kalau aku ikut kamu, kita bakal sama-sama terus, jadi sisa hari sebelum kita berangkat, aku minta kamu jauh-jauh dari aku,"


"Ya nggak bisa gitu dong Ay, masa aku mesti jauh-jauh dari kamu,"protes lelaki dua anak itu.


"Jauhi aku selama seminggu atau aku nggak jadi ikut, kamu cari kesibukan sana, kerjaan kamu kan banyak,"


"Itu bisa dikerjain nanti Ay,"


"Jaga jarak atau aku nggak jadi ikut, pilihan ada ditangan kamu,"


"Nggak ada jaga jarak dan kamu harus tetap ikut, aku tidak terima penolakan,"


Ayudia yang lelah akhirnya berlalu dari hadapan suaminya, rasanya malas berdebat dengan lelaki itu.


"Kamu mau kemana Ay?"


"Perut aku mules, capek ngomong sama kamu,"


Ibu dua anak itu, memasuki toilet yang tak jauh dari ruang bermain anak-anaknya, sementara Benedict menunggunya di sofa tak jauh dari sana.


Namun Ayudia tak benar-benar membuang hajat, itu hanya dalih agar bisa lepas dari lelaki itu, tidak sampai sepuluh detik ia menutup pintu toilet, ia keluar lagi dari sana, ia melakukan gerakan tanpa suara.


Benedict yang duduk membelakangi toilet, sampai tak menyadari perilaku istrinya.


Ayudia berjalan mengendap-endap, hal itu membuat beberapa maid yang melihatnya menjadi heran, mungkin mereka bertanya, apa yang dilakukan nyonya rumah mereka?

__ADS_1


Ayudia bernafas lega setelah lepas dari pengawasan suaminya, ia berjalan menuju halaman belakang, melalui kebun sayur mini, juga melewati rumah para pekerja, ia meminjam motor salah satu pekerja, dan keluar dari rumah besar itu lewat pintu belakang.


__ADS_2