
Benedict tengah membicarakan pembelian tanah di wilayah tengah negara ini untuk pembangunan resort, bersama dengan Rama, namun ada sebuah pesan masuk pada ponsel milik Rama dari Satria, bahwa Lusi datang menemui Ayudia dibawah.
Mengetahui hal itu Rama menunjukan isi pesan itu pada Benedict, tak banyak bicara, calon ayah itu langsung bergegas ke lantai bawah cafe.
Rama yang masih ada di ruangannya mengirimkan pesan pada Arnold, bahwa Lusi berada di cafenya, berharap lelaki itu mau menjemput istrinya.
Benedict sebenarnya sangat malas menghadapi mantan pacarnya itu, perempuan itu bahkan tak pernah berubah dari belasan tahun lalu.
Sifat tak tau malu, yang selalu menganggap semua laki-laki bisa ditaklukkan oleh Lusi hanya karena perempuan itu menawarkan kecantikan dan kemolekan tubuhnya.
Rasanya sangat muak mendengar rayuan perempuan tak tau malu itu, jika tidak ada Ayudia, mungkin dengan senang hati Benedict akan berbuat kekerasan pada mantan pacarnya itu.
Sedari tadi ketiganya berbicara, Benedict selalu menggenggam lembut tangan istrinya dibalik meja, hal itu ia lakukan supaya bisa meredakan amarahnya.
Namun sepertinya Lusi semakin berani merayunya.
Dari kejauhan terlihat Rama keluar dari cafe, tak lama kemudian ia datang bersama laki-laki dengan pakaian formal khas pegawai kantoran.
"Apa yang kamu lakukan Lusi?"bentak lelaki itu yang tak lain adalah Arnold Suami dari Lusi.
Perempuan satu anak itu kaget, suaminya datang memergoki dirinya tengah menggenggam tangan mantan pacarnya.
"Aku lagi ngobrol sama Ben, kan udah lama aku nggak ngobrol sama dia,"ucap Lusi berusaha santai, meski terlihat jelas jika perempuan itu tengah gugup.
"Tapi kenapa mesti pegangan tangan segala? Apa kamu berniat mengemis cinta pada dia?"tebak Arnold yang tengah emosi.
"Dan elo Ben, kenapa Lo diem, saat Lusi ngedeketin elo, padahal elo tau Lusi bini gue,"ucapnya tajam pada Benedict.
Calon Ayah itu bangkit berhadapan dengan saudara tirinya itu, "mending Lo bilang bini Lo, supaya nggak Dateng kesini buat nyari gue, ga nyangka gue, udah belasan tahun nggak ketemu, masih aja bini Lo, kegatelan sama gue, dan asal Lo tau, gue jijik sama bini Lo,"ucap Benedict menohok.
Arnold yang kadung emosi memberikan bogem mentah pada pipi Benedict, sontak hal itu membuat para perempuan di sana menjerit, Ayudia bahkan sampai menutup mulutnya kaget.
Benedict yang tak siap dengan serangan saudara tirinya itu, sampai terjatuh, tak membuang kesempatan, Arnold memukuli Benedict membabi buta.
Rama dan Satria berusaha melerai perkelahian antar saudara tiri itu, namun sepertinya Arnold tak mempedulikannya.
__ADS_1
"Bangsat, dulu Lo mukulin gue, sekarang gantian, mampus Lo,"maki Arnold masih terus memukuli Benedict.
Sementara Benedict tak memberikan perlawanan berarti, sampai Ayudia angkat bicara, "Mas Ben, kenapa diem aja, apa memang kamu mau balik sama mbak Lusi? Apa kamu merasa bersalah?"
Mendengar ucapan istrinya, Benedict baru memberikan perlawanan, ia mendorong Arnold yang menindihnya.
Benedict bangkit dengan wajah babak belur, dengan darah keluar dari hidung dan sudut bibirnya.
"Brengsek Lo, tapi thanks tindakan Lo bakal gue bawa ke jalur hukum,"ucapnya pada Arnold yang sedang dipegangi oleh Rama dan Satria.
"Dan Lo Rama, kasih rekaman CCTV buat bukti tindak kekerasan dia ke gue, bilang ke Alex buat ngajuin tuntutan,"ucap Benedict berlalu sambil menggandeng tangan istrinya.
Terdengar cacian keluar dari mulut Arnold, lelaki itu masih saja emosi.
Benedict mengajak istrinya menuju parkiran, ia harus segera meninggalkan tempat itu.
Sepanjang perjalanan, tak ada pembicaraan berarti diantara keduanya, Ayudia memilih melihat pemandangan keluar jendela, sementara Benedict fokus mengemudikan mobilnya.
Sesampainya di rumah, Ayudia mengambil kotak P3K, ia juga mengambil handuk kecil dan baskom berisi air hangat.
Hingga tengah hari, keduanya masih terdiam, Ayudia memainkan ponselnya di kamar, sedangkan Benedict berdiam diri di sofa ruang tamu.
Sampai ponsel Benedict berbunyi, Alex menghubunginya, menanyakan tentang tuntutan kekerasan yang menimpa sahabatnya itu.
Tak lama bel rumah berbunyi, itu Driver ojol yang mengantarkan makan siang yang diorder oleh Benedict setelah mengakhiri pembicaraannya dengan Alex.
Benedict menyiapkan makan siang sehat untuk ibu hamil itu, namun sudah sepuluh menit berlalu, istrinya tak kunjung datang.
Akhirnya ia menghampiri istrinya yang ada di kamar, "Ay, makan yuk, aku udah pesankan makanan buat kamu,"
Ayudia yang tengah memainkan ponselnya, menghentikan kegiatannya, ia bangkit menuju meja makan.
Lagi-lagi tak ada pembicaraan berarti diantara pasangan suami-isteri itu hingga makanan di meja tandas tak tersisa.
Selesai makan, Ayudia langsung menuju kamar, tanpa membereskan meja makan atau mencuci piring, ini benar-benar diluar kebiasaannya.
__ADS_1
Melihat hal itu, Benedict menjadi bingung sendiri, bukankah yang sedang merasakan sakit itu dirinya, kenapa ia malah didiamkan oleh istrinya.
Lelaki itu menghampiri istrinya yang sedang tiduran di atas ranjang, "Ay, kamu marah sama aku?"tanyanya sambil mengelus kepala Ayudia.
"Nggak,"jawab Ayudia singkat.
"Terus kenapa dari tadi kamu diam aja?"
"Nggak kenapa-napa kok, biasa aja lagi,"
Benedict mencium rambut istrinya yang beraroma wangi bunga, "tapi diem kamu beda, aku nggak nyaman kamu diemin,"
Ayudia duduk, ia bersandar pada kepala ranjang dan menatap suaminya, "aku cuma bingung mau ngomong apa,"
"Apa kamu marah dengan kejadian di cafe tadi?"
"Nggak, aku biasa aja, nggak peduli juga sama urusan kamu sama mereka, kan nggak ada hubungannya sama aku,"
"Tapi kamu istri aku,"
"Tapi itu urusan kamu sama masa lalu kamu, jadi aku nggak peduli,"
"Kok ngomongnya gitu,"
"Terus menurut kamu aku mesti gimana? Maki-maki kamu ataupun mereka gitu? Atau malah ninggalin kamu yang belum selesai sama masa lalu kamu itu?"
"Ya nggak ninggalin juga, ingat loh, kamu lagi hamil, jadi nggak boleh marah-marah,"
"Nah itu kamu tau, makanya dari tadi aku diem, dan untuk masalah kamu sama mereka, aku nggak mau ikut campur, itu urusan kamu, dan tolong selesaikan sebelum kita pergi dari sini, itupun kalau kamu ingin aku ikut kamu pergi, kalau nggak, nggak masalah kalau aku nggak jadi pergi,"
Benedict menggenggam kedua tangan istrinya dan menciumnya lembut, "Ay, aku akan selesaikan masalah ini secepatnya, supaya kita bisa sama-sama pergi, aku nggak mau jauh dari kamu lagi,"
Ayudia hanya mengangguk, ia memilih merebahkan tubuhnya lagi, sepertinya kehamilannya membuat ia malas untuk bergerak.
Setelah sekian lama baru kali ini ia bisa rebahan di atas kasur saat siang hari.
__ADS_1
Hari-hari sibuknya dulu, sepertinya akan berlalu, terganti dengan hari-harinya yang bermalas-malasan di atas kasur dan memainkan ponsel