Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
seratus tiga puluh satu


__ADS_3

Ayudia tertidur usai makan siang, sedangkan Benedict akan pergi ke cafe sebelum lelaki itu menjemput anak-anaknya ke sekolah.


Wajahnya terlihat cerah, bahkan saat menyetir, ia senyum-senyum sendiri, ia teringat ungkapan perasaan istrinya.


Setelah belasan tahun dan melalui berbagai ujian, akhirnya istrinya bisa mencintai dirinya seutuhnya, cinta Ayudia hanya untuk dirinya seorang, dengan kata lain, wanita itu tidak akan berniat kembali ke cinta pertamanya, lega sekali dirinya mendengar pengakuan dari mulut istrinya.


Rasanya ingin berteriak kalau hari ini ia sangat bahagia, ia ingin memberitahu jika ia dan istrinya saling mencintai, rasanya sempurna sudah hidupnya.


Di usia yang beberapa bulan lagi menginjak angka empat puluh empat tahun, hidup yang ia jalani selama ini semakin lengkap, ia berumah tangga dengan wanita yang dicintainya, punya dua anak kembar dan sedang menunggu kelahiran anaknya, punya keuangan yang stabil.


Semua pencapaian yang sangat ia syukuri, ah... Tapi ada satu yang kurang, sepertinya nanti sepulang menjemput anak-anaknya ia akan mendiskusikannya dengan istrinya.


Sesampainya di cafe yang sudah banyak sekali berubah itu, Benedict masuk, dan mendapati Satria di balik mesin penggiling kopi, salah satu sahabat sekaligus penasehat pernikahannya, tersenyum padanya.


Lelaki yang sebentar lagi menjadi kakek, juga sudah mulai muncul uban di kepalanya, tadi Benedict sempat menggodanya, tak lupa mengirim sedikit uang hadiah untuk calon kakek itu.


Mengobrol sejenak dengan Satria, Benedict beranjak menuju ruangan sahabat dari masa remajanya, sahabatnya yang paling berharga juga paling ia percayai.


Ia mengetuk pintu dan langsung membukanya, Rama terlihat sedang berada di depan laptop saat ia datang dan duduk di sofa singel.


"Napa Lo senyum-senyum sendiri, perasaan gue belum ngajak ngomong deh, dan muka Lo kayaknya cerah banget, nggak mungkin banget cuman gara-gara Maybach yang gue kirim semalem,"ucap Rama melihat sahabatnya sedari tersenyum sendiri.


Benedict tertawa hingga membuat Rama semakin heran, lelaki itu menutup laptopnya dan bergegas menghampirinya.


"Ben, jangan bilang Lo kesambet setan pulau punya tuan Amar?"ujar Rama mulai khawatir.


"Apa jangan-jangan Lo lagi puber kedua ya? Wah macem-macem Ama Ayu Lo ya! Gue bilangin nih,"tebak lelaki tiga anak itu.


Benedict menghentikan tawanya, namun masih ada senyuman kecil di bibirnya, "iya kayaknya gue lagi puber ke dua,"jawabnya ambigu.


"Gila Lo ya! Ingat Ayu lagi hamil anak Lo, masa iya Lo mau selingkuh, wah nggak bisa dibiarkan,"


"Siapa yang selingkuh sih Rama, gue tuh lagi jatuh cinta lagi sama istri gue,"


Rama menatap bingung sahabatnya, "maksudnya apa sih Ben? Gue bingung, apa gue yang rada lemot ya!"


"Lo tau setelah belasan tahun akhirnya cintanya Ayudia hanya untuk gue seorang, dan Lo tau, tadi bini mengungkapkan perasaannya ke gue,"jelasnya dengan mata berbinar-binar.


"Iya gue udah tau,"ucap Rama santai, "gue pikir apaan Ben, gue Mah udah ngerasa sejak Ayu bangun dari koma, sebenarnya dari situ dia udah mulai balas perasaan Lo, orang di curhat sama bini gue, sambil nangis-nangis bilang kangen banget sama Lo, dan baru sadar dia nyesel udah nyakitin Lo, dia juga sadar udah mulai cinta dan takut kehilangan Lo,"

__ADS_1


"Kenapa Lo nggak ngasih tau gue?"tanya Benedict kesal, bagaimana berita membahagiakan itu tidak beritahukan padanya.


"Lah, lo emang nanya sama gue?"tanya Rama balik.


"Rama hal kayak gini Lo nggak ngasih tau ke gue? Sahabat macam apa Lo! Jadi selama tiga tahun lebih gue kayak orang bego ditengah hutan hanya buat ngasih waktu bini gue buat menentukan pilihan, padahal jelas-jelas dia pasti milih gue,"ungkap Benedict kesal.


"Lah Lo kaga ngerasa emang! Dasar nggak peka, terus apa Ayu baru ngomong sekarang?"tanya Rama.


Benedict menceritakan kejadian tadi pagi saat istrinya bertemu Pradikta dan cerita istrinya soal perasaannya tadi siang.


"Terus apa rencana Lo selanjutnya?"


"Sebentar lagi liburan anak-anak kan, gue mau ajak keluarga gue umroh,"


"Wah, sahabat gue udah tobat, Alhamdulillah,"


"Apaan sih Lo, sahabat Lo udah mulai ingin dekat sama Tuhan-nya, didukung dong, sebenarnya selama gue di pulau, gue banyak merenung, kayaknya hidup gue ada yang kurang, terus tuan Amar kasih sedikit pencerahan sedikit sama gue selama di pulau kemarin,"


"Bagus deh, terus apa yang bisa gue bantu?"tanya Rama.


"Bisa Lo cariin agen travel buat umroh, ajak yang lain juga, oh ya si Satria sama bininya ajak juga, ibu Lo juga boleh sekalian, sama entar gue mau tawarin pekerja di rumah gue, mumpung gue masih cuti kan?"


"Gue serius Rama, dan untuk biayanya, pakai duit gue pribadi, entar Lo tawarin ke yang lain, terus Lo total, terus kasih tau ke gue, nanti gue bukain cek,"jawabnya.


"Terus Lo mau berangkat kapan?"


"Pokoknya abis anak-anak gue ujian semester,"


"Oke gue segera urus,"ujar Rama bersemangat.


Selanjutnya hanya obrolan seputar anak-anak mereka juga tentang sahabat yang lain.


Benedict sedang dalam perjalanan menuju ke sekolah anak-anaknya, saat istrinya menghubunginya, wanita hamil itu sudah bangun dan berpesan untuk segera menjemput anak-anaknya.


Mobil Maybach berwarna hitam itu, memasuki parkiran sekolah elite itu, setelahnya Benedict keluar dari mobil berniat untuk  menemui kepala yayasan, tadi ia sudah mengirim pesan pada anak-anaknya untuk menunggu sebentar.


Seorang staf mengantarkannya menuju ruangan kepala yayasan.


Lelaki paruh baya ber name tag Jeremy Andreas, memindai penampilan salah satu wali murid yang bersekolah di tempatnya.

__ADS_1


Lelaki tinggi besar dengan rambut dan mata tajam berwarna hitam, hidung mancung, dengan kaos hitam yang pas badan, juga celana blue jeans, sepatu sport berwarna putih bermerk tanda cek list, juga jam tangan berwarna hitam, terlihat biasa saja untuk wali murid sekolahnya.


"Ada yang bisa saya bantu, dengan tuan?"tanya Jeremy sambil mengulurkan tangan.


Benedict membalas jabatan tangan itu, "perkenalkan saya Benedict Johnson Wright, ayah dari Ainsley Wright dan Aileen Wright,"jawabnya.


"Jadi ada yang bisa saya bantu?"tanya lelaki paruh baya itu sembari mempersilahkan tamunya untuk duduk di sofa.


"Maksud kedatangan saya kemari adalah saya ingin memastikan kedua anak saya bisa bersekolah disini dengan nyaman dan aman, tanpa ada perundungan baik verbal ataupun non verbal,"jawab Benedict.


"Bisa dijelaskan maksud anda?"


"Saya baru pulang dari perjalanan bisnis dan mendapati putri saya mengeluh tentang teman sekelasnya yang menghinanya, mengatakan bahwa putri saya pembohong dan mereka mengucilkannya, tentu saya sebagai ayahnya tidak terima putri kesayangan saya diperlakukan seperti itu,"


"Aileen Wright adalah putri satu-satunya keturunan keluarga Wright setelah lima generasi ke belakang keluarga Wright tidak ada yang memiliki putri, tentu karena itulah saya sebagai ayahnya benar-benar akan menjaga putri keluarga Wright yang sangat berharga, anda mengerti maksud saya kan?"


Jeremy masih mencerna ucapan laki-laki dihadapannya, sepertinya ia masih bingung.


"Mungkin anda mengira saya mengada-ada tentang keluarga saya, ya memang keluarga kami tidak di kenal disini, karena saya memang tidak ingin dikenal di negara asal mendiang ibu dan istri saya, mungkin anda mengira  saya hanya orang kaya baru, tapi jika saya mau, saya bahkan bisa membeli sekolah ini sekarang juga,"ungkap Benedict jumawa.


Tentunya hal ini ia lakukan demi putrinya yang berharga, walau jika istrinya tau kelakuannya bisa marah wanita yang ia cintai itu.


"Jadi apa yang harus saya lakukan, Mr. Wright?"tanya Jeremy.


"Tolong pastikan anak saya tidak mengalami hal itu lagi, terutama dari murid bernama Michelle Lauren, dan jika keluarga Lauren tersinggung, jangan salahkan saya, jika usaha mereka di Amerika saya buat bangkrut, ini hanya sebuah peringatan,"jawab Benedict dengan tegas dan diakhiri dengan ancaman.


Lelaki itu bangkit, "terima kasih dan maaf saya mengganggu waktu anda Mr. Andreas,"ujarnya lalu berlalu keluar dari ruangan itu.


Jeremy mengambil ponselnya dan mengetik nama dari tamunya di Mesin pencarian, dan setelahnya matanya melotot tak percaya tamunya adalah orang yang cukup punya pengaruh di Amerika.


Disisi lain Ainsley dan Aileen menunggu ayahnya diruang tunggu di lobby sekolah elite itu, bersama murid-murid yang lain.


Senyum mengembang ditujukan Benedict saat melihat anak-anaknya,


"Mau langsung pulang?"tanyanya  pada anak-anaknya.


"Iya yah, Ai pengen istirahat,"jawabnya.


Saat melalui sekumpulan wanita yang sedang menjemput anaknya, hampir semuanya terpesona melihat tubuh kekar dan ketampanan lelaki yang sedang merangkul putrinya.

__ADS_1


__ADS_2