Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
seratus dua puluh delapan


__ADS_3

Keesokan paginya, Benedict terbangun setelah putrinya memanggilnya, lelaki yang tidur telungkup dan hanya mengenakan celana bokser nya, menggeliatkan tubuhnya.


"Ada apa sih Aileen? Ayah masih ngantuk, bunda mana?"tanyanya sambil mengucek matanya.


"Ayah lupa janji ayah kemarin?"Aileen mencoba mengingatkan ayahnya.


Benedict terdiam berfikir, "maafkan Ayah, ayah lupa, baiklah ayah akan segera mandi, beri waktu ayah sepuluh menit,"


"Cepat ayah, nanti Ai terlambat,"


Ucapnya sambil keluar dari kamar orang tuanya.


Benedict bangkit dan bergegas memasuki kamar mandi, ia mandi kilat, cukup hanya lima menit, ia sudah keluar melilitkan handuk ke pinggangnya.


Ia memasuki walk in closet untuk memilih kaos berwarna hitam dan celana blue Jeansnya, menyemprotkan parfum mahalnya, tak lupa memakai jam tangan yang harganya setara mobil, tak lupa dompetnya dengan jejeran kartu yang bisa membeli satu gedung pusat perbelanjaan.


Sesampainya di lantai bawah, kedua anaknya sedang berdiri menunggunya,


Aileen menilai penampilan ayahnya, dari atas hingga bawah, "ayah kok nggak pakai jas?"protesnya.


"Ayah kan nggak ke kantor Aileen,"jelasnya.


"Tapi ini biasa aja, yang keren dong ayah,"protesnya lagi,


"Bukankah ketampanan ayah lebih dari cukup untuk kamu pamerkan pada teman-teman kamu,"


"Tapi ayah.."


"Aileen sayangnya bunda, ini cukup sayang, kalau ayah terlalu keren, nanti orang tua teman kamu, ada yang suka sama Ayah kan repot, kamu tau kan pelakor di negara ini tidak tau malu?"ujar Ayudia mengingatkan putrinya.


Aileen mengangguk dan Benedict  wajahnya bersemu merah,


"Apa bunda takut ayah direbut pelakor?"tanya Ainsley menyela.


"Ya terserah kalian, kalau mau punya mama baru,"ujar Ayudia berlalu ke dapur.


"Ainsley Wright"Benedict melototi putranya.


"Maaf ayah, bunda nggak mungkin marah, kecuali kalau ayah benar-benar kepincut sama perempuan lain,"setelah mengatakannya, Ainsley berlari keluar menuju halaman depan.


Benedict dan Aileen bergegas menghampiri Ainsley yang berada di depan rumah.


Melihat kedatangan ayahnya Ainsley bertanya, "ayah ini mobil siapa?"tanyanya.


"Tentu saja mobil ayah,"jawabnya sambil tersenyum.


"Perasaan kemarin sore belum ada deh,"ujar Aileen.

__ADS_1


"Bukankah putri Ayah, meminta supaya diantar menggunakan mobil yang bagus?"tanyanya pada putrinya.


"Iya sih, tapi cepat sekali, kan baru kemarin sore Ai minta,"jawabnya teringat permintaannya kemarin sore.


Benedict merangkul pundak putrinya dan mencium keningnya, "apapun untuk putri ayah, sebenarnya ayah ingin mengantarkan kalian memakai helikopter, tapi bunda melarang, katanya ayah nggak boleh seenaknya, karena ini bukan negara Ayah,"jelasnya.


Kedua mata Aileen berbinar, "wah, kalau sampai benar diantar memakai helikopter, bisa heboh satu sekolah, dan nggak ada yang berani meledek Ai lagi,"


"Kalau mau sekolah diantar helikopter, kalian sekolah di negara ayah lah,"rayunya pada kedua anaknya.


"No.... Nggak masalah diantar mobil, cepat berangkat nanti terlambat,"celetuk Ainsley.


"Nanti tunggu bunda,"ucap Benedict,


Tak lama Ayudia keluar dengan menggunakan setelan baju muslimah dengan pasmina berwarna nude.


Benedict terpana melihat istrinya, hingga Aileen menepuk pundak Ayahnya, mengajaknya untuk segera berangkat.


Keluarga kecil itu menaiki mobil, dengan Benedict dibalik kemudi dan Ainsley berada disebelahnya, sedangkan Ayudia dan Aileen duduk di kursi belakang.


"Semalam ayah kemana kok, bunda bangun tengah malam nggak ada?"tanya Ayudia.


Mendadak gugup menyerang lelaki itu, "ada kok Bun,"


"Oh... Kirain cari mama baru,"


"Ya nggak lah Bun, nggak mungkin aku kayak gitu,"sangkalnya.


Benedict mendadak mengerem mobil yang dikemudikannya dan menatap putranya tajam, "jadi Ainsley ingin ayah sama bunda berpisah?"


Remaja itu dengan santai menjawab, "kan kalau misalnya ayah cari mama baru, betul kan Bun?"


"Ainsley nggak boleh gitu, ayah kan jadi marah tuh, kalau tadi kita kecelakaan gimana?"ujar Ayudia menasehati putranya.


"Maaf ayah, Ain cuman bercanda,"ucapnya menunduk.


Benedict kembali menjalankan mobilnya, karena hal itu suasana mobil menjadi hening, tak ada percakapan apapun.


Aileen menatap bundanya seolah berkata, "ayah marah Bun,"


Ayudia hanya menggeleng, ia berdehem, "yah, nanti pulang abis antar anak-anak, aku mau makan mie ayam dong, kayaknya enak deh sarapan mie pagi-pagi,"ucapnya mencoba memecah keheningan.


Benedict hanya berdehem dan masih sibuk mengemudi,


Karena masih pagi jalanan cukup lancar, sehingga tidak sampai setengah jam, mobil masuki lingkungan sekolah elite itu.


"Bunda tunggu di mobil ya,"ujarnya, kedua anaknya bergantian menyalami dan mencium tangan Ayudia.

__ADS_1


Benedict berjalan di samping putrinya, sedangkan Ainsley berjalan didepannya.


Ada beberapa orang tua murid yang mengantar anaknya terpana melihat laki-laki tampan yang berjalan dengan salah satu murid perempuan.


Benedict mengantar putrinya hingga ke kelas, katanya ia ingin mengenalkannya pada teman sekelasnya.


Kelas yang ada dilantai dua itu seketika heboh dengan kedatangan laki-laki itu,


Aileen menggandeng ayahnya dan membawanya ke depan kelas, dengan bangga, remaja itu memperkenalkan ayahnya pada teman-temannya.


Beberapa siswi sampai melongo melihat ayah dari salah satu teman mereka, sedangkan beberapa siswa memperhatikan tubuh kekar lelaki dewasa itu.


Terdengar bisik-bisik kekaguman  dari para siswa dan siswi, tapi ada salah satu siswi yang berteriak, "kok, Aileen beda sama papanya, jangan-jangan kamu sewa orang ya!"ucap siswi bernama Michelle menggunakan bahasa Inggris.


"Ini benar ayah Aileen kok, soalnya Aileen mirip grand pa,"ujarnya membela diri.


"Tapi Michelle nggak percaya, kamu bohong kan? Soal kamu punya pesawat pribadi, sama mansion kamu bohong kan?"


Benedict menepuk pundak putrinya, ia berbisik, "apa yang ingin ayah lakukan pada anak itu?"


"Beri sedikit pelajaran ayah, supaya dia tidak meledek Ai lagi"bisiknya pada ayahnya.


"Oke,"


Benedict mengambil ponselnya, ia bertanya pada Michelle, "siapa nama papa kamu?"tanyanya dengan tatapan mengintimidasi.


Michelle gugup ditatap seperti itu, "Harry Lauren,"


Benedict menelpon salah satu sahabatnya, "Lex, cari tau tentang Harry Lauren," tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya, ia mengakhiri panggilannya.


"Aileen sayang, kalau ada yang ganggu kamu lagi, kasih tau ayah, dan serahkan semua kepada ayah,"ujarnya sambil mencium kening putrinya, lalu berlalu dari kelas itu.


Benedict berjalan menuju ruangan kepala yayasan, setelah tadi bertanya kepada salah satu murid yang ia temui.


Ruangan kepala yayasan berada di lantai satu, dari salah satu staf administrasi sekolah, ia mendapatkan informasi jika kepala yayasan belum datang.


Karena tidak ingin membuat istrinya menunggu terlalu lama, benedict meninggalkan nomor telepon, dan berpesan agar kepala yayasan menghubunginya, karena ada hal penting yang ingin ia bicarakan dengan beliau.


Setelahnya, lelaki itu berjalan menuju parkiran, di sana masih terdapat beberapa wanita yang sepertinya penasaran dengannya.


Dengan percaya diri mereka menghampiri lelaki tampan itu, mengajaknya berkenalan, tapi Benedict menanggapinya dengan dingin, ia sama sekali tidak peduli dengan mereka.


Benedict memasuki kursi kemudi, terlihat wanita-wanita tadi berbinar, melihat mobil yang ia pakai.


"Wah, ayah Aileen sampai ditunggu ibu-ibu cantik,"sindir Ayudia.


"Apaan sih Bun, aku risih sama mereka, kalau bukan karena Aileen aku malas,"

__ADS_1


"Iya ayah Aileen, mending sekarang kita cuz ke tukang mie ayam, nanti keburu ngantri,"


Benedict mengemudikan mobilnya menuju penjual mie ayam yang diinginkan istrinya.


__ADS_2