Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
delapan puluh delapan


__ADS_3

Benedict kesal sekali setelah mendengar ucapan dari Amara, nyatanya bukan dirinya saja yang memiliki panggilan sayang untuk Ayudia, yang membuatnya semakin kesal karena panggilannya sama seperti cinta pertama istrinya.


Namun lelaki itu tak menunjukan rasa kesalnya, ia melanjutkan menikmati makanannya.


Ayudia dan Nando saling pandang seolah mengatakan, "kok dia diem aja, tumben,?"


Amara berusaha menghilangkan kecanggungan diantara mereka,


"Jadi Di, sejak kapan Lo nikah?"


Tanyanya.


"Udah tiga tahun lebih,"jawab Ayudia.


"Kok temen SMA nggak ada yang ngasih tau ya!"


"Gue nikah di KUA, sederhana aja Ra, nggak nyebar undangan,"


"Pantesan nggak kedengaran kabarnya, terus Lo udah ada anak belum?"


"Udah kembar cowok cewek, belum lama ulang tahun yang ke dua,"


"Cepat juga ya! Jadi sekarang Lo sekarang tinggal dimana?"


"Di rumah laki gue,"


"Iya dimana?"


Ayudia menyebutkan kompleks perumahannya,


Amara melongo mendengar alamat tempat tinggal sahabatnya, "bukannya itu kompleks elit ya! Jadi suami Lo orang kaya ya di?"tanyanya berbisik.


"Biasa aja Ra, Liat tuh, mana ada orang kaya makan di warung bakso kayak gini Ra,"ujarnya sambil melirik suaminya.


"Tapi Di, kok bisa cogan kayak laki lo, mau sama Lo yang kayak gini,"bisiknya menahan tawa.


"Sialan Lo, itu namanya rejeki Ra, nah Lo tuh dilamar sama AA, dia kaya raya tau, tapi jangan mau sama AA deh,"


"Gue juga nggak mau, kayak player gitu kayaknya, mantan gue yang wajah lugu aja, nggak taunya brengsek, apa lagi kayak si doi,"


Usai keempatnya menghabiskan makanannya, Ayudia beranjak keluar dari warung bakso itu, semua makanan tadi sudah dibayar oleh suaminya.


Saat didepan warung bakso terjadi perdebatan pasangan suami istri itu,


"Kamu pulang sama aku,"ujar Benedict tak mau dibantah, saat istrinya hendak menaiki motor matic milik salah satu pekerja dirumahnya.


"Nggak mau, aku mau anterin Amara pulang dulu,"tolak Ayudia.


"Ada Nando yang antar,"


"Nggak bisa, mana mau Amara pergi berdua sama yang bukan apa-apanya,"


"Bunda nurut sama ayah ya, bunda tau kan, ada yang harus bunda jelaskan sama ayah,"


Mendengar ucapan Benedict, Nando tertawa, "ciye... Langsung ganti panggilan,"

__ADS_1


Benedict menatap tajam sahabatnya, hal itu justru membuat Ayudia ikut tertawa, sementara Amara hanya diam, bingung mau menanggapi apa,


"Gini aja Ayah Ben, aku antar Amara, lalu kamu ikut dibelakang aku, jadi nggak usah diperpanjang, nanti nggak sampai-sampai rumah,"


Nando membisikan sesuatu pada sahabatnya, Benedict mengangguk setelahnya.


Tanpa banyak kata, Benedict masuk ke mobil bersama Nando, sementara Ayudia menaiki motor bersama Amara.


Benedict dan nando yang menaiki mobil, tak mungkin bisa ikut masuk ke dalam gang rumah Amara, kedua lelaki itu menunggu Ayudia di mulut gang.


Tak lama terlihat perempuan dua anak itu tengah mengendari motor menuju ke arah mereka.


"Bun, motornya kasih Nando, biar dia yang bawa pulang, katanya dia kangen sama Aileen,"ucap Benedict pada istrinya.


Ayudia menuruti kemauan suaminya, ia menyerahkan helm dan motor kepada Nando, sementara ia mengikuti suaminya memasuki mobil hitam itu.


Dalam perjalanan pulang, Benedict mulai membahas soal yang tadi mereka bicarakan d warung bakso.


"Jadi bukan hanya aku, yang memanggil kamu dengan sebutan Ay?"tanya lelaki itu sambil mengemudi.


"Ada, terus apa masalahnya?"ucap Ayudia mengalihkan pandangannya ke arah pinggir jalan yang mereka lalui.


"Ya jadi masalah lah, yang panggil kamu Ay, itu cinta pertama kamu, jelas aku nggak terima,"


"Ya udah si tinggal diganti aja, ngapain pusing sih mas?"


"Berarti setiap aku panggil Ay, kamu jadi teringat Dikta dong?"


"Nggak, aku biasa aja, toh itu hanya panggilan aja,"


Hening, tak ada yang bersuara, hanya deru mesin yang terdengar halus.


Ayudia keluar terlebih dahulu, di teras sudah ada Nando yang sedang bermain dengan Aileen,


Ibu dua anak itu menyapa putrinya, tapi Aileen yang sedang bersama Nando tidak menjawab sapaan bundanya, ia terlalu asik bermain dengan lelaki itu.


"Abis makan malam, gue mau ngomong sama Lo Yu,"ucap Nando.


"Oke, kalau gitu, Ayu masuk dulu A,"


Ayudia memasuki rumah, ia menuju kamar bermain anak-anaknya, ia sedikit mengintip untuk melihat apa yang dilakukan Ainsley,


Putranya sedang memainkan Lego dibantu neneknya juga maid.


Lalu Ayudia beranjak naik ke kamarnya, ia butuh mandi untuk menyegarkan otaknya.


Saat sedang mandi dibawah guyuran shower, tanpa ia sadari, ada tangan yang memeluk pinggangnya,


Ayudia memutar bola matanya malas, ia merutuki dirinya yang lupa mengunci pintu kamar mandi.


Wanita itu paham betul apa yang akan terjadi jika suaminya ikut mandi bersamanya.


Mandi yang biasanya paling lama sepuluh menit, jika bersama suaminya bisa lebih dari tiga puluh menit hingga satu jam.


Ayudia bingung dengan suaminya, apa lelaki itu tidak bosan dan lelah? Kalau ada kesempatan pasti ia akan melakukannya, andai memungkinkan, lelaki itu akan berkali-kali menggempurnya.

__ADS_1


Usai mandi, Ayudia melakukan kewajibannya, karena waktu senja telah tiba,


Jam makan malam, Ayudia turun ke kamar bermain, namun ia tak mendapati kedua anaknya, menurut pengakuan maid yang sedang membersihkan ruangan itu, si kembar tadi dibawa oleh Nando dan Anna, menuju ruang makan.


Dan benar saja, Aileen yang sedang makan bersama Nando dan Ainsley sedang makan sendiri disamping neneknya.


"Ben kemana nduk?"tanya Anna yang melihat kedatangan menantunya sendirian.


"Mas Ben lagi di ruang kerja, katanya ada yang perlu di urus sebentar,"


Mereka mulai makan, hingga Benedict datang dan duduk disamping istrinya, seperti biasa lelaki itu meminta istrinya untuk menyuapinya.


Anna dan Nando sudah terbiasa dengan tingkah manja lelaki itu.


Usai makan, si kembar kembali bermain di kamar khusus bermain, ada Nando dan Ayudia yang mengawasi, sedangkan Anna memilih untuk beristirahat di kamar, sedangkan Benedict melanjutkan pekerjaannya.


"Ayu, gue serius masalah mau lamar Amara,"ucap Nando memulai pembicaraan.


"A, mending jangan deh, cari perempuan lain aja deh,"


"Kenapa emang? Emang gue nggak pantas buat dia?"


"Ini bukan pantas nggak pantas A, gimana ya menjelaskannya, Ayu bingung,"


"Dibikin simpel aja sih yu, gini yu, mungkin menurut Lo gue terlalu cepat mengambil keputusan, sama halnya kayak Ben dulu, gue juga ngerasain hal yang sama, berdebar-debar, ngerti nggak sih?"


"Tapi tetap beda A,"


"Beda gimana? Apa dia janda atau udah nggak perawan? Gue nggak peduli itu, gue sadar diri, gue orang kayak apa, dan Lo tau, ini pertama kalinya nyokap gue langsung setuju begitu gue kasih lihat Amara tadi, Lo dengar sendiri kan?"


"Kenapa nggak sama Asha aja sih A?"


"Ini lagi Asha, asal Lo tau, kita berlima dari dulu nggak pernah menganggap Asha itu cewek,"


"Parah A, kalau Asha dengar gimana?"


"Asha tau kok, dia nggak bakal marah, kok jadi bahas Asha sih, yang gue mau bahas itu Amara, coba gue pengen dengar, tentang sahabat Lo yang satu itu,"


Ayudia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, "Amara itu salah satu sahabat Ayu sejak SMA, kami cukup dekat, biasanya kami sering belajar bareng sama Dikta juga,"


"Tunggu, Dikta itu cinta pertama Lo bukan si?"tanya Nando menyela.


Ayudia mengangguk, "dan sejak lulus SMA, Amara kuliah di kampung halaman orang tuanya hingga lulus dan bekerja di sana, terus Amara juga anak yatim piatu, setahun yang lalu orang tuanya meninggal karena kecelakaan, Amara punya dua kakak, yang udah pada nikah, satu kakaknya yang cowok di Kalimantan sedangkan yang cewek tinggal dikampung halaman orang tuanya,"


"Amara pulang ke Jakarta buat nyari kerjaan, sekaligus move on, dia dua kali gagal nikah, yang pertama calonnya menghamili cewek lain, terus yang kedua ternyata suami orang, jadi Amara itu semacam trauma gitu, padahal kata Amara, wajah calon-calonnya itu lugu, makanya pas Aa bilang mau lamar, dia nggak percaya, yang modelnya lugu aja ternyata brengsek apalagi model player kayak Aa,"


"Gue emang brengsek jadi cowok, gue player, betul gue akuin, tapi itu dulu, Lo tau kan yu, sejak gue putus sama mantan gue yang beda agama, gue nggak pernah Deket lagi sama cewek, maka dari itu pas liat Amara, kayanya gue udah feeling, kalau dia jodoh gue,"


"Terserah Aa, yang jelas Amara nggak kenal istilah pacaran, jadi jangan harap AA bisa pegang-pegang sebelum sah,"


"Seenggaknya sebelum lo pergi, Lo deketin gue ke dia,"


"Gampang A, cariin Amara kerjaan deh,"


"Nggak usah kerja, biar gue yang nafkahi,"

__ADS_1


"Nggak bakal mau Amara kayak gitu, dia itu sebelas dua belas Sama Ayu,"


Obrolan mereka terus berlanjut hingga Benedict menghentikan obrolan itu.


__ADS_2