
Pagi hari saat Ayudia bangun, ia mendapati suaminya tengah memeluknya, dengan hati-hati ia berusaha menyingkirkan tangan yang melilit pinggangnya.
Entah mengapa, perempuan hamil itu tiba-tiba membayangkan lontong sayur yang biasa dijual tak jauh dari rumahnya.
Sesudah mandi ala kadarnya, ia bergegas keluar dari rumah dan memesan ojek online menuju tempat penjual lontong sayur langganannya.
Saat sedang mengantri, Ayudia memainkan ponselnya, ada panggilan masuk dari mertuanya.
Anna memberitahu sekaligus berterima kasih pada menantunya karena telah membujuk Benedict agar mencabut tuntutan pada Arnold.
Baru saja memulai menyantap lontong sayur yang sedari tadi ia bayangkan, tiba-tiba ada seorang yang menyapanya,
"Ay, kamu beli sarapan disini juga?"tanya Pradikta yang tengah mengantri.
"Eh Dikta, iya nih, aku lagi ngidam lontong sayur, kamu kok bisa kesini?"
"Lagi kangen masa lalu Ay, jadi ceritanya lagi Napak tilas gitu,"
" bisa aja kamu,"
Keduanya mengobrol sambil menikmati sarapan.
"Loh Ayu, lagi sarapan nih, apa kabar nih? Udah lama nggak ketemu, mentang-mentang udah jadi istri orang," ucap Sinta yang juga berniat untuk sarapan di situ.
"Iya nih, apa mbak baru mau berangkat?" Tutur Ayudia yang masih menyantap sarapannya.
"Iya, tapi mumpung ketemu Ayu, mbak pengin ngobrol banyak sama kamu,"
"Boleh mbak,"
Sinta banyak menanyakan soal Rama, perempuan itu mengaku, mantan atasan dari Ayudia itu menyatakan perasaannya padanya.
__ADS_1
Ayudia menjawabnya sesuai dengan yang ia tau.
Kedua perempuan itu asik mengobrol tak menyadari ada sesosok lelaki yang sedari tadi mendengar obrolan keduanya.
Sampai Sinta sadar sendiri dengan keberadaan lelaki yang sedari tadi duduk disebelah Ayudia, "loh Ayu, ini siapa? Kok mbak kayaknya pernah lihat, tapi dimana ya?"
"Dia Dikta mbak, yang dulu sering sama Ayu pas kami SMA, mbak Sinta lupa ya?"jelasnya.
"Oh ya, mbak ingat, cinta pertama kamu kan yu?"ucap Sinta keceplosan mengungkapkan hal yang biasa ia dengar dari Ayudia, semacam curhat.
"Shut... Mbak Sinta jangan dibongkar, Ayu malu," ujarnya menutup menutup mulutnya sendiri.
"Sorry yu, Mbak keceplosan,"ungkap Sinta tak enak, "hai Dikta apa kabar? Kemana aja nih baru keliatan?"tanyanya pada lelaki itu.
"Alhamdulillah baik mbak Sinta, saya kerja di luar kota mbak,"jawab Pradikta.
"Kamu tuh ya Dikta, bikin Ayu patah hati berat,"lagi-lagi Sinta keceplosan.
Sinta melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, "ya udah mbak berangkat dulu ya, dadah Dikta, yang sabar kali aja Ayu suatu saat bakal jadi janda," celetuknya sebelum meninggalkan tempat itu.
"Nggak usah didengerin Dikta, mbak Sinta emang ceplas-ceplos,"
"Nggak apa-apa Ay, aku kan jadi tau, ternyata nggak cuman aku yang patah hati saat kita harus berpisah, aku pikir, aku menderita sendirian, ternyata kamu juga sama,"
"Udah berlalu Dikta,"
"Apa semalam kamu menangis? Mata kamu masih bengkak," tebak Pradikta.
"Setidaknya setelah menangis ada rasa lega, walau hanya sedikit,"
"Apa gara-gara aku Ay?"tanyanya.
__ADS_1
Ayudia diam sesaat, ia memilih mengalihkan pandangannya pada penjual yang sedang sibuk melayani pembeli.
"Ay, maaf ya, gara-gara ketemu aku, kamu jadi sedih,"
"Ngobrolnya jangan disini yuk, nggak enak,"ujarnya bangkit berlalu, perempuan itu berjalan menuju penjual, saat hendak membayar, Pradikta terlebih dahulu menyodorkan uang berwarna biru pada penjual.
Pradikta mengajak Ayudia ketempat, dimana dulu keduanya sering datang untuk sekadar belajar bersama.
"Jadi boleh aku tau alasan kamu menangis semalam?"tanya Pradikta.
Ayudia yang sedari dulu selalu apa adanya di hadapan lelaki itu akhirnya berkata, "aku menyesal Dikta, kenapa aku nggak egois buat cari tau tentang kamu, atau sekadar nomor telepon kamu, aku kangen kamu, rasanya sakit, dada aku sesak, andai aku egois dan memohon ke kamu agar kamu menemui aku, mungkin jadinya nggak seperti ini, aku menyesal kenapa nggak cari tau, apa kamu masih cinta sama aku atau tidak, seandainya aku tau kamu bahkan masih nunggu aku, aku tak mungkin menerima dia, Dikta, aku menyesal, aku tersiksa, apa yang harus aku lakukan Dikta? Kenapa kamu baru Kembali sekarang? Disaat aku udah nikah bahkan mengandung anaknya, apa yang harus aku lakukan Dikta? Dada aku sesak,"ungkapnya dengan air mata yang mengalir deras di pipi.
"Maaf Ay, aku yang salah, aku terlambat datang, aku egois nggak mau nemuin kamu dulu, harusnya aku yang harus berjuang, jangan sakit sendirian Ay, lepaskan semua, biar aku yang menanggung rasa sakit dan penyesalan kamu, kasih ke aku, aku yang salah,"ungkap Pradikta memeluk perempuan yang ia cintai.
Ayudia melepas paksa pelukan hangat yang selalu ia rindukan itu, "sayangnya udah terlambat Dikta, aku udah Jadi istri orang, biarlah kisah kita hanya kita yang tau, lebih baik rasa itu kita kubur dalam-dalam, tidak ada gunanya kita seperti ini, ini hanya akan membuat kita semakin sakit,"
"Nggak ada kata terlambat Ay, aku selalu nunggu kamu disini, aku nggak akan kemana-mana, hati aku hanya milik kamu,"
Ayudia menghapus air mata yang mengalir di pipi cinta pertamanya itu, "Dikta lihat aku," lelaki itu menatap perempuan yang dicintainya itu lembut, tatapan yang sama seperti dulu, tatapan yang hanya tertuju pada seorang Ayudia, "kita ikhlaskan takdir yang telah Tuhan gariskan, aku percaya kamu akan menemukan kebahagiaan kamu kelak, kamu orang baik, aku berdoa untuk kebahagiaan kamu, meski nggak bisa sama aku, tapi kisah kita cukup sampai disini, biarlah kisah kita ini menjadi memori terdalam dalam ingatan kita, hidup harus terus berjalan Dikta,"
"Jika suatu saat kita bertemu lagi, aku ingin kamu bahagia, kita harus saling bahagia meski kita tidak menjadi satu, please cukup sampai disini kisah kita, kamu harus menggapai kebahagiaan kamu sendiri, ini tangisan terakhir kita, setelahnya hanya akan ada senyum dan tawa, kamu mau kan penuhi permintaan terakhir aku kan?"
Pradikta mengangguk meski rasanya berat, sepertinya ia harus mengikhlaskan cinta pertamanya itu.
Sekali lagi ia memeluk cinta pertamanya itu, seolah mengungkapkan betapa besar rasa cintanya, tak lupa kecupan lembut di kening, yang selalu ia lakukan dulu.
"Kamu juga harus bahagia Ay,"
Keduanya berpisah di persimpangan jalan, kembali menuju kehidupan masing-masing, namun mereka tau, rasa cinta itu masih terpatri kuat di lubuk hati masing-masing,
mungkin memang mereka tak ditakdirkan untuk bersama, namun setidaknya keduanya pernah menjadi bagian terpenting dari hidup mereka, yang mungkin kisah itu akan mereka ceritakan kepada anak atau cucu keduanya.
__ADS_1