Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
tujuh puluh empat


__ADS_3

Ayudia Sampai di rumah saat langit berwarna oranye, wanita dua anak itu memasuki gerbang setelah sekuriti membukakannya.


Di teras, ada Benedict yang sedang menunggunya dengan tatapan sulit diartikan.


Usai menyerahkan motor dan kunci pada salah satu pekerja, Ayudia menghampiri suaminya, ia mencium tangan lelaki itu, lalu berkata, "maaf aku pulang telat,"hanya itu kalimat yang keluar dari mulutnya.


Perempuan itu memasuki rumah, dan langsung menuju kamarnya, ia akan mandi terlebih dahulu sebelum menemui anak-anaknya.


Usai mandi dan beribadah, Ayudia menuju kamar anaknya, terlihat ibu mertuanya, menggendong Aileen.


Anna menjelaskan, tadi Aileen sempat rewel, dan Ayudia menanggapi ucapan mertuanya, dengan permintaan maaf karena pulang sangat terlambat.


Ayudia bergantian menyusui kedua buah hatinya, sedangkan Anna hanya diam melihat kegiatan yang dilakukan menantunya bersama cucunya.


Hingga waktu makan malam tiba, Ayudia mempersilahkan mertuanya untuk makan terlebih dahulu, ia ingin menghabiskan waktu bersama anak-anaknya.


Setengah jam kemudian, Anna masuk ke kamar bayi itu, dan menyuruh menantunya untuk makan malam, katanya ia sudah membawakan makan malam di ruang kerja Benedict.


Ayudia menitipkan Kembali kedua anaknya pada mertuanya, ia berjalan menuju ruang kerja suaminya.


Di sana Benedict sudah menunggunya untuk makan malam bersama, seperti kebiasaan lelaki itu menunggu disuapi oleh istrinya.


Tidak ada pembicaraan diantara keduanya, hingga makanan yang ada di piring itu kosong.


Usai menyuapi suaminya, Ayudia meminta ijin pada suaminya untuk kembali ke kamar anak-anak, terlihat, kedua buah hatinya telah tertidur pulas, sedangkan mertuanya tengah membaca buku.


"Nduk, tadi siang, suamimu panik, saat kamu nggak pulang-pulang, bahkan tadi Ben sempat menelpon sahabat kamu, memaki-maki nya karena tidak menjaga kamu dengan baik,"Anna bercerita tentang kejadian tadi siang.


Ayudia yang mendengar itu, hanya diam menunduk, ia merasa bersalah, "maaf Bu,"ucapnya pelan.


"Ibu nggak masalah soal jaga anak-anak, hanya saja suamimu, sepertinya masih takut, jika kamu meninggalkannya lagi, bukan apa-apa nduk, kasihan orang yang berhubungan dengan hilangnya kamu, kamu tau kan maksud ibu,"


Ayudia mengangguk, sekali lagi ia meminta maaf pada mertuanya, karena telah merepotkannya.

__ADS_1


Usai dari kamar anak-anaknya, Ayudia duduk ditepi kolam renang yang ada di balkon kamarnya, ia menghela nafas, ia merasa bersalah, terutama dengan Natasha, tadi saat mengaktifkan lagi ponselnya, sahabatnya menanyakan keberadaannya, dan mengeluh setelah dimaki-maki oleh Benedict.


"Ay, kok kamu disini? Anginnya lagi lumayan kencang loh, nanti kamu sakit,"ujar Benedict khawatir.


Ayudia menoleh, melihat suaminya yang berjalan ke arahnya, "bentar aja mas, aku pengen liatin langit,"


Benedict mengikuti arah pandang istrinya, terlihat langit malam yang hitam, namun masih terlihat satu bintang nan jauh di sana.


"Boleh aku bertanya mas?"tanya Ayudia, lelaki itu mengangguk.


"Apa kamu sedang tidak sibuk saat ini?" Lagi-lagi lelaki itu mengangguk.


Ayudia menghela nafas, "mas, tadi aku menemui Asha untuk membahas kontrasepsi yang akan aku gunakan kedepannya, tapi Asha minta supaya aku dan kamu datang esok, untuk membicarakan itu bersama,"


"Apa kamu berencana tidak ingin mempunyai anak lagi?"


"Bukan itu mas, aku hanya ingin mengatur jarak, supaya kita bisa fokus membesarkan Ainsley dan Aileen dulu,"


"Maka dari itu kita harus bertemu Asha besok, tapi Asha bilang tadi kamu memarahinya karena aku bertemu dengannya? Bukan salah Asha mas, ini murni salah aku, setelah bertemu Asha, aku mampir ke suatu tempat sampai lupa waktu, jadi aku minta kamu meminta maaf sama Asha,"


"Oke baiklah, aku akan meminta maaf, tapi boleh aku tau, kamu pergi kemana? Ponsel kamu bahkan nggak aktif,"


"Aku nggak sengaja ketemu Dikta di taman, saat aku lagi makan es krim,"


Mendengar pengakuan istrinya, Benedict mengepalkan tangannya erat, hingga buku jadinya memutih.


"Aku minta maaf, aku benar-benar nggak sengaja bertemu Dikta dan ibunya, aku disuruh mampir, aku lupa kalau taman itu letaknya tak jauh dari rumah Dikta,"


"Tante Arini, meminta aku untuk mampir ke rumah mereka, kami mengobrol hingga aku lupa waktu, maaf mas,"


Karena pencahayaan di sana tidak terlalu terang, Ayudia tak menyadari jika wajah suaminya memerah menahan amarah, namun wanita itu menyadari nafas memburu dari lelaki itu.


"Apa kamu lupa ada anak dan suami yang menunggu kamu di rumah setelah bertemu cinta pertama kamu? Apa saja yang sudah kamu lakukan sama dia? Apa kalian mengenang masa lalu? Atau bahkan kalian berpelukan dan berciuman layaknya sepasang kekasih yang saling merindukan? Sebelah mana yang dia sentuh? Apa dia mencium bibir kamu? Apa dia memeluk tubuh kamu? Atau bahkan lebih?" Tanya Benedict bertubi-tubi.

__ADS_1


"Apa menurut kamu aku serendah itu? Apa kamu meragukan kesetiaan aku? Apa kamu nggak percaya sama aku?"Tanya balik Ayudia.


"Apa menurut kamu, seorang yang masih saling mencintai hingga sekarang, tidak melakukan hal itu? Bukankah mereka harusnya melepas rindu?"


Ayudia menghela nafas, "mas, aku nggak melakukan hal yang kamu tuduhkan, terserah kamu percaya sama aku atau tidak, aku nggak peduli, udah malam aku ngantuk, aku tidur duluan,"ujarnya berdiri dan berjalan ke arah kamar.


Melihat hal itu Benedict, tak tinggal diam, ia mengejar istrinya, ia menarik wanita itu kedalam pelukannya, lalu menciumnya dengan kasar, seolah melalui ciuman itu, ia ingin mengungkapkan rasa cemburunya.


"Mana yang dia sentuh, kasih tau aku, aku akan menghapusnya,"usai mengatakan itu, Benedict kembali ******* bibir itu dengan kasar, ia merengkuh tubuh itu, ia memeluknya erat.


Tak hanya sampai disitu, ia menggendong istrinya, dan menghempaskan tubuh itu ke ranjang, lelaki yang sedang diselimuti amarah itu, menyetubuhi istrinya dengan kasar.


Benedict bahkan tidak peduli dengan teriakan kesakitan istrinya, walau bagaimanapun Ayudia baru saja melahirkan sekitar dua bulan yang lalu, dan alat vitalnya sempat dijahit, akibat ada sobekan saat proses melahirkan.


Walau Ayudia sudah lepas masa nifas, namun perlakuan kasar suaminya membuatnya kesakitan, seperti dulu saat mereka melakukannya pertama kali.


Bukan hanya melakukannya dengan kasar, Benedict juga meninggal jejak hampir sekujur tubuh istrinya.


Bukan hanya sekali, lelaki itu melakukannya berkali-kali, hingga istrinya pingsan.


Benedict baru menyadari kesalahannya, ketika istrinya tak lagi bersuara dan memberontak saat ia menyetubuhinya.


Ia melepaskan tautan itu, ia memanggil nama serta menepuk-nepuk pipi istrinya namun tak ada reaksi apapun dari wanita itu,


Benedict semakin panik dibuatnya, ia memakai celananya asal, ia berlari menemui ibunya, ia membangunkan perempuan paruh baya itu, untuk meminta pertolongan sambil terus menangis.


Anna yang kaget, berusaha menenangkan putranya dan meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi.


Benedict dengan tubuh gemetar menceritakan semuanya, mendengar hal itu, sebuah tamparan mendarat di pipi lelaki itu, untuk pertama kalinya.


Beragam caci maki keluar dari mulut perempuan paruh baya itu, setelah puas melampiaskan Amarahnya, Anna bergegas melihat keadaan menantunya.


Miris, hal pertama yang terlintas dibenak Anna, ia tak habis pikir, kenapa putranya bisa melakukan hal sekeji itu pada wanita yang katanya dicintainya, hanya karena cemburu.

__ADS_1


__ADS_2