Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
empat belas


__ADS_3

Pernah dengar ucapan seseorang, tentang mencari tau masa lalu pasanganmu hanya akan membuat mu sakit hati, maka terimalah pasanganmu yang sekarang tak usah pedulikan apa yang dialami pasanganmu di masa lalu.


Hal itulah yang sedang disesali oleh Benedict, ia menyesal menanyakan cinta pertama dari gadis yang ia cintai, yang ternyata ada rasa yang tertinggal untuk cinta pertamanya saat ini.


Apakah perempuan memang seperti itu? Pertanyaan itu ada dibenaknya saat ini, setelah mendengar cerita Ayudia, untuk meredam emosinya, ia menyuruh gadisnya untuk membersihkan diri sebelum tidur.


Benedict berdiri menatap pemandangan ibukota yang dihiasi lampu kelap kelip di luar sana, ia merenung dan berpikir apa yang harus ia lakukan sekarang, mengetahui jika di hati gadisnya ada sosok pria lain.


Apa harus ia menyerah untuk mendapatkan seutuhnya seluruh cinta milik Ayudia? Entah mengapa ia ingin serakah dalam hal ini.


Ada bisikan di hatinya bahwa gadis itulah rumah yang akan menjadi tempatnya kembali dari segala kesumpekan dunia yang sudah ia jalani sejauh ini.


Namun apakah bisa? Padahal ia sudah menghadapi banyak klien dengan berbagai sikap yang mungkin membuat para bawahannya pusing, namun tidak berlaku untuk dirinya, dengan sikap pantang menyerahnya ia berhasil memajukan perusahaan warisan kakeknya hingga menjadi salah satu perusahaan dengan laba pertahun hingga puluhan milyar dollar AS selama lima tahun sejak ia menjadi CEO muda di perusahaan itu.


Benedict termasuk salah satu pria workaholic hampir sepuluh tahun ini, saat baru pindah dari negara asal ibunya menuju negara asal Daddy-nya, ia mulai berkuliah saat berusia dua puluh tahun, ia melakoni kuliah di pagi sampai siang hari dan sore sampai malam, ia melakoni beberapa pekerjaan salah satunya membantu uncle nya mengurus perusahaan yang didirikan mendiang kakeknya .


Saat usianya menginjak hampir dua puluh lima tahun dan belum sampai setahun ia meluluskan kuliah sarjananya, ia diangkat menjadi CEO menggantikan uncle-nya yang sedang dalam masa pengobatan untuk penyembuhan sakit kanker yang di deritanya.


Karena dari awal memang dirinya sudah sering membantu uncle-nya, ia dengan mudah melakoni pekerjaan itu.


Selama lima tahun itu, waktunya hanya digunakan untuk bekerja dan bekerja, jika ada waktu libur panjang, ia akan kembali ke negara asal ibunya untuk bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang ia berikan modal untuk membangun bisnis.

__ADS_1


Bukankah dia pernah bilang ke gadisnya, walau dia tidak bekerja, rekeningnya akan selalu bertambah.


Saat bertemu pertama kali dengan gadis bernama Ayudia awalnya ia hanya berniat menolong, ia teringat adik Rama.


Namun saat ia tidur satu ranjang dengan gadis itu, ada sesuatu yang mengusik hatinya, ada rasa kecewa saat di pagi hari gadis itu meninggalkannya.


Ketika dia menemui Rama membahas tentang perkembangan bisnis yang dijalankan oleh sahabatnya, ia bertemu lagi dengan gadis itu, dan kebetulan saat ia hendak pulang, gadis itu menawarkan diri untuk mentraktir bakso, katanya sebagai ucapan terima kasih karena pernah ia tolong.


Tentu saja itu tak akan ia sia-siakan, sejak itulah Benedict sengaja mengantar jemput gadis itu, hingga hampir sebulan di sini, uncle-nya mengabarinya bahwa salah satu proyek yang beberapa bulan lalu ia tangani bermasalah, sepupunya yang ia limpahkan sebagai penggantinya tak bisa menyelesaikan masalah itu, terpaksa ia kembali ke NYC setelah menghabiskan malam bersama gadisnya, walau sempat kecewa karena gadisnya sedang ada tamu bulanan.


Benedict sengaja tidak menghubungi kekasihnya, karena ia takut akan dengan nekad menemui gadisnya, ia berpikir harus menyelesaikan masalah perusahan itu secepatnya dan mengajari sepupunya agar bisa menjadi pemimpin hebat seperti dirinya.


Ia mengamuk bahkan George dan seluruh bawahnya ketakutan dibuatnya, Benedict memaksa George untuk segera mengambil alih kepemimpinan perusahaan walau di tentang oleh dewan direksi, namun sepertinya tekad Benedict sudah bulat untuk mundur dari jabatan itu, tidak sepenuhnya mundur karena ia meyakinkan dewan direksi akan tetap memantau perkembangan perusahaan dari jauh.


Rama memberitahukan padanya jika salah satu rekan bisnisnya di sini akan mengadakan pesta pernikahan, dengan alasan itulah ia pamit pada uncle-nya untuk menghadiri acara tersebut.


Benedict sengaja menggunakan pesawat komersil menuju negara tropis itu, ia akan memperbaiki hubungannya dengan gadis yang ia cintai.


Pesawat yang ia tumpangi sampai pada tengah hari, ia di jemput salah salah satu sahabatnya Alex, ia beristirahat di apartemen miliknya, efek jet lag membuatnya tertidur lebih dari enam jam, sahabatnya tentu protes dengannya, gara-gara dirinya mereka telat datang ke pesta.


Pesta hampir usai ketika Benedict dan keempat sahabatnya baru tiba, mereka meminta maaf dan memberikan selamat kepada sepasang pengantin yang bahkan sudah turun dari singgasananya.

__ADS_1


Kelima lelaki tampan itu duduk mengitari meja bundar yang tersedia, baru sebentar mereka duduk, ada salah seorang pelayan pesta menyajikan minuman di meja lain, salah satu sahabatnya memanggilnya. Mereka terkejut ternyata pelayan itu adalah seorang gadis yang mereka kenal.


Ada rindu sekaligus cemburu melihat kedekatan para sahabatnya dengan gadis yang ia cintai, ya gadis itu Ayudia, yang selama hampir dua bulan ini ia sangat rindukan.


Sepertinya gadis itu baik-baik saja tanpa dirinya, senyum selalu menghiasi wajah gadisnya.


Selesai dari acara pesta itu, Benedict memaksa salah satu sahabatnya untuk memberikan salah satu mobil sport hitam, ia menunggu keluarnya gadis itu di pinggir jalan tak jauh dari hotel.


Ia melihat gadisnya mengutak-atik ponselnya, ia tau gadisnya sedang mengorder ojol untuk pulang, namun sudah lima menit berlalu tak ada tanda-tanda kedatangan ojol itu.


Benedict melajukan mobilnya dan berhenti tepat di hadapan gadisnya, namun sepertinya gadis itu tidak peka, bahkan setelah ia membunyikan klakson beberapa kali, terpaksa ia turun menghampiri gadisnya.


Ayudia menolak saat Benedict menawarkan diri untuk mengantarkannya, dengan alasan sudah memesan ojol, dan benar saja tak berapa lama, Abang ojol datang, lelaki itu memberikan dua lembar uang merah kepada ojol itu agar segera pergi dari sana.


Benedict sengaja mendiamkan gadisnya, namun sepertinya gadisnya tidak peka, akhirnya ia mengajaknya mengobrol terlebih dahulu.


Lelaki itu sempat emosi ketika gadisnya menolak untuk naik ke unit, karena tak sabar, ia menggendong gadisnya ala karung beras.


Di unit apartemennya ia mengobrol dengan gadisnya, ia menahan amarahnya ketika ia tau ada lelaki lain yang mengisi hati gadisnya.


Benedict berusaha keras tidak menunjukan amarahnya, walau rasanya ia ingin menghancurkan seluruh isi apartemen ini untuk melampiaskan emosinya, namun ia tidak ingin membuat gadisnya takut padanya.

__ADS_1


__ADS_2