Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
seratus dua puluh enam


__ADS_3

Ayudia terbangun, lewat tengah hari, ia tidak mendapati suaminya berada di sampingnya, ia melihat ke sekeliling kamar, sepi hanya hembusan suara pendingin ruangan yang terdengar.


Wanita itu mencari ponselnya, ia ingat, membawanya saat hendak membereskan kopernya.


Namun saat ia memasuki ruangan baju-bajunya, ia tidak mendapatinya, bahkan ruangan yang seingatnya berantakan, sudah rapih kembali, dan kopernya tak ada di manapun.


Ia mencari ponselnya ditempat terakhir ia meletakkannya, namun tak juga menemukannya.


Ia berniat keluar kamar tapi semua pintu terkunci, bahkan pintu kaca menuju balkon juga terkunci.


Ia menghela nafas, lagi-lagi lelaki itu mengurungnya, rasanya kesal sekali,


Ia melihat cuaca di balkon, sepertinya matahari bersinar terang, mungkin sudah saatnya memasuki waktu shalat,


Wanita itu bergegas mandi terlebih dahulu sebelum beribadah, ia juga berharap dengan air itu bisa mendinginkan pikirannya yang sedang kesal karena perilaku suaminya.


Usai melaksanakan kewajibannya sebagai seorang hamba, Ayudia kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang, bingung apa yang harus ia lakukan, namun perutnya sepertinya sudah lapar.


Ia hanya bisa pasrah sambil terus mengelus perutnya tak lupa mengajak bayi dalam kandungannya untuk berbicara.


Tak lama pintu penghubung dengan ruang kerja suaminya terbuka, lelaki itu membawa nampan berisi makanan.


Benedict tersenyum, dan menawarkan makan siang kepada istrinya.


"Kenapa nggak makan di bawah aja sih?"tanya Ayudia kesal, "kenapa semua pintu di kunci? Terus ponsel aku kemana?"


"Sayang, mending kamu makan dulu, ini udah lewat jam makan siang,"jawab Benedict mengajak istrinya duduk di sofa.


"Tunggu aku nggak mau makan makanan itu, jangan-jangan kamu campur obat buat bunuh bayi aku ya!" Ujar Ayudia berprasangka buruk.


"Ya nggak lah, masa aku tega melakukan itu sama kamu, kamu kebanyakan nonton film ya!"Benedict berkilah.


"Kalau gitu, aku mau makan sendiri di bawah,"


"Kamu mencurigai suami kamu?"


"Kalau iya kenapa? Aku harus waspada, aku tau kamu orang yang licik,"


"Aku nggak mungkin kayak gitu sayang,"


"Kalau begitu, aku akan makan dibawah,"

__ADS_1


Benedict menghela nafas, "oke kita makan dibawah,"


Ayudia bergegas keluar dari kamar melalui pintu penghubung ruang kerja lelaki itu, dan dari sana ia keluar menuju lift, ia berjalan cepat meninggalkan suaminya.


Ia menuju dapur, dan menanyakan pada maid tentang masakan yang tersedia,


Wanita hamil itu makan dengan lahap, masakan yang tadi diberikan maid, ia tak mempedulikan suaminya yang hanya memandangnya di pintu masuk dapur.


Usai menghabiskan makanan dan mencuci piringnya sendiri, Ayudia menuju lemari penyimpanan camilan, di sana ada banyak kue-kue cokelat, ia mengambil satu toples dan membawanya menuju sofa di ruang keluarga.


Ia bahkan tak menegur suaminya yang sedari tadi menatapnya.


Ayudia meluruskan kakinya dan menyadarkan punggungnya ke sofa, lalu menyalakan televisi, sambil memakan camilan yang tadi ia bawa.


"Ayudia, apa kamu akan mendiamkan aku?"tanyanya sambil berdiri membelakangi televisi, menghalangi pandangan istrinya.


Wanita itu memanyunkan bibirnya, "kenapa sih, iseng banget, aku kan lagi nonton Tv, minggir?"ketusnya.


"Kok kamu ketus?"


Ayudia menghela nafas, "aku biasa aja kok, kamu nya yang baper,"


Benedict duduk tepat di samping istrinya, "sayang suami kamu baru pulang loh, kita udah lama nggak ketemu, dan kamu malah cuekin aku?"


"Bukan masalah urusan ranjang sayang, kamu bahkan tadi udah berprasangka buruk Sama aku, dan aku nggak suka,"


"Aku tau kamu belum percaya anak yang dikandungan aku itu anak kamu kan? Dan aku saranin kalau kamu masih nggak percaya, mending kamu balik ke negara kamu, terus balik lagi nanti kalau anak ini udah lahir, dan bisa tes DNA,"


"Dan apapun hasilnya, kita akan tetap berpisah, aku nggak mau jalani hidup sama suami yang meragukan kesetiaan istrinya," lanjutnya.


"Kan aku udah bilang, kita nggak akan berpisah apapun yang terjadi, dan aku nggak peduli tentang apapun, bagiku kamu yang paling penting, kamu mengerti, dan jika aku kembali ke Amerika, itupun harus sama kamu,"tutur Benedict penuh penekanan.


Ayudia menyunggingkan bibirnya, "serah Lo, gue mah masa bodoh, dan mulai sekarang kita nggak tidur satu ranjang, hingga anak ini lahir,"


"Mana bisa begitu Ayudia, aku nggak peduli apapun asal kamu selalu sama aku,"


"Tapi aku nggak mau tidur satu ranjang bersama kamu, bukannya kamu meragukan kesetiaan aku? Harusnya kamu jijik sama aku dong,"


"Setelah yang kita lakukan tadi? Apa tadi aku jijik sama kamu? Sama sekali nggak kan?"


"Males ngomong sama kamu, mending kamu diem, nggak usah bersuara,"

__ADS_1


"Oke aku diam, tapi setelah aku peluk dan cium kamu!"


"Nggak mau, kita harus jaga jarak," wanita itu memperingatkan suaminya.


"Sayang aku merindukan kamu, kamu tau betul setiap aku pulang dari perjalanan bisnis, kita selalu dikamar seharian,"


"Nggak mau, aku menolak,"


Perdebatan itu terhenti ketika dua remaja mengucapkan salam, mendengar anak-anaknya kembali, Ayudia bergegas menghampiri Ainsley dan Aileen.


"Bun, kata pak Mardi, ayah pulang ya?" Tanya Aileen.


"Iya, tuh didalam, kalian berdua sapa sana,"jawab Ayudia.


"Terus bunda mau kemana?"tanya Ainsley melihat bundanya berjalan keluar.


"Bunda lagi kesal sama Ayah, udah ah, bunda cari angin dulu, kalian jangan lupa makan sana!"ucap perempuan hamil itu berlalu keluar rumah.


Kedua remaja itu menghampiri ayahnya yang sedang bersandar di sofa, mereka saling bergantian menyalami dan mencium tangan Ayahnya.


"Bunda mana? Kok nggak ikut masuk sama kalian?"tanya Benedict pada dua anaknya.


"Katanya bunda lagi kesal sama ayah, memang kenapa si yah, biasanya kalau ayah abis pergi lama, kalian bahkan seharian di kamar dan tidak boleh di ganggu, lalu kenapa bunda kayak marah sama ayah?"tanya balik Ainsley.


"Kapan pertama kali kalian tau bunda hamil?"tanpa menjawab pertanyaan putranya, Benedict bertanya balik.


Aileen menceritakan kejadian saat bundanya pingsan pagi-pagi, juga tentang kehamilan yang dilalui oleh ibundanya.


"Lalu apa kalian tau, berapa umur kehamilan bunda?"


"Kemarin sebelum Tante Asha pergi, beliau bilang kandungan bunda sudah sekitar dua puluh Minggu, hampir lima bulan kalau nggak salah," ujar Aileen menjelaskan.


Benedict terdiam mendengar ucapan putrinya, jika memang benar itu anaknya, memang benar umur kehamilannya segitu,Karena bagaimanapun, ia selalu bersama istrinya, apa mungkin Operasi vasektomi yang ia lakukan gagal? Bagaimana bisa? Padahal sudah beberapa tahun istrinya tak kunjung hamil, sejak ia melakukan vasektomi, kenapa setelah sekian lama ia bisa menghamili istrinya.


Melihat diamnya sang ayah, membuat Ainsley angkat bicara, "jangan bilang, ayah curiga kalau bunda berselingkuh?"tanyanya penuh selidik.


Benedict menghela nafas, "ada sesuatu yang tidak bisa ayah ceritakan kepada kalian, jadi kalian tenang saja, ayah dan bunda tak mungkin berpisah, kalian mengerti kan?"ucapnya berusaha menutupi masalah yang sedang ia hadapi.


"Ayah, Ainsley menjamin, selama ayah tidak ada, bunda selalu setia, bunda tidak pernah macam-macam, atau berpaling dari ayah, bahkan saat nenek Arini dan Ayudia kecil main kesini, om Dikta tidak pernah tau, bunda belum bertemu om Dikta hingga saat ini,"jelasnya panjang lebar.


"Apa ayah bisa pegang kata-kata kamu Ainsley Wright?"

__ADS_1


"Tentu Ayah, bukankah ayah menyuruh Ain untuk selalu jujur?"


"Baiklah, ayah percaya sama kamu, jadi terima kasih sudah menjaga bunda selama ayah tidak ada," ujarnya sambil memeluk kedua anaknya, lalu lelaki itu meninggalkan anak-anaknya untuk mencari istrinya.


__ADS_2