Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
tujuh puluh


__ADS_3

Ayudia dan Benedict benar-benar tak mau sedikitpun kehilangan momen tumbuh kembang anak kembar mereka.


Keduanya saling bekerjasama dalam mengurus bayi mereka, walau masih dibantu oleh Anna, perempuan paruh baya itu masih betah berlama-lama tinggal di rumah putra dan menantunya.


Bahkan hingga saat ini, Anna masih tidur dikamar cucu-cucunya.


Padahal sudah berlalu hampir dua bulan dari kelahiran Ainsley dan Aileen.


Seperti biasa pagi-pagi setelah sinar matahari menerangi balkon lantai dua rumah besar itu, mereka berjemur di dekat kolam renang.


Ayudia dan Anna duduk di kursi sambil menggendong si kembar, sedangkan Benedict memilih berenang, katanya untuk menjaga fisiknya, agar tetap sehat dan proposional.


Benedict yang baru saja memunculkan kepalanya dari dalam kolam berteriak pada ibunya, "ibu... Anak ibu tadi telpon Rama, nanyain dimana ibu, katanya suaminya nyariin,"


Anna yang sedang menggendong Aileen, menoleh ke arah putranya, "kamu kan anak ibu satu-satunya Ben, apa kamu lupa?"


"Anak kesayangan ibu, masa ibu lupa, kan gara-gara dia, dulu ibu buang anak kandungnya,"sindir lelaki yang kembali melanjutkan kegiatannya.


"Suami mu nduk, kalau yang dulu-dulu diingat terus, lama-lama ibu kesal sama suami mu, apa dia berniat usir ibu dari sini?"keluhnya.


"Mas Ben cuman bercanda Bu, ibu kayak nggak tau putranya aja, lagian Ayu tuh seneng, ada ibu disini, Ayu jadi ada teman ngobrol kalau mas Ben lagi sibuk,"


"Suamimu juga aneh, masa kerjanya di sebelah kamar doang, itu aja bisa berjam-jam, udah gitu kalau tengah malam, ibu sering memergokinya lagi bikin kopi, buat apa coba,"


"Mas Ben kan kalau malam baru ada meeting Bu, menyesuaikan waktu di sana,"


"Kamu nggak bosen nduk, selama hampir dua bulan, di rumah terus, ketemu suamimu terus,"


"Dulu waktu di penthouse bosen banget, tapi sekarang kan ada Ainsley sama Aileen, Ayu ada kesibukan,"


"Iya juga sih, tapi ibu pengen ajak kamu jalan-jalan ke mall, ya belanja apa gitu,"


"Kalau belanja, semua kebutuhan kita udah ada semua Bu, tapi kalau jalan-jalan, coba aku minta ijin sama Mas Ben,"


"Tapi jangan bilang ibu yang ngajak, pasti nggak bakal boleh, suami kamu itu masih posesif banget sama kamu loh,"


"Iya Bu, nanti Ayu bilang, kalau Ayu pengen jalan-jalan,"


Setelah kegiatan berjemur selesai , mertua dan menantu serta si kembar, masuk ke dalam, sedangkan Ben masih berjemur dibawah terik matahari.


Tak lama, setelah memandikan kedua bayi kembarnya, Ayudia menghampiri suaminya, untuk mengantarkan sarapan.

__ADS_1


"Mas, sarapan dulu nih,"tawar Ayudia yang menyodorkan Nampan berisi sarapan.


Benedict melepaskan kaca mata hitamnya dan duduk menghadap istrinya, "kamu udah sarapan?"


"Udah tadi sebelum berjemur,"


Lelaki itu mulai sarapan dengan Ayudia yang menyuapinya, "mas, jalan-jalan yuk,"


Benedict mengernyit bingung, "kok tiba-tiba ngajak jalan-jalan, apa kamu butuh sesuatu?"


"Ya pengen jalan-jalan aja, ke mall misalnya, atau belanja bulanan atau makan di restoran,"


"Kalau belanja bulanan, kan udah ada maid yang melakukannya, terus kalau  makan di restoran, aku bisa kok panggil chef buat masak di rumah, kamu tinggal bilang mau masakan apa?"


"Ih mas Ben udah mulai kumat, sifat posesifnya, Ayu nggak suka,"protesnya.


"Bukan gitu Ay, kamu nanti capek, aku nggak mau kamu sakit,"


"Ya ampun mas, kan aku nggak kerja jadi kuli, sampai capek segala, cuman jalan-jalan aja, lihat orang-orang,"


"Ngapain kamu mau lihat orang-orang? Kamu cukup liat aku aja, emang aku kurang ganteng ya!" Ucap Benedict percaya diri.


Benedict memanggil-manggil nama istrinya, namun perempuan itu sepertinya tidak peduli.


Beberapa saat kemudian, Benedict menyusul istrinya ke dalam, "Ay, kamu marah sama aku?"tanya Benedict begitu melihat istrinya keluar dari toilet.


Wanita itu sedikit kaget, ketika suaminya menunggunya didepan pintu toilet, "nggak,"jawabnya ketus.


"Kok nadanya gitu, kenapa sih?"


"Nggak ada apa-apa biasa aja,"


Benedict bahkan mengikuti istrinya hingga ke kamar anak mereka, lelaki itu menempeli Ayudia terus.


Anna yang berada di ruangan itu, lama-lama merasa risih juga, "Ben, kamu apa-apaan sih, ngapain ikutin Ayu terus, malas ibu lihatnya,"ucapnya kesal.


"Biarin, kan Ayu istri aku, kalau ngiri bilang bos, mending ibu pulang sana, dicariin sama suaminya,"


"Jadi kamu ngusir ibu?"


Ayudia mulai pusing mendengarkan perdebatan suami dan mertuanya, "mas, nggak boleh gitu, aku seneng kok ada ibu disini, dan sana kamu ngapain kek, jangan nempel aku terus,"

__ADS_1


Bukannya menjauh, Benedict malah memeluk istrinya dari belakang, dan menciumi tengkuk nya, hingga Ayudia merasa kegelian, "pokoknya aku lepasin kamu kalau kamu udah nggak marah sama aku,"


"Siapa yang marah?"


"Kamu lah,"


"Lagian kamu keterlaluan, masa aku mau jalan-jalan ke mall nggak boleh,"


Benedict menghembuskan nafasnya kasar, "oke, kita jalan-jalan ke mall,"ucapnya dengan berat hati.


"Kok kita?"Ayudia tak habis pikir, dirinya paham maksud suaminya itu, "aku pergi sama ibu aja, kamu jaga anak-anak di rumah,"lanjutnya.


"Ya nggak bisa gitu lah Ay, kamu perginya sama aku, terus anak-anak biar ibu yang jaga,"


Ayudia berkacak pinggang, "mas, aku sama ibu udah hampir dua bulan di rumah, anak-anak imunisasi aja, aku nggak ke rumah sakit, dokternya yang kesini, aku bosen di rumah terus, lagian aku perginya sama ibu, kan aku pengen ngerasain belanja bareng ibu mertua, bentar doang, tiga jam deh, aku udah di rumah,"


Benedict melirik ibunya, sedangkan yang dilirik, pura-pura sibuk menepuk-nepuk cucunya.


"Oke, aku izinkan, tapi bawa bodyguard,"


"Mas, kamu emang pengin aku kabur lagi ya? Lagian aku itu bukan selebritis, orang-orang juga nggak ada yang tau aku ini siapa, jadi nggak usah berlebihan, ini negara aku, aman dan damai,"


"Bukannya berlebihan Ay, aku khawatir kamu kenapa-kenapa, bawa bodyguard ya!"


"Nggak, pokoknya aku perginya sama ibu aja, muka aku juga bukan muka orang kaya kok, muka biasa begini siapa yang mau berniat jahat,"


"Apa kamu lupa pertama kita ketemu karena apa?"


"Itu malam-malam mas, lagian ini Mall, ada sekuriti juga kan?"


Benedict memegangi kepalanya, istrinya sungguh keras kepala melebihi dirinya, namun entah kenapa dirinya selalu tak berdaya menghadapi istrinya.


Lelaki itu mengambil kartu hitam miliknya, dan memberikan pada istrinya "kamu pakai ini,"


"Kenapa nggak dikasih uang aja mas?"protes ibu dua anak itu.


"Ay, kamu bebas beli apapun pakai kartu itu,"


"Ya udah deh, terima kasih suamiku yang paling ganteng,"


Dipuji seperti itu, wajah Benedict memerah, sedangkan Ayudia yang melihat itu, hanya menahan  tawa.

__ADS_1


__ADS_2