Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
tujuh puluh enam


__ADS_3

Anna merasa lega, menantunya sudah memaafkan dan tidak akan menceraikan putranya, yang sudah jelas-jelas menyakiti fisik dan psikis istrinya.


Seminggu berlalu sejak kejadian itu, Ayudia sudah pulih sepenuhnya, dan beraktivitas seperti biasa, meskipun tanpa kehadiran suaminya.


Kedua anaknya sudah berumur dua bulan lebih dan juga sudah bisa tengkurap sendiri tanpa dibantu.


Anna masih mendampingi Ayudia dalam mengurus anak-anaknya, meskipun beberapa kali Ronald mendatanginya, memintanya kembali, namun Anna menolak permintaan itu.


"Ibu, maaf sebelumnya, bukannya Ayu mau ikut campur persoalan rumah tangga ibu, tapi kasihan om Ronald, beliau sampai beberapa kali kesini, hanya ingin bertemu sama ibu, tapi ibu malah nggak mau temuin, kalau Ayu boleh tau, memang ada masalah apa?"tanyanya saat keduanya tengah memakaikan baju pada bayi kembar itu setelah mandi.


Anna terdiam sejenak, mungkin sedang menyusun kata-kata yang tepat, "sebenarnya ibu nggak mau kembali ke rumah itu, karena ada Lusi dan Arnold, kamu ingat sebelum kamu berangkat ke Amerika dulu, saat Lusi memohon pada Ben, untuk kembali padanya dan di sana juga ada Arnold, sesampainya di rumah, ibu bertengkar dengan Ronald, ibu meminta Ronald untuk mengusir Lusi dari rumah itu, tapi Arnold yang jelas-jelas sudah direndahkan oleh Lusi, justru membelanya, tentu saja wanita ular itu menggunakan Cleo sebagai senjata, karena mau bagaimanapun Cleo adalah cucu satu-satunya dari Ronald sekaligus kesayangannya, karena itulah, sebagai tuan rumah ia tidak bisa mengusir wanita ular itu, jujur saja nduk, ibu malu sama kamu,"


"Sejak kejadian itu, ibu lebih sering tinggal di apartemen Ben, ibu bahkan sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan, tetapi entah mengapa, gugatan itu selalu ditolak pengadilan,"


"Apa sebaiknya ibu temui om Ronald sebentar, mau bagaimanapun beliau masih suami ibu kan?"


"Tapi ibu malas nduk, bapak sama anak itu sama aja, sama-sama bodoh, mau saja percaya dengan wanita ular itu,"


"Pokoknya, apapun keputusan ibu, Ayu dukung asal ibu bahagia, dan Ayu bersyukur punya ibu mertua rasa ibu kandung, makasih ya Bu, dari awal udah sayang sama Ayu, doain rumah tangga Ayu ya Bu,"


"Pasti nduk, ibu selalu doain kalian,"


Obrolan mereka terhenti, ketika salah satu maid memberitahukan ada tamu yang mencari Anna,


"Kayaknya om Ronald deh Bu, mending ibu temuin, biar Aileen aku yang lanjutin pakai bajunya," usulĀ  Ayudia pada mertuanya,


Anna mengangguk dan berlalu dari kamar cucu-cucunya.


Tidak sampai sepuluh menit, Anna kembali ke kamar, Ayudia mengernyit heran,


"Loh, kok cepat banget Bu?"tanyanya.

__ADS_1


"Ngapain nduk lama-lama, intinya masih sama kayak kemarin,"jawab Anna sambil menghampiri menantunya.


"Oh nduk, gimana kalau kita keluar? Belanja bulanan gitu, sesekali yuk!"usul Anna tiba-tiba.


"Emang boleh sama mas Ben, entar mas Ben marah lagi sama Ayu,"


"Ben aja ngilang, ditelpon nggak bisa kan?"


"Iya sih Bu,"


"Coba kamu telpon Rama, tanyain dimana Ben?"


"Di handphone aku nggak ada telponnya mas Rama, satu-satunya nomor laki-laki ya cuman mas Ben,"


Anna kaget mendengar pengakuan menantunya, ternyata putranya tidak berubah, "ya udah biar ibu yang telpon Rama,"


Perempuan paruh baya itu menghubungi Rama untuk menanyakan keberadaan putranya, dan menurut pengakuan Rama, Ben sedang ada di luar negeri, lelaki itu menyarankan untuk menghubungi Troy, asisten Benedict.


Tak membuang waktu, Anna menghubungi Troy, sesaat setelah Rama mengirimkan nomor ponsel lelaki itu.


Anna menanyakan keberadaan Benedict, dan Troy mengatakan bahwa Benedict baru saja akan meeting.


Perempuan paruh baya itu berpesan pada assiten putranya, bahwa Ayudia berencana akan mengajukan gugatan cerai pada Benedict, setelah mengatakan itu, Anna langsung mengakhiri panggilannya.


"Bu, kan Ayu bilang, kalau Ayu nggak akan berpisah dari mas Ben, kok ibu bilang gitu sama Troy? Nanti kalau mas Ben marah lagi sama Ayu gimana?"ucapnya khawatir.


"Udah kamu nggak usah pikirin, itu satu-satunya cara supaya suamimu kembali kesini,"


"Tapi Ayu takut Bu!"


"Udah pokoknya ikutin cara ibu, kita bikin suamimu nggak bertingkah seenaknya lagi, ibu tuh heran sama itu anak, maksud ibu sama Natasha menyuruhnya pergi itu, biar dia introspeksi, ya maksimal tiga hari gitu, lah ini udah seminggu malah ngilang, kayak nggak ada salahnya,"ungkap Anna kesal.

__ADS_1


"Oh ya kita nggak jadi belanja bulanan, mending kita ke rumah rahasia ibu yuk, sekalian liburan, mending kamu siapin keperluan anak-anak sama kamu selama di sana, ibu lupa, kamu masih pegang kartunya Ben nggak?"


"Masih, kenapa emang Bu?"


"Kita bikin bangkrut suamimu,"


"Tapi Ayu nggak enak Bu sama mas Ben,"


"Ayudia, kamu itu istri sekaligus ibu dari anak-anaknya Ben, kamu berhak pakai uang Ben sepuasnya,"


"Gitu ya Bu,"


"Udah cepetan kita siap-siap,"


Kedua perempuan beda usia itu, bergegas mengemasi barang-barang yang mereka butuhkan selama masa liburan dadakan itu.


Saat hendak keluar dari rumah, ada bodyguard yang melarang mereka untuk keluar, namun jangan panggil Anna jika ia tak bisa mengatasinya.


Tak jauh dari rumah, mereka mampir terlebih dahulu ke supermarket, untuk memborong beberapa keperluan, selama mereka liburan, tak lupa Anna menyuruh menantunya untuk menarik uang tunai dalam jumlah besar.


Anna tau putranya nan jauh di sana akan mendapatkan notifikasi dari pemakaian kartu itu, tentu lelaki itu akan kaget karena istrinya menarik uang dalam jumlah besar.


Dan benar saja, dibelahan bumi yang berbeda, Benedict melotot tak percaya, saat notifikasi muncul di layar ponselnya tentang penarikan uang dalam jumlah besar kartu yang ia berikan pada istrinya.


Ditambah lagi, sebelumnya, Troy memberitahukan bahwa ibu kandungnya menghubunginya, mengatakan bahwa Ayudia berniat akan mengajukan gugatan cerai padanya.


Tentu hal itu membuat benedict panik, ia langsung menghubungi Alex, untuk menanyakan tentang kebenaran ucapan ibunya itu, namun Alex menjawab, "bisa jadi, Ayu pakai pengacara lain buat ajukan gugatan cerai itu Ben, gue kan sahabat Lo, nggak mungkin Ayu meminta gue buat mengurus hal itu, jelas gue bakal belain Lo,"


Tak puas menghubungi Alex, Benedict menghubungi Natasha, jawaban gadis itu lebih mengejutkan, "iya, kemarin Ayu, minta cariin gue pengacara buat ngurus itu," tentu saja gadis itu berdusta atas perintah Anna.


Benedict melempar gelas ke tembok yang ada dihadapannya untuk melampiaskan kemarahannya, apa istrinya tidak kapok juga setelah apa yang sudah dilakukannya seminggu yang lalu, hingga perempuan itu berakhir tak sadarkan diri, apa perlu, ia mematahkan kaki istrinya, supaya perempuan itu tak lari darinya.

__ADS_1


Rasanya Benedict hampir gila hanya memikirkan itu, kenapa cinta membuatnya tak bisa berfikir logis, sedari kecil lelaki itu selalu menjaga dengan baik barang yang ia miliki, bisa dibilang sifat posesifnya sudah tertanam begitu kuat dalam dirinya sejak dini.


Sehingga saat ia merasa sudah memiliki wanita itu, maka dari itu, ia tak akan melepaskannya apapun yang terjadi.


__ADS_2