Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
lima puluh enam


__ADS_3

Ayudia menjalani kehamilannya dengan bahagia,


Hanya sesekali Anna mengunjunginya, membawakan kebutuhannya atau sekedar mengantarkannya ke bidan yang tak jauh dari rumahnya.


Anna tak banyak bercerita tentang puteranya yang beberapa waktu lalu sampai dilarikan ke rumah sakit, akibat kelelahan, dehidrasi hingga depresi kepada menantunya, ia tak ingin kandungan wanita itu terganggu.


Kandungan Ayudia menginjak usia tujuh bulan, perutnya semakin membuncit, terlihat lebih besar dibandingkan wanita hamil pada umumnya.


Namun wanita itu masih bisa menjalani aktivitas sehari-harinya, ia masih bisa berkebun, meski gerakannya sedikit lambat.


Bayi-bayi dalam kandungannya semakin aktif bergerak, terkadang Ayudia sampai tertawa sendiri, melihat bentuk jari tangan yang meninju dari dalam perutnya.


Tak lupa ia membagikan makanan kepada tetangga sekitar sebagai tanda syukurnya, ia bisa melalui kehamilannya dengan baik hingga saat ini.


Ada anak mang Kos dan teh Euis bernama Mirna yang biasanya menemaninya di rumah, terkadang remaja itu sampai menginap. Jadi hidupnya tak terlalu sepi.


Minggu siang, Ayudia meminta Mirna untuk mengantarkannya ke kota, ia sedang mengidam salah satu makanan yang dilihatnya melalui salah satu Chanel you tube di ponsel milik Mirna.


Ayudia mengidam Bakso, namun ia mau bakso yang ada di kota.


Dengan mengendarai motor milik mang Kos, ia membonceng Mirna menuju ketempat dimana tukang bakso itu berjualan.


Sesampainya di sana, ia harus mengantri, warung bakso itu sedang ramai pengunjung, namun tak masalah untuk wanita hamil itu, yang penting ia bisa menikmati bakso itu.


Ayudia sampai menyeka mulutnya, saat melihat salah satu pelanggan bakso sedang menikmati bakso itu.


Setelah bermenit-menit mengantri juga menunggu, akhirnya satu porsi bakso tersaji dihadapannya, tak sabar ia ingin menikmatinya.


Mirna sampai geleng-geleng kepala melihat Ayudia memakan bakso itu dengan lahap, bahkan wanita hamil itu menambah satu porsi bakso lagi.


"Alhamdulillah, akhirnya aku kesampaian juga makan bakso ini, makasih banyak ya Mirna, udah mau nganterin aku kesini,"ucap Ayudia sambil mengelus perutnya.


Keringat wanita itu sampai bercucuran, bibirnya merah merekah, tadi ia menambahkan banyak sambal pada mangkok baksonya.


"Sama-sama teh, Mirna juga seneng, kan gratis," ujarnya tertawa.


"Abis ini aku pengen makan es krim di Mekdi ya!" Ucap Wanita dengan perut buncit itu.


Mirna menunjukan dua jempolnya sambil tertawa.


Usai menikmati Bakso, Ayudia dan Mirna mengendarai motor menuju salah satu restoran cepat saji.


Ayudia membeli ice cream Sunday dengan toping cokelat, sedangkan Mirna memilih toping strawberry.


Saat keduanya mengobrol sambil menikmati ice cream itu, ada seorang laki-laki yang menghampirinya.


"Ayu..."


Merasa dipanggil tentu Ayudia langsung menoleh mencari sumber suara, ia melebarkan matanya, melihat siapa yang sedang berdiri di belakangnya.


"A Nando, ngapain disini?"tanya Ayudia gugup.


"Gue yang harusnya nanya, ngapain Lo disini? Lo kemana aja?" Tanya Nando emosi.

__ADS_1


"A, tolong duduk dulu, Ayu jelasin,"ujarnya mencoba menenangkan lelaki itu.


Nando menurut, ia meminta gadis yang bersama Ayudia untuk bergeser, ia duduk menghadap istri sahabatnya, ia menatap wanita itu tajam.


"Apa kabar A?"tanya Ayudia berusaha menghilangkan gugupnya.


"Buruk banget, bahkan kalau nggak ingat Lo bininya sahabat gue, abis Lo gue hajar," jawab Nando membentak.


Ayudia kaget, Nando yang dikenalnya, adalah orang yang humoris dan menyenangkan menjadi galak sampai membentaknya.


"Jadi kenapa tiba-tiba Lo ngilang dan bikin orang pada heboh nyariin Lo, apa Lo tau akibat dari perginya elo? Ugh...."Saking emosinya Nando ingin menggebrak meja, namun ia menahannya.


Nando tak habis pikir, kenapa sahabatnya begitu bodoh, hanya karena gadis biasa seperti Ayudia.


"Ben goblok banget ya, bisa-bisanya dia bisa segitu cintanya sama Lo, Lo pelet atau gimana?"


Nafas Nando memburu, emosinya mencapai puncaknya, ia mengambil ponselnya, ia hendak menelpon sahabatnya, namun tiba-tiba Ayudia mengambil paksa ponsel milik lelaki itu,


"Ayu mohon jangan hubungi mas Ben,"mohon nya.


"Balikin hp gue bangsat, jangan sampai Lo gue gamparin disini,"bentak Nando.


"Oke Ayu jelasin, tapi tolong jangan hubungi mas Ben dulu,"mohon nya seraya menyatukan kedua tangannya.


Akhirnya Ayudia menceritakan apa yang menyebabkan ia pergi dari suaminya.


"Tapi ini nggak bisa dibenarkan Ayu, bagaimanapun Lo itu seorang istri," ucap Nando setelah mendengar cerita istri sahabatnya.


Nando baru menyadari kalau perut wanita itu telah membuncit,


"Sudah berapa bulan yu?" Tanya Nando.


"Tujuh bulan A,"jawab Ayudia sambil mengelus perutnya.


"Kok udah gede banget,"ujar Nando heran.


"Kembar A,"


"Lalu sampai kapan Lo mau sembunyi Ayu?"tanya Nando.


"Sampai lahiran A, Ayu mau mengajukan gugatan cerai,"jawabnya.


Mendengar jawaban wanita hamil itu, mendadak kepala Nando pusing, ia sampai memijat kepalanya, "kenapa mesti cerai sih Yu?"tanyanya.


"Ayu nggak mau berbagi, sesuai yang Ayu ceritain tadi, di sana dia punya tunangan,"jawabnya.


"Tapi Ayu, anak-anak butuh bapaknya,"


"Ayu biasa hidup mandiri A, kalau cuman membesarkan dua anak, Ayu pasti bisa,"ucapnya yakin.


"Tapi Ayu, Lo ngilang aja, Benedict sampai depresi, gimana kalau elo minta cerai? Jangan Lo lakuin Ayu, temen gue bisa beneran gila kalau sampai Lo minta cerai,"


"Tapi A, Ayu nggak mau balik lagi sama dia,"

__ADS_1


"Jangan egois Ayu,"


"Terserah A Nando aja, yang penting tolong jangan beritahu keberadaan Ayu, kalau sampai Aa kasih tau, Ayu bakal lebih nekad dari ini,"ancamnya.


Entah mengapa Nando tak berdaya melihat tatapan memohon wanita hamil itu,


"Oke, tapi kasih tau gue, dimana Lo tinggal, biar suatu saat Lo mau lahiran, gue bisa bantuin elo,"Ayudia mengangguk menyetujuinya,


Ayudia pulang diantar oleh Nando dengan menaiki mobil lelaki itu, sedangkan Mirna menaiki motornya sambil menunjukan jalannya.


Sesampainya dihalaman rumah,


"Ini rumah siapa yu?"tanya Nando heran melihat rumah kayu dengan kebun dan kolam ikan disekitarnya.


"Rumah ibu,"jawabnya sambil berjalan menuju dalam rumah bersama Mirna.


"Bukannya ibu Lo, udah meninggal ya?"tanya Nando yang baru saja duduk di kursi ruang tamu.


"Ibunya mas Ben, Tante Anna,"jawabnya sembari menyajikan air mineral botol yang tadi diambil Mirna dari dapur.


Nando kaget mendengarnya, "jadi Tante Anna tau kalau Lo ada disini?"


Ayudia mengangguk, "tapi ibu jarang kesini, sesekali aja, kalau ayu periksa kandungan atau, sekedar mengantarkan makanan atau kebutuhan bulanan buat Ayu,"jelasnya.


"Benar-benar mengejutkan, anaknya hampir gila, ternyata emaknya yang ngumpetin bininya,"gumam Nando


"Apa Lo mau lahiran disini?"


Tanya Nando sambil melirik perut buncit itu.


"Belum tau mas, bayi aku kembar, kemungkinan nggak bisa lahiran di bidan, mau nggak mau harus lahiran di rumah sakit, kemarin ibu juga sempat ngomongin soal ini, tapi Ayu belum jawab,"


"Saran gue, mending kalau mau lahiran, Lo balik ke Jakarta, biar Natasha yang bantuin elo lahiran, dari awal dia udah nanganin elo kan?"


"Bukannya dokter Natasha ada di Amerika?"tanya Ayudia heran.


"Kan pasiennya kabur, mau nggak mau dia balik kesini lah,"


Ayudia nyengir memperlihatkan giginya, "nanti Ayu pikirin lagi ya!"


"Gue tunggu kabar Lo, mana nomor baru Lo?"


"Ayu nggak pakai handphone A,"


"Terus buat komunikasi sama Tante Anna pakai apa?"tanya Nando heran.


"Pakai punya Mirna kalau nggak mang Kos,"jawab Ayudia.


"Ya udah gue balik dulu,"pamitnya seraya bangkit, setelah menghabiskan air mineral satu botol.


"Tolong jangan kasih tau mas Ben ya A,"


Nando hanya mengangguk, sebelumnya ia tak lupa meminta nomor ponsel milik Mirna.

__ADS_1


__ADS_2