
Hari pernikahan Cleo putri dari Arnold dan Lusi tiba, resepsi diadakan disalah satu ballroom hotel mewah di ibu kota.
Banyak tamu undangan yang hadir, diantaranya teman-teman SMA dari pasangan Arnold dan Lusi,
Termasuk Benedict and sahabatnya, sesuai perkataan Ayudia saat ia dan keluarga kecilnya masih berada di desa, ia akan datang jika diundang.
Dengan menggunakan dress brokat berwarna navy dengan hijab warna senada, Ayudia datang menggandeng lengan suaminya yang juga mengenakan setelah jas warna senada dengan istrinya.
Ayudia terlihat anggun sedangkan Benedict terlihat tampan dan berwibawa.
Benedict datang bergerombol dengan semua sahabatnya berserta pasangannya termasuk Natasha dan Kama.
Tentu hal itu mengundang kehebohan dengan kedatangan kumpulan pria-pria tampan juga istrinya yang berpenampilan anggun dan lembut.
Di tempat resepsi tak ubahnya ajang reuni teman-teman SMA dari Arnold juga lusi bahkan ada yang berkomentar, "dari jaman SMA sampai sekarang kalian berenam selalu kemana-mana barengan, sekarang udah pada tua kemana-mana bareng juga, jangan-jangan nikah sama punya anak juga barengan juga,"
Mendengar komentar salah satu temannya, semua tertawa, kalau dipikir-pikir persahabatan mereka bahkan melebihi setengah umur mereka, kecuali Rama yang bersahabat dengan Benedict sejak berumur sepuluh tahun, sedangkan yang lain bersahabat dari Masa orientasi siswa saat mereka masuk SMA, kebetulan dari kelas satu SMA mereka selalu satu kelas.
Memang dari dulu hanya Natasha yang perempuan sendiri, menurut cerita mereka, Natasha dulunya seperti lelaki, dan hanya dia yang tidak tertarik oleh kumpulan laki-laki tampan itu.
Benedict dan sahabatnya beserta pasangannya masing-masing menaiki pelaminan, dimana mempelai yang tak lain Cleo dan suaminya yang diketahui merupakan salah satu aktor sekaligus pengusaha terkenal di negeri ini, tak henti-hentinya mengumbar senyuman, Terlihat kedua mempelai saling mencintai.
Yang paling pertama menaiki pelaminan, Oscar diikuti istrinya, lalu Alex, Rama, Nando, Natasha beserta pasangannya masing-masing dan yang terakhir adalah Benedict diikuti oleh Ayudia dengan perut terlihat membuncit.
Awalnya semua berjalan lancar, mereka memberikan selamat kepada kedua mempelai juga orang tua yang mendampinginya di sisi kanan dan kiri.
Hingga tiba giliran Benedict dan Ayudia berhadapan dengan Arnold dan Lusi.
Benedict dan Arnold saling berpelukan tak lupa lelaki dengan dua anak itu memberikan selamat kepada mantan teman sekaligus mantan saudara tirinya.
"Selamat ya Arnold, duluan mantunya,"ucap Benedict.
"Thanks Ben udah Dateng, gue turut berduka cita atas meninggalnya ibu, maaf gue nggak bisa datang,"tutur Arnold.
Giliran Lusi, terlihat berbinar melihat ada lelaki yang dulu semasa SMA ia cintai,
"Selamat ya lus,"ucap Benedict singkat.
"Makasih Ben udah Dateng, kamu masih tampan seperti biasa,"balas Lusi yang menarik tangan Benedict yang bersalaman dengannya, agar bisa di peluk, dan dengan tidak tau malu, Lusi berjinjit mencium pipi mantan pacarnya itu.
Orang-orang disekitar sampai tercengang melihat hal memalukan itu.
Ayudia yang sedang menyalami Arnold hanya bisa menggelengkan kepalanya, tak menyangka ternyata bertahun-tahun wanita itu tidak berubah, masih saja tak tau malu jika dekat dengan suaminya.
Benedict sedikit mendorong mantan pacarnya dan menggosok pipinya juga berkata, "cewek gila,"makinya pelan.
Giliran Ayudia yang menyalami Lusi, wajah ibu dari mempelai perempuan, seketika berubah muram, melihat siapa yang datang.
"Selamat ya mbak Lusi,"ucap Ayudia sambil menyalaminya.
"Kok bisa Ben mau sama kamu sih, cantikan dan seksi aku kemana-mana,"ungkap Lusi kesal.
"Ya walau aku nggak cantik, mas Ben cinta mati sama Ayu, bahkan aku lagi mengandung buah hati kami,"ujarnya sambil mengelus perut buncitnya, "satu lagi ya mantan pacarnya suamiku, asal tau ya, kata mas Ben, Ayu selalu bikin suami ayu ketagihan dalam hal ranjang, katanya punya Ayu masih sempit walau udah belasan tahun kami melakukannya, mas Ben kuat banget loh mbak, sehari bisa lebih dari lima kali kami memadu kasih, mbak Lusi bisa lihat badan kekarnya mas Ben kan? Itu kalau lagi meluk, anget banget, sayangnya itu semua hanya Ayu yang dapatkan,"bisiknya tepat di telinga mantan pacar suaminya.
"Kurang ajar kamu Ayu, nggak nyangka wajah lugu kamu, ternyata cuman kedok,"bisik Lusi kesal.
__ADS_1
"Tapi wajah ini yang buat suami Ayu bertekuk lutut, gimana dong? Saran Ayu, mending Mbak Lusi baik-baik sama pak Arnold, sayangi dan cintai dengan tulus, seenggaknya beliau masih mau terima mbak Lusi yang jelas-jelas keganjenan sama suami Ayu, udah ya mbak kita ngobrol-ngobrolnya, nggak bakal Ayu sambung, soalnya abis ini, Ayu bakal ikut suami Ayu tinggal di Amerika dan menikmati kekayaan suami Ayu yang melimpah,"ucapnya sambil berlalu dengan senyum penuh kemenangan.
Berbeda dengan Lusi yang memperlihatkan wajah dongkolnya.
"Apa yang kamu bicarakan dengan dia?"tanya Benedict heran, istrinya berbicara terlalu lama dengan mantan pacarnya.
"Cuman bilang kalau mas Ben cinta mati sama Ayu,"
Benedict tersenyum sambil merangkul istrinya seraya mencium kening wanita hamil itu mesra.
Benedict dan para sahabatnya duduk di kursi dengan meja panjang yang cukup menampung mereka semua.
"Apa yang ingin kamu makan sayang?"tanya Benedict pada istrinya.
Selain makanan yang disajikan pelayan dimasing-masing meja, ada juga stand camilan untuk para tamu.
"Kayaknya dimsum sama siomaynya enak deh aku mau dong,"jawab wanita hamil itu.
Benedict bersama Nando juga Kama menghampiri stand yang menyediakan makanan pesanan istri mereka yang kebetulan sama.
"Ben, si Ayu ngomong apaan sama Lusi? Gue liat muka Lusi kesel banget,"tanya Nando sambil memesan dimsum.
"Ayu bilang kalau gue cinta mati sama dia,"jawabnya sambil tersenyum-senyum.
"Dih muka Lo merah tuh,"ujar Nando tertawa.
"Emang bener gue cinta mati sama bini gue sendiri, memang Lo nggak sama bini Lo sendiri?"tanya Benedict.
"Jelas gue cinta mati sama bini gue, orang dapetnya aja sampai bikin bini Lo koma,"jawabnya sambil mengingat perjuangannya dulu.
"Kalau dipikir-pikir, Lo sahabat gue paling kurang ajar nggak sih, untungnya bini sama anak gue sayang banget sama Lo, kalau nggak gue bakal bikin koma Lo dengan tangan gue sendiri!"
"Sialan Lo,"
"Bang, mantannya lagi jalan kesini," bisik kama menyela.
Benedict dan Nando kompak menoleh kearah yang di tunjukan oleh suami brondong sahabat wanita satu-satunya itu.
Dan benar saja, Lusi datang dengan senyum mengembang ke arahnya.
"Do, kalau Lo berhasil menghalau itu cewek gatel, villa gue di Lembang yang ada kebun strawberry nya, bakal gue hibahkan buat Lo," ucap Benedict berbisik pada sahabatnya.
"Oke, ingat janji Lo, saksinya dedek brondong,"tutur Nando sambil melirik Kama.
"Hai Ben" sapa Lusi dengan senyum manisnya namun terlihat menyebalkan Dimata Benedict.
"Eits, mau ke mana ibu Lusi? Jaga jarak sama bos gue,"cegah Nando menghalangi jalan wanita itu.
"Minggir nggak Do, aku perlunya sama Ben, bukan sama kamu,"ucap Lusi kesal.
"Lusi, Lo ingat nggak waktu SMA Lo pernah gue bikin malu, sampai Lo nangis-nangis, Lo ingat nggak kalau gue udah beraksi?"
"Aku nggak ada urusan sama kamu do!"
"Itu urusan gue kalau ada hubungannya sama adik kesayangan gue, Lo tau, bininya Ben itu Adik kesayangan gue,"ujarnya, "beda bapak sama ibu,"Lanjutnya dalam hati.
__ADS_1
"Kamu anak satu-satunya nggak mungkin kamu punya adik,"sangkal Lusi.
"Yah nggak percaya, dengerin omongan gue," Nando mendekati Lusi, lelaki itu menunduk, lalu berbisik, "Lo tau di hape gue ada rekaman CCTV saat Lo cek in di hotel sama besan lo, bahkan gue ada video panas Lo sama dia, apa mau gue bongkar disini?"ancamnya.
"Aku nggak kayak gitu kok!"sangkal Lusi.
Nando menyeringai, ia berbicara, nama hotel, hingga waktu dan nomor kamar bahkan warna cat tembok di kamar hotel itu sesuai rekaman CCTV yang lelaki itu punya.
Wajah Lusi seketika menjadi pucat pasi,
"Sekali lagi Lo gangguin rumah tangga sahabat gue, gue kasih rekaman ini ke Arnold dan ibu dari mantu Lo, kira-kira apa yang bakal terjadi sama hidup Lo kedepannya,"bisiknya lagu tepat di samping Lusi.
Lusi terlihat ketakutan dengan mata berkaca-kaca, wanita itu bergegas meninggalkan tempat itu.
Nando tersenyum penuh kemenangan, membuat Benedict dan kama bingung.
Tapi malas bertanya pada Nando, mereka lebih memilih menuju istri mereka masing-masing.
Benedict dan para sahabatnya meninggalkan pesta beberapa menit yang lalu, mereka menuju parkiran bawah tanah, untuk mengambil mobil mereka, hanya Natasha dan Kama yang satu mobil dengan Benedict juga Ayudia.
Saat di parkiran, ada seorang wanita yang memanggil kama, mereka berempat kompak menoleh kearah suara.
Terlihat seorang wanita muda seumuran kama dengan gaun cukup seksi menghampiri lalu memeluk Kama erat,
"Kama, aku kangen kamu, kamu kemana aja sih? Aku cari ditempat kerja istri kamu, tapi dia nggak mau kasih tau dimana kamu,"ucap wanita itu manja.
Natasha memutar bola matanya malas.
Kama melepas paksa pelukan itu, "apa-apaan sih kamu? Gila kamu ya!"
"Aku kangen kamu kama, aku sayang kamu,"ujar wanita itu tak tau malu.
Ayudia mendekati Natasha dan berbisik, "gue pikir gue dong, yang punya masalah sama cewek nggak tau malu, Lo ternyata sama ya!"
"Ya gitu deh,"ucap Natasha santai.
"Terus Lo mau diem aja, laki Lo digituin?"tanya Ayudia.
"Apa perlu gue Jambak yu?"tanya balik Natasha.
"Jangan pake kekerasan fisik, bisa ribet buat reputasi Lo, pake omongan aja, atau sekali-kali Lo ***** kama depan itu cewe,"saran Ayudia.
Natasha mengikuti saran sahabatnya.
"Tunggu dek Karen, gue mau ngomong,"ujar Natasha sambil melepas paksa tangan perempuan yang memegangi lengan suami brondongnya.
"Apa Tante? Tante masih nggak sadar juga, kalau Tante itu nggak cocok sama Kama,"ucap Karen percaya diri.
Natasha memutar bola matanya malas, lalu wanita yang berprofesi sebagai dokter kandungan itu berjinjit seraya mengalungkan tangannya dileher suaminya dan ******* bibir Kama tepat di depan Karen, bahkan Natasha sampai berperang lidah dengan suami brondongnya itu,
Hal itu tidak disia-siakan oleh Kama, sekian tahun menikah, baru ini kali pertama, istrinya menciumnya duluan, ia membalas ciuman itu tak kalah panas.
Natasha melepaskan ciuman itu terlebih dahulu, "lihat kan, bahkan Kama balas ciuman gue, asal Lo tau, yang dari dulu ngejar-ngejar gue itu dia, dari jaman kalian masih putih abu-abu, jadi jangan berfikir gue Tante-tante gatel yang mau sama brondong, satu lagi, Lo lihat cowok di situ,"tunjuknya pada Benedict, "kalau gue mau, gue minta tolong sama sahabat gue, buat bikin perusahaan bapak Lo bangkrut dan dalam sekejap Lo jadi gembel di jalanan, ini peringatan terakhir, jangan ganggu rumah tangga gue lagi, ngerti Lo!"ucap Natasha lantang dengan mata melotot.
"Nggak mungkin tante bisa kayak gitu, Tante bohong kan?"tanya Karen tak percaya.
__ADS_1
Natasha menyebutkan perusahaan milik keluarga Karen pada Benedict, dan dengan segera lelaki itu menghubungi Alex,
"Lo lihat besok pagi perusahaan bokap Lo bakal rugi besar dalam semalam," ancam Natasha sambil berlalu menuju mobil milik sahabatnya.