
Sekarang ini, Ayudia tak ubahnya seorang ****** untuk ayah dari anak-anaknya, kalau dibilang suami, lelaki itu sudah menjatuhkan talak lebih dari tiga tahun yang lalu, tapi di atas kertas, wanita itu masih istri dari sah lelaki itu.
Ayudia tidak mempedulikan semua itu, baginya yang terpenting ia bisa bertemu dengan anak-anaknya dan membawanya pergi dari negara ini.
Sepertinya sekembalinya ia ke rumah besarnya di Jakarta, ia akan segera menandatangani surat cerai itu,
Lelaki itu telah berubah, sepertinya ayah anak-anaknya sudah tak lagi mencintainya, Ayudia berfikir, lelaki ini hanya membutuhkan tubuhnya saja.
Sedari pagi Ayudia harus melayani nafsu besar lelaki itu, ia hanya diberi jeda untuk ke toilet, makan seadanya dan tertidur sekejap.
Rasanya bagian bawah tubuhnya kebas dan membengkak, lelaki itu mengaku belum puas, padahal langit sudah mulai berubah kemerahan.
Benar-benar gila, bahkan Ayudia menangis beberapa saat yang lalu, ia memohon supaya lelaki itu menghentikan kegiatannya.
Namun seakan tak peduli, lelaki itu terus melanjutkan aksinya, hingga lenguhan panjang keluar dari mulutnya, Benedict ambruk disebelah ibu dari anak-anaknya,
Ia tersenyum senang sambil mengecup kening wanita itu.
Satu kata yang menggambarkan perasaan Ayudia, hancur, tiga kali lelaki itu menyakiti fisiknya.
Beruntung kali ini dia tidak sampai pingsan, hanya merasakan seolah tubuhnya remuk, hanya untuk menggeser kakinya saja, rasanya berat sekali.
Kandung kemihnya terasa penuh, ia ingin segera mengeluarkannya, namun tak berdaya untuk bangun.
Ayudia menepuk punggung telanjang lelaki yang tertidur terlungkup,
"Mas, tolong bantu aku ke toilet, aku kebelet pipis,"ucapnya membangunkan lelaki itu.
Benedict yang baru saja tertidur bangun terduduk, "apa?"tanyanya
"Bantu aku ke kamar mandi, kaki aku lemas,"jawabnya.
Lelaki itu memakai celana pendeknya dan menggendong wanita itu menuju lantai bawah.
Usai keduanya membuang kemihnya secara bergantian, Benedict kembali menggendong wanita itu menuju sofa.
"Mas, aku mau pakai baju, bisa tolong ambilkan baju," ujarnya meminta tolong karena saat ini tubuhnya tak tertutup apapun.
Namun bukannya menjawab, atau beranjak ke atas mengambil baju, lelaki itu malah meninggalkannya menuju dapur,
Tak lama lelaki itu membawa bowl berisi air hangat dan handuk kecil serta salep ditangannya.
Lelaki itu melebarkan kaki wanita itu, kewanitaannya terlihat memerah dan membengkak, ia mengompresnya dengan handuk hangat, setelahnya ia mengoleskan salep disekitarnya.
Ayudia merasa malu, walau lelaki itu sudah tak terhitung saat melihatnya juga menikmatinya.
Usai melakukan hal itu Benedict kembali ke dapur dan kembali dengan membawa selimut tebal.
Ia merebahkan tubuhnya di sofa besar itu, tepat disebelah wanita itu, ia menjadikan lengannya sebagai bantal dan memeluk pinggang ramping itu, tak lupa menyelimutinya.
__ADS_1
Tak kunjung memejamkan mata, Ayudia yang tadinya terlentang memiringkan tubuhnya menghadap lelaki itu, tepat dihadapannya leher panjang dengan jakun yang terlihat naik turun,
"Mas,"panggilnya, namun tak ada tanggapan, ia mencoba lagi, hingga panggilan ke lima lelaki itu baru memberikan reaksi.
"Apa sih Ayudia? Lebih baik pejamkan mata kamu,"perintah lelaki itu seraya menepuk punggung yang ia rengkuh.
"Aku mau ngomong,"
Ada helaan nafas yang menyapu kening wanita itu, "apa?"tangannya dengan mata terpejam.
"Apa kamu sudah puas?"tanya Ayudia.
Tak ada jawaban keluar dari mulut lelaki itu, hingga Ayudia kembali memanggil namanya,
"Aku nggak akan pernah puas Ayudia, kamu tau itu kan,"
"Bahkan setelah seharian kita melakukannya?"tanya Ayudia tak percaya, lelaki itu hanya berdehem.
Ayudia menggelengkan kepalanya, lelaki ini benar-benar gila, kenapa ia baru sadar sekarang, bodoh sekali dirinya,
"Lalu apa yang harus aku lakukan agar kamu puas?"tanyanya ketus.
"Selalu disamping aku, didekat aku, setiap saat,"jawabnya sambil memejamkan matanya.
Ayudia tercengang mendengar jawaban lelaki yang tengah memeluknya, "apa maksudnya?"
"Kamu kembali sama aku,"
"Aku hanya memberikan kamu kesempatan dan waktu untuk memilih, supaya kamu yakin dengan perasaan kamu sendiri, sekarang aku tanya, apa rencana kamu setelah apa yang kita lalui?"
Dengan mantap Ayudia menjawab, "aku mau ketemu anak-anak dan pulang ke indo lalu menandatangani surat cerai yang kamu berikan tiga tahun yang lalu,"
Benedict mengeratkan pelukannya, "kalau kali ini aku nggak mau melepaskan kamu, bagaimana?"
"Apa maksud kamu?"
"Kita akan ketemu anak-anak setelah kita kembali bersama,"
"Tapi kamu menyakiti aku,"
"Itu pelajaran untuk istri yang membangkang pada suaminya,"
"Kenapa harus dengan urusan ranjang?"
"Karena aku tidak mungkin bisa menghajar kamu sayang,"
Ayudia terdiam, ia memikirkan beberapa kejadian di masa lalu, beberapa kali ia berbuat salah, maka suaminya akan bertindak kasar saat di atas ranjang, seolah akan menghancurkan tubuhnya.
"Apa kamu Sudah mengerti istriku? Apa pernah aku memaki dan menghajar kamu saat kamu melakukan kesalahan? Aku hanya melampiaskan amarah aku ke kamu ketika di atas ranjang,"
__ADS_1
"Apa kamu belum tau sepenuhnya tentang suami kamu?"
"Bagaimana saat aku marah?"
"Bukankah kamu pernah melihatnya? Itu belum seberapa Ayudia, aku masih menghargai dia sebagai sahabat, jadi jangan coba-coba membuat aku marah sayang,"
"Kamu mengancam aku?"
"Bukankah kamu maunya diancam?"
"Bodohnya aku tidak menyadari temperamen kamu,"ujar wanita itu merutuki kebodohannya.
"Sudah terlambat Ayudia, kamu tak akan bisa lari lagi, waktu bebas kamu sudah habis, saatnya kembali seperti semula,"
"Lalu pernikahan George?"
Benedict tertawa, "George tak akan menikah, he is gay,"
Ayudia terkejut mendengar ucapan lelaki itu, "jadi semua ini?"
"Ternyata kamu tidak sepenuhnya kenal suami kamu ya! Tentu saja semua ini hanya akal-akalan aku, supaya kamu datang sendiri padaku,"
"Kamu licik,"maki wanita itu.
"Yes, it's me, what's wrong babe?"
"Kenapa kamu melakukan ini padaku?"
"Karena kamu hanya milik Benedict seorang,"
"Aku bukan barang,"
"Tentu saja bukan, tapi kamu yang membuat aku begini, kamu yang membuat aku jatuh cinta,"
"Tetapi aku tidak melakukan apapun,"
"Mungkin itulah yang membuat aku jadi penasaran sama kamu, selain debaran yang tak biasa, kamu juga tak seperti wanita lain, yang mengejar-ngejar aku,"
"Kali ini kamu akan benar-benar jadi milik aku sepenuhnya Ayudia, baik hati maupun fisik kamu, tak ada tempat untuk kamu lari sayang, aku rumah kamu, kamu rumah aku dan anak-anak aku,"
Ayudia mendorong kuat lelaki dihadapannya, hingga terjatuh, wanita itu kesal sekali, ia merasa terjebak, semua bekerjasama, ia berteriak untuk melampiaskan kekesalannya.
Benedict tertawa melihat tingkah istrinya, ia terduduk dilantai, "setelah kamu sembuh kita pulang ke mansion, mereka menunggu kita, mungkin mereka tengah disibukkan dengan pernikahan kita, jadi lebih baik kita berdua disini hingga semuanya siap, baru kita kembali ke sana,"
Ayudia duduk bersandar di sofa dengan selimut menutupi tubuh polosnya, "memangnya aku mau menikah sama kamu?"
"Apa aku memberikan kamu pilihan?"
"Selama tiga tahun ini aku sudah memberikan kamu pilihan, dan kamu tetap memilih aku kan?"
__ADS_1
Tepat apa yang selama ini ia pikirkan, ia akan selalu memilih ayah dari anak-anaknya.