Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
lima puluh sembilan


__ADS_3

Benedict yang sedari tadi masih mencoba bersabar menghadapi istrinya, akhirnya tak bisa lagi menahan amarahnya ketika Ayudia berjalan keluar dari rumah itu.


Benedict menendang meja kaca yang terdapat di depan sofa hingga pecah, padahal kaca itu cukup tebal, tak sampai disitu, Benedict meninju pintu kaca pembatas antara ruang tengah dengan taman disamping rumah, segala umpatan keluar dari mulutnya, ia melepaskan segala kekesalannya yang selama ini ia tahan.


Melihat keadaan puteranya, dengan hati-hati Anna menghampiri Benedict, wanita itu memeluk puteranya, mencoba menenangkannya.


Lain halnya dengan Ayudia yang terkejut, sampai wanita hamil itu menutup mulutnya, ia tak menyangka suaminya menakutkan jika mengamuk.


"Itu belum seberapa Yu, jadi mending sekarang lo balik ke Ben, tenangkan dia, kecuali Lo emang pengen liat Ben berbuat diluar nalar,"bujuk Alex menghampiri wanita itu.


"Kalau Lo berpikir, ben bakalan nyakitin Lo, itu nggak mungkin, gue bisa jamin itu,"bujuknya lagi.


Ayudia terdiam, ia tak melakukan apapun, ia hanya melihat suaminya berada di pelukan ibu kandungnya,


"Kenapa Bu, sekalinya Ben cinta sama perempuan, dia nggak cinta sama Ben? Apa memang Ben nggak layak buat dapat cinta dari dia Bu?"keluhnya, bagai anak kecil yang merengek pada orangtuanya.


"Dia mau ninggalin Ben, dia nggak cinta sama Ben, terus apa gunanya usaha Ben selama ini? Semua yang Ben punya, nggak membuat dia memilih Ben, apa gunanya semua itu Bu?"


Anna menepuk punggung putranya, ia mencoba menenangkannya.


Sementara Ayudia perlahan mundur, ia berniat pergi dari sana namun tangannya ditahan oleh Rama, "Ayu, gue mohon jangan pergi, apa Lo mau lihat kehancuran Ben?"mantan atasnya memohon.


Namun sepertinya, itu tidak berefek pada wanita hamil itu, sampai Nando yang baru selesai diobati oleh Oscar, menghampirinya, "Lo mau balik yu, ayok gue antar, Lo capek kan?"


"Tapi sebelum itu, gue minta banget, supaya seenggaknya Lo pamit sama suami lo,"sarannya.


Ayudia menuruti ucapan Nando, ia berjalan pelan menuju suaminya, "mas Ben, aku pulang dulu ya!"pamitnya mencium tangan suaminya juga mertuanya.


Setelahnya ia bergegas menghampirinya Nando, dan keduanya keluar dari rumah itu.


Benedict yang melihat kepergian istrinya hanya diam mematung, terlihat punggung perempuan yang dicintainya semakin jauh darinya.


"Ben, kayaknya tingkah Ayu, itu pengaruh hormon deh,"ujar Oscar, saat keadaan sudah lebih tenang.


"Sepertinya ucapan Oscar ada benarnya Ben, ibu pernah mengalami hal yang sama, waktu hamil kamu, dulu ibu bahkan sampai muntah-muntah jika Daddy kamu mendekat, bawaannya ibu sebel banget sama daddy,"ungkapnya.


"Apa setelah melahirkan Ayu akan berubah?"tanyanya.


"Nggak tau juga Ben, mudah-mudahan Ayu nggak sampai mengalami sindrom baby blues,"sahut Oscar.


"Lalu apa yang harus gue lakuin?"tanyanya.

__ADS_1


"Saran gue biarin dulu, yang penting Ayu baik-baik saja, ada Nando yang jagain, dia nggak mungkin macam-macam,"


Benedict akhirnya mendengarkan ibu dan sahabatnya.


Rama menghubungi orangnya untuk membereskan kekacauan yang dibuat big bos-nya.


Hari-hari Ayudia tak banyak berubah, pagi-pagi setelah subuh, Nando selalu datang mengajaknya untuk berjalan-jalan pagi, disekitar komplek perumahan milik Natasha.


Nando yang humoris tentu selalu berhasil membuat ibu hamil itu tertawa, seolah kejadian beberapa hari lalu tak berarti apapun baginya.


Pagi ini Nando membawakan sandwich dan jus alpukat untuk keduanya sarapan di taman.


"A, entar kalau Ayu lahiran, temenin ya!"ucapnya sambil memakan sarapannya.


Nando yang mendapatkan permintaan dari wanita disampingnya, menjadi tidak enak sendiri, lelaki itu mengangguk.


"Entar kalau anak Lo lahir, kayaknya bakal lebih nempel sama gue, dibanding bapaknya, hamil aja maunya deket-deket gue Mulu, bakal disangka gue bapaknya yu,"celetuk lelaki itu tiba-tiba.


"Emang Aa keberatan?"tanya Ayudia kesal.


"Ya nggak juga sih, masalahnya cewek-cewek jadi nggak berani ngedeketin gue, takut di cap pelakor,"


"Entar Ayu cariin istri deh A, yang seagama biar bisa direstui sama Umi,"


"Lo serius mau pisah sama Ben?"


Tanyanya.


Ayudia mengangguk lagi.


"Apa yang bikin Lo begitu ingin pisah dari Ben? Apa benar Lo nggak cinta sama Ben?"


Ayudia menghela nafas pelan, "Ayu memang sampai detik ini belum bisa mencintainya, Ayu hanya suka dan nyaman dengan perlakuan lembutnya,"


"Apa Ben tau, tentang perasaan Lo yang sebenarnya?"


Ayudia mengangguk lagi, "sebelum ke US, Ayu sempat ketemu sama cinta pertama Ayu dulu saat SMA, walau saat itu kami nggak sampai jadian, kami hanya sama-sama tau kalau kami saling cinta, namun dia harus mengejar cita-citanya sehingga kami terpisah, sampai terakhir kami bertemu, kami masih merasakan rasa yang sama, tapi karena aku udah nikah, makanya dia cukup tau diri, walau dia bilang akan menunggu Ayu,"


Nando tercengang mendengar pengakuan istri dari sahabatnya, bagaimana mungkin Benedict yang memiliki segalanya malah tidak memiliki cinta dari wanita yang ia cintai?


"Seandainya Lo jadi pisah sama Ben, apa Lo bakal balik sama cinta pertama Lo?"tanya Nando penasaran.

__ADS_1


Ayudia tersenyum, terlihat lesung pipinya, "ya nggak lah, dia terlalu bagus buat Ayu,"


Nando mengernyit bingung, "kalau Lo nggak balik sama dia, kenapa Lo mesti pisah sama Ben?"


"Ini bukan masalah Cinta nggak cinta, tapi Ayu memang nggak suka cara Mas Ben perlakukan Ayu, dia terlalu posesif, Ayu tau batasan sebagai seorang istri, Ayu nggak mungkin tiba-tiba balik ke cinta pertama Ayu, jadi nggak perlu tuh mas Ben membatasi ruang gerak Ayu,"


"Hampir dua bulan di New York, Ayu sama sekali nggak pernah keluar dari penthouse, kontak di handphone baru yang dikasih mas Ben, hanya berisi keluarga aja, sementara nomor teman-teman Ayu nggak ada, bahkan sampai Facebook pun Ayu nggak boleh pakai, bukannya Ayu nggak mau bersyukur dengan semua hal yang mas Ben kasih, tapi Ayu biasa sibuk dengan hidup Ayu, selama di sana, Ayu benar-benar seperti burung dalam sangkar yang menunggu empunya memberi makan, dan yang membuat Ayu tidak terima, mas Ben malah bertunangan dengan wanita lain dengan alasan bisnis, udah kayak di drama Korea A, yang itu Ayu nggak bisa maafin, disaat Ayu hamil anaknya, dia mengkhianati Ayu,"


"Tapi Ben udah putusin tunangannya, makanya dia balik kesini buat kembali sama Lo,"


"Apa di masa depan ada jaminan, jika mas Ben nggak akan mengkhianati Ayu?"


"Ayu bukan perempuan yang dengan be-besar hati buat berbagi meskipun agama kita mengijinkan,"


Nando terdiam mendengar ucapan wanita disebelahnya, ada hening sesaat diantara keduanya, sementara wanita hamil itu kembali menikmati sarapannya.


"Lalu apa rencana Lo setelah melahirkan dan seandainya kalian jadi berpisah?"


Ayudia menelan potongan terakhir sandwich miliknya, lalu meminum jus Alpukat nya hingga tandas.


"Ya melanjutkan hidup A, kan Ayu juga udah biasa jadi tulang punggung keluarga,"


"Tapi anak Lo kembar yu,"


"Adik-adik Ayu ada yang kembar A, kalau Aa lupa,"


"Dari adik kembar Ayu lahir, udah nggak ada ibu, makanya Ayu udah biasa bantuin Bapak buat urus mereka,"


"Tapi bukannya ngurus anak perlu uang juga, bagaimana Lo mau menafkahi mereka?"


"Ayu punya tabungan a, cukup buat usaha di rumah,"


"Kenapa Lo keras kepala sih? Pusing gue,"


Ayudia tertawa, "nggak usah pusing A, yang jalanin Ayu loh, cuman sampai lahiran aja kok, Ayu ngerepotin Aa, setelah itu nggak bakal lagi deh,"


"Gue seneng kok Lo repotin, hitung-hitung gue belajar jadi bapak, pas gue nikah, gue udah nggak kaget, menghadapi ibu hamil yang punya kepala batu,"


Lagi-lagi Ayudia tertawa, "tau Aa lucu gini, mending dulu pas Aa deketin Ayu, Ayu mau aja ya!"


"Bisa digantung gue sama Ben, muka gue belum sembuh sepenuhnya Ayu, Lo mau bikin gue bonyok lagi?"

__ADS_1


Ayudia tertawa keras, entah mengapa ia bahagia melihat wajah kasihan lelaki yang sedangĀ  menemaninya itu.


__ADS_2