Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
seratus dua puluh sembilan


__ADS_3

Benedict yang menghabiskan masa remajanya di Indonesia, sudah terbiasa dengan makanan pinggir jalan yang disukai istrinya.


Lelaki itu pernah merasakan tinggal di kontrakan tiga petak sewaktu remaja, awalnya ia tidak terima, bahkan menangis menyalahkan ibunya, yang lebih memilih meninggalkan semua kemewahan sejak Daddy-nya meninggal dua tahun sebelumnya.


Kehidupan tuan muda yang biasa dilayani, berubah drastis, hingga semua harus dilakukan sendiri, bahkan awalnya ia sempat dirawat di rumah sakit karena pencernaannya terganggu, akibat perbedaan makanan yang dikonsumsi.


Dan berkat Rama tetangga sekaligus teman pertamanya, ia bisa menjalani hidup layaknya orang biasa.


Dari Rama juga, Benedict mulai menyesuaikan diri dengan makanan rakyat jelata,


Bahkan Rama juga yang mengajarinya cara makan menggunakan tangan,


Mengajarinya bahasa gaul anak perkampungan ibu kota,


Perlahan tapi pasti, Benedict bisa menerima keadaannya,


Saat itu Anna sangat berterima kasih pada Rama dan keluarganya, yang mau menjaga putranya saat dirinya sibuk mencari nafkah, sebenarnya uang warisan dari mendiang suaminya, lebih dari cukup untuk biaya hidup hingga Benedict lulus kuliah, namun Anna bekerja juga untuk mengalihkan kesedihannya karena ditinggal mati oleh suaminya.


Anna sengaja menyewa kontrakan di pemukiman padat untuk mengajarkan putranya rasa bersyukur juga lebih peka terhadap orang yang tidak beruntung.


Terbukti anaknya tumbuh lebih merakyat dan tidak membeda-bedakan kasta,


Benedict juga berhasil memajukan perusahaan kakeknya berkat ketegasan dan kerja kerasnya tanpa menindas bawahannya.


Karena sudah biasa hidup sederhana jika kembali ke negara asal ibunya, maka lelaki itu sudah tidak lagi kaget dengan gaya hidup sederhana istrinya.


Ayudia lebih memilih makan bakso atau mie ayam di bandingkan makan steak atau makan di restauran mewah.


Seperti sekarang pasangan suami istri itu baru saja memasuki warung mie Ayam langganan Ayudia sejak SMA.


Warung yang selalu ramai oleh pengunjung yang hendak sarapan, terkadang hingga mengantri.


Ayudia memesan mie ayam komplit untuk dirinya juga suaminya yang terlebih dahulu duduk mencari bangku panjang yang telah kosong.


Keduanya duduk berhadapan,


"Oh ya, aku mau tanya, semalam kamu kemana? Aku tau kamu bohong, orang aku cari ke ruang kerja, kamu nggak ada kok,"Tanya Ayudia penuh selidik.


"Bun, maaf aku cuman berusaha meyakinkan diri aku, supaya aku nggak berprasangka buruk sama kamu,"jawabnya sambil menunduk tak berani menatap mata istrinya.


Ayudia mengernyit bingung, "maksudnya apa sih?"tanyanya penasaran.


Benedict memberikan tatapan penuh penyesalan kepada istrinya, ia merasa bersalah kepada istrinya, "semalam aku ke rumah sakit, aku memeriksa soal vasektomi yang pernah aku lakukan, dan terbukti saluran yang sudah dipotong menyambung secara alami, dokter juga belum tau apa penyebabnya, yang jelas dari dua ribu orang yang vasektomi hanya satu yang gagal, dan itu aku,"


Benedict menggenggam kedua tangan istrinya dan menciumnya, "maaf ya Bun, aku meragukan kamu,"


Obrolan mereka terhenti ketika pesanan mereka datang.


Ayudia langsung meracik mie ayam yang ada dihadapannya,


"Sayang, sambalnya jangan kebanyakan, ingat kamu lagi hamil,"seru Benedict mengingatkan,


"Iya, ini dikurangi kok, biasanya lima sendok ini cuman tiga sendok,"gerutu wanita hamil itu.


"Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa,"


"Iya mas, makasih udah perhatian,"


Keduanya mulai menikmati pesanannya, Ayudia makan dengan lahap bahkan menambah.


Hal itu membuat Benedict menggelengkan kepalanya, "apa begini setiap istrinya hamil?"ucapnya dalam hati.


Usai makan mie ayam, Ayudia meminta dibelikan rujak buah tak jauh dari sana.

__ADS_1


Saat asik makan rujak, ada yang memanggilnya,


"Nda...nda.."


Ayudia yang merasa mengenali suara balita itu menghentikan makannya dan menoleh mencari asal suara.


Wanita hamil itu tersenyum dan melambaikan tangannya, ia memberikan piring rujak kepada suaminya, dan menghampiri balita yang sedang digandeng oleh ayahnya di tukang bubur ayam.


"Ayudia kecil apa kabar?"ucapnya sambil berjongkok mengelus rambut balita yang di kuncir dua.


Lelaki yang sedang memegang piring rujak melotot kaget, juga lelaki yang sedang menggandeng tangan balita itu.


"Ay, apa itu kamu?"tanya Pradikta pada wanita hamil yang menggunakan pasmina berwarna nude.


Ayudia mendongak, "hai Dikta? Apa kabar? Lagi beli bubur buat siapa?"tanyanya.


"Ini mama lagi nggak enak badan jadi minta sarapan bubur, kamu ngapain disini? Dan kenapa kamu bisa kenal sama anak aku?"ucap lelaki itu.


"Tante Arini sakit, perasaan kemarin masih sehat-sehat aja deh, memang sakit apa?"tanya wanita itu polos.


Pradikta mengernyit, "kok kamu ngomong gitu, memangnya kemarin mama ketemu kamu?"tanyanya menyelidik.


Ayudia tersenyum canggung, "kemarin Tante Arini sama anak kamu main ke rumah aku,"jawabnya jujur.


Benedict menghampiri Ayudia dan merangkulnya, "hai Dikta, apa kabar? Anak Lo nih? Wah selamat ya! Akhirnya bisa move on,"ucapnya dengan nada mengejek.


Pradikta menyunggingkan senyuman miris, "gue baik banget, apa lagi setelah ketemu bini Lo,"jawabnya ketus.


Melihat keadaan yang tidak memungkinkan, Ayudia berusaha menengahinya.


"Dikta, aku mau nengok Tante Arini ya!"ucap wanita hamil itu meminta ijin, Pradikta mengangguk.


Ayudia membelikan parcel buah untuk tante Arini, setelahnya mengajak Pradikta dan Ayudia kecil menumpang mobil milik suaminya.


Tidak ada obrolan diantara kedua lelaki didepan, sedangkan di jok belakang, wanita berbeda generasi itu bernyanyi juga berbicara, akrab sekali.


Hingga mobil berhenti tepat di pinggir pagar rumah keluarga Pradikta.


Di taman kecil depan rumah ada Irwan dan Arini yang sedang berjemur, keduanya terkejut dengan kedatangan putranya dengan cinta pertama juga suaminya.


Ayudia menyalami Tante Arini,


"Kata Dikta Tante sakit ya! Apa Tante kecapekan karena ajarin Ayu buat kue?"tanyanya khawatir.


"Sama sekali nggak kok, Tante malah seneng bisa ajarin kamu, masuk yuk, duduk di dalam, ajak suami kamu sekalian,"ucapnya sambil mempersilahkan tamunya masuk.


Arini duduk di sofa ruang tamu bersama kedua tamunya, sedangkan Pradikta dan Irwan masuk ke dalam rumah.


"Ayu, jadi Dikta sudah tau kalau tante sering ketemu sama kamu?"tanya Arini.


Ayudia mengangguk, "kayak kaget gitu Tan, tapi nggak tau deh marah apa nggak,"jawabnya, wanita hamil itu yang sedang duduk memangku Ayudia kecil.


"Kalau sama kamu sih nggak mungkin bisa marah, kalau sama Tante nggak tau deh," ujar Arini khawatir.


"Terus Tante kemarin masih sehat-sehat aja, Tante sakit, gara-gara kepikiran kalau suami Ayu marah ya!"


"Iya kayaknya, Tante nggak enak, kalau sampai kalian bertengkar,"


"Nggak Tante, tenang aja, tuh kita akur-akur aja kan, tadi kita abis antar anak-anak ke sekolah,"


"Tante lega dengarnya,"ucapnya lega, "maaf ya nak Ben, tenang aja, selama ini saya bertemu sama Ayu, tanpa sepengetahuan Dikta kok, bahkan baru hari ini Ayu bertemu dengan putra saya,"


"Iya Tante, istri saya sudah menjelaskan, dan saya percaya istri saya tidak mungkin mengkhianati saya," ucap Benedict yakin.

__ADS_1


"Syukur lah kalau begitu, Tante senang dengarnya,"ucap wanita tua itu lega.


Obrolan mereka terhenti ketika Irwan membawakan teh dan cookies cokelat kesukaan Ayudia, tak lupa suami dari Arini mempersilahkan tamunya untuk menikmati kudapan.


Pradikta datang dan menyuruh mamanya untuk sarapan, agar bisa segera minum obat, sementara dia duduk mengantikan Arini.


"Kamu udah sering ketemu mama aku?"tanya Pradikta menyelidik.


"Iya, sudah hampir lima bulan,"jawab Ayudia tak enak.


"Bahkan anak aku terlihat akrab banget sama kamu,"sindir Pradikta.


"Ya begitulah, oh ya aku sebenarnya pengin marahi kamu, bisa-bisanya kamu melakukan itu, demi memberi cucu sama Tante Arini, apa kamu nggak mikir kedepannya buat masa depan anak kamu?"ucap Ayudia kesal.


"Aku nggak ada pilihan Ay, kan kamu yang paling tau keadaan aku,"ujar Pradikta tak mau kalah.


"Ya kamu berobat Pradikta, kamu konsultasi, terapi atau apapun itu,"


"Buat apa sih?"


"Ya biar kamu bisa jalin hubungan sama wanita lain,"


"Ay, mamaku cuman minta cucu, ya udah aku bawain cucu dengan benih aku sendiri, cukupkan,"


"Kenapa kamu nggak ngerti juga sih?"


"Aku ngerti banget maksud kamu, seperti yang pernah aku bilang dulu, aku nggak mau menyakiti pasangan aku, jika aku tak bisa memberikan hati aku padanya,"


Ayudia berusaha mengontrol nafasnya, rasanya ia kesal dengan lelaki itu, Bahkan ia memegang erat tangan suaminya seolah meminta dikuatkan menghadapi anak dari Arini.


"Dikta, saran aku, kamu coba terapi, aku bisa bantu kamu, cari tau psikolog yang bisa bantu kamu, seenggaknya kamu harus sembuh dulu sebelum membuka lembaran baru,"


"Buat apa sih Ay?"


"Dengar aku Pradikta, nggak selamanya kedua orang tua dan anak kamu akan selalu ada di samping kamu, apalagi anak kamu cewek yang jika dewasa nanti bakal dibawa suaminya, lalu kamu melewati masa senja kamu sendiri, apa itu yang kamu mau?"


"Aku bahkan sudah dua puluh tahun sendiri, aku bisa melaluinya, kamu lihat aku sekarang kan?"


Ayudia menghela nafas, "Dikta, dua puluh tahun ke belakang kamu masih muda, bagaimana dua puluh tahun kemudian? Anak kamu nggak mungkin ngurus kamu terus,"


"Aku bisa habiskan masa tuaku di panti jompo,"ucapnya santai.


Ayudia terdiam, memikirkan cara untuk menasehati lelaki keras kepala itu, "kamu pernah dengar bahwa manusia harus menikah untuk menyempurnakan agamanya? Harusnya kamu tau itukan?"


Ayudia menghela nafas, "Dikta dengan memiliki pasangan ibadah kamu makin sempurna, kamu bisa bersama pasangan halal kamu menuju janah Nya, kamu juga bisa memberikan sosok ibu yang akan mengajari anak kamu mengenal dunia selama kamu sibuk mencari nafkah,"


"Ayolah Dikta, kamu ingin disisa umur aku, aku merasa bersalah sama keluarga kamu, kamu tega sama aku, setiap hari aku merasa bersalah sama Tante Arini, gara-gara aku putra semata wayangnya nggak mau berhubungan dengan wanita manapun, kamu tega?"


Pradikta menggelengkan kepalanya, "aku nggak mungkin tega menyakiti kamu,"


"Tau ga sih Dikta, aku sedih banget kamu begini, kan dulu kita udah saling janji, suatu saat kalau kita ketemu, masing-masing dari kita udah bahagia dengan pasangan masing-masing, kalau kamu masih jalan di tempat, secara nggak langsung kamu udah menyakiti aku tau nggak?" ayudia menangis dan Benedict mencoba menenangkannya.


"Maaf ay, aku sama sekali nggak mau menyakiti kamu, kamu tau dari dulu aku selalu sayang dan cinta sama kamu, aku nggak mungkin menyakiti kamu,"ujar lelaki itu duduk di atas karpet tepat di depan wanita hamil yang sedang ditenangkan suaminya.


"Kalau kamu sayang sama aku, setidaknya kamu berobat, jangan pasrah gitu aja, terus abis itu kamu bisa ta'aruf, kamu laki-laki baik, pasti akan dapat perempuan yang baik,"ujarnya sesenggukan.


Pradikta terdiam menunduk, memikirkan ucapan dari perempuan yang ia cintai.


Ayudia kecil menghampiri ayahnya, seolah mengerti perasaan ayahnya, dengan tangan gemuknya balita berkuncir dua itu memegang pipi lelaki dewasa itu, dan memanggilnya ayahnya lirih.


Perempuan hamil itu bangkit berdiri, ia menghapus air matanya, "aku harap Jika kita bertemu lagi, kamu bisa memperkenalkan istri kamu, kalau tidak, jangan harap aku mau jawab sapaan dari kamu, bahkan aku nggak mau kenal kamu lagi,"


Ayudia masuk ke dalam untuk berpamitan dengan Arini juga Irwan yang sedang menyantap sarapan.

__ADS_1


Setelahnya wanita hamil itu menggandeng tangan suaminya, untuk mengajaknya pulang.


__ADS_2