
Karena tak ada masalah apapun setelah melahirkan dengan Ayudia dan kedua bayi kembarnya, dua hari kemudian mereka sudah diijinkan pulang oleh dokter.
Sahabat Benedict menyiapkan kejutan untuk menyambut kedatangan Ayudia dan kedua bayinya. Tak lupa hadiah untuk bayi kembar itu.
Ayudia yang baru saja membuka pintu rumah kaget mendapati kejutan untuk dirinya, ruang tamu dihias dengan balon-balon berwarna biru dan merah muda.
Selain ke empat sahabat Benedict, ada Natasha, Sinta juga ibu Rama dan Rani adik Rama.
Tawa bahagia menyelimuti rumah besar itu, Ayudia bahagia dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Saat sedang menikmati hidangan yang dibawa oleh ibu Rama, ada tamu lagi yang datang, itu Samsul, bude Marini, bibi Atun beserta keluarganya.
Semakin bertambah kebahagiaan Ayudia hari itu, ia yang sudah sangat lama tidak bertemu dengan saudara-saudaranya, melepas rindu dengan mereka.
Sore hari, satu persatu meninggalkan rumah besar itu, kecuali Anna, perempuan paruh baya itu memutuskan untukĀ menetap di kediaman putra dan menantunya.
Flash back on
Saat sedang persiapan pulang, Anna tiba-tiba berbicara pada putranya, "Ben, ibu mau tinggal bareng menantu dan cucu ibu,"ucapnya.
Benedict yang sedang menggendong salah satu bayinya, mengernyit heran, "kenapa tiba-tiba Bu? Apa ada masalah?" Tanyanya.
Anna menghela nafas, "apa kamu keberatan? Kalau kamu keberatan, ibu bisa bawa menantu dan cucu ibu ke rumah rahasia ibu kok,"Ancamnya.
"Jadi ibu mengancam Ben gitu?"
"Ya kalau kamu nggak izinin ibu tinggal di rumah kamu, terpaksa ibu bakal bawa lari menantu dan cucu ibu,"ucap Anna santai.
"Ya nggak bisa gitu Bu, kan ibu tau sendiri, Ben susah payah biar Ayu bisa ada disisi Ben, terus sekarang dengan mudahnya ibu bawa mereka? Nggak bisa Bu, Ben nggak akan biarin hal itu,"
"Makanya kamu izinin ibu tinggal di rumah kamu,"
"Terus gimana sama suami ibu? Apa beliau sudah mengijinkan? Ben nggak mau berurusan sama mereka,"
"Udah kok,"jawab Anna gugup, "yang jelas, kamu kan anak ibu satu-satunya dan cucu ibu juga cuma dari kamu kan? Jadi ibu nggak mau kehilangan momen berharga tentang tumbuh kembang cucu-cucu ibu,"
__ADS_1
"Gimana Ay?"tanya Benedict pada istrinya.
"Kok nanya Ayu sih, jelas kalau Ayu jelas seneng banget ada ibu,"
Anna menghampiri menantunya dan memeluknya serta mengucapkan terimakasih.
Flash back off
Ayudia baru tau, pintu berwarna putih yang berseberangan dengan ranjang di kamarnya adalah pintu penghubung dengan kamar kedua bayinya.
Awalnya dirinya protes, kenapa kamarnya terpisah dari kamar bayinya, namun setelah mendengar alasan suaminya dan mertuanya akhirnya ia menerimanya.
"Kamu tenang aja nduk, nanti yang jagain anak-anak kamu, ibu aja, terus ibu juga tidur disini kan, jadi kamu cukup rajin pompa Asi kamu aja,"ujar Anna saat Ayudia sedang menyusui salah satu bayinya.
"Apa nggak merepotkan ibu?"tanya Ayudia.
"Nggak sama sekali, ibu yang minta kan, ibu pengen kayak nenek yang sibuk urus cucu-cucunya,"jawabnya.
"Ya udah, tapi ibu jangan kecapean ya!"ucap Ayudia perhatian dan Anna mengangguk.
"Jadi Ay, masalah nama bagaimana? Aku nungguin kamu ajak aku ngomong, tapi dari kemarin kamu nggak menyinggung sedikitpun,"ungkap Ayah baru itu.
"Apa kamu udah siapkan nama sendiri mas?"tanya Ayudia.
"Utarakan pendapat kamu dulu,"jawabnya.
"Kok gitu, kamu kan Ayahnya mereka,"
"Ay, aku nggak mau egois lagi, aku nggak mau kamu marah dan pergi dari aku lagi,"
Ayudia menaikan sebelah alisnya, "emang siapa bilang aku bakal pergi dari kamu?"tanyanya.
"Nando dan ibu cerita soal rencana kamu buat ajukan gugatan cerai pasca melahirkan, tolong jangan lakukan itu Ay, kalau kamu lakuin itu, aku beneran akan hancur Ay," ungkap Benedict dengan wajah muram.
"Kita belum sampai dua tahun kenal loh, misalnya aku pergi dari kamu, kayaknya nggak ada efeknya deh, kamu kan ganteng, kaya, pinter juga, baik lagi, pasti bakal dapat perempuan yang lebih baik dari aku,"
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan perasaan aku? Nggak semudah itu buat aku jatuh cinta sama perempuan lain, lagian apa alasannya kamu pergi dari aku?"
"Apa karena alasan kamu belum mencintai aku?"lanjut Benedict bertanya.
"Belum lama aku ngomong deh, disaat aku udah mulai belajar mencintai kamu, eh kamu malah khianati aku, terus emang kalau aku sama kamu terus, suatu saat kamu mengkhianati aku lagi gimana dong? Apa kamu bisa menjamin itu?"
"Kan kamu tau alasannya Ay, kenapa aku melakukan itu, lagian aku ngelakuin nggak pakai cinta kok, cinta aku cuman buat kamu Ay, kalau nggak percaya kamu bisa tanya assisten aku di sana,"
"Dia bakal tutupi perbuatan bosnya lah,"
Benedict yang awalnya duduk bersandar di head board, mendadak bangun dan berkacak pinggang, "Ay, aku tau kamu pengin banget ninggalin aku buat kembali sama Cinta pertama kamu kan? Makanya kamu selalu mengungkit kesalahan aku kan? Tapi nggak akan aku biarkan hal itu terjadi sampai kapanpun,"ungkapnya dengan nafas memburu.
Ayudia yang melihat kemarahan suaminya, rasanya ingin menambahkan lagi amarah laki-laki yang baru saja menjadi ayah itu, "iya, aku mau balik sama dia, bahkan setelah bertahun-tahun Dikta masih nunggu aku, dia berjuang dengan keras supaya bisa bahagiain aku, bahkan dia masih nunggu aku walau tau aku udah jadi istri orang, kamu tau kan dia mau Nerima anak-anak aku,"ucapnya tak kalah menggebu-gebu.
"Mereka anak-anak aku juga Ay, itu benih aku, bahkan mereka lebih mirip Daddy aku, nggak akan aku biarkan siapapun mengakui mereka sebagai anak selain aku,"ucap Benedict berteriak.
Ayudia tersenyum miris, andai boleh ia ingin agar anak-anaknya mirip dengannya sayangnya gen Bule lebih mendominasi, "mas, anak masih dibawah umur, wajib dalam pengasuhan ibu kandungnya kalau kamu lupa,"ucapnya santai.
"Nggak bisa Ay, kalau perlu aku akan beli hukum itu, gimana caranya, mereka anak-anak kandung aku, dan kamu adalah istri aku satu-satunya sampai kapanpun, aku nggak akan biarkan keluarga aku hancur,"
Wanita yang baru melahirkan beberapa hari yang lalu bangkit dari ranjang, ia berdiri berseberangan dengan suaminya, hanya terhalang ranjang king size mereka, "kalau kamu nggak mau aku pergi, setidaknya kasih aku jaminan, kamu nggak bakal berpaling dari aku di masa depan,"
Benedict menatap dalam istrinya, "apa yang kamu minta Ay? Apapun itu Ay, aku kasih, asal kamu jangan pergi dari aku,"
"Itu yang harus kamu pikirkan sendiri, udah ah, aku capek, malas berdebat sama kamu,"ujar Ayudia, kembali membaringkan tubuhnya membelakangi suaminya.
Benedict seperti ditantang oleh wanita yang dicintainya, berpikir keras, lelaki itu berjalan mondar-mandir, sampai ia terhenti setelah mendapatkan ide, "Ay, aku akan kasih semua harta aku buat kamu dan anak-anak, semuanya tak terkecuali, dan jika suatu saat aku berkhianat, aku akan jatuh miskin, bagaimana? Apa itu cukup buat kamu nggak pergi dari aku?"
Ayudia tersenyum samar, namun ia ingin tarik ulur sedikit lagi dengan suaminya, wanita itu bangkit dan duduk sambil menatap lelaki itu, "kamu tau kan aku bukan cewek matre,"
Benedict yang sudah pusing memikirkan hal itu, langsung menghampiri istrinya, "Ay, lalu apa yang harus aku lakukan, supaya kamu yakin sama aku?" Mohonnya sambil mencium tangan wanita itu.
"Terserah kamu mas, yang aku butuhkan jaminan kalau kamu nggak akan mengkhianati aku,"
"Baiklah Ay, apapun itu kan,"
__ADS_1
Benedict mengambil ponselnya dan menelpon asistennya, lelaki itu memerintahkan supaya assisten yang bernama Troy, untuk segera menyusulnya dan membawa seluruh dokumen kepemilikan hartanya, tak lupa ia juga meminta pengacara kepercayaannya.