Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
lima puluh tujuh


__ADS_3

Seminggu kemudian, Nando datang bersama Natasha, lelaki itu ingin mengetahui perkembangan bayi dari sahabatnya itu.


Ayudia terkejut dengan kedatangan dokter kandungannya dulu, ia sempat protes dengan Nando, namun lelaki itu beralasan semua itu demi kebaikan bayi-bayinya.


Natasha yang sudah diberitahu oleh Nando, membawa beberapa peralatan yang biasa ia gunakan untuk memeriksa kandungan.


"Udah pernah USG belum yu?"tanya Natasha sambil menempelkan alat pendeteksi jantung bayi.


Ayudia menggeleng, dan dokter kandungan itu hanya menghela nafas,


"Ayu, Lo hamil bayi kembar, seenggaknya harus USG sebulan sekali, apalagi kehamilan kembar kebanyakan lahir tidak sampai sembilan bulan,"jelas Natasha.


"Jadi gimana Sha?"tanya Nando.


"Kayanya bawa aja deh Do,"jawab dokter itu.


"Maksud Lo apa sha?"tanya Ayudia bingung.


"Ayu, kita ke Jakarta aja ya! Gue khawatir, seenggaknya USG dulu,"jawab Natasha.


"Ayu cari rumah sakit disini aja dokter, disini banyak juga rumah sakit yang ada USG nya,"kilahnya.


Nando menggelengkan kepalanya, "jangan egois Ayu, Lo nggak mikirin anak-anak Lo?"ucapnya ketus.


"Tapi A, Ayu nggak mau ketemu dia,"katanya beralasan.


Nando dan Natasha saling pandang, "Do, Lo keluar dulu sana, gue mau ngomong sama Ayu berdua,"ucap Natasha dan dituruti oleh lelaki itu.


Natasha menggenggam tangan pasiennya, "Ayu, ikut gue ke Jakarta ya! Gue bakal rahasiakan ini dari Ben, ini demi kebaikan bayi-bayi lo,"


"Ada bang Oscar, nanti dia pasti kasih tau mas Ben,"


"Nggak Ayu, gue yang akan sembunyikan lo, tolong ikut gue ke Jakarta ya!"bujuk Natasha.


Ayudia diam, wanita hamil itu berfikir, sampai pintu kamar di ketuk, ada Ibu mertuanya datang.


"Ibu yang akan jagain kamu nduk, kamu percaya kan sama ibu?"bujuk Anna, sebenarnya beberapa hari lalu, Nando menghubunginya, lelaki itu membicarakan soal Ayudia, tentunya tanpa sepengetahuan Benedict.


Melihat wajah memohon ibu mertuanya, akhirnya Ayudia mengangguk.


Anna membereskan barang-barang menantunya dibantu oleh Natasha, tak lama kemudian teh Euis dan Mirna datang, mereka turut membantu.


Menjelang sore Ayudia bersama Nando juga Natasha berangkat menuju ibu kota, sebelumnya ia berpamitan kepada para tetangganya, banyak doa yang mengiringi kepergian wanita hamil itu.

__ADS_1


Tak lupa Ayudia memberikan uang jajan pada Mirna dan uang terima kasih pada Mang Kos,


Ibu mertuanya mengikuti mobil milik Nando dari belakang.


Mereka sampai di ibukota ketika langit sudah gelap, Ayudia mampir ke rumah milik Natasha, gadis itu tinggal sendiri, Mereka berempat beristirahat sejenak di rumah dokter itu


Rencananya nanti malam, Ayudia baru akan dibawa ke rumah sakit.


Waktu menunjukan pukul sebelas malam, ketika mereka sampai di rumah sakit, dengan mengenakan masker, Ayudia memasuki poli kandungan yang sudah sepi.


Natasha dengan cekatan memeriksa wanita hamil itu dengan USG 4D, terlihat jelas bayi kembar itu,


"Bayi-bayinya sehat Ayu, lihat tuh, mereka aktif ya, ketubannya cukup, udah Terbentuk sempurna ya," jelas Natasha, ia menggeser lagi alat yang sudah diolesi gel, "langsung dapet lengkap Yu, cowok cewek nih,"lanjutnya.


Ayudia mengucap syukur, begitu juga mertuanya dan Nando,


"Tapi berat badannya yang cewek masih kurang nih, jadi harus digedein lagi ya!


"Kalau lahiran normal bisa nggak dokter?"tanya Ayudia.


"Dilihat lagi Minggu depan ya!"


Selesai dengan USG, tak lupa Natasha menyetak foto USG itu, "resepnya besok Lo tebus ya Do, di apotik luar tentunya,"ucapnya.


Nando mengangguk.


Sementara ini, Ayudia tinggal bersama Natasha, Anna dan Nando setiap hari datang ke sana.


Anna datang siang sampai sore, sedangkan Nando datang pagi-pagi sekali, mengajak Ayudia untuk berjalan-jalan disekitar taman komplek rumah Natasha.


Ayudia melakukan pemeriksaan USG setiap minggunya, saat tanggal merah atau menjelang malam dengan diantar mertuanya dan Nando.


Nando meminta ijin pada Benedict, untuk cuti selama dua bulan, ia beralasan sedang melakukan Pendekatan pada Natasha.


Katanya ia ingin move on dari pacarnya yang terpaksa ia putuskan karena berbeda keyakinan.


Sebagai sahabat yang baik, Benedict mendukung penuh perjuangan Nando untuk move on.


Sebulan sudah Ayudia tinggal di rumah milik dokter kandungannya.


Kandungannya sudah memasuki usia tiga puluh empat Minggu, pergerakannya terbatas, untuk beribadah saja ia tidak bisa untuk ruku dengan sempurna.


Natasha menawarkannya untuk melakukan operasi, mengingat berat badan kedua bayinya sudah cukup untuk dilahirkan, namun Ayudia tetap kekeh meminta untuk melahirkan dengan cara alami.

__ADS_1


Siang itu Ayudia diantar oleh Anna dan Nando berbelanja kebutuhan bayi di salah satu pusat perbelanjaan terkemuka di ibu kota.


Ayudia mengenakan masker dan topi untuk menyamarkan penampilannya.


Karena perutnya yang semakin membuncit, ia menggunakan kursi roda yang didorong oleh Nando.


Saat mereka sedang memilih baju untuk Bayi, ada yang memanggil Anna.


"Ibu ngapain disini?"tanya lelaki yang tak lain adalah Benedict.


Lelaki itu bersama Rama dan Alex sedang ada janji makan dengan kolega bisnisnya di salah satu restoran.


Anna terkejut melihat putranya berjalan ke arahnya, wanita paruh baya itu terlihat gugup, "ibu lagi iseng aja,"jawabnya.


Benedict menaikan sebelah alisnya, "iseng? Ibu Anna yang lagi iseng? Ibu aneh tau nggak? Apa ada sesuatu yang ibu sembunyikan dari Ben?"tanyanya menyelidik.


Anna terdiam, dalam hati ia berdoa agar menantunya dan Nando tidak menghampirinya, namun sepertinya doanya tak terkabul karena suara menantunya yang memanggilnya.


"Ibu, sini deh, tolong bantu pilih,"teriak wanita hamil dari balik rak dimana sekarang Anna berdiri berhadapan dengan puteranya.


Mendengar suara yang sangat dikenalnya, Benedict menatap tajam ibu kandungnya.


Anna yang ditatap tajam puteranya, menatap balik puteranya dengan tatapan permohonan maaf.


"Ibu, sini liat,"teriak Ayudia lagi,


"A, dorong Ayu ke ibu,"perintahnya pada Nando.


Ayudia duduk di kursi roda yang  didorong oleh Nando, keduanya  menghampiri Anna, namun dorongan itu terhenti saat melihat lelaki yang sedang berhadapan dengan wanita tua itu.


Benedict tersenyum sinis melihat wanita yang setengah mati di carinya, malah bersama salah satu sahabat kepercayaannya dan juga ibu kandungnya.


Alex dan Rama mematung melihat Ayudia bersama Nando.


Hening, semuanya terdiam, seolah ditempat itu hanya mereka saja, padahal suasana mall itu tengah ramai.


Tidak ada yang berani membuka mulutnya, lebih tepatnya menunggu reaksi dari Benedict, namun tak ada yang dilakukan lelaki itu, ia hanya menatap istrinya dengan tatapan sulit diartikan.


Sampai Anna angkat bicara, "maaf Ben, ibu bisa jelaskan, tapi jangan disini, ada banyak orang yang melihat,"bujuknya, ia tau betul tabiat putra kandungnya.


Anna meminta maaf pada pemilik toko karena ia tidak jadi berbelanja ditempat itu.


Ia menggandeng lengan puteranya, agar mengikutinya, begitu juga dengan yang lainnya.

__ADS_1


Anna mengemudikan mobil dengan Benedict dan Alex bersamanya.


Sementara Rama mengemudikan mobil bersama Ayudia dan Nando.


__ADS_2