Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
empat puluh lima


__ADS_3

Keesokan harinya, Anna menghubungi Ayudia, perempuan paruh baya itu mengajak menantunya untuk bertemu.


Benedict sejam yang lalu pergi, ia mengatakan akan bertemu dengan Alex dan Rama di cafe, entah ada urusan apa, Ayudia tak mau tau.


Anna mengajaknya bertemu di cafe yang terletak tak jauh dari rumah yang ditempati Ayudia.


Setelah mencium tangan Anna, mereka duduk berhadapan, tak lupa memesan minuman dan kue yang disediakan di cafe itu.


"Selamat ya nduk, kata Ben, anak kalian kembar ya?"


"Iya Bu, Alhamdulillah,"


Anna menghela nafas, "ibu dengar, Lusi kemarin mendatangi Ben, dan Arnold memergoki mereka, apa kamu tau?"


"Ayu tau Bu,"dan wanita hamil itu menceritakan semua yang terjadi kemarin tanpa ada yang terlewat.


Mendengar hal itu, Anna menarik nafas dan menghembuskan nafasnya kasar,  "ibu tidak menyangka, Lusi masih belum berubah," ada jeda sejenak, "lalu apa yang akan kalian lakukan?"Tanyanya.


"Ayu menyerahkan seluruhnya sama mas Ben, karena bagaimanapun itu menyangkut masa lalu mas Ben dan Ayu tidak tau apapun, Ayu hanya mendengar sebagian kisah mereka bertiga,"


"Tapi sekarang kamu istri Ben, kamu berhak untuk ikut andil dalam urusan suami kamu,"


Ayudia menggenggam tangan mertuanya, "Bu, Ayu percaya sama mas Ben,"


"Tadi pagi, ada polisi datang ke rumah, mereka membawa Arnold untuk dimintai keterangan soal kejadian kemarin, apa kamu juga tau soal itu,"


"Bu, semua itu aku serahin ke mas Ben, ibu nggak coba tanya sama mas Ben langsung?"


"Nduk, kejadian serupa pernah terjadi di masa lalu, hanya saja dulu tidak sampai melibatkan polisi walau dulu, Arnold sampai koma, karena ibu yang memohon ke papanya Arnold supaya hal itu tidak dibawa ke pihak berwajib, dan satu kesalahan ibu yang membuat Ben membenci ibu adalah saat ibu memohon pada Ben agar dia meninggalkan negara ini, karena walau Lusi sudah jelas-jelas mengandung anak dari Arnold, perempuan itu masih mengejar-ngejar Ben, bahkan dulu sempat Lusi mengaku pada ibu, bahwa anak yang dikandungnya adalah anak dari Ben,"


"Tunggu Bu, sepertinya berbeda dengan cerita yang Ayu dengar, bukankah Mbak Lusi meninggalkan mas Ben karena mas Ben tinggal di kontrakan, maka dari itu mbak Lusi lebih memilih suaminya yang sekarang karena lebih kaya dari mas Ben?"


"Tidak sepenuhnya benar, Lusi memang perempuan Matre, dia benar-benar menyukai Ben, maka dari itu ia tak peduli tentang kekayaan Ben, bahkan dia juga yang mengejar-ngejar Ben, sementara Ben yang tau kalau Arnold sangat menyukai Lusi, memanfaatkan Lusi untuk membalas Arnold, karena Ben masih tidak terima ibu menikah dengan papanya Arnold,"

__ADS_1


"Ibu tau, Lusi memanfaatkan uang Arnold untuk memenuhi gaya hidupnya, namun ia juga menyukai Ben, Ben yang memang tidak benar-benar menyukai Lusi, tidak mempedulikannya, ia lebih sering berkumpul dengan sahabatnya, namun Lusi tetap menyukainya, makanya ibu tak heran jika sampai sekarang, jika mendengar kabar soal Ben, Lusi langsung antusias, sampai sekarang dia menyukai Ben, walau sudah ada Cleo diantara dia dan Arnold,"


"Segitu sukanya ya Bu, mbak Lusi sama mas Ben,"


"Yang namanya cinta, ibu nggak bisa berkomentar banyak, tapi bisa ibu minta tolong ke kamu, tolong bujuk Ben, supaya mencabut tuntutan untuk Arnold, kasihan Cleo,"


"Ayu coba ya Bu, tapi Ayu nggak bisa janji,"


Setelah bertemu dengan mertua nya, Ayu memilih berjalan kaki menuju tempat tinggalnya, ia ingin mencari angin sejenak, ia butuh menenangkan diri.


Saat sedang berjalan, "Ayudia bukan ya?"tanya lelaki yang baru saja turun dari motor.


Ayudia mengernyit bingung, "sorry, aku lepas helm dulu,"ucap lelaki itu sambil melepas helmnya.


Lelaki itu tersenyum, memperlihatkan lesung pipi yang menghiasi kedua pipinya, manis sekali bahkan membuat Ayudia terpesona untuk sesaat.


"Hai Ay, apa kabar?"sapanya sambil menjulurkan tangannya mengajak bersalaman.


"Pradikta?"tanya Ayudia tak yakin.


Dengan mata berkaca-kaca, Ayudia membalas jabatan tangan lelaki itu, "kamu apa kabar?"


"Aku baik Ay, lebih baik lagi setelah ketemu kamu,"


Ada jeda sejenak, karena ada rasa canggung diantara keduanya, mungkin karena lama tidak bertemu, "eh, gimana kalau kita ngobrol sambil makan, kamu udah makan siang belum?"tanya Pradikta.


"Aku udah makan, tapi kalau kamu mau ajak aku makan, Ayuk aja," jawab Ayudia tersenyum.


Pradikta mengelus kepala Ayudia, seperti kebiasannya dulu, "gimana kalau kita makan bakso langganan kita dulu?"usul lelaki itu.


"Oke, tapi kamu yang bayar," ujar Ayudia.


"Iya Ay, kan aku yang ajak kamu, yuk naik,"ucap Pradikta sambil menaiki motornya, "kamu aja yang pakai helm dan Jaket,"lelaki itu bahkan memakaikan helm,

__ADS_1


Sedari dulu, Pradikta selalu melakukan hal itu, ia selalu mengutamakan keselamatan Ayudia.


Keduanya menaiki motor menuju tempat kenangan keduanya, sepanjang perjalanan mereka mengobrol tentang hal remeh temeh tentang masa lalu keduanya.


"Untung kita masih kebagian Baksonya ya Ay, kangen banget aku sama tempat ini,"ucap Pradikta, ketika dirinya dan Ayudia duduk di kios bakso langganan mereka saat masih berseragam putih abu-abu.


"Iya aku juga kangen makan disini, udah lama juga aku ngga makan disini,"ujar Ayudia.


"Bukannya kamu lebih gampang kalau makan disini ya, kan nggak jauh dari rumah kamu,"


"Aku kan sibuk kerja Dikta, nggak sempat buat makan disini, ngomong-ngomong kamu katanya udah kerja di Kalimantan ya?"


"Iya, ini aku pulang karena sepupu aku mau nikah, dan kebetulan aku juga lagi ada urusan kerjaan disini, baru besok setelah urusan aku selesai disini, aku mau datang ke rumah kamu,"


"Oh ya, aku turut berdukacita, aku dengar bapak kamu meninggal, maaf saat itu, aku nggak ada disamping kamu,"


"Nggak apa-apa, udah berlalu kok,"


Obrolan mereka terhenti sejenak, karena pakde menyajikan bakso pesanan keduanya.


"Pasti berat banget buat kamu ya!"


"Nggak apa-apa Dikta, kamu tau kan kalau aku kuat,"


"Iya aku tau, makanya aku suka sama kamu,"


Mendengar hal itu, Ayudia yang sedang meminum es teh pesannya menjadi tersedak, Pradikta yang ada disampingnya, membantu menepuk punggung perempuan itu.


"Santai aja Ay, kamu nih,"


"Maaf Dikta, aku keselek,"


"Gara-gara aku ngomong begitu, kamu jadi keselek, tapi emang benar Ay, sampai sekarang aku masih sayang sama kamu, rasa itu nggak berubah, meski bertahun-tahun kita nggak ketemu,"

__ADS_1


"Abisin dulu makannya, entar aku keselek lagi," ucap Ayudia yang dituruti oleh Pradikta.


Mereka memakan bakso itu dengan lahap, bahkan tadi Pradikta menambah satu porsi lagi.


__ADS_2