
Hal yang harusnya wanita itu tau, jangan percaya omongan laki-laki, berkali-kali Ayudia ditipu, dimanipulasi oleh Benedict, dan dirinya hanya bisa pasrah.
Sebelum ber- cosplay sebagai Tarzan, wanita itu meminta lelaki tidak bermain kasar dengan Alasan melakukannya dengan kasar karena ia baru saja sembuh, tetapi ucapan itu hanya di mulut saja, karena realitanya lelaki itu menjamahnya dengan brutal, baik di sekitar akar pohon, ataupun di rumah pohon.
Pagi harinya, masih berada di rumah pohon, Ayudia terbangun dalam pelukan hangat lelaki itu, rasanya badannya remuk.
Wanita itu melepaskan tangan yang melilit di dadanya, namun bukannya dilepaskan, lelaki itu makin mengeratkan pelukannya.
"Tidur lagi aja, aku masih ngantuk,"ucap lelaki itu dengan mata terpejam.
"Aku kebelet pipis mas,"Ayudia memberikan alasan yang membuat lelaki itu melepaskan pelukannya.
Wanita itu menuruni tangga vertikal menuju ke bawah, tak jauh dari sana ada aliran sungai kecil, ia menengok ke segala arah, untuk memastikan tak ada orang atau hewan, ia berjongkok untuk mengosongkan kandung kemihnya.
Lega rasanya, setelahnya, ia berpindah tempat untuk mencuci wajahnya, rasanya segar sekali, airnya dingin.
Wanita itu berjalan lagi ke arah rumah pohon, sepertinya perutnya minta diisi,
Dari bawah rumah pohon, ia berteriak memanggil lelaki itu,
"Ada apa sih sayang?" Tanya Benedict sambil melongok ke bawah.
"Aku lapar, aku mau makan,"
Jawabnya memegangi perutnya yang tertutupi dedaunan yang kemarin dibuat lelaki itu.
Benedict tentu tak ingin wanitanya kelaparan, ia menuruni tangga dan menghampiri kebawah,
Lelaki itu mengajaknya mencari makanan di hutan itu, dalam perjalanan keduanya mengobrol.
"Mas, aku heran deh, bukannya harusnya hutan itu penuh semak atau binatang buas ya, kok ini bukan kayak hutan, kalau dikampung bude Marini, ini itu disebut kebon,"ungkap Ayudia sambil menggandeng lengan lelaki itu.
"Bisa dibilang begitu juga,"
Ayudia menghentikan langkahnya, "maksudnya?"tanyanya heran.
"Karena selama tiga tahun aku disini, aku yang rawat, aku bersihkan, dan aku tanami buah-buahan,"jawab lelaki itu.
"Tapi ini kan bukan hutan tropis, emang bisa ya menanam buah-buah sepanjang tahun?"tanyanya lagi.
"Kamu lihat aja,"
Tak lama, keduanya sampai di sebuah greenhouse yang tersembunyi, Benedict mengajak Ayudia memasukinya.
__ADS_1
Wanita itu menganga dengan apa yang dilihatnya, bagaimana bisa di dalam hutan ada kebun didalam rumah kaca itu, ada berbagai sayur dan buah-buahan di sana.
"Kok bisa ada tempat begini disini mas?"
"Menurut kamu selama tiga tahun aku disini, aku hanya makan ikan yang aku tangkap di sungai begitu? Aku kan pintar sayang, tentu aku membangun ini untuk makan aku sehari-hari,"
"Berarti kamu nggak sepenuhnya hidup kayak Tarzan ya!"
"Ya nggaklah, aku manusia modern sayang,"
"Mas kayaknya ada pisang yang udah kuning tuh, aku mau dong,"tunjuk Ayudia pada sudut greenhouse itu.
Benedict menurutinya, ia mengambil pisang yang sudah menguning dan memberikannya pada wanita itu.
Keduanya duduk di bangku kayu ditengah-tengah greenhouse itu sambil memakan pisang.
"Mas kenapa pisangnya ditanam di dalam rumah gini sih, emang nggak bisa hidup kalau ditanam di luar?"
"Kan disini nggak kayak di Indo, disini empat musim, aku membangun ini, biar saat musim dingin aku bisa menikmati buah-buahan,"
"Emang selama kamu disini, kamu nggak pernah ke kota?"
"Kalau lagi ada pekerjaan yang mengharuskan aku untuk hadir, itu pun hanya di mansion,"
"Kenapa kamu sampai segitunya sih? Kenapa nggak jalanin hidup seperti biasa? Kan enak jadi bos, kerjanya di ruangan ber-AC,"
"Terus misalnya kamu nggak kerja, bagaimana dengan masa depan anak-anak? Biaya sekolah juga kebutuhan mereka sehari-hari hingga mereka dewasa dan mandiri secara finansial,"
"Kalau untuk mereka, sampai punya anak pun, kekayaan aku yang sekarang masih cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka, bukannya Troy rutin memberikan laporan sama kamu?"
Ayudia mengangguk, "mas, kalau dipikir-pikir nih, kan kata kamu sepupu kamu itu Gay, kemungkinan punya keturunan kan kecil, lalu apa Ainsley yang akan mewarisi perusahaan kakek kamu?"
"Menurut kamu?"
"Ya nggak tau mas, kali aja kamu punya anak dari wanita lain,"jawab Ayudia asal.
Benedict bangkit dan berkacak pinggang, "Ayudia kenapa sih, kamu senang cari masalah sama aku,"
"Kok kamu marah? Kan kalo aja kamu begitu, empat tahun lebih kita nggak sama-sama loh,"
"Iya tapi aku tidak berhubungan dengan wanita manapun selain kamu, aku menghabiskan waktu aku disini, sendiri, kadang Troy atau Richard yang mengirimkan keperluan aku, kalau di mansion hanya ada maid yang sudah berumur, bagaimana mungkin aku punya anak dari wanita selain kamu,"
Ayudia mengangkat kedua bahunya, "mana aku tahu dan masa bodoh,"ucapnya tak peduli.
__ADS_1
Benedict memegangi kepalanya, "dengar baik-baik ucapan aku Ayudia, yang akan jadi pewaris utama usaha aku pribadi atau perusahaan Wright hanya Ainsley dibantu Aileen, tidak ada yang lain, kecuali jika sekarang ada bayi-bayi yang tumbuh di rahim kamu, kamu mengerti,"tegasnya.
"Kalau aku nggak ijinkan gimana?"
Rasanya Benedict ingin mengumpat, wanita itu selalu memancing amarahnya, "itu udah digariskan, dari benih aku tumbuh di rahim kamu Ayudia, kamu tidak bisa memungkiri hal itu, dan ingat baik-baik, selama ini aku hidup dengan cara kamu, dan mulai sekarang kamu harus hidup dengan cara aku disini, karena kamu adalah nyonya Benedict Wright, sudah cukup aku bebaskan kamu selama ini, dan tidak ada protes apalagi penolakan,"
"Kan kamu udah talak aku, kalau kamu lupa,"timpalnya.
"Sepulang dari bulan madu kita, kita akan menikah lagi Ayudia,"
"Kalau aku nggak mau,"
"Kamu nggak punya pilihan lain sayang, kecuali jika kamu ingin anak dikandungan kamu tumbuh tanpa Ayah,"
"Yakin sekali kamu, kalau aku akan hamil lagi,"
"Kamu sedang dalam masa subur sayang, tentu dengan benihku yang berkualitas, di rahim kamu akan ada bayi lagi,"
"Dari mana kamu tau?"
"Aku tau semua tentang kamu , meskipun aku nggak di samping kamu,"
"Kamu memata-matai aku?"
"Apa menurut kamu, aku akan membiarkan milik aku berbuat seenaknya, kembali ke cinta pertamanya misalnya, kamu belum kenal betul suami kamu sayang,"
"Kamu menyeramkan, kayak psikopat tau nggak, bedanya kamu nggak mutilasi orang, kok bisa dulu aku mau sama kamu, dah lah aku mau ketemu anak-anak," ucapnya keluar dari greenhouse itu.
"Emang kamu mau aku mutilasi orang?"teriak Benedict
"Gila kamu, jelas nggak lah,"
"Aku hanya mengawasi kamu, tidak yang lain," ucap lelaki itu menyusul Ayudia.
Keduanya kembali ke rumah pohon,
"Mas pulang yuk, aku kangen sama anak-anak,"ucap Ayudia ketika keduanya Baru sampai rumah pohon.
"Besok baru sudah siap,"
"Maksudnya?"
"Pesta pernikahan kita baru bisa dilakukan besok, gaun pengantin kamu baru datang hari ini,"
__ADS_1
"Emang aku setuju menikah sama kamu lagi"
"Kamu nggak ada pilihan lain sayang,"ujarnya sambil menarik pinggang wanitanya dan mulai ******* bibir yang menjadi candunya.