
Natasha datang setelah mendapat telpon dari sahabatnya sekaligus big bos nya, awalnya ia heran ketika Benedict menghubungi tengah malam, karena tadi siang, lelaki itu Baru saja memakinya, namunĀ baru saja, lelaki itu memohon padanya untuk segera datang ke rumahnya, untuk melihat keadaan istrinya.
Andai Natasha tidak paham dengan watak big bosnya mungkin ia tak akan Sudi datang setelah tadi siang ia dimaki-maki.
Dan terjawab sudah apa yang membuat big bosnya memohon-mohon padanya, ia melihat keadaan Ayudia yang tadi siang baru saja makan siang bersamanya, dengan keadaan cukup memprihatinkan.
Tak banyak membuang waktu, Natasha memeriksa keadaan Ayudia, setelah tau kondisi pasiennya, dokter kandungan itu, memasangkan jarum infus di punggung tangan kiri wanita itu.
Natasha juga tadi sempat memeriksa bagian bawah tubuh pasien itu, terlihat membengkak dan ada bercak darah disekitarnya bahkan sampai menodai sprei yang terpasang.
Usai memeriksa dan memberikan obat dan salep, Natasha mengajak Benedict untuk berbicara, sementara Ayudia dijaga oleh Mertuanya.
Mereka berjalan menuju ruang kerja milik lelaki itu.
"Sebenarnya apa masalahnya sampai Lo ngelakuin hal sekeji itu Ben? Apa ini ada hubungannya dengan kejadian tadi siang?"
Benedict tak berani menatap mata wanita itu, ia menunduk dalam dan bergumam, "gue cemburu karena Ayu ketemu sama cinta pertamanya,"
"Walau cemburu, Lo nggak boleh Sampai Kasar gitu Ben, Ayu bisa meninggal,"
Benedict mengangkat wajahnya, ia menggelengkan kepalanya, "Ayu nggak boleh meninggal, jangan ngomong gitu sha, Lo jangan nakutin gue,"
"Harusnya Lo mikir begitu sebelum melakukan itu, apa Lo lupa perbedaan fisik Lo sama Ayu, gue nggak bisa bayangin sahabat gue sampai kesakitannya kayak apa, gila Lo ya!" Ungkap Natasha gregetan.
"Gue khilaf Sha, gue cemburu, gue nggak rela saat tubuh istri gue dijamah oleh lelaki lain,"
"Apa Ayu udah menjelaskan apa yang terjadi?"Benedict mengangguk.
"Apa Ayu mengakui kalau tubuhnya di jamah oleh lelaki lain?"Benedict menggeleng.
"Jadi Lo nggak percaya dengan penjelasan istri Lo?" Lagi-lagi lelaki itu mengangguk.
"Setelah Ayu sadar, mendingan Lo jangan nongol lagi deh, gue rasa Ayu bakal trauma ngeliat Lo,"
"Please Sha, gue nggak bisa jauh dari Ayu, apapun akan gue lakuin supaya Ayu mau maafin gue,"
"Ya udah kalau begitu ceraikan Ayu,"
__ADS_1
"Nggak Sha, sampai matipun, gue nggak akan lepasin Ayu, gue cinta banget sama dia,"
"Kalau Lo cinta, kenapa lakuin itu si? Benar-benar bajingan Lo, binatang Lo!"maki Natasha,
Perempuan yang berprofesi sebagai dokter itu, rasanya tidak cukup dengan hanya mencaci maki teman masa SMA nya, andai Natasha tak ingat bahwa lelaki ini adalah big bosnya mungkin saja, lelaki ini sudah abis ia tampar.
"Mending Lo balik deh ke negara Lo, dasar brengsek, bisa aja gue melaporkan kelakuan Lo ini ke polisi, Lo bisa kena pasal KDRT, dan Lo bisa dideportasi dari negara ini, lagian Lo masih manusia kan? Kenapa kelakuan Lo kayak binatang si?"
"Gue minta sebagai dokter sekaligus sahabatnya Ayu, mending Lo cabut dulu sana, terserah Lo mau kemana, gue nggak perduli, yang penting Lo jangan didekat Ayu dulu,"
"Mana bisa begitu sha, gue mau ada disamping bini gue,"
"Gila Lo ya! Kemungkinan dia bisa trauma ngeliat Lo ada didepannya, Lo nggak usah khawatir, seenggaknya gue bakal bantu ayu buat nggak trauma saat liat Lo,"
Benedict menggelengkan kepalanya, "pokoknya gue nggak mau, gue nggak mau jauh dari Ayu, entar Ayu balik lagi sama cinta pertamanya,"
Natasha sampai geram sendiri, "Ben, Ayu nggak mungkin balik ke cinta pertamanya, Lo tau, tadi siang selain konsultasi masalah kontrasepsi, dia juga nanya hubungan Lo sama Lusi, itu menunjukan kalau dia mulai khawatir dan takut kehilangan Lo, dan Lo tau apa artinya, dia udah mulai cinta sama Lo, kenapa sih Ben setiap Ayu mulai belajar mencintai Lo, Lo malah menghancurkan cinta itu?"
Benedict tercengang mendengar ucapan dari sahabatnya, ada rasa sesal begitu besar dihatinya.
Andai dia bisa mengulangi waktu, Ia tidak akan melakukan hal sekeji itu, lelaki itu jatuh terduduk di lantai ruang kerjanya, rasanya lututnya mendadak lemas.
Saran Natasha mencoba meredam emosinya.
Benedict tak menjawab, ia hanya diam menunduk, entah apa yang sedang ia pikirkan.
Keesokan siangnya, Ayudia baru tersadar setelah mendengar anak-anaknya menangis, ia membuka matanya dan melihat langit-langit kamarnya, ia melihat ke sekeliling kamarnya, tidak ada siapapun, tetapi pintu penghubung kamar miliknya dan anak-anaknya terbuka.
Ia mencoba bangkit, namun tangannya tersangkut oleh jarum infus yang menancap di punggung tangannya.
Seluruh badannya rasanya remuk, dan rasa kebas disekitar **** *************, ia juga melihat tubuhnya sendiri, ada bercak merah keunguan di sekujur tubuhnya.
Ayudia ingat kejadian semalam, suaminya menggaulinya dengan kasar dan membabi buta hanya karena menuduhnya, berbuat senonoh dengan Pradikta.
"Alhamdulillah, akhirnya Lo sadar juga Ayu, gue khawatir banget,"ujar Natasha yang baru saja masuk dari kamar anak-anak Ayudia.
Wanita itu berteriak memanggil nama perempuan paruh baya itu.
__ADS_1
Kedua wanita itu mengkhawatirkan keadaan Ayudia, namun sepertinya ada yang kurang,
"Ibu, mas Ben mana? Kok Ayu nggak liat? Apa mas Ben lagi kerja?"tanyanya bingung,
"Ben ada pekerjaan mendadak di luar negeri,"jawab Anna tak enak.
Mendengar hal itu, Ayudia mengepalkan tangannya di balik selimut, rasanya sangat kesal dengan perilaku suaminya, lagi-lagi lelaki itu menyakitinya, melampiaskan nafsunya, setelahnya lelaki itu pergi begitu saja, tanpa meminta maaf,
Ayudia berusaha mati-matian tidak menunjukan rasa kecewanya dihadapan mertua dan sahabatnya.
Untuk mengalihkan pikirannya, Ayudia meminta salah satu anaknya, agar bisa ia susui.
"Maafin anak ibu ya nduk,"ucap Anna saat menantunya sedang menyusui.
"Ibu kan nggak salah kenapa ibu yang meminta maaf?"tanya Ayudia.
"Ibu malu sama kamu, ini salah ibu kenapa dulu, ibu tidak mendidik anak ibu dengan baik, sehingga dia menyakiti kamu,"
"Ayudia nggak apa-apa Bu,"
Hening, hanya terdengar suara hembusan pendingin ruangan,
"Ayu, apapun keputusan Lo, gue ada di pihak lo,"ujar Natasha.
"Makasih ya Sha, udah bantu obati gue,"
"Udah kewajiban gue Ayu,"
Ayudia bergantian menyusui anaknya, masih dengan Anna dan Natasha di sana.
Setelahnya, Anna menyajikan makanan untuk menantunya, bahkan wanita tua itu menyuapi Ayudia, berkali-kali wanita itu meminta maaf.
Tidak lama, Natasha undur diri, ada pekerjaan mendadak di rumah sakit.
Sepeninggal Natasha, Ayudia yang baru saja selesai makan, menyentuh tangan mertuanya, ia berucap, " ibu, Ayu maafin mas Ben kok, jadi aku nggak akan bercerai dengan putera ibu, lagian hal kemarin sepenuhnya salah Ayu, harusnya Ayu pulang tepat waktu,"
"Tapi seenggaknya Ben jangan sampai berbuat seperti ini, ibu takut kamu trauma karena perilaku anak ibu, ibu tau betul, anak ibu memang gampang emosi,"
__ADS_1
"Udah Bu, beberapa hari lagi Ayu juga sembuh,"
"Terima kasih udah maafin anak ibu,"ujarnya sambil memeluk menantunya.