
Sejak pertengkaran pasangan suami istri itu, tak ada yang berubah dari hubungan keduanya.
Benedict masih bermanja ria setiap saat jika bersama istrinya disela-sela kesibukannya dalam bekerja.
Benedict juga akan membawa serta istri nya, ke luar negeri untuk menemui kliennya atau mengawasi langsung proyek perusahan keluarganya, bahkan terkadang si kembar dan neneknya akan ikut serta.
Sebisa mungkin, Benedict tak mau jauh dari istrinya.
Awalnya Ayudia merasa keberatan menuruti kemauan suaminya, karena pernah gara-gara wanita itu mengikuti suaminya ke luar negeri, ia jadi tidak bisa bertemu dengan adik-adiknya yang sedang liburan sekolah dan kuliah.
Tapi apa mau dikata, sebagai istri yang baik tentu ia akan mengikuti kemanapun suaminya pergi.
Benedict juga sudah memperkenalkan istri dan anak-anaknya pada uncle dan George, tapi tidak pada publik ataupun kolega bisnisnya.
Anna menurut saja jika diajak ke luar negeri oleh anak dan menantunya, sekalian membantu menantunya untuk mengurus dan menjaga si kembar yang semakin hari semakin aktif.
Perempuan paruh baya itu, akhirnya resmi bercerai dengan Ronald, tentu atas campur tangan Benedict, lelaki itu mengancam mantan suami ibunya, jika tak menceraikan ibunya maka, Benedict akan membuat bangkrut perusahaan milik mantan ayah tirinya.
Meskipun Benedict tak berkuasa di negara tropis itu, tetapi ayah dua anak itu dengan mudah mempengaruhi investor perusahan Ronald yang berasal dari luar negeri untuk menarik investasi mereka.
Waktu berjalan begitu cepat, Ainsley dan Aileen baru saja berulang tahun yang ke dua, tak ada pesta apapun, dikarenakan keluarga itu sedang berada disalah satu negara timur tengah.
Benedict sedang ada pertemuan dengan salah satu pengusaha di sana, selain untuk membahas soal bisnis pertambangan minyak, juga membicarakan tentang pembangunan resort milik rekannya itu.
Pengusaha itu ingin membangun resort di salah satu pulau pribadi miliknya,
Selain sebagai penasehat di perusahaan milik keluarganya, Benedict juga berprofesi sebagai arsitek yang tak terikat dengan perusahaan manapun, lelaki itu menerima jasa design mansion, resort juga gedung bertingkat, walau dia kadang harus bekerja sama dengan pihak kontraktor lain untuk mendiskusikan pekerjaan itu.
Walaupun katanya, jika lelaki itu tidak bekerja, di rekeningnya akan selalu bertambah entah setiap hari atau setiap bulan atau bahkan setahun sekali, ia tetap melakoni pekerjaan Sampingan itu hanya sekadar kesenangannya saja.
Saat sedang bekerja atau menghadapi kliennya, Benedict terlihat berwibawa, bijaksana juga tegas dalam mengambil keputusan, namun jika sedang berdekatan dengan istrinya, hal itu akan sangat bertolak belakang, lelaki itu menjadi manja dan menempel terus, Anna yang awalnya risih, lama kelamaan menjadi terbiasa dengan tingkah putranya.
"Ay, nanti kamu ikut aku ke pulau pribadi milik tuan Ameer ya, mungkin sekitar setahun kita di sana," ucap Benedict ketika dirinya dan istrinya hendak tidur malam.
Ayudia yang sudah membaringkan tubuhnya, langsung duduk mendengar permintaan suaminya, "kok lama mas, di pulau lagi, terus anak-anak diajak juga gitu?"
"Anak-anak sama ibu di rumah, kamu aja yang ikut aku,"
"Terus kalau anak-anak rewel gimana? Aku kan nggak pernah ninggalin mereka lebih dari seminggu,"
"Ya mereka harus terbiasa lah,"ucap lelaki itu santai.
"Kamu kok egois sih,"
"Egois bagaimana sih Bunda Ayudia? Aku sebagai suami meminta istri aku sendiri buat temani aku kerja masa nggak boleh,"
"Kan Ada Ainsley sama Aileen yang membutuhkan aku mas,"
"Aku suami kamu lebih membutuhkan kamu, mereka ada neneknya yang jagain, lagian aku udah bilang sama ibu dan ibu sama sekali nggak keberatan, ada bude kalau nggak bibi Atun yang bakal datang ke rumah kita buat bantu ibu aku, ada banyak maid di rumah kan, jadi kamu nggak usah khawatir soal anak-anak, dan satu lagi, aku nggak terima penolakan,"
Tak menanggapi ucapan suaminya, Ayudia tidur membelakangi suaminya.
Seakan tak peduli pada istrinya yang merajuk, Benedict malah memeluknya dari belakang dan menciumi rambut beraroma bunga itu.
Setelah urusannya di negara itu usai, Benedict dan keluarganya pulang kembali ke Jakarta, rencananya ia baru akan berangkat dua pekan lagi.
__ADS_1
Ayudia masih mendiamkan suaminya, tak ada canda tawa, hanya sekadar melayani seperti biasa.
"Kamu lagi ribut sama suamimu nduk?"tanya Anna ketika keduanya sedang mengawasi si kembar yang bermain di taman samping rumah besar itu.
"Ayu kesal sama anak ibu, masa Ayu disuruh pisah sama anak-anak sampai berbulan-bulan, egois anak ibu,"jawabnya menggerutu.
Anna tertawa melihat wajah masam menantunya, "ikut aja nduk, toh anak-anak ada ibu yang jaga, katanya bude sama bibi Atun juga mau datang,"
"Tapi Bu, ini berbulan-bulan, di tengah lautan lagi,"
"Anggap aja kamu lagi liburan,"
"Nanti kalau aku kangen sama anak-anak gimana Bu?"
"Tahan dulu lah, nantikan juga ketemu, lagian kamu emang bisa nolak maunya suami kamu itu?"
"Aku kabur lagi aja Bu, udah dua tahun aku nggak kabur,"
Anna menggelengkan kepalanya, anak dan menantunya sama-sama keras kepala, nenek dua cucu itu menghembuskan nafasnya kasar, "jangan mulai Ayudia, Ben bisa ngamuk beneran kalau sampai kamu pergi darinya,"
"Abisnya mas Ben egois,"
"Terserah kamu nduk, ibu nggak ikutan kali ini, ibu mau hidup tenang sama cucu-cucu ibu,"
"Ibu kok gitu, bukannya dukung Ayu,"
"Cari aman bunda Ayudia, ibu mau berumur panjang,"
"Apa hubungannya Bu?"
"Jelas ada bunda Ayudia, kamu belum kenal suami ya kalau udah ngamuk kayak apa? Kamu nggak ingat, pernah dibuat pingsan hanya karena suami kamu cemburu? Kamu mau dibuat pingsan lagi?"ujar Anna memperingatkan menantunya.
"Apanya yang nggak asik Ay? Ibu kenapa?"tanya Benedict tiba-tiba, sambil merangkul istrinya dari belakang.
Ayudia menegang, karena kedatangan suaminya yang tiba-tiba, apa lelaki itu mendengar rencananya untuk kabur?
"Nggak kok mas, nggak ada apa-apa,"dustanya.
Benedict menatap ibunya, seolah bertanya ada apa, namun Anna hanya mengangkat bahunya.
"Ay, makan diluar yuk, Sama ibu dan anak-anak juga,"
Mendengar hal itu, Ayudia tersenyum, "serius mas?"tanyanya tak percaya.
Lelaki itu mencium pipi istrinya dan mengangguk.
"Yei... Bu, akhirnya kita bisa keluar rumah,"ujar ibu dua anak itu senang.
Anna hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan menantunya, namun menurutnya itu menggemaskan.
Benedict dan keluarga kecilnya beserta ibu dan satu maid berangkat menuju salah satu mall mewah yang tak jauh dari rumahnya.
Di mall itu, Ayudia mengajak kedua anaknya untuk bermain di play ground untuk balita, walau dirumahnya sudah ada, namun perempuan itu, ingin anak-anaknya berinteraksi dengan anak-anak yang lain di sana.
Sementara Ayudia dan maid mengawasi si kembar bermain, Benedict dan Anna duduk tak jauh dari arena bermain itu.
__ADS_1
"Ayu mau kabur lagi ya Bu?"tanya Benedict pada ibunya.
Anna yang mendapatkan pertanyaan dari putranya, tentu kaget, apa tadi putranya mendengar tentang rencana istrinya?
"Nggak usah bingung Bu, Ben dengar langsung tadi,"
"Sebenarnya wajar sih Ben, seorang ibu nggak mau jauh dari anak-anaknya, kan biasanya kalian ninggalin anak-anak paling lama seminggu, jadi mungkin Ayu agak keberatan dengan rencana kamu, ini berbulan-bulan loh, di sana juga belum ada sinyal kan?"ucap perempuan paruh baya itu.
"Tapi Ben nggak mau jauh dari Ayu bu,"
"Ibu ngerti Ben, ibu juga setuju dengan rencana kamu? Makanya ibu larang Ayu buat kabur, bagaimanapun juga istri harus ikut suami kan?"
Keduanya masih berbincang hingga, datang seseorang yang memanggil Benedict dan Anna.
"Ben, mama, ngapain disini?"tanya wanita itu bersama putrinya yang sudah besar.
Melihat kedatangan wanita itu, Benedict memutar bola matanya malas, sungguh ia malas bertemu dengan mantan pacarnya dulu, sedangkan Anna tersenyum melihat mantan cucu tirinya itu.
"Halo Cleo apa kabar? Lama ya nggak ketemu nenek,"sapanya ramah.
Cleo mencium tangan Anna, ia juga mencium kedua pipi wanita tua itu, "Cleo baik nek, kangen banget sama nenek,"
Melihat interaksi dua perempuan beda usia itu, Benedict tak mempedulikannya,
"Hai Ben, apa kabar? Lama ya kita nggak ketemu," ucap Lusi tersenyum.
Ben tak menjawab, lelaki dua anak itu hanya diam tak menanggapi.
"Mas, Aileen mau sama Ayahnya nih,"ujar Ayudia yang datang menggendong putri kecilnya, wanita itu tak menyadari ada orang lain di sana.
"Loh Ayu, ngapain disini? Ini siapa?"tanya Lusi menghampirinya.
Ayudia terkejut ada mantan pacar suaminya, "ini lagi main sama anak, mbak Lusi ngapain disini?"tuturnya sedikit gugup.
"Lagi, jalan-jalan aja sama Cleo, kamu jawab pertanyaan aku, ini anak siapa? Apa ini anak kamu? Kenapa kamu bisa bersama mama dan Ben?"tanyanya menyelidik.
Benedict tau, istrinya sedang gugup, ia bangkit berdiri menghampiri Ayudia yang menggendong Aileen, ia mengambil putrinya dari gendongan istrinya, tak lupa merangkul wanita yang ia cintai, lalu menatap mantan pacarnya dan berkata, "kenalin, ini bini dan anak gue,"ucapnya tersenyum bangga.
Lusi menutup mulutnya tak percaya, "bagaimana bisa Ben, kamu menikah sama Ayu bahkan sudah punya anak, jadi terakhir kita ketemu, kalian sudah menikah?"tanyanya sambil menggelengkan kepalanya.
"Betul dan saat itu Lo mohon-mohon sama gue didepan istri sah gue,"
"Bilang ini nggak benar Ayu? Berarti kamu bohongi aku?"
Ayudia merasa tak enak hanya berucap maaf,
"Kamu menganggap aku bodoh Ayu, nggak nyangka wajah polos kamu ternyata hanya menutupi sifat busuk kamu, jahat kamu Ayu,"
Ayudia semakin menunduk dan bergumam minta maaf.
"Jaga mulut Lo sialan, Lo yang busuk bangsat, bini gue nggak tau apa-apaan, jangan hina bini gue kalau nggak pengin gue hancurkan, mending sekarang Lo cabut, sebelum gue berbuat kasar sama Lo,"bentak Benedict.
"Ben, Ayu udah bohong, dia jahat, dia nggak tulus sayang sama kamu, nggak kayak aku yang selalu sayang sama kamu sampai kapanpun,"ujar Lusi memegangi lengan Benedict.
Benedict melepas tangan Lusi dari lengannya, ia menyerahkan Aileen pada Anna, lalu ia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Arnold, urusin bini Lo!"
Benedict langsung mengajak istri, anak dan ibu serta maid untuk pergi dari sana.