Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
enam puluh enam


__ADS_3

Ayudia dibawa ke ruangan bersalin usai Anna dan Nando datang.


Asisten Natasha yang bernama Mia, sudah menunggunya di sana, juga ada dokter anak dan seorang bidan.


Wanita hamil itu telah berbaring di ranjang yang biasa digunakan dalam proses persalinan, setelah sebelumnya berganti dengan baju hijau khas rumah sakit.


Tadi Natasha memeriksa jalan lahir pasiennya, dokter kandungan itu bilang, Ayudia sudah pembukaan enam.


Mulas yang tadinya datang pertiga puluh menit sekali, berganti lima belas menit sekali.


Wanita hamil itu meminta dipanggilkan Nando, ada yang ingin ia bicarakan.


"A, maafin Ayu ya, selalu repotin AA,"ungkapnya setelah Nando menghampirinya.


"Iya gue maafin Yu, yang penting sekarang Lo mesti kuat, biar Lo dan bayi-bayi bisa selamat, entar gue bakal kasih apapun yang elo minta,"ujar Nando menyemangati istri sahabatnya.


"A, kok lama-lama sakit ya!"keluhnya.


Nando menggenggam tangan wanita hamil itu, "Ayudia manis cewek yang paling gue sayang setelah umi gue, gue percaya Lo bisa lewati ini, ingat bagaimana perjuangan Lo selama hamil, tahan dikit ya, bentar doang kok sakitnya,"


Lalu lelaki itu berbisik, "ini kesempatan Lo buat, bales perbuatan Ben, Lo bisa bebas cakar atau Jambak dia, cuman Lo yang bisa, tolong bales dia buat gue juga, Lo tau kan, dia pernah bikin AA Lo babak belur,"


Ayudia tertawa, lalu mengangguk.


Sepeninggal Nando, Ayudia meminta ibu mertuanya untuk masuk, ia ingin meminta doa dan maaf dari wanita tua itu, dengan mata berkaca-kaca, Anna menyemangati menantunya, tak lupa mengelus pinggang dari wanita hamil itu.


Natasha memeriksanya lagi sepeninggal Anna, "Yu pembukaannya udah lengkap, apa Lo mau gue panggil Ben, sekarang?"


Ayudia mengangguk sambil meringis, menahan sakitnya.


Benedict yang melihat wajah tak berdaya istrinya, mendadak matanya berkaca-kaca,


"Ay, apa yang harus aku lakukan buat meringankan sakit kamu?"tanya calon ayah itu.


Ayudia meminta tangan dari lelaki itu lalu menciumnya, "mas, maafin Ayu ya, Ayu nyebelin dan bikin susah kamu,"


"Ay, aku yang salah, aku udah nyakitin kamu,"


Ayudia meringis lagi,


Melihat itu, Natasha menyuruh Benedict untuk naik dan duduk dibelakang istrinya, agar wanita yang akan melahirkan itu bersandar padanya.

__ADS_1


"Ayu, pokoknya tunggu kode, baru mengejan ya, nungguin bayinya ngajakin, jangan lupa atur nafas,"perintah dokter kandungan itu.


Ayudia berusaha mengatur nafasnya, saat mulas itu datang, Natasha memberi kode untuk mengejan sekuat tenaga.


Dengan berpegangan erat pada suaminya, Ayudia menarik nafas panjang dan mengejan dengan kuat, hingga bayi pertama keluar dari bagian bawah tubuhnya.


Terdengar suara tangis bayi memenuhi ruang bersalin itu, Ayudia mengucap syukur sedang Benedict mencium kening dan tangan istrinya seraya berterima kasih.


"Selamat yu, anak pertama cowok,"ucap Natasha lalu menyerahkan bayinya kepada bidan untuk dibersihkan dan diperiksa oleh dokter anak yang telah menunggu.


"Semangat yu, tinggal satu lagi, ayo kumpulkan tenaga, dan Ben kasih semangat lagi buat Ayu,"ucap dokter itu lagi.


Lima menit berlalu, mulas itu kembali datang, seperti tadi Natasha melakukan hal yang sama, kembali menyemangati sahabatnya.


Setelah dua kali mengejan dengan kuat, bayi kedua Ayudia lahir dengan selamat, tangisannya lebih keras dibandingkan kakaknya.


Karena berat badan bayi cukup maka, dilakukanlah Inisiasi menyusui dini dengan dibantu Mia dan seorang perawat, untuk memegangi bayi baru lahir itu di kedua sisi dada Ayudia, sementara ada bidan yang sedang menjahit bagian bawah ibu baru itu.


Meski meringis merasakan jahitan di bagian bawah tubuhnya, Ayudia menahan suaranya, ia tidak ingin kedua bayinya yang sedang menyusu terganggu akibat teriakannya.


Setelah beberapa menit berlalu, kedua bayi itu dibawa oleh perawat menuju ruang bayi untuk dihangatkan.


Sedangkan Ayudia dipindahkan ke ruang perawatan terbaik yang ada di rumah sakit itu.


Kamar rawat itu, dilengkapi ruang tamu, di sana ada Benedict dan juga para sahabatnya, juga ibunya yang sedang berkumpul,


"Udah Lo siapin nama Ben?"tanya Rama.


"Gue serahin ke Ayu,"jawabnya.


"Ben kayaknya anak Lo nggak mirip Lo deh, masa rada bule gitu,"protes Alex.


"Si dodol, Lo lupa bapaknya Ben itu bule, Ben kan dominan gen Tante Anna,"ujar Nando.


"Memang betul, sepertinya cucu Tante mewarisi gen mendiang daddy-nya Ben,"jelas Anna.


"Kalau tadi gue lihat, hampir seratus persen gen anak-anak Lo itu berasal dari keluarga bapak Lo Ben, kayaknya nggak ada lokalnya, tadi juga gue sempet liat mata bayi, pas lagi melek, warna matanya nggak sama kayak umumnya orang indo,"ucap Oscar angkat bicara.


"Berarti itu bukti bahwa bayi-bayi itu emang anak Lo Ben,"celetuk Alex,


"Jelas bayi gue Alex, kan gue yang pertama buat Ayu,"ujar Benedict jujur.

__ADS_1


"Hebat Lo Ben, dapet perawan, pantesan bisa segila ini,"ujar Alex lagi.


"Emang Lo belum pernah dapet perawan Lex?"tanya Nando.


"Susah dapat yang masih utuh Do, kebanyakan udah kek jalan tol,"ujar Alex frontal.


"Enak tau Lex main sama perawan, sempit,"ucap Nando memanasi sahabatnya.


"Sok tau Lo!"ucap Alex tak terima. "Kayak udah pernah aja Lo,"


"Gue ngomong gitu juga karena pernah ngalamin Lex, iya nggak OS?"ujar Nando.


"Apaan sih Lo pada, gue mah masih perjaka,"sangkal Oscar.


"Lo pada apa-apaan sih, ngapa jadi ngomongin gituan sih,"ujar Rama protes,


"Bilang aja Lo kesel Ram, pernah kena prank sama citra,"ejek Nando tertawa.


"Sialan Lo Do, gue juga pernah ngerasain perawan kali,"ujar Rama tak terima.


"Jangan bilang Sinta udah Lo kerjain?"ucap Oscar.


Rama tersenyum ambigu, "gila Lo ya! Kalau Ayu tau, abis Lo Rama,"ujar Nando.


"Ya Lo jangan pada ngasih tau Ayu,"


Tiba-tiba,


"Apa yang nggak boleh Ayu tau?"tanya wanita itu terbangun dari tidurnya.


"Ini yu, katanya Rama mau ngelamar Sinta, katanya jangan dikasih tau dulu ke elo, nanti lo kepikiran,"celetuk Nando menyelamatkan sahabatnya.


"Wah mas Rama udah mau serius aja nih sama mbak Sinta,"


Obrolan mereka berlanjut, hingga petugas gizi mengantarkan makan sore untuk Ayudia.


Para sahabat Benedict undur diri, sedangkan Anna masih bertahan di sana untuk mengurus menantunya itu.


Setelah makan, tak lama kedua bayi kembar itu, diantar ke ruang rawat Ayudia.


Saat ibu baru itu menyusui, Anna yang sedang membantu memegangi cucunya, bertanya pada menantunya, "apa kamu sudah memikirkan nama  untuk kedua bayi kamu nduk?"

__ADS_1


Ayudia melirik suaminya yang sedang bersama salah satu bayi mereka, "Ayu belum berdiskusi dengan mas Ben Bu,"


"Oke, apapun itu sebaiknya kalian diskusikan, sekarang sudah ada anak diantara kalian, tolong kurangi ego masing-masing,"nasehat Anna untuk putra serta menantunya.


__ADS_2