Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
sembilan puluh


__ADS_3

Dua hari sebelum keberangkatannya, Ayudia meminta pada suaminya untuk menghabiskan waktunya bersama kedua buah hatinya.


Perempuan dua anak itu, tak mau kehilangan momen terakhir ia bersama Ainsley dan Aileen, karena akan sangat lama ia tak bisa bersama mereka.


Sangat berat rasanya Ayudia harus  meninggalkan buah hatinya,


Selama dua hari itu, ia hanya bersama buah hatinya, saat malam pun, ia lebih memilih tidur dengan anak-anaknya.


Walaupun berkali-kali Anna menyakinkan menantunya, Ainsley dan Aileen akan baik-baik saja di bawah pengasuhannya, tetap saja ada rasa tidak rela.


Selama dua hari itu juga ia tak mau sedikitpun menemui suaminya, andai lelaki itu tak menghampirinya terlebih dahulu.


Sehari sebelum keberangkatannya, bude Marini dan bibi Atun datang, hal itu membuat Ayudia sedikit terhibur.


Juga ada Amara yang berkunjung  ke rumah besar itu saat sore hari, gadis itu bercerita, ia baru saja pulang bekerja, ia mengaku sudah tiga hari ini bekerja menjadi staf keuangan di salah satu rumah sakit.


Ayudia senang mendengar kabar itu, berarti suaminya mengabulkan permintaannya, ia jadi lega.


Malam harinya, sahabat Benedict berdatangan, katanya akan mengadakan meeting di ruang kerja lelaki itu, entah apa yang akan mereka bicarakan.


Malam terakhir Ayudia bersama buah hatinya, ia kembali tidur di kamar anak-anaknya, dan ada Amara yang menginap di sana.


"Di, gue nggak nyangka laki Lo sekaya ini? Terus ngapain Lo mau jadi TKW?"tanya Amara heran, ketika keduanya, sedang berbaring dengan Aileen yang berada diantara mereka.


"Kan gue ngikutin laki gue kerja keluar negeri, bukannya sama aja kaya TKW ya!"


"Ya beda lah Dia, kalo TKW Lo mesti ditempat penampungan dulu, sebelum siap kerja di luar negeri, nah Lo kan ngikutin suami Lo kerja, sama kaya liburan alias honeymoon,"


"Tapi gue nggak tega ninggalin anak-anak gue, ini pertama kalinya gue jauh dari mereka dalam waktu yang lama, jujur aja, gue males berangkat, apa gue kabur aja ya!"


"Jangan gila Lo Di, dosa pergi tanpa ijin suami,"ujar Amara mengingatkan.


"Abisnya gue heran sama laki gue, masa dia mau nyari duit, bininya diajak, kan ada anak-anak yang lebih butuh kasih sayang ibunya, laki gue kan udah gede, bisa ngurus dirinya sendiri,"


"Ya mungkin laki Lo punya alasan khusus sehingga istrinya harus ikut bekerja,"


"Lo nggak tau sih laki gue kek apa, badan gede, tapi kelakuannya kayak bocah,"


"Bersyukur aja dia, banyak orang yang pengin diposisi Lo, punya anak kembar, laki Lo kaya lagi,"


Ujar Amara menasehati sahabatnya. "Eh gue mau cerita, gue kapan hari ketemu sama Dikta, dia nanya ke gue, apa gue udah ketemu Lo, ya gue jawab, udah ketemu, kayaknya dia masih sayang banget sama Lo deh,"lanjutnya bercerita.


"Emang Lo ketemu dimana?"tanya Ayudia penasaran.

__ADS_1


"Gue ketemu pas lagi makan siang di kantin rumah sakit tempat gue kerja,"jawab Amara


"Di rumah sakit? Emang siapa yang sakit?"


"Tante Arini dirawat, katanya abis operasi, tapi gue lupa nanya abis operasi apaan,"


Ayudia menjadi gelisah setelah mendengar ucapan sahabatnya.


"Kenapa Lo? Kok kayak nggak tenang gitu sih? Oh ya besok Lo jalan jam berapa?"


Seketika perempuan dua anak itu berusaha menutupi rasa gelisah nya, "gue nggak kenapa-napa kok, gue belum nanya laki gue kapan berangkat, pas gue mau siapin barang-barang, katanya nggak usah, cukup bawa diri aja katanya,"


"Emang laki Lo bakal kerja dimana? Kok santai banget, harusnya kalau mau pergi keluar negeri kan sibuk packing-packing, ini malah santai banget, kayak nggak kemana-mana," ucap Amara heran.


"Gue nggak tau tepatnya dimana, yang jelas kata laki gue, kerjanya di pulau mau bangun resort,"


"Emang laki Lo kuli bangunan?"


Ayudia tertawa, "bukan, Laki gue Arsitek,"


"Arsitek tapi bisa punya rumah mewah kayak gini, hebat banget laki Lo,"


"Kerjaannya Bukan Arsitek doang Ra,"


"Emang kerjaan yang lain apaan?"


"Pantes bisa punya rumah mewah kayak gini, beruntung Lo Di, tapi ngomongin soal Dikta, laki Lo tau soal cinta pertama Lo nggak?"


Ayudia mengangguk, "bahkan laki gue tau, gue pernah menangisi Dikta,"


"Kok bisa?"ucap Amara terkejut, "jangan bilang Lo masih sayang sama Dikta?"


"Itu dulu Ra, waktu awal gue baru nikah, sekarang gue sayang kok sama laki gue,"


"Syukur deh, jangan main api Di, kasihan anak-anak Lo,"


"Iya gue tau, makasih ya, tidur yuk,"ajak Ayudia merebahkan diri diantara Aileen dan Ainsley.


Keesokan paginya setelah subuh, Ayudia meminta ijin pada suaminya untuk mengajak anak-anak berjalan-jalan disekitar taman kompleks bersama Amara.


Seperti biasanya Benedict selalu berkata, "di rumah kan udah taman, kenapa mesti keluar sih?"


"Ya pengin jalan-jalan aja, lagian kan aku bakal lama ikut kamu, jadi pasti bakal kangen banget sama kota ini,"

__ADS_1


"Ya udah tapi kamu jangan lama-lama di luar, setidaknya kamu harus istirahat sebentar sebelum berangkat nanti sore,"


"Iya mas, aku jalan ya sama anak-anak, udah ngomong juga sama ibu,"Benedict hanya mengangguk, dan membiarkan istrinya berlalu.


Dilantai bawah, Amara sudah menunggunya bersama si kembar dan juga maid yang biasa anak-anaknya.


Ayudia menaiki motor matic yang biasa digunakan oleh pekerja dirumahnya, Ainsley berdiri didepannya sedangkan Aileen bersama Amara memboncengnya dibelakang.


Dari lantai atas Benedict bersama sahabatnya melihat kepergian istri dan anak-anaknya.


"Tumben Lo izinin Ayu pergi dari rumah, nggak khawatir Lo?"tanya Nando angkat bicara.


"Ya anggap aja, lagi pamitan sama kota ini, bilangnya cuman sekitaran taman komplek kok,"jawab Benedict terlihat santai.


"Masa ke taman komplek sampai naik motor, bukannya jalan kaki kan bisa?"ujar Nando lagi.


"Ngapain si do, Lo sengaja memanaskan suasana ya,"sahut Alex.


"Ya gue cuman pengen ngomong aja, emang kenapa? Lo ngerasa panas Ben?"tanya Nando lagi.


"Nggak kapok Lo abis ditonjok belum lama,"Oscar menyela.


Nando tertawa, "kagak, sebelum Ben penuhi permintaan gue,"


"Emang permintaan apaan? Emang bonus yang diterima Lo masih kurang gede?"giliran Rama yang berbicara.


"Ini bukan masalah duit Rama, ini menyangkut masa depan gue," ucap Nando.


Benedict menghela nafas, "Do kan gue bilang, nanti tunggu gue sama Ayu cabut dari sini, gue nyari aman, Ayu nggak setuju kalau Lo sama dia, katanya dia terlalu bagus buat Lo yang brengsek,"


Alex, Oscar dan Rama mengernyit heran, bingung apa yang dimaksud kedua sahabatnya itu.


"Entar kalau diambil sama yang lain, Lo mau tanggung jawab?"tanya Nando tak terima.


"Berarti belum jodoh,"jawab Benedict santai.


"Lo ngomong begitu, artinya gue bakal bikin Ayu ninggalin Lo, siap-siap aja Ben,"ujarnya menepuk bahu sahabatnya sambil berlalu keluar dari ruang kerja sahabatnya.


Namun belum sampai pintu Benedict berteriak, "berani Lo ngelakuin itu, abis Lo sama gue,"


Nando berbalik, "silahkan, dan Lo bakal kehilangan anak bini Lo selamanya, ingat Ben, Ayu lebih percaya gue dibanding Lo suaminya sendiri,"


Benedict yang memang orang yang gampang emosi jika menyangkut istrinya, menghampiri Nando dan memberikan satu pukulan di perut lelaki itu,

__ADS_1


"Gue nggak akan biarkan Ayu pergi dari gue, gimanapun caranya, ancaman Lo nggak berefek apapun bangsat,"


Nando tertawa, "kita lihat Ben, apa yang akan terjadi kedepannya,"ujarnya bangkit keluar dari ruangan itu.


__ADS_2