Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
seratus dua


__ADS_3

Ayudia terkejut dengan apa yang dilihatnya, seseorang yang sedang tertidur terlungkup di atas ranjang dengan hanya mengenakan celana pendek setengah paha.


Kulit lelaki itu terlihat kecokelatan, seperti terbakar matahari, rambutnya berantakan, entah seberapa panjang, yang jelas lebih panjang rambut hitam lelaki itu dibanding dirinya yang hanya sebahu.


Saking nyenyak nya hingga terdengar dengkuran halus.


Perlahan Ayudia mendekat untuk memastikan apakah benar jika lelaki itu adalah ayah dari anak-anaknya, karena lelaki itu terlihat berbeda dengan dulu saat terakhir ia bertengkar hebat dengannya.


Wanita itu duduk di celah kosong tepat dimana lelaki itu tertidur, perlahan ia mengamati punggung itu, ya.. ia sangat mengenali punggung itu, bahkan ia hafal dimana letak tahi lalatnya.


Ada senyum mengembang menghiasi wajah wanita itu, menyadari bahwa lelaki itu adalah orang yang ia tunggu, meskipun ia bisa menebak akan seperti apa jika lelaki itu membuka mata.


Ayudia sadar selama ini, ia begitu sering menyakiti lelaki itu, maka dari itu, ia tak akan berharap banyak padanya.


Kalau jodohnya bersama lelaki itu hanya sampai disini, setidaknya ia benar-benar mendengarnya secara langsung kata-kata talak itu dari mulutnya.


Sudah hampir tiga puluh menit, Ayudia hanya memandang setengah wajah itu, dengan pikiran yang melayang mengenang masa-masa indah dulu saat mereka masih bersama.


Hingga lelaki itu menggeliat mengubah posisinya menjadi terlentang seraya menguap lebar, saat terlihat samar ada seorang yang tengah menatapnya,


Lelaki itu terkejut, langsung terduduk dan mundur menjauhi wanita itu, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya,


Ia menajamkan penglihatannya, tak juga yakin ia mengucek kedua matanya yang memerah, masih juga belum hilang dari hadapannya, lelaki itu menampar pipinya sendiri, ia sampai mengaduh, ini nyata wanita yang sudah bertahun-tahun tidak bisa lihat secara langsung kini jelas ada dihadapannya, tersenyum memperlihatkan lesung  pipi, salah satu hal yang membuatnya jatuh cinta.


Hening belum ada yang membuka mulut, seolah mulut keduanya terkunci, hanya saling tatap selama beberapa saat.


Seolah masih meyakinkan diri masing-masing jika ini nyata, ini bukan mimpi.


Hingga sang wanita mulai membuka mulutnya, "apa kabar mas Ben?"


Satu kalimat yang menyadarkan lelaki itu, jika itu benar perempuan yang membuat dunianya jungkir balik selama beberapa tahun ini.


Perempuan yang membuatnya nyaris gila, terpuruk hingga depresi.


Tetapi karena perempuan itu juga, ia merasakan debaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya,


Seperti saat ini debaran itu kembali hadir dalam dadanya, sama seperti pertama kali mereka bertemu.


"Mas aku cuman nanya kabar kamu, kenapa kamu diam aja? Apa aku bahkan tidak boleh tau kabar kamu?"

__ADS_1


Sekali lagi ia mendengar suara itu, suara yang selalu ia rindukan bahkan memanggilnya dalam mimpi,


Lelaki itu masih dengan posisi yang sama, terduduk di sudut ranjang saat wanita itu semakin mendekatinya.


Ayudia menyentuh tangan kanan lelaki itu, lalu menyalaminya juga mencium punggung tangan besar itu.


Benedict terdiam tak memberikan reaksi apapun, ia membiarkan wanita itu berbuat sesuka hati,


Setelah mencium tangan itu, Ayudia melepasnya, ia mundur menjauhi laki-laki yang hanya menatapnya.


"Mas, aku minta maaf atas segala kesalahan yang pernah aku perbuat dulu, aku selalu menyakiti hati kamu, aku harap kamu memaafkan aku,"


Masih tak ada reaksi apapun dari lelaki itu, Ayudia menghela nafas, "bang Alex juga yang lain bilang, kalau kamu sudah menjatuhkan talak sama aku, sewaktu aku belum sadar sepenuhnya,"


Lelaki itu masih sama, hanya terdiam menatapnya, "bang Alex juga bilang, aku harus menandatangani selembar surat cerai dari kamu, tapi aku belum mau tanda tangan mas, karena aku belum mendengar hal itu langsung dari kamu,"


Hening kembali menghampiri,


Ayudia menghela nafas lagi, entah yang ke berapa ia tak menghitungnya, "mas Ben, permintaan terakhir aku, sebelum benar-benar kita berpisah, aku ingin mendengarnya langsung, kata-kata itu keluar dari mulut kamu, bisa kamu ulangi sekali lagi kata-kata itu,"pintanya.


Cukup lama tak ada jawaban ataupun reaksi dari lelaki itu, sampai Ayudia pegal berdiri terlalu lama,


Mungkin lelaki itu amnesia sehingga tak mengenalinya karena tak  memberikan reaksi apapun,


Ayudia berbalik keluar dari kamar itu, tetapi belum sempat perempuan itu melangkah keluar, tangannya digenggam oleh lelaki itu.


Ia melihat tangan besar yang menggenggam pergelangan tangannya, lalu menatap mata lelaki dihadapannya seolah bertanya, "kenapa?"


Namun bukan suara yang ia dengar tetapi sebuah rengkuhan dari tubuh besar itu.


Seketika rengkuhan hangat itu melingkupi seluruh tubuh wanita itu, rengkuhan yang biasa ia dapatkan dulu.


Ada suara  detak jantung yang terdengar begitu keras, entah milik siapa?


Akhirnya wanita itu membalas pelukan itu erat, tangannya mengusap punggung polos yang tak tertutupi apapun.


Tubuh lelaki itu bergetar, terdengar Isak tangis darinya, mendengar hal itu, Ayudia melepas terlebih dahulu pelukan itu, ia mendongak melihat air mata yang keluar dari sudut mata lelaki dihadapannya.


Perempuan itu menghapus air mata di pipi tirus lelaki itu, lalu ia berjinjit mencium keningnya.

__ADS_1


Usai melakukan itu, Ayudia mundur dan berbalik akan keluar dari ruangan itu, sepertinya sebentar lagi gelap, anak-anaknya pasti sedang mencarinya.


Namun tangan besar itu menahannya lagi, namun bukan rengkuhan selanjutnya, melainkan benda kenyal yang membungkam mulutnya.


Ayudia mulai membalas ciuman itu, lembut dan hangat juga memabukkan,


Rasanya kedua lutut wanita itu mulai lemas karena terbuai dengan sesuatu yang sudah bertahun-tahun tak  ia rasakan.


Tangan lelaki itu bahkan menahan tubuh dihadapannya agar tidak terjatuh.


Benedict menggendong tubuh itu tanpa melepaskan mulut yang masih saling ******* itu, menuju ranjang yang tadi ia tiduri.


Wanita itu duduk berhadapan dipangkuan lelaki itu, keduanya saling bertukar Saliva, lidah mereka juga saling bertaut,


Ciuman itu semakin panas saat langit diluar sana mulai berubah warna.


Seakan tak memperdulikan apa yang terjadi diluar sana, keduanya masih saling bercumbu meskipun didalam sana semakin gelap, karena tak ada lampu yang menyala, hal itu tak menghentikan kegiatan yang mereka lakukan.


Benedict  mulai meraih resleting yang berada di belakang dress milik wanita itu, ia menurunkannya hingga mencapai batasnya,


Dress putih dengan motif bunga-bunga kecil itu, melorot dari tempatnya,


Dalam kegelapan terlihat samar-samar bra yang dikenakan wanita itu.


Keduanya semakin terbuai, hingga lupa daratan, rasa rindu yang begitu besar, juga hasrat yang tertahan selama bertahun-tahun akhirnya bisa tersalurkan.


Seolah keduanya telah lupa, bahwa status mereka tak lagi sama seperti beberapa tahun lalu.


Mereka seolah tak memperdulikan apapun, bagi orang dewasa yang sedang berperang peluh di atas ranjang  itu, juga sebagai wujud ungkapan rindu dan hasrat biologis yang sudah lama tak tersalurkan.


Lenguhan dan ******* saling bersautan, bagai irama yang mengalun menghiasi keheningan di tepi sungai itu.


Hingga keduanya mencapai batasnya, dan saling menyebutkan nama lawan jenisnya.


Mereka mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan, dan benih itu berenang dengan cepat menuju tempat terdalam dibawah sana.


Berharap akan ada anggota baru diantara keduanya.


Lelaki itu ambruk tepat disamping wanita itu, nafas mereka memburu, seolah keduanya berlomba untuk meraih oksigen sebanyak-banyaknya.

__ADS_1


Hingga beberapa menit berlalu, terdengar suara dengkuran halus.


Salah satu dari keduanya bangkit, untuk menyelimutinya.


__ADS_2