
Benedict mengikuti Istrinya menuju Walk in Closet, ia melihat wanita itu sedang mencari dompetnya, juga memilih baju, ada koper yang tergeletak di lantai dengan posisi terbuka.
Melihat hal itu semakin membuat Benedict naik pitam, ia menggenggam juga menarik tangan istrinya,
"Apa yang kamu lakukan Ayudia?"bentak lelaki itu sambil menatap istrinya tajam.
"Aku mau pergi dari sini sebelum kamu menyakiti aku lagi, aku nggak mau kamu membunuh janin dalam kandungan aku untuk yang kedua kalinya,"teriak Ayudia tak mau kalah.
"Aku tidak pernah membunuh anak kita,"ucap Benedict tak terima.
"Bukankah beberapa tahun yang lalu aku keguguran gara-gara kamu? Kamu sengaja kan melakukan itu?"Ayudia masih dengan suara kerasnya.
"Aku nggak tau kalau kamu hamil, kamu juga nggak kasih tau aku kan?"
Ayudia menyeringai, "bagaimana kamu nggak tau, kamu bahkan tau siklus menstruasi aku, nggak mungkin kalau kamu nggak sadar kalau aku udah telat datang bulan, bahkan aku sendiri nggak hafal siklus ku sendiri, tapi kamu? Kalau kamu memang tidak ingin punya anak dari aku, katakan saja atau kita tidak usah sama sekali berhubungan badan, atau kamu ingin kita berpisah?"
Mendengar ucapan wanita dihadapannya, Benedict menggelengkan kepalanya, "sampai kapanpun kita nggak akan berpisah Ayudia, kamu istri aku, kamu milik aku, aku nggak akan biarkan hal itu terjadi,"
"Persetan sama omongan kamu, bagaimana kita bisa terus bersama sementara kamu masih nggak percaya sama aku? Dan Kamu masih bertanya janin dalam kandungan aku anak siapa? Apa aku serendah itu Dimata kamu?"
"Bagaimana aku bisa percaya, aku sudah tidak bisa punya anak lagi, aku melakukan vasektomi, jadi nggak mungkin kamu bisa hamil,"akhirnya Benedict membongkar rahasia yang selama ini ia pendam.
Ayudia melepaskan genggaman tangan itu, "kamu melakukan hal sepenting itu tidak berdiskusi dengan istri kamu? Suami macam apa kamu?"
Walau sebenarnya Ayudia sudah tau tentang rahasia suaminya dari Oscar, tetap saja ia tersinggung, suaminya tidak bercerita soal hal sebesar itu.
"Aku sengaja melakukan itu, aku tidak ingin kehilangan kamu, setelah kamu keguguran bahkan sekarat, aku takut kamu pergi dari aku selamanya,"
Ayudia mengatur nafasnya, ia menarik nafas juga menghembuskannya perlahan, ia mengelus perut buncitnya, ia berusaha untuk tetap tenang, ia tidak ingin emosinya mempengaruhi bayi dalam kandungannya.
"Gini aja mas, kamu kan nggak percaya kalau bayi yang ada di kandungan aku itu anak kamu, jadi mending kita berpisah hingga aku melahirkan, setelah bayi ini lahir, kamu bisa tes DNA, tapi hasil apapun yang keluar nantinya, aku akan tetap mengajukan gugatan cerai sama kamu, jika terbukti ini anak kamu sekalipun, kamu nggak berhak atas anak ini,"usai mengatakan dengan tenang, Ayudia kembali memasukan baju-bajunya ke dalam koper miliknya.
Benedict yang melihatnya menjadi semakin gelisah, ia memeluk istrinya dari belakang,
"Sayang please jangan tinggalkan aku, aku merindukan kamu, sudah cukup kita berjauhan, tolong jangan lakukan itu, jangan pergi dari sisi aku," mohonnya.
Ayudia menghela nafas lalu berbalik, ia menyentuh pipi lelaki itu, "mas, lebih baik kita nggak bertemu dulu, aku butuh waktu sendiri, begitu juga kamu, kalau kita bersama, kamu akan selalu berpikir bahwa janin dalam perut aku itu bukan anak kamu, itu akan memicu pertengkaran kita, dan hal itu tidak baik untuk perkembangan bayi ini,"
__ADS_1
"Aku akan lakukan apapun asal kamu tetap di samping aku, kamu mau aku akui anak ini sebagai anak aku kan, oke aku akan akui ini sebagai anak aku, hanya itu kan?"
"Mas, ini memang anak kamu, aku berhubungan badan hanya sama kamu, kamu bisa tanya Asha mengenai umur kandungan aku,"
"Oke, aku bakal lakuin yang kamu suruh, jadi please jangan tinggalkan aku,"ujarnya sambil memeluk istrinya erat.
Ayudia balas memeluk suaminya, "maaf tadi aku bentak-bentak kamu, maaf tadi aku udah membantah kamu, maaf aku tidak menyambut kedatangan kamu,"ungkapnya.
Benedict melepas pelukan itu, ia mencium kening istrinya juga bibirnya, ia ******* bibir yang beberapa bulan ini, ia rindukan, bibir yang selalu membuatnya candu.
Ia menggendong istrinya ala koala tanpa melepas tautan bibir itu, ia merebahkan wanita itu di atas ranjang, meskipun agak mengganjal saat lelaki itu menindih istrinya.
Namun hal itu tak menyurutkan semangatnya untuk menyetubuhi istrinya.
Perlahan ia melepaskan semua yang menempel di tubuh nya juga istrinya secara bergantian, diselingi kecupan lembut di beberapa bagian tubuh yang semakin berisi.
Dan terlihatlah jelas perut yang membuncit itu, lelaki itu mengelusnya, dan berkata, "apa dia bayi tunggal?"tanyanya.
Ayudia mengangguk, "yang ini agak manja, dibandingkan kedua kakaknya, tapi aku senang,"jawabnya tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.
Lalu ia kembali mengelus perut buncit itu,juga menciuminya, seolah ia sudah menerima bayi itu.
"Tolong lakukan dengan pelan mas,"ujar Ayudia memperingatkan suaminya.
Tak membuang waktu, Benedict mulai memasukkannya perlahan, "selalu bertambah sempit setiap ia sudah lama tak melakukannya," ujarnya dalam hati.
Lelaki itu bahkan mendongak menikmati kehangatan itu, rasanya seperti tersedot juga dipijat lembut, bagian bawahnya dimanjakan dengan sensasi yang ia rasakan.
Seperti sudah jadi kebiasaan, gerakan yang awalnya lembut dan teratur perlahan menjadi gerakan semakin cepat, hingga istrinya, menahannya,
"Pelan-pelan mas, kamu bisa menyakiti dia,"Ayudia mengingatkan.
Ayudia membalikan keadaan, agar bisa mengatur ritme yang telat supaya tidak menyakiti bayinya.
Beberapa saat lenguhan panjang menjadi tanda, jika keduanya mencapai kenikmatan duniawi, Ayudia ambruk di dada suaminya.
Nafasnya tersengal-sengal, kegiatan yang sudah lama ia lakukan.
__ADS_1
Benedict mencium kening istrinya, dan berterima kasih, lelaki itu menggendong Ayudia untuk membersihkan diri secara bersama-sama.
Tentu bukan Benedict namanya jika hanya sekali, lelaki itu selalu meminta lebih jika sudah menyangkut berbagi kenikmatan.
Sudah menjadi kebiasaan, setelah disetubuhi, Ayudia selalu tertidur pulas, bahkan saat rambutnya dikeringkan, ia tetap memejamkan matanya.
Setelah memastikan istrinya tidur dengan nyenyak, Benedict menuju ruang kerjanya, ia membuka laptop dan memeriksa CCTV yang ada di rumah besar itu.
Tak puas dengan itu, ia menghubungi sahabatnya, untuk segera datang ke sana.
Sekitar satu jam teman-temannya baru sampai, kecuali Nando dan Natasha.
Hanya ada Alex, Oscar juga Rama, setelah berbasa-basi sejenak Benedict memulai pembicaraan.
"Ayu hamil lagi, padahal gue udah vasektomi, selama ini aman, tapi setelah gue tinggal ke pulau, pas pulang dia malah hamil, apa ada yang bisa kalian jelaskan, dan Ayu bahkan sering ketemuan sama mamanya Dikta," ucap Benedict pada teman-temannya.
"Setau gue Ayu nggak pernah ketemu Sama Dikta secara langsung,"ucap Alex yang diam-diam mengawasi istri dari sahabatnya.
"Cowok yang tinggal disini itu cuman kama, jadi nggak mungkin itu anaknya kama, Lo tau kan kama cinta banget sama Asha,"Rama angkat bicara.
"Itu anak Lo Ben, Vasektomi nggak bisa seratus persen mencegah kehamilan, 99,99 % aman tapi mungkin Lo yang 00.01%, pada dua ribu pasien vasektomi, bisa kemungkinan gagal itu satu orang, coba Lo cek ke rumah sakit, gue rasa saluran itu, secara alami nyambung lagi, makanya Ayu bisa hamil,"jelas Oscar panjang lebar.
"Apa Lo tau kondisi kandungan istri gue OS?"tanya Benedict.
"Gue dengar dari Asha, kondisi Ayu dan bayinya baik-baik aja, nggak ada masalah apapun, hanya saja, sekarang Ayu mudah lelah, makanya sejak tau kehamilannya, Ayu udah nggak bisa antar anak-anak ke sekolah, untung ada Kama yang antar jemput atau supir,"jawab Oscar.
"Ini nggak mengancam nyawa istri gue kan?"
"Sepertinya nggak, seperti yang gue bilang tadi tidak ada masalah atau komplikasi apapun,"
"Oke, gue minta nanti malam setelah Ayu tidur, persiapkan untuk pemerikasaan buat gue, gue nggak peduli biarpun itu dini hari, Lo pad
Paham maksud gue kan?"
Oscar mengangguk,
Usai membicarakan istrinya, Benedict membicarakan beberapa pekerjaan dengan sahabatnya.
__ADS_1