
Disisa hari ini Benedict menghabiskan waktunya berduaan bersama kekasihnya, tak bosannya lelaki berusia hampir tiga puluh tahun itu, menciumi dan bermanja-manja dengan Ayudia.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, lagi-lagi Rama menelponnya, menanyakan kapan ia berangkat, namun Benedict selalu mengelak, nanti dan nanti.
"Berangkat sekarang yuk, udah jam sore, nggak enak sama mas Rama, dari tadi kamu di telponin terus," ujar Ayudia bangkit dari pangkuan kekasihnya.
Benedict menghela nafas pasrah, "tapi kamu cium aku dulu yang lama,"pintanya.
Ayudia menunduk dan mencium pipi lelaki yang sedang duduk di sofa, "kok pipi doang, sini lah,"protesnya sambil menunjuk bibirnya, agar cepat akhirnya gadis itu mengecup bibir lelaki itu singkat, namun langsung ditahan olehnya, lagi-lagi mereka berhadapan dan saling ******* serta bertukar Saliva, dan lagi-lagi ada yang menusuk dibawah sana, Ayudia mulai sedikit paham apa itu,
Benedict menahan tengkuk gadisnya agar ciuman mereka semakin dalam, tak selesai sampai di situ, lelaki yang sudah sangat berhasrat itu, menggendong gadisnya menuju ranjang yang ada di lantai atas, tanpa melepas tautan keduanya.
Ia merebahkan gadisnya di atas ranjang dan menindihnya, sambil terus *******, ia melepas sendiri kemeja hitam yang ia kenakan, tak lupa celana jeans sialan yang sedari tadi membuat sesak di bagian bawahnya.
Benedict menciumi ceruk leher gadisnya, wangi sabun mandi miliknya, ******* Ayudia semakin membuat lelaki itu semakin gila, tanpa pikir panjang, ia melepaskan kaos kebesaran miliknya yang dikenakan oleh gadisnya.
Terlihat bagian penutup bagian atas gadisnya yang berwarna biru muda, membuatnya semakin penasaran dengan isinya, tak lupa ia memberikan tanda di sekitarnya, tak sabar ia meloloskan penutup itu, terpampang nyata, di depan matanya sesuatu yang menantangnya.
Ayudia hanya bisa pasrah terbuai dengan kekasihnya yang tampan itu, seakan ada capung yang menggelitik pusarnya saat lelaki itu mencumbuinya.
Karena sudah semakin sesak dengan bagian bawahnya, Benedict melepaskan kain terakhir yang menutupinya bebas lah sesuatu yang sedari tadi berdiri tegak.
Ayudia melotot kaget saat melihatnya, ia sampai mengedipkan matanya berkali-kali tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Benedict yang sudah tak tahan melepaskan kain yang menutupi bagian bawah gadisnya, namun sesuatu berwarna merah menodai dalaman berwarna biru muda itu, "sayang apa kamu sedang Menstruasi?"tanyanya kecewa.
Ayudia sejenak berpikir, "dari tanggalnya emang harusnya hari ini sih mas?" Ujarnya santai sekaligus lega.
Benedict memegangi kepalanya yang terasa pening, hasratnya yang sedang tinggi-tingginya malah tak bisa tersalurkan, ia frustrasi berat.
"Ay, aku mandi dulu ya, kamu pakai baju kamu lagi, maaf aku melewati batas,"ujarnya lesu namun tetap mencium kening gadisnya penuh kasih sayang.
Benedict segera turun ke bawah menuju kamar mandi, ia sepertinya harus menurunkan sendiri hasratnya.
__ADS_1
Sedang Ayudia tentu bernafas lega, ia bersyukur Menstruasinya datang disaat yang tepat, ia segera mengenakan kembali bajunya, tak lupa ia mengambil celana dan pembalut cadangan yang selalu ia bawa di tasnya.
Dalam perjalanan mengantar gadisnya, Benedict diam seribu bahasa, di dalam taksi online pesanannya.
Merasa ada yang janggal Ayudia angkat bicara, "mas mau diemin Ayu nih? Mas marah sama Ayu,"
Benedict yang sedang memandang ke jalanan yang dilewati, mengalihkan pandangannya ke arah gadisnya, "aku nggak diemin kamu, dan aku nggak mungkin marah sama kamu, hanya saja aku malas aja harus berpisah sama kamu, padahal belum ada dua puluh empat jam kita menjalin kasih," ujarnya sedih.
Ayudia menggenggam tangan besar lelakinya, "makanya kamu cepat selesaikan kerjaan kamu di sana lalu kamu bisa secepatnya ketemu aku lagi," ucapnya berusaha menenangkan.
"Kalo nggak, kamu ikut aku aja yuk,"
"Ya nggak bisa mas, adik-adik kan butuh aku, pokoknya aku tunggu kamu disini ya!"
Tak terasa taksi online memasuki jalanan gang rumah Ayudia, mobil berhenti, "pak bisa keluar sebentar nggak, saya ada perlu sama pacar saya, bapak bisa kunci kami dari luar, nanti saya tambahin uangnya," ucap Benedict pada supir, mau tak mau supir itu menuruti ucapan lelaki itu.
Setelah memastikan supir itu keluar, Benedict langsung ******* dan mencium gadisnya, bahkan Ayudia sudah duduk di pangkuannya, ia terus ******* hingga gadisnya menepuk bahunya, tanda agar lelaki itu melepaskan tautan keduanya,
"Iya mas, sekarang aku turun ya, kamu jaga kesehatan dan diri kamu, sampai ketemu lagi," ujarnya agar cepat, tak lupa Ayudia mencium kening lelaki itu lembut.
Benedict balas memeluknya erat, ia memberi kode kepada supir agar membuka kunci mobil itu, Ayudia segera keluar tak lupa melambaikan tangannya,
"Ke bandara pak,"perintahnya pada supir taksi online ya sudah siap dibalik kemudi.
Benedict menghubungi Rama, memberitahukan bahwa dirinya dalam perjalanan menuju bandara, mereka akan bertemu di sana.
Sesampainya di ruang tunggu VIP bandara itu, Rama, Oscar dan Alex sudah menunggu di sana, mereka akan mengikuti Benedict menuju NYC.
Jet pribadi milik lelaki itu lepas landas dari bandara pukul delapan malam, selama perjalanan mereka mengadakan meeting terkait laporan hasil bisnis masing-masing.
Di akhir meeting, Benedict meminta Alex untuk mengurus keperluan pernikahannya kelak jika lelaki itu kembali ke negara tropis itu, tentu saja mereka kaget dengan ucapan sahabatnya.
"Emang siapa calonnya kok, gue nggak tau?"Tanya Rama heran, seingatnya Benedict tidak dekat dengan siapapun.
__ADS_1
Pertanyaan Rama mewakili rasa penasaran kedua sahabatnya, "kenal kok Lo, dan gue minta Lo semua awasi dan jaga calon istri gue,"ujar Benedict datar.
"Iya, tapi siapa?"Tanya Alex penasaran,
"Ayudia, salah satu karyawan cafe Lo Rama," jawab Benedict dengan wajah berubah cerah ketika menyebutkan gadisnya.
Rama kaget mendengar pengakuan sahabatnya, sedang Alex dan Oscar saling pandang, "tunggu, Ayudia yang punya lesung pipi itu bukan si?" Sahut Oscar,
"Kok Lo kenal?"tanya Benedict heran.
"Ya kenal lah, waiters paling murah senyum dan ramah, Lo juga tau kan Lex?" Alex mengangguk, "cewek yang pernah dideketin Nando kan?"ujarnya.
"Apa Lo bilang? Terus apa sekarang Nando masih deketin Ayu?" Tanya Benedict mendadak kesal.
"Ya kan Nando jarang di Jakarta, mana sempat dia datang ke cafe, dan Rama juga waktu awal-awal Ayu mulai kerja kan sempet deketin kan? Eh keburu ketauan sama ceweknya," jelas Oscar tertawa.
"Jadi Lo pernah deketin Ayu?" Tanya Benedict melotot pada Rama.
"Itu dulu Ben, Lo yang kaku kalau sama cewek aja baru sebulan kenal Ayu, langsung suka kan sama dia, apalagi gue yang setiap saat ngeliat senyumnya dia, gila manis banget, apalagi lesung pipinya," ujar Rama membayangkan.
Rasanya ada sesuatu yang terbakar namun tak ada api di sana, " nggak usah Lo bayangin, brengsek, sekarang dia pacar gue,"ujar Benedict menggebrak meja di hadapannya.
Ketiga temannya tentu kaget, untuk pertama kalinya mereka melihat Benedict marah hanya karena hal sepele, "kalem Bro, itu dulu, sekarang kan Rama udah punya tunangan, jadi nggak mungkin dia merebut cewek lo," ujar Alex mencoba menenangkan sahabatnya.
"Sepulang dari US, kantor Lo pindah terserah mau dimana asal jangan di cafe tempat Ayudia kerja, gue nggak terima penolakan," ujarnya penuh penekanan pada Rama.
"Kalau gue pindah, siapa yang jagain Ayudia dari cowok-cowok yang naksir dia Ben, Lo nggak tau emang si Dino lagi gencar-gencarnya deketin Ayudia? Mau dipacari terus mau diajak nikah katanya, kemarin dia bahkan ngajuin kas bon buat modal ngelamar Ayudia,
"Kita balik ke Indonesia lagi," perintahnya kepada pilot, melalui telepon yang ada di pesawat, hal itu membuat ketiga sahabatnya melotot kaget,
"Gila Lo, nggak-nggak kita tetap ke US, gue bakal pastiin cewek Lo nggak ada yang deketin, percaya sama gue Ben," ucap Rama meyakinkan.
Akhirnya ia kembali memerintahkan pilot untuk meneruskan perjalannya.
__ADS_1