Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
seratus dua puluh


__ADS_3

Keesokan harinya Ayudia dan anak-anaknya mengunjungi kembali rumah Arini, tetapi menunggu Pradikta berangkat kerja terlebih dahulu.


Banyak yang dilakukan dua perempuan beda usia itu, mengurus Ayudia kecil, memasak untuk makan siang, membuat kue kering untuk Ayudia dan anak-anaknya bawa pulang, tak lupa membuat puding cokelat kesukaan wanita dua anak itu.


"Tante seneng deh, bisa melakukan banyak hal dengan kamu,"ujar Arini ketika keduanya sedang menikmati puding cokelat sambil mengawasi Ayudia kecil bermain bersama Aileen.


Sementara Ainsley sedang diajak oleh Irwan bermain Tenis di lapangan kompleks.


"Tapi besok Ayu nggak bisa kesini lagi Tante, soalnya anak-anak ingin mengunjungi rumah neneknya yang dikampung,"ucapnya memberi tau rencananya besok.


"Memangnya kamu rencananya mau berapa lama liburannya?"


"Belum tau Tante, kalau anak-anak sebenarnya minta sekolah disini, katanya pengin sekolah pakai seragam, kebetulan sebentar lagi mereka masuk SMP kan, tapi ya gitu, suami Ayu nggak mungkin ijinkan Ayu menetap disini,"


"Lalu bagaimana dengan keinginan anak-anak?"


"Kalau Ayu sih dukung keinginan mereka, ayahnya juga setuju, paling nanti kami bolak-balik jenguk anak-anak,"


"Pokoknya rumah ini selalu terbuka untuk kamu, Tante seneng kamu Dateng kesini,"


"Ayu juga seneng Tante, makasih banyak udah diajari masak,"


"Memangnya kamu jarang masak di Amerika?"


"Pernah masak, kalau sarapan paling,"


Keduanya mengobrol hingga jam makan siang tiba, Ainsley dan Irwan sudah kembali,


Mereka makan siang bersama, usai makan siang, Ayudia dan anak-anaknya ijin untuk pulang, tak lupa Arini membawakan kue kering yang tadi dibuatnya.


"Bun, Ai jadi kangen nenek, gara-gara lihat Oma Arini,"


"Gimana kalau pulang liburan dari desa kita mampir lagi ke rumah Oma Arini?"


Aileen mengangguk antusias.


"Ain juga mau Bun, Opa Irwan ajarin Ain tenis, seru banget, tapi Bun, bukannya mereka itu orang tua dari Pradikta yang diomongin Ayah kan? Tapi kok Ain nggak lihat Om Pradikta sih?"


"Bunda sama Oma Arini sengaja nunggu om Dikta berangkat kerja dulu, bunda nggak mau bikin kalian dalam masalah, tau sendiri kan ayah kalian kayak apa,"


"Iya sih, tapi Bun, om Dikta ganteng ya Bun, pantes Bunda bisa suka sama om Dikta,"celetuk Aileen,


"Sok tau kamu  leen, emang kamu pernah ketemu?"tanya Ainsley.


"Kan liat di foto wisuda, gagah gitu, Ai suka,"jawab Aileen polos.

__ADS_1


"Emang sama Ayah ganteng an  siapa?"tanya Ainsley.


"Ayah ganteng sih, cuman kelewat tegas dan kaku, kayaknya kalau om Dikta, orangnya lemah lembut, iya kan Bun?" Ayudia hanya tersenyum, karena wanita itu sedang menyetir.


"Kalau ayah denger bisa diamuk kamu Ai, Ayah kan takut bunda kembali sama om Dikta,"


"Bun emang kalau Ayah ngamuk serem ya?"tanya Aileen.


"Orang ngamuk ya serem Aileen, makanya kita jangan buat ayah ngamuk,"


"Iya Bun,"


Malam harinya, Benedict  melakukan panggilan video pada istrinya, ia mengatakan sangat merindukan wanita itu, ia juga bercerita tentang pekerjaannya dan menanyakan apa saja kegiatan yang anak dan istrinya lakukan.


Panggilan video berakhir setelah satu jam lamanya.


Keesokan paginya dengan membawa mobil sendiri, Ayudia dan anak-anaknya bertolak menuju rumah kayu milik mendiang Anna.


Namun sebelum sampai kesana, Ayudia mampir ke supermarket untuk membeli keperluan selama berada di kampung.


Tentu saja menggunakan kartu pemberian suaminya,


Memasuki jalan masuk desa, anak-anak membuka kaca jendela mobil, agar udara pedesaan khas negeri tropis ini bisa masuk.


"Mungkin mereka masih ingat, coba nanti sore Ai bisa main ke rumah mereka,"


Mobil mulai memasuki halaman rumah yang tak asing, di Sana sudah menunggu mang kos.


Setelah berbasa-basi menanyakan kabar, Ayudia dan anak-anaknya memasuki rumah kayu itu, ada beberapa furniture yang diganti juga ada beberapa bagian rumah yang diperbaiki.


Kamar masih ada tiga, hanya saja kamar milik mendiang Anna akan digunakan oleh Aileen, sedang yang dulunya kamar bayi, sudah beralih fungsi menjadi  kamar Ainsley.


Sebulan yang lalu, Ayudia menghubungi mang kos, untuk merenovasi juga mengganti perabotan yang sudah tua.


Ketiganya beristirahat di kamar masing-masing hingga tengah hari, mang kos dan istrinya datang membawakan makan siang untuk mereka.


Aileen yang baru keluar kamar mencium Aroma sambal terasi kesukaannya, hampir saja ia mencomot tempe goreng untuk dicocol ke sambal tersebut, namun Ainsley menepuk tangannya, "cuci muka dan tangan dulu Aileen,"


Gadis remaja itu memanyunkan bibirnya menuju kamar mandi.


Mereka memakan siang bersama di gazebo yang belum lama di buat oleh mang kos, tepat dipinggir kolam ikan.


Ibu dan kedua anak itu makan dengan lahap menu khas Sunda yang sangat mereka rindukan, sambal terasi, tempe, tahu ikan asin goreng, lalapan juga sayur asem.


"Pelan-pelan atuh makannya neng Ai,"mang kos mengingatkan.

__ADS_1


"Enak mang, Ai kangen banget makan makanan begini, di rumah ayah nggak pernah makan begini,"ujarnya sambil makan dengan lahap.


"Emang di rumah ayah makannya apa?"tanya istri mang kos.


"Yang jelas di sana nggak ada ikan asin sama sambal terasi, nasi aja, kalau kita nggak pergi ke kantor ayah, kita nggak bakal makan nasi,"sahut Ainsley yang tak kalah lahap.


"Ya udah sok habiskan, pokoknya Aden sama neng mau makan apa, tinggal bilang sama Ambu, nanti Ambu masakan,"ujar istri mang kos.


Kedua remaja itu mengangguk antusias.


"Wajah bule seleranya Sunda,"ucap Ayudia tertawa.


"Kan bunda yang ngajarin kami,"ujar Aileen


Keceriaan yang sudah lama tidak Ayudia lihat dari wajah anak-anaknya, hanya karena makanan sederhana.


Sore harinya, kedua remaja berwajah bule bersama dengan bundanya, berjalan kaki menuju rumah Mila.


Mila tentu langsung mengenali Aileen, karena hanya Aileen satu-satunya temannya yang berwajah bule, begitu juga dengan putri, mereka antusias bercerita tentang kehidupan masing-masing.


Karena waktu sudah mulai senja, Ayudia mengajak anak-anaknya kembali pulang.


Aileen menyuruh teman-temannya mengunjungi rumah neneknya besok untuk janjian main bersama.


Ainsley juga menitip pesan supaya Mila atau putri menyampaikan kepada teman-temannya agar menemuinya besok.


Malam hari sebelum tidur, Benedict melakukan panggilan video ke istrinya, seperti biasa lelaki itu merindukannya.


"Bun, anak-anak udah tidur?"tanya lelaki diseberang sana.


"Kamu kangen mereka?"tanya balik Ayudia.


"Aku kangen kamu Bun, aku pengin *****," jawab lelaki itu yang membuat Ayudia melotot kaget.


"Malu aku mas,"


"Kan hanya kita berdua Bun, makanya, tadi aku tanya anak-anak udah tidur belum?"


"Coba aku lihat sebentar,"


Ayudia menghilang dari layar, mungkin melihat anak-anaknya.


Tak lama wanita itu muncul kembali dengan penampilan, yang membuat Benedict menelan  ludah, jakunnya terlihat naik turun.


Ya keduanya melakukan panggilan video untuk memuaskan hasrat masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2