
Melihat raut kebingungan di wajah gadisnya, Benedict tiba-tiba mencium kening gadis yang duduk berdampingan dengannya di sofa panjang.
Ayudia kaget dengan tindakan itu, "ih mas Ben senengnya cium-cium mulu,"ujarnya memegangi keningnya.
"Karena aku ingin dan senang melakukannya," ujarnya tersenyum jahil.
"Kok jawabannya itu lagi sih? Jangan bikin Ayu bingung deh,"
"Masa kamu nggak ngerti sih Ay, emang kamu belum pernah Deket sama cowok ya?"
"Ya aku kan punya temen cowok banyak mas, di cafe juga tau kan, banyakan cowoknya dibanding ceweknya, terus temen sekolah tetangga juga,"
"Maksud aku bukan itu Ayudia,"
"Terus apa?"
"Maksud aku, kamu nggak pernah Deket atau menjalin hubungan spesial antara laki-laki dan perempuan,"
Ayudia berpikir sejenak, "oh maksud mas Ben pacar ya?" Benedict mengangguk. "Kalau itu mah emang sengaja Ayu nggak mau punya pacar mas," lanjutnya.
"Kenapa emang?"
"Nggak ada waktu buat ngurus hal kayak gitu, dari lulus SMA aku kerja buat mencukupi kebutuhan adik-adik aku, jadi aku sama sekali belum pernah pacaran, walau ada beberapa yang ngajak aku pacaran, tapi Ayu nggak mau," ungkapny.
Mendengar hal itu Benedict tertawa senang, ia bagaikan memenangkan tender milyaran dolar AS ketika mengetahui ialah lelaki pertama yang dekat dengan gadisnya.
"Kok mas Ben malah ketawa, kamu ngeledek aku yang jomblo ya!" Ucapnya kesal.
Benedict berpikir, pantas saja gadisnya tidak peka dalam urusan menjalin hubungan meski berkali-kali ia memberikan kode, "nggak Ay, aku nggak bermaksud mengejek kamu, aku lagi seneng aja, mendengar ucapan kamu,"
"Apa yang buat mas Ben seneng?"
"Seneng kalau kamu masih jomblo, seneng karena laki-laki dewasa yang peluk kamu pertama kali itu saya, seneng karena saya lelaki pertama yang cium kening dan pipi kamu, seneng karena saya lelaki pertama yang tidur seranjang sama kamu,"
Ayudia menaikan alisnya, "ya kalau peluk sama cium bukan pertama kalinya sih?"
"Maksud kamu ada gitu selain aku, apa mungkin ayah kamu atau saudara kamu?"
"Kurang lebih begitulah,"jawab Ayudia ambigu, "terus maksud kamu, soal status jomblo aku itu, apa hubungannya sama kamu?"
"Masih nggak ngerti juga ya, Ayudia sayang jadi maksudnya adalah aku suka, sayang dan cinta sama kamu,"
Ayudia kaget mendengar ucapan lelaki tampan itu, ia bahkan tak percaya mendapatkan pernyataan cinta barusan.
"Kok kamu diam, nggak mau menanggapi?"
"Nggak percaya aja, kok bisa sih? Ayu kan nggak cantik dan kaya, beda loh sama Ica yang pernah jalan sama mas Ben, apa alasannya gitu,"
__ADS_1
"Emang jatuh cinta harus ada alasannya ya? Pokoknya ini pertama kalinya aku merasakan perasaan berdebar-debar saat dekat dengan lawan jenis,"
Ayudia mengernyit bingung, "emang dulu sama mantan-mantan nggak berdebar-debar?"
"Nggak, dan aku minta nggak usah nanya berapa banyak mantan aku, nanti kamu nggak mau terima lagi pernyataan cinta aku,"
"Apaan sih mas, siapa juga yang pengen tau mantan kamu berapa banyak, kalau di pikir-pikir wajar juga sih kamu banyak pacar, kamu kan ganteng, tinggi dan kaya udah hal umum orang kayak kamu pacarnya banyak,"
Untuk pertama kalinya Benedict menyesal pernah dekat dengan beberapa wanita. "Ya nggak gitu juga Ay, udah nggak usah ngorek masa lalu aku, jadi gimana kamu mau menjalin hubungan sama aku?"
"Bukannya kita emang udah menjalin hubungan selama ini ya mas?"
"Maksud aku bukan hubungan pertemanan semacam itu ay, maksudnya adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan secara spesial,"
"Oh pacaran maksudnya?"
"Ya semacam itulah,"
"Kalau Ayu nggak mau gimana mas?"
"Kenapa mesti nggak mau? Apa alasannya?" Tanyanya dingin.
Merasakan suasana berubah Ayudia menjadi tak enak hati, "Mas kayaknya, Ayu pulang sekarang aja deh," ucapnya bangkit saat melihat raut wajah dingin lelaki itu,
Benedict menahan tangan gadis itu dan menariknya duduk di pangkuannya, hal itu membuat Ayudia panik dan mencoba bangkit dari pangkuan lelaki itu, namun Benedict malah memeluknya erat dan menyandarkan dahinya di ceruk leher gadisnya.
"Ya udah Ayu nggak pergi, tapi lepasin, Ayu bisa duduk sendiri,"
"Nggak entar kamu ninggalin aku,"ujarnya semakin erat bahkan menciumi ceruk leher yang memiliki aroma harum.
"Ih geli, jangan dicium-cium," keluh Ayudia kegelian.
Benedict tak peduli dengan keluhan gadisnya, ia bahkan semakin semangat menciumi ceruk leher dan bahu yang sedikit terbuka karena kaos yang dipakai gadisnya sedikit kebesaran.
Karena perbuatan lelaki itu, ayu mendesah kegelian, hal itu semakin membangkitkan gairah yang sedari semalam di tahan oleh Benedict.
Ayudia kaget ketika ada sesuatu yang keras menusuk bagian tubuh bawahnya, ia merasa tak nyaman, "ini yang nusuk apa ya mas?"tanyanya polos.
Bukannya menjawab pertanyaan, Benedict malah mengganti posisi gadis itu agar berhadapan dengannya yang masih ada dalam pangkuannya, ia menatap gadisnya dengan tatapan sayu,
Ayudia yang ditatap begitu menjadi semakin grogi, apalagi posisi keduanya sangatlah intim, ia berusaha bangkit, namun tertahan oleh lengan kekar yang melilitnya, sehingga ia hanya menggoyangkan bagian bawah tubuhnya supaya bisa terlepas dari lelaki itu.
Karena tindakan gadisnya, Benedict semakin frustasi, akal dan logikanya hampir terkalahkan oleh hasrat yang sedang di puncaknya, ia nekad mencium bahkan ******* gadis yang belum juga memberikan jawaban atas pernyataan cintanya.
Lelaki itu terus ******* dan sedikit menggigit bibir bawah gadisnya agar bisa memasukan lidahnya, Ayudia yang awalnya hanya diam kemudian membalas ciuman itu walau masih kaku.
Benedict merebahkan gadisnya dan menindihnya di sofa tanpa melepas tautan bibir mereka, keduanya saling ******* dan bertukar Saliva, sampai akhirnya suara dering ponsel menghentikan aksi mereka, sontak Ayudia mendorong kuat lelaki diatasnya, sehingga lelaki itu terdorong hingga terlepas tautan bibir keduanya.
__ADS_1
Ayudia menghirup udara sebanyak-banyaknya, sedangkan Benedict mengambil ponselnya yang ada di meja, tertera di sana nama Rama, rasanya ia ingin menghajar salah satu sahabatnya yang menghancurkan kesenangannya, "ada apan si, ngubungin gue, kalau nggak penting abis Lo," bentaknya.
"....."
"Iya entar gue balik, ribet Lo, sekali lagi Lo ganggu gue awas ya!"ancamnya,
Melihat lelaki itu membentak orang yang menelponnya, membuat Ayudia sedikit takut.
Menyadari sikapnya ada yang salah, Benedict mengalihkan pandangannya pada gadis ya sedang duduk tak jauh darinya, "maaf tadi Rama telpon nanyain kapan aku berangkat,"
Ayudia hanya berucap "Oh,"
"Jadi kamu mau kan menjalani hubungan sama aku, kita LDR hanya sementara, setelahnya aku akan tinggal disini terus sama kamu,"
Ayudia yang merasa rugi sudah memberikan ciuman pertamanya pada lelaki yang bukan pasangannya, memutuskan untuk mengiyakan pernyataan cinta dari lelaki itu, walau dalam hatinya ada keraguan, karena bagaimanapun, dihatinya belum ada rasa cinta untuk lelaki itu, mungkin hanya perasaan suka berdekatan dengan orang tampan atau sekedar nyaman.
Mendengar pernyataan cintanya di terima Benedict tersenyum lebar, ia bahkan kembali mencium bibir gadis yang sekarang resmi menjadi pasangannya.
"Ih kok dicium lagi sih,"protes Ayudia mendorong lelaki yang baru saja menjadi kekasihnya.
"Karena aku seneng banget bisa sama kamu, aku jadi males berangkat, pengen sama kamu terus," ucapnya manja,
"Ya udah kita bubar aja, abis gara-gara aku, kamu jadi malas,"
Benedict yang sedang bersandar pada bahu gadisnya seketika bangun mendengar ucapan itu, "belum ada lima menit, kamu udah mau bubar aja, enak aja sekali aku dapat, selamanya aku nggak akan lepaskan kamu,"ujarnya dengan tatapan tajam.
"Lagian kamu bukannya semangat malah jadi malas, kamu kan ke sana buat kerja kan? Cari uang, terus kalau kamu nggak kerja, anak istri kamu mau di kasih makan apa?"
"Emang kamu mau nikah sama aku?"
"Bukan itu maksudnya mas Ben, itu cuman perumpamaan aja, kamu mesti cari uang yang banyak untuk mensejahterakan anak dan istri kamu di masa depan,"
"Kalau masalah uang kamu nggak usah khawatir, biarpun aku tidur seharian, uang aku akan bertambah terus di rekening aku, jadi di masa depan kamu nggak bakal kekurangan uang,"
Ayudia memutar bola matanya malas, "mana ada orang tidur saldo rekeningnya nambah, ngarang kamu, udah mending kamu siap-siap buat berangkat ke bandara, nanti kamu ketinggalan pesawat,"
"Pesawatnya nungguin aku, jadi nggak usah khawatir aku ketinggalan pesawat, kan aku bilang, aku bisa berangkat kapan aja,"
"Terserah kamu mas, aku mau pulang, aku mesti ngurus adik-adik aku, kayaknya uang yang aku tinggalin kemarin pasti kurang,"
"Ayudia, please sampai sore aja sama aku di sini, kan nanti kita bakal nggak ketemu lama, aku mau sepuas-puasnya bareng kamu,"
"Tapi mas,"
"Oke kalau kamu khawatir, aku bisa pesankan makanan buat adik-adik kamu gimana," ujarnya mengambil ponselnya. "Adik kamu sukanya makan apa?"Tanyanya,q1
"Ayam bakar," jawab Ayudia singkat.
__ADS_1
Benedict mengutak-atik ponselnya, ia memesan Ayam bakar terdekat dari rumah kekasih barunya itu.