
Perempuan dua anak itu membuka matanya, ia melihat sekeliling dimana ia terbangun saat ini, terasa asing baginya.
Seperti biasa selalu ada tangan besar yang sedang memeluknya,
Ia menepuk punggung tangan itu pelan, "mas bangun, kita dimana sekarang?"tanyanya.
"Kita dikamar sayang, tidur lagi yuk, aku masih ngantuk,"jawab lelaki yang masih memejamkan matanya.
"Tapi ini dimana sih, kayaknya belum pernah kesini deh,"
"Ini dikamar kita sayang,"
"Iya tau, tapi ini dimana?"
Benedict membalikan tubuh wanita itu menjadi tengkurap di atas tubuh berototnya, lalu kedua tangan besarnya memeluk tubuh wanitanya.
"Ini dikamar kita di mansion,"ujarnya sambil menatap penuh kasih sayang.
"Jadi kita udah sampai mansion? Berarti aku bisa ketemu anak-anak dong, asik... Aku kangen banget sama mereka, jadi awas aku mau bangun, aku mau ketemu mereka," ucap Ayudia berusaha bangun dari tubuh berotot itu.
"Besok aja sayang, sekarang kamu sama aku,"
"Dari kemarin kamu sama aku terus, emang nggak bosan apa?"
"Kalau sama kamu sampai kapanpun aku nggak akan bosan, malah makin sayang sama kamu, dan nggak mau jauh dari kamu,"
"Palingan ujungnya begituan lagi, dasar mesum,"
"Sayang aku mesum sama istri aku sendiri masa nggak boleh,"
"Istri di atas kertas maksudnya,"
"Kamu tetap istri aku sayang,"
"Karep mu mas, nggak urus, awas aku mau bangun, pengin mandi, gerah,"
"Kalau gitu kita mandi bersama,"ujar Benedict sambil menggendong wanita itu menuju kamar mandi.
__ADS_1
Bermenit-menit kemudian, Ayudia mengelus pinggangnya yang pegal semua ini gara-gara lelaki mesum yang sekarang sedang berjalan kearahnya membawa nampan berisi makanan.
"Kenapa bibir kamu manyun terus? Mau aku cium?"tanyanya menggoda istrinya.
"Kamu tuh, nggak ada capeknya apa? Nggak ada kegiatan lain selain gituan,"jawab Ayudia kesal.
Benedict duduk di meja depan sofa yang diduduki istrinya, "sayang kamu bayangin kalau jadi aku, selama empat tahun lebih aku puasa nggak begituan, ya sekarang kan ada kamu, tentu aku nggak akan sia-siakan lah, dan aku sebagai lelaki dewasa yang sehat, aku bisa setia loh sama kamu,"
"Iya terima kasih bapaknya Ainsley dan Aileen, puas Mr. Wright,"
"Belum sayang, nanti lagi, dan sekarang kita isi tenaga dulu, biar nggak lemas nanti,"ucap lelaki itu menyodorkan nampan berisi makanan.
"Kok dikasih aku sih!"protes wanita itu.
"Sayang, kamu lupa kalau kita lagi berdua, kamu wajib menyuapi aku,"
Ayudia menghela nafas, ia harus benar-benar sabar menghadapi lelaki yang manjanya nggak ketulungan,
"Tapi mas, kenapa nggak ada nasi?"tanya melihat hidangan yang disajikan,
"Sayang, kamu harus terbiasa makanan seperti ini mulai sekarang,"
"Apa kamu lupa, mulai sekarang kamu yang ikuti gaya hidup aku, sudah cukup delapan tahun kita bersama, aku ikuti semua gaya kamu,"
"Lah, kan aku nggak minta, kamu sendiri yang ikuti aku,"
"Sayang, itu karena aku mencintai kamu,"
"Jadi ceritanya kamu lagi balas dendam?"
"Terserah kamu menyebut aku apa yang jelas sekarang kita makan, oke!"
Dengan terpaksa Ayudia memakan salah satu makanan yang berasal dari Italia,
Tidak sampai lima menit, dua piring pasta habis oleh keduanya.
Benedict membereskan piring itu dan membawanya keluar dari kamar.
__ADS_1
Setelahnya lelaki itu bersandar ke bahu istrinya sambil mengaktifkan laptopnya.
"Mas, kamu serius mau nikahin aku lagi?"tanya wanita itu sambil mengelus kepala yang bersandar padanya.
"Tentu saja sayang, memang aku kelihatan kurang serius?"
"Bukan gitu si, aku pikir dulu kamu nggak akan semudah itu menalak aku, kan kamu selalu bilang begini, Ayudia kamu milik aku, aku tidak akan melepaskan kamu apapun yang terjadi,"
"Itu karena kamu berbulan-bulan koma, dan hanya dengar suara Dikta kamu bisa bereaksi, kamu tau saat itu hati aku sakit sekali, rasanya sesak dan mau mati saja,"
"Kamu kenapa sih setiap aku abis ketemu Dikta, kamu langsung kasar sama aku, katanya cinta, kok nyakitin,"
"Aku cemburu Ayudia sayang, aku tau saat itu kamu masih sangat mencintai Dikta, bahkan saat kamu tidur kamu menyebut namanya, sambil menangis, aku kayak udah nggak ada harga dirinya tau,"
"Tapikan dari awal aku selalu memilih kembali ke kamu kan? Aku masih bertahan sama kamu hingga sekarang, walau kamu udah menalak aku secara agama, bukankah aku bisa saja menandatangani surat cerai itu lalu kita benar-benar berpisah secara resmi, kalau seandainya kita benar-benar bercerai, menurut kamu apa yang akan terjadi?"
"Aku hancurlah, apalagi sampai kamu benar-benar kembali sama Dikta, aku nggak tau mesti ngapain lagi,"
"Bokis Lo,"
Benedict meletakan laptopnya di meja, ia duduk menghadap istrinya, "aku serius, kamu tau kan semua harta aku udah aku alihkan atas nama kamu dan anak-anak, sekarang kamu dan anak-anak yang kaya, aku nggak punya apa-apa,"
"Kamu jadi laki-laki kok bodo bener ya mas, misal aku jahat, bisa aja kan, semua harta kamu, aku kuasai dan aku bisa bersenang-senang dengan lelaki lain,"
"Tapi kamu nggak kayak gitu, seorang Ayudia bukan perempuan yang serakah, itu yang membuat aku semakin mencintai kamu,"
"Aku kan dasarnya orang miskin mas, yang dulunya buat makan aja bingung, terus aku dikasih rejeki yang luar biasa banyak, aku bingung harus ngapain, dari dulu aku berpikir, asal aku sama adik-adik bisa makan setiap hari, mereka bisa sekolah, kebutuhan mereka tercukupi dan bisa bayar listrik sebulan sekali, itu aku udah bersyukur banget, baju aku sama adik-adik juga banyakan di kasih orang, kalau punya baju baru cuman pas lebaran doang, itupun beli pas malam takbiran ada pasar kaget yang jual baju obral,"
"Ya mungkin ini hadiah, karena kamu sabar dalam menghadapi ujian dulu,"
"Aku juga mikir gitu, aku kaget aja, dan bingung mesti ngapain, soalnya ini sangat berlebihan,"
"Nikmati aja sayang, ini semua hasil kerja keras suami kamu, kamu tinggal menikmati,"
Ayudia memeluk lelaki dihadapannya dan berucap, "terima kasih banyak ya mas, kamu sudah hadir dalam hidupku, aku bahagia bisa kenal kamu, aku bahagia karena punya anak kembar bule, aku bahagia karena udah nggak mikirin tagihan listrik, aku bahagia nggak mikirin besok pinjam uang ke siapa buat uang jajan adik-adik, terima kasih banyak karena aku dan adik-adik udah nggak kekurangan,"
Benedict membalas pelukan itu erat, "sama-sama sayang, aku juga berterima kasih karena kamu sudah hadir mengisi kekosongan di diri aku, hidup aku lebih berwarna sejak mengenal kamu, aku merasa menjadi lelaki yang lengkap, kamu buat aku jadi suami sekaligus ayah dari anak-anak yang kamu lahir kan, aku mencintaimu Ayudia putri,"
__ADS_1
Ayudia tersenyum memperlihatkan lesung pipinya menanggapi ucapan lelaki itu.