
PLEASE yang dibawah umur skip disini
Entah apa yang ada dipikiran Ayudia, bukannya benar-benar mengakhiri hubungannya dengan Benedict, ia malah kembali padanya, apa nanti ia akan menyesal? Entahlah, tak ada yang tau kedepannya.
Setelah mengeluarkan unek-uneknya, Ayudia merasa lega namun sebenarnya ia bimbang, ia bingung dengan dirinya sendiri, kenapa dengan mudah malah menerima kembali lelaki seperti Benedict.
Tentu salah satu sifatnya yang terkadang orang yang berniat buruk memanfaatkannya, sifat nggak tegaan, nggak enakan yang terkadang membuatnya susah sendiri di suatu hari nanti.
Pernah rekan kerjanya sebelum kerja di cafe meminjam uang padanya, dengan alasan cukup masuk akal menurutnya, untuk mengirimi ibu rekannya yang sedang sakit, namun ternyata, rekannya malah menggunakan uang itu untuk berfoya-foya padahal Ayudia sedang butuh uang untuk salah adiknya yang saat itu sedang sakit.
Ya seperti semalam, ia mendengar percakapan antara Benedict dan sekretarisnya, tentang kondisi perusahaan di sana, sekretarisnya memintanya untuk segera kembali, karena ada beberapa proyek yang sedikit bermasalah, jika tidak maka akan banyak kerugian yang diderita perusahaan itu dan berefek pada banyak orang.
Belum lagi melihat wajah Benedict yang tertunduk lesu saat Ayudia mengeluarkan unek-uneknya, sungguh ia tak tega, karena alasan itulah ia menerima kembali lelaki itu.
Sebelum mereka tidur bersama semalam, tak hentinya Benedict meminta maaf dan berterima kasih pada gadisnya.
Benedict terbangun ketika matahari sudah sepenggal naik, ia meraba sisi sebelahnya, dingin, ia bangkit mencari dimana gadisnya, ia panik, bahkan berlari menuruni tangga.
Ia mengambil ponselnya yang masih ada di meja didepan sofa, ia menelpon gadisnya, namun tidak diangkat, hal itu membuatnya semakin panik, ia bergegas mandi secepat mungkin.
Benedict melilitkan handuk navy di pinggangnya, namun alangkah terkejutnya ia mendapati, gadisnya baru saja masuk ke unit apartemennya, "loh mas, udah bangun? Udah mandi segala mau kemana?" Tanyanya bingung.
Lelaki itu langsung memeluk gadisnya erat, ia menciumi puncak kepala itu, "jangan dicium, aku bau bawang abis masak, ini aku dari bawah beli buah, tadi pagi pas ke pasar aku lupa nggak beli,"jelasnya.
"Kamu masak?"tanyanya bingung.
"Tuh," tunjuknya pada panci atas kompor dan tudung saji di atas meja,
"Aku takut kamu ninggalin aku,"
"Udah lepas dulu pelukan kamu, aku mau mandi dulu, gerah,"ujarnya tak nyaman.
__ADS_1
Benedict terpaksa melepaskan pelukan itu, "kamu pakai baju dulu sana, aku mandi dulu,"ujar Ayudia mendorong lelaki itu.
Setelah mencuci buah, Ayudia meniriskan nya di keranjang, ia bergegas mandi, namun setelah ia selesai mandi, ia baru sadar jika dirinya lupa membawa baju ganti, ia memanggil Benedict, namun tidak ada tanggapan dari lelaki itu.
Terpaksa Ayudia hanya melilitkan handuk yang menutupi dada hingga setengah pahanya, juga handuk kecil yang melilit kepalanya.
Ia menaiki tangga, hendak mengambil baju yang memang sudah disediakan oleh kekasihnya itu, "pantes di panggil nggak menyahut, nggak taunya lagi telponan," gumamnya pelan.
Ayudia berjalan pelan, berharap lelaki yang sedang berdiri menghadap tembok sambil memegangi ponsel di telinganya tidak menyadari kehadirannya yang hanya memakai selembar handuk ditubuhnya.
Ia membuka lemari hati-hati agar tidak menimbulkan suara, namun, "ay, kamu sengaja menggoda aku?"ujar Benedict yang melihat penampilan gadisnya saat ini.
"Nggak kok, tadi aku lupa ambil baju dulu, terus panggil kamu, tapi nggak ada respon, nggak taunya kamu lagi telponan,"jelasnya malu.
Benedict mendekati kekasihnya dan memeluknya dari belakang, ia menciumi pundak gadisnya dan menghirup aroma sabun mandi miliknya namun entah mengapa aromanya sedikit berbeda jika Ayudia yang memakainya.
"Kamu wangi banget ay,"ujarnya dengan suara beratnya.
Namun Benedict tak mengindahkan larangan itu, ia terus mengendus pundak mulus itu hingga ke rahang gadisnya, ada suara ******* yang terdengar.
Benedict mengembalikan tubuh kekasihnya dan langsung mencium mulut yang beraroma pasta gigi miliknya, ia menyesap memasukan lidahnya kedalam mulut gadisnya, bagai gayung bersambut, Ayudia membalas ciuman panas itu.
Lelaki itu menggendong gadisnya bak koala tanpa melepas tautan bibir keduanya, Benedict merebahkan tubuh gadisnya dengan hati-hati di ranjang.
Ia terus ******* bibir pink itu, tak sampai di situ, Benedict menciumi leher mulus gadisnya, hal itu semakin membuat Ayudia terbuai.
Handuk navy yang dikenakan gadis itu juga sudah melonggar memperlihatkan belahan atas gadis itu, Benedict terus menciuminya.
Sesuatu yang mencuat dibalik handuk, membuat Benedict gelap mata.
Ayudia yang sudah terbuai hanya bisa mendesah pasrah.
__ADS_1
Ia sudah pernah merasakannya dulu, saat ia baru akan menjalin hubungan dengan lelaki ini, namun entah mengapa saat ini rasanya berbeda.
Benedict membuka handuk itu, memperlihatkan perut rata kekasihnya, dan bagian bawah yang sedikit ditumbuhi rambut halus.
Ia terus menciumi tubuh itu, tubuh yang sepertinya akan membuatnya semakin gila.
Ada sesuatu yang menggembung dibalik celana training warna abu yang dipakainya bukan balon tentunya.
Ia merasa sesak, ia butuh melepasnya, namun ia mencium bibir kekasihnya terlebih dahulu, ia membisikan kata-kata, entah apa itu, tapi hanya denganĀ anggukan dari kekasihnya, ia tersenyum bahagia.
Tak ada lagi kesempatan untuknya lari kali ini, Ayudia menyadari hal itu, mungkin ia akan menyesalinya kelak, namun apa daya sepertinya rencana masa depannya akan berubah setelah ini.
Gadis itu terbuai dengan sentuhan lembut lelaki di atasnya, ia memejamkan mata, saat Benedict melepaskan kain penutup pusat tubuhnya.
Lagi dan lagi Benedict ******* bibir gadis dibawahnya, ia kembali membisikan kata-kata yang membuat gadisnya mengelus pundak kekarnya.
Sekali lagi Benedict meminta persetujuan dari gadisnya, untuk memulai penyatuan mereka.
Ayudia menanggapinya hanya dengan mengedipkan matanya beberapa kali, Benedict mencobanya, ia berusaha perlahan-lahan, namun sepertinya ini sangat sulit untuk mereka yang baru pertama kali melakukannya.
Peluh membasahi tubuh keduanya, hawa yang dikeluarkan oleh pendingin ruangan sepertinya tidak berpengaruh untuk keduanya.
Akhirnya setelah beberapa kali mencoba, Benedict berhasil menembusnya, ada air mata yang mengalir dari sudut mata gadisnya.
Ayudia menggigit bibirnya dan memejamkan mata saat lelaki itu berhasil menembus pertahanannya, rasanya ada sesuatu yang terbelah, sakit, perih, dan mengganjal.
Benedict mencium kening dan kedua mata wanitanya, serta kembali membisikan kata-kata entah apa itu.
Saat wanitanya sudah nyaman, Benedict mulai menghujam nya lembut, namun selanjutnya lelaki itu benar-benar hilang kendali, sepertinya hawa nafsunya lebih dominan dibandingkan logikanya, padahal beberapa yang lalu ia meminta maaf kepada wanitanya karena pernah berbuat kasar.
Ayudia yang menerima hujaman itu, hanya bisa mendesah dan mencengkram kain yang ada disekitarnya.
__ADS_1
Merasa dirinya akan menuju puncak, Benedict sengaja memperdalamnya hingga sesuatu yang tersembur hangat memenuhi rahim wanita yang ia cintai, dalam hati ia berharap kelak benihnya akan menjadikan Ayudia tidak bisa lari darinya.