Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
enam puluh tiga


__ADS_3

Setelah kegiatan panasnya berlanjut di kamar mandi, Benedict menuju walk in closet untuk mengenakan pakaiannya, tak lupa ia mengambilkan baju yang akan dikenakan oleh istrinya.


Benedict keluar dengan penampilan simpel, kaos polo putih dengan celana Chino berwarna khaki, penampilannya terlihat segar dengan aura cerah yang terpancar dari wajahnya.


Ia membantu istrinya mengenakan pakaian yang tadi diambilnya.


Lelaki itu duduk berdampingan dengan istrinya di sofa, menghadap balkon yang terdapat kolam renang di sana.


Hening sesaat namun akhirnya Ayudia angkat bicara, "kok kayak balkon yang ada di penthouse mas?"tanyanya membuka obrolan.


"Apa kamu kurang suka?"tanya Benedict balik.


"Nggak kok, Ayu suka,"jawabnya.


"Apa kamu lapar?"tanyanya lagi.


"Sedikit, tapi nanti saja, boleh kita bicara dulu?"lelaki itu mengangguk.


"Apa kamu masih mencintai Ayu, mas?"tanyanya sedikit ragu.


"Kenapa bertanya seperti itu? Apa yang aku lakukan ke kamu selama ini masih terlihat kurang untuk meyakinkan kamu?"Tanyanya balik.


"Kamu tinggal jawab, kenapa malah bertanya balik?"


Benedict menatap istrinya dalam, sambil mencium tangan istrinya, dan menaruh tangan itu di pipinya, lalu menatapnya, "apa kamu bisa lihat tatapan aku, hanya pada kamu? Apa terlihat ada kebohongan di mataku?"ucapnya.


"Tapi kenapa kamu malah bertunangan dengan wanita lain? Apa kamu juga menatapnya seperti ini? Apa kamu juga mencium dia? Apa malah kamu sudah tidur dengannya?"tanya wanita itu bertubi-tubi.


Masih dengan tatapan dalamnya, Benedict berkata, "Ay, aku udah pernah jelasin kalau kamu lupa,"

__ADS_1


"Apa orang kaya selalu melakukan itu? Aku jadi sedikit menyesal berhubungan dengan orang kaya,"ungkap Ayudia kesal.


Benedict mengalihkan pandangannya melihat kolam kebiruan yang ada diluar sana, "oke yang itu aku salah besar, dengan bodohnya aku mengikuti permintaan uncle, padahal meskipun perusahaan merugi, itu tidak berpengaruh bagi aku, saat itu aku terpikirkan jika masalah itu tidak diselesaikan, maka dari pihak terkait akan menjatuhkan sanksi pada perusahaan dan mungkin para karyawan yang akan terkena dampaknya, maaf Ay, bukannya aku meminta pendapat kamu, aku malah bertindak sendiri, tapi kamu nggak usah khawatir, saat tau kamu ninggalin aku, aku langsung putuskan pertunangan itu,"jelasnya panjang lebar.


"Itu terserah apa yang kamu lakukan, yang aku tanya, apa kamu menatap wanita itu seperti kamu menatap aku, atau kamu menciumnya atau bahkan sudah tidur dengannya?"


Benedict hendak berbicara, namun mulutnya ditutupi oleh tangan Ayudia, "aku belum selesai, jadi biarkan aku mengungkapkan apa yang ada di hati aku,"


Ayudia itu menghela nafas, sambil mengelus perut besarnya, yang terkadang mulai terasa melilit, "kamu memperlakukan aku, seolah aku ini peliharaan kamu, yang hanya menempati sangkar emas di sudut istana milik kamu, kamu datang ke aku, saat kamu memberi makan dan mengajak berbicara, bahkan anjing masih bisa dibawa keluar untuk sekedar jalan-jalan, tidak seperti aku yang hanya berdiam menunggu kedatangan tuannya,"


"Sepanjang aku hidup, apalagi saat kedua orang tua aku sudah berpulang, aku terbiasa terbang bebas kesana kemari mencari nafkah untuk adik-adik aku, meskipun aku hanya menghasilkan uang untuk kami menyambung hidup dan melanjutkan sekolah, tapi saat itu walau lelah, aku sangat bahagia, bukannya aku tidak bersyukur karena mendapatkan suami seperti kamu, tapi entah mengapa hidup aku justru tidak tenang, apalagi setelah kamu mengkhianati aku, bukankah hal itu juga yang kamu benci? Bagaimana dengan aku? Apa karena aku hanya perempuan miskin makanya kamu semudah itu mengkhianati aku?"


Ayudia menghapus air mata yang mulai mengalir dari sudut matanya, "apa itu balasan kamu, karena aku masih belum bisa mencintai kamu?"


"Kalau memang kamu ingin mengakhiri hubungan kita setidaknya jangan khianati aku, bukankah kamu tau, aku hanya punya kamu di dunia ini?"


Air mata itu tak berhenti mengalir, meskipun akhirnya, hatinya lega setelah mengungkapkannya langsung pada suaminya.


Sedari tadi Benedict menunduk mendengarkan semua ucapan istrinya, meskipun terkadang ia menggeleng jika ucapan istrinya tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan.


Hidung mancung lelaki itu memerah, matanya sedari tadi berkaca-kaca,


Kembali hening, hanya Isak tangis yang terdengar, itu dari perempuan disebelahnya.


Rasanya Benedict ingin memeluk tubuh itu, ia ingin menenangkannya, namun ia tak berani, menatap wajah terluka istrinya saja, nyalinya sudah ciut, ia merasa menjadi pecundang.


Benedict teringat perkataan dari Dikta berbulan-bulan yang lalu, lelaki itu mengatakan akan menerima Ayudia, apapun keadaannya bahkan Dikta bilang akan menerima anak-anaknya kelak.


Membayangkan hal itu, membuat Benedict pusing sendiri, bagaimana jika Ayudia kembali pada cinta pertamanya? Apa yang akan ia lakukan?

__ADS_1


Bagaimanapun caranya, Ayudia tak boleh pergi darinya, apapun akan ia lakukan untuk menahan wanita itu disisinya.


Setelah mengumpulkan keberaniannya, Benedict menoleh lalu menghadap ke istrinya, dengan tatapan dalam, ia memegang kedua pipi wanita itu, ia menghapus air mata yang keluar dari mata indah itu, lagi-lagi ia membuat Ayudia menangis.


Benedict mencium kening istrinya, seolah ia ingin memberitahukan bahwa ia menyayangi wanita ini.


"Ay, taukah kamu, saat pertama kali kita berbaring bersama, ada sesuatu yang mengusik hati aku pertama kalinya, perasaan ingin memiliki kamu seutuhnya, saat itu aku belum terlalu sadar apa itu, sampai kita bertemu lagi, sisi lain diriku, memberitahukan bahwa kamulah takdir aku, kamu tempat aku pulang,"


Benedict kembali mencium kening itu, "sejak saat itu, aku tidak pernah berhubungan dengan wanita lain, kalau kamu mau tau apakah aku pernah melakukan hal jauh dengan wanita lain setelah bertemu kamu, jawabannya tidak sama sekali,"


"Mungkin kamu pernah dengar aku berkata mesra kepada wanita lain ditelpon malam itu, tapi jujur itu hanya kata-kata saja, faktanya setiap aku bertemu wanita itu, aku selalu bersama asisten aku, aku tidak pernah sekalipun hanya berdua dengan wanita itu, wanita itu hanya menyukai apa yang aku punya,"


"Aku memutuskan pertunangannya sepihak, tentu hal itu membuat berbagai pihak marah, tapi aku tidak peduli, aku tau mereka hanya menginginkan uang dan kemampuan aku saja, makanya aku memberikan kompensasi cukup besar, agar mereka menyetujui pembatalan pertunangan itu, juga untuk menutupi kejahatan dari ayah dari wanita itu,"


"Apa yang dilakukannya sehingga kamu sampai repot seperti itu?" Tanyanya menyela ucapan suaminya.


Benedict menghela nafas, "salah satu dewan direksi, menggelapkan pajak cukup besar, bukan hanya satu orang, mereka bekerja sama dalam melakukannya, saat aku berada disini, bukan hanya itu, ada beberapa pelanggaran kontrak kerja dengan pemerintah setempat, makanya aku sempat tidak menghubungi kamu saat kita baru bersama,"


"Bukankah ada paman dan sepupu kamu?"


"Uncle dan George kurang berkuasa saat itu, paman yang sakit dan George yang masih belum mampu mengelola perusahaan, memudahkan mereka menyelewengkan dana perusahan,"


"Lalu apa yang sekarang terjadi?"


"Aku memaksa George untuk bekerja lebih keras, dan aku memaksa orang itu untuk menjual sahamnya padaku, secara tidak langsung, aku mengeluarkannya dari perusahaan, aku harus mengeluarkan dana yang cukup banyak saat itu,"


" Ay, apapun itu akan aku lakukan untuk kamu, soal sikap aku yang membatasi kamu, semua itu aku lakukan agar keberadaan kamu di sana tidak terendus mereka, aku tidak mau, mereka mencelakai kamu,"


"Maafkan aku Ay, tapi sekarang kamu bisa lihat, aku kembali kesini, aku akan mengikuti kemanapun kamu pergi, aku tak peduli apapun, hanya kamu tempatku pulang, please ay, jangan pernah berfikir untuk membuang aku atau meninggalkan aku,"

__ADS_1


__ADS_2