Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
dua puluh tiga


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Ayudia masuk sif sore, saat sedang beristirahat dibelakang, salah satu rekannya ada yang memberitahunya jika ada lelaki yang mencarinya, gadis itu sempat bingung, seingatnya tidak ada janji dengan siapapun, namun ia tetap bergegas menemui lelaki yang dimaksud rekannya.


Lelaki itu menunggunya di bangku panjang parkiran cafe,


"Hai dek," sapa lelaki itu.


"Mas Samsul, kenapa nggak ngasih tau Ayu kalau mau kesini?" Tanya Ayudia sambil mencium tangan kakak sepupunya itu.


"Mas udah telpon kamu berkali-kali loh, tapi nggak diangkat-angkat," jawabnya.


"Maaf mas, tadi Ayu belum sempat buka handphone, baru banget Ayu istirahat, ada apa mas? Tumben jauh-jauh kesini," ucapnya heran.


Keduanya duduk berdampingan di bangku panjang itu, "semalam ibu bilang, kamu mau nikah dek? Kok kamu nggak ngasih tau mas sih?" Tanyanya kesal.


"Niatnya pas besok libur, Ayu mau ke tempat mas Samsul, mau cerita, cuman mas malah kesini, ya udah sekalian aja, tapi mendingan kita jangan ngobrol disini deh, nggak enak kalau ada yang denger, Ayu ijin sama atasan dulu ya!" Ucapnya.


Ayudia masuk ke dalam Cafe untuk mengambil tasnya dan meminta ijin kepada Satria untuk  istirahat diluar selama satu jam.


Gadis itu mengajak kakak sepupunya untuk makan di tempat yang agak jauh dari cafe, dengan menaiki motor lelaki berusia dua puluh delapan tahun itu.


Ayu memilih warung nasi Padang yang letaknya sekitar setengah kilo dari cafe, setelah memesan menu makanan dan minuman, mereka duduk di kursi yang disediakan untuk pengunjung.


Sambil makan, mereka mengobrol, "jadi kenapa tiba-tiba kamu memutuskan untuk menikah, padahal pas sunatan si kembar, kamu bilang ke mas, kamu mau ke luar negeri buat jadi TKW biar bisa bayarin sekolahnya adik-adik," ujar lelaki yang masih mengenakan seragam pabrik di balik jaketnya.


"Ayu nggak punya pilihan mas,"jawabnya.


"Maksudnya?"tanya Samsul bingung.


"Awalnya Ayu sama dia memang sepakat untuk bersama beberapa bulan yang lalu, namun karena alasan pekerjaaan, lelaki itu pergi dari sini, selama sebulan lebih dia nggak menghubungi Ayu sama sekali, Ayu nggak masalah, mas tau kan yang begitu bukan prioritas pertama Ayu?" Samsul mengangguk.


Ayu meminum sejenak, es teh manis yang dipesannya, "lalu setelah abis sunatan si kembar, uang Amplopnya, Ayu suruh Anin buat masukin ke tabungannya dia, tapi Anin kaget ternyata saldo tabungannya kok jadi nambah banyak, setelah Anin meminta petugas bank untuk mencetak rekening koran, dan ngasih tau ke Ayu, barulah aku tau bahwa uang sebesar lima juta berasal dari lelaki itu, aku marah mas, aku merasa dia nyogok adik-adik aku, Ayu nggak terima dan balikin duit itu melalui sahabatnya, dan Ayu juga memutuskan hubungan sama dia,"

__ADS_1


Ayudia menghela nafas, "dia nggak terima dan langsung datang kemari, namun Ayu dengan tegas tetap nggak mau balik sama dia, beberapa Minggu, Ayu udah tenang, walaupun dia nggak ngejar-ngejar Ayu, tapi ternyata dia ngelakuin hal-hal yang sebenarnya bikin Ayu risih, tapi karena orang-orang di sekeliling


Ayu senang, makanya Ayu diemin aja, sampai pas cafe mengadakan family gathering, salah satu sahabatnya bilang ke Ayu, kalau dia mau minum bayg*n karena patah hati Ayu cuekin, Ayu panik dong mas, dari situlah kami kembali berbaikan, dan beberapa hari kemudian dia ngajak Ayu nikah," gadis itu kembali meminum es tehnya.


"Ayu sempat mikir, kalau Ayu tolak jangan-jangan nanti dia mau bunuh diri lagi, terus kalau dia mati, Ayu bakal merasa bersalah, akhirnya Ayu terima aja lamarannya," jawabnya mengakhiri ceritanya.


Ayudia melanjutkan makannya, sedangkan Samsul sudah menyelesaikan makannya sedari tadi sambil mendengarkan adik sepupunya bercerita.


"Berarti rencana kamu buat jadi TKW nggak jadi dong?"tanya Samsul.


"Jadilah,"jawabnya sambil mengunyah.


Samsul mengernyitkan dahinya, "maksudnya?"tanyanya bingung.


"Ya ampun mas, kamu nggak kenal ya sama adikmu yang satu ini,"jawabnya Ambigu.


"Maksudnya gimana sih Ayu? Mas bingung,"


"Nikah ya nikah aja, toh cuman status, bagi Ayu yang penting Adik-adik bakal bisa sekolah sampai selesai dengan Ayu yang biayain, dia itu nggak mungkin disini terus, dia kerjanya jauh jadi Ayu pasti bakal sering ditinggal, nah pas ditinggal itu, Ayu bakal pergi dari dia," ujarnya mengungkapkan rencananya dengan sedikit berbisik.


"Ya pake kontrasepsi lah mas,"jawabnya santai.


"Ayu mending kamu batalin rencana nikah kamu, kalau pada akhirnya kamu bakal ninggalin dia, nanti kamu sakit begitu juga dia, kamu kan belum tau bagaimana calon suami kamu kan? Kalau misalnya dia bakal membatasi kamu gimana?"


"Ya bikin surat perjanjian mas, bahwa dia nggak akan membatasi Ayu,"ucapnya enteng.


"Ayu, jangan menganggap enteng laki-laki, kamu belum kenal sepenuhnya dia, jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari,"Samsul menasehati adik sepupunya itu.


"Jadi Ayu harus bagaimana? Kok Ayu jadi takut ya,"


"Batalin kalau memang niat kamu buat nikah sama dia karena rasa bersalah, kamu nggak benar-benar cinta sama dia kan?"

__ADS_1


"Kalau suka sih suka mas, ganteng orangnya, tapi untuk cinta, ya ikut alur aja,"


"Maksudnya gimana sih, mas bingung sama pola pikir kamu,"


"Mau se-cinta apapun Ayu ke dia, adik-adik adalah prioritas  yang utama buat Ayu,"


"Terus lanjutannya gimana?"tanya Samsul masih bingung.


"Ya ikut alur aja mas, nggak usah pusing-pusing, nikmatin aja," jawabnya santai.


Samsul menatap adik sepupunya penuh kasih sayang, "pokoknya apapun keputusan kamu, mas dukung, tapi ingat apapun yang terjadi nantinya, mas selalu ada buat adik mas yang cantik ini," ujarnya mengelus puncak kepala gadis itu.


Setelah menyelesaikan makanannya mereka keluar dari warung makan itu, sebelumnya Samsul yang membayar makanannya, hanya dengan kakak sepupunya ini, Ayu mau bermanja dan terkadang sengaja minta dibelikan jajanan.


"Mas masih ada sisa lima belas menit, makan Es krim dulu yuk, tapi mas yang bayar ya!" Ucapnya menunjuk minimarket yang tak jauh dari warung nasi itu.


Samsul tak hanya memberikan es krim, namun juga memberikan jajanan satu kantong besar untuk adik-adik sepupunya itu, tentu saja gadis itu merasa senang.


Mereka makan es krim dibangku depan minimarket.


Setelahnya, Ayudia diantar oleh Samsul hingga parkiran, sesampainya di sana, Ayudia mencium tangan kakak sepupunya, sedang Samsul mengusap kepala gadis itu, tak lupa memberikan kantong yang berisi jajanan tadi, Ayudia terlihat bahagia setelah bertemu dengan kakak sepupunya.


Gadis itu tersenyum senang, bahkan menyapa rekan-rekannya saat berpapasan dengannya menuju ruang ganti, dimana lokernya berada.


Alangkah kagetnya Ayudia ketika ia menutup pintu loker, sudah ada Benedict dihadapannya, "Mas Ben, bikin Ayu kaget aja, ngapain kamu kesini? Ini ruang ganti cewek, kalau ada yang lihat gimana?"ujarnya memegangi dadanya.


Benedict menatap calon istrinya tajam, "dari mana kamu? Tadi siapa? Kok mesra banget, terus tadi kantong apa? Kenapa kamu senyum-senyum terus?"Tanyanya bertubi-tubi.


"Kalau nanya itu satu-satu aku bingung jawab yang mana dulu,"


Jawabnya.

__ADS_1


Benedict mencoba meredam emosinya, tiba-tiba ia memeluk gadisnya erat, tentu saja perbuatannya membuat Ayu bingung, "mas lepas, nanti kalau ada yang lihat gimana?"ujarnya mencoba melepaskan pelukan laki-laki itu.


Benedict menghembuskan nafas kasar, ia melepaskan pelukannya, "aku tunggu kamu di kantor Rama sekarang,"ucapnya tegas tak mau dibantah.


__ADS_2