Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
dua puluh sembilan


__ADS_3

Benedict benar-benar harus belajar yang namanya pengendalian diri, ia menyadari betapa brutalnya dirinya memperlakukan wanitanya beberapa saat yang lalu.


Lagi dan lagi, bisikan maaf dari lelaki yang sama, Ayudia dengar dari telinganya, setelah tindakan kasar yang kembali dilakukan Benedict.


Namun ia memaklumi, teringat dulu saat SMA, teman-temannya mengajak berkumpul menonton film, entah film apa, ia hanya menuruti mereka, untuk pertama kalinya ia melihat dengan mata kepalanya sendiri tentang hubungan badan dua orang berbeda kelamin, yang menurutnya sangat brutal, seolah-olah lelaki yang ada di film itu hendak menghancurkan tubuh perempuan lawan mainnya.


Jadi dia mengerti kenapa Benedict memperlakukannya seperti itu.


Keduanya masih berusaha mengatur nafas agar kembali normal, peluh belum sepenuhnya kering, Benedict mencium kening gadisnya penuh kasih sayang, ia berbisik, mengucapkan terima kasih juga maaf untuk hal yang lelaki itu lakukan.


Di tengah hembusan nafas keduanya, terdengarlah suara dari perut Ayudia, Benedict tertawa, "nggak usah ketawa," ucap wanita itu malu.


"Maaf ay, lucu aja gitu bunyinya,"


Ayudia menjambak dan mengacak-acak rambut lelaki itu, "auw ....sakit ay," ujarnya mengaduh.


"Kan aku lapar juga gara-gara kamu, tapi sepertinya aku harus mandi lagi,"ucap wanita itu.


"Ya udah aku gendong ke bawah ya!" Ujar Benedict bangkit dan memakai bokser nya, ia menggendong gadisnya ala bridal style menuju kamar mandi.


Ayudia berendam air hangat didalam bathtub, sedangkan Benedict mandi dibawah guyuran shower, ia mempercepat mandinya karena lelaki itu harus membereskan kekacauan yang tadi ia buat.


Usai mandi, Lelaki itu bergegas menuju kamarnya, ada noda merah darah di sprei berwarna putih miliknya, ia bangga melihatnya.


Tak lupa ia mengambilkan baju yang ia sediakan khusus untuk calon istrinya, ada daster batik yang dihadiahkan Nando padanya beberapa Minggu lalu, sepulang sahabatnya dari Solo, "gue sengaja beliin buat jaga-jaga, Ayu suatu saat pasti pake ini," ujarnya.


Kini Benedict sadar benar apa yang dikatakan sahabatnya, wanitanya membutuhkan pakaian itu.


Ayudia terkejut saat Benedict memberikan daster batik yang masih menempel label di sana.


"Kamu beli daster ini kapan?" Tanya wanita itu sambil memakainya,


"Nando yang kasih, ternyata benar, kamu butuh baju seperti itu setelah kita melakukan itu? Apa masih sakit?"ucap Benedict terlihat khawatir.


"Sedikit lebih baik setelah berendam tadi, oh ya makan yuk, aku lapar," ujar wanita yang baru saja selesai memakai baju, ia berjalan tertatih menuju pintu kamar mandi,


Benedict mengernyit, "apa sakit banget Ay?"


"Udah nggak terlalu kok, cuman masih sedikit perih,"


"Maaf ya Ay, aku hilang kendali," ucap Benedict sambil menggendong wanitanya menuju stool.


"Kamu masak?"Tanya Benedict saat melihat ada panci di atas kompor.


"Kan tadi aku udah bilang mas,"jawabnya.


"Emang kamu masak apa?"tanyanya lagi.


"Soto Ayam,"


"Kamu kapan belanja? Kok aku nggak tau,"


"Kamu tadi tidur pules banget, jadi pas subuh tadi aku bangun, dari pada gabut, mendingan aku ke pasar sekalian jalan-jalan,".


Keduanya mulai menikmati makanan dalam diam, hanya suara alat makan yang beradu dan seruputan kuah lezat itu.


Usai menghabiskan makanannya Ayudia berjalan menuju sofa, ia bersandar di sana, sedangkan Benedict mencuci piring dan membereskan dapur.


"Kamu capek ya?"tanya Ayudia ketika Benedict memberikan segelas air dingin untuknya.


"Nggak, aku seneng banget malah, makasih ya! Kamu paket komplit buat aku,"

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Iya kamu buat aku berdebar, kamu enak dilihat, masakan kamu sesuai sama lidah aku dan satu lagi," ujarnya, terdiam sejenak, lalu tersenyum dan berbisik, "kamu bikin aku puas di ranjang,".


Ayudia mencubit pria disampingnya, "auw... Kok nyubit sih ay, sakit tau,"ucapnya manja.


Wanita itu memanyunkan bibirnya, "ngambek nih?" Tanya Benedict khawatir.


"Nggak mas, Ayu lagi mikir, kenapa aku bisa berbuat hal itu ya!" Ungkapnya.


"Kamu nyesel?"


"Nggak, udah lewat ngapain disesali,"jawab Ayudia enteng.


"Terus kenapa?"


"Ya harusnya kan menikah dulu baru begituan, ini malah haduh..."ujarnya memegangi kepalanya.


"Harusnya kemarin kita nikah Ay,"


"Tapi kan nggak jadi, tapi malah unboxing dulu,"


"Kan kamu yang batalin,"


"Iya juga sih,"ujarnya mengiyakan ucapan pria itu,


"Dua hari yang lalu Alex ngasih tau, soal rencana pernikahan kita, soalnya surat-surat kelengkapannya sudah siap, tinggal kita periksa  puskesmas, jadi gimana?"


"Gimana apanya?"


Benedict memutar bola matanya malas, "ya menikah sama aku ay,"


"Oh ya bener juga ya! Terus gimana?"


"Kok ribet ya mas, aku kan mesti kerja,"


"Ya kamu cuti nikah, Rama emang nggak bilang soal cuti nikah?"


"Aku kan nggak nanya,"ucapnya polos.


Benedict mengambil ponselnya untuk menghubungi Rama,


"Halo Ram," sapanya, ia menyalakan load speaker ponselnya.


"Kenapa Ben?"Tanya Rama diseberang sana.


"Gue mau tanya, cuti nikah di cafe berapa lama?"


"Seminggu kurang lebih, kalau mau nambah juga boleh, tumben Lo nanya-nanya,"


"Ram, bilang ke ibu, pesanan kateringnya jadi buat Sabtu depan dirumahnya Ayu ya!"


Terdengar ada benda jatuh di sana, "eh Sorry Ben, hp gue jatuh, yang kali ini bener kan?"


"Beneran,"


"Oke, gue bilang ibu, menunya apa?"


"Entar gue diskusi dulu sama Ayu, jadi Ayu udah mulai cuti kan?"


"Udah bisa mulai besok, hari ini Ayu libur kan?"

__ADS_1


"Ya udah makasih ya Ram,"


Benedict mengakhiri teleponnya.


"Kamu dengar tadi omongan Rama kan?"


Ayudia mengangguk, "mas aku pulang ya!"


"Kan kamu udah mulai cuti,"


"Aku kan mesti kasih tau bude sama bibi,"


"Gimana kalau nanti agak sore, kamu istirahat dulu sebentar, apalagi jalan kamu belum normal ay,"


"Emang aneh ya!"


"Aneh nggak, cuman beda aja,"


"Mas setelah menikah, aku tetap tinggal bareng adik-adik aku ya!"


Benedict mengernyit tak suka, "kan kita udah nikah, kenapa kita tinggal terpisah?"


"Nggak sepenuhnya terpisah sih, nggak mungkin kan adik aku tinggal disini, kalau kamu yang tinggal di rumah aku, juga nggak mungkin, rumah aku terlalu kecil buat kamu, nggak lama kok mas, sampai bulan Juli,"


"Kenapa sampai bulan Juli?"


"Si kembar masuk pesantren pertengahan Juli, Anin masuk kuliah bulan September, tapi katanya Anin mau tinggal di rumah bude sampai nanti pas mulai masuk kuliah Anin baru ngekos,"


"Oke,"ucapnya dengan berat hati, ia tau semakin ia mengekang Ayudia, semakin keras kepala wanita itu.


Ayudia tertidur di sofa setelah mengobrol dengan kekasihnya.


Sore harinya Benedict mengantarkan Ayudia menuju rumah Samsul, di sana untuk pertama kalinya ia mengenal laki-laki yang menjadi cinta kedua wanitanya, ada rasa cemburu yang tergambar jelas diwajahnya.


Benedict meminta ijin kepada bude untuk menikahi keponakannya, bude mendukung sepenuhnya, adik-adik Ayudia juga, namun ada sedikit perdebatan dengan Samsul, namun Benedict menggunakan kemampuan negosiasi yang membuat lelaki itu luluh pada akhirnya.


Rencananya akad akan dilakukan di hari Jum'at pagi di KUA, sedangkan untuk syukuran dilakukan Sabtu siang di rumah Ayudia.


Sempat juga terjadi ketegangan mengenai jumlah mahar, Ayudia hanya meminta mahar sedikit, namun Benedict bersikukuh memberikan mahar berupa satu set berlian serta uang tunai cukup besar.


Selepas Benedict berpamitan pulang, bude menarik tangan keponakannya menuju kamarnya, "kamu itu lucu nduk, nak Ben mau kasih kamu mahar banyak, kamu malah minta uang sedikit,"Ujar bude saat keduanya sedang mengobrol di kamar.


"Uangnya buat bayar uang pangkalnya si kembar bude,"


"Ia  Bude tau, tapi kamu juga mesti mikirin diri kamu sendiri,"


"Ini aku nikah juga karena mikirin diri sendiri bude,"


"Kamu itu kepala batu kalau dibilangin, pokoknya apapun yang nak Ben kasih, kamu jangan tolak, apalagi sampai mengembalikannya, bude marah kalau sampai kamu kayak gitu,"


"Tapi bude,"


"Sana keluar, malas bude ngomong sama kamu, panggil Anin suruh pijitin kepala bude, bude pusing mikirin kamu,"


Ayudia menuruti ucapan budenya, di ruang tamu ada Samsul yang sedang bermain PS bersama si kembar.


"Mas, bude marah sama aku,"keluhnya.


Sambil memainkan stik PS, samsul melirik adiknya sekilas, "kalau dibilangin orang tua, nurut Ayu,"


"Tapi Ayu nggak enak, takut membebani mas Ben,"

__ADS_1


Samsul memberikan stik ps nya pada Arya, ia mendekati Ayudia dan duduk disampingnya, "Ayu dengan sikap kamu tadi, seolah kamu meragukan kemampuan Ben sebagai seorang laki-laki, dan melukai harga dirinya, saran mas, kamu minta maaf dan apapun yang Ben beri buat kamu, terima dengan senang hati,"ujarnya menasehati.


"Gitu ya mas,".


__ADS_2