Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
tiga puluh dua


__ADS_3

Benedict baru tiba di bandara satu jam sebelum akad nikah berlangsung, beruntung tadi dia sempat mengganti pakaiannya, dengan satu set jas untuk acara akad nikahnya.


Tak ada waktu untuk terlebih dahulu mengunjungi rumah calon istrinya, sepanjang perjalanan menuju KUA, ia menghubungi Samsul, meminta maaf atas keterlambatannya, ia juga meminta tolong agar rombongan keluarga Ayudia terlebih dahulu datang ke KUA.


"Sabar Ben, jangan panik, entar juga sampai,"ucap Alex yang menjemputnya di bandara menggunakan mobil sportnya.


"Gimana nggak panik, waktunya mepet banget Lex, gue takut Ayu kecewa,"


"Ayu nggak akan kayak gitu,"


"Masalahnya dia nggak tau kalau selama dipingit, gue malah kerja, pusing gue,"keluhnya.


"Kenapa nggak cerita sih?" Tanya Alex dibalik kemudinya.


"Takut dia batalin lagi entar,"jawabnya.


"Negatif thinking  Lo!"


Di tempat lain rombongan keluarga Ayudia bertolak menuju KUA, tadi pagi ada sekelompok MUA suruhan ibu Rama mendatanginya, ia didandani dan dipakaikan kebaya putih buatan desainer ternama, namun sepertinya Ayudia tidak sadar apa yang dikenakannya bernilai fantastis.


Ayudia gelisah menunggu kedatangan calon suaminya, berbagai prasangka buruk memenuhi pikirannya.


Bude dan bibi mencoba menenangkannya.


Sepuluh menit sebelum akad nikah, Benedict tak terlihat batang hidungnya.


Rama, Nando dan Oscar mencoba menghubungi sahabatnya, namun ponselnya tidak aktif.


Pihak KUA menanyakan keberadaan calon pengantin laki-laki, kurang lima menit dari waktu yang ditentukan.


Sebuah mobil sport terlihat memasuki halaman KUA, dari sana keluar dua pria tampan.


Benedict berjalan dengan cepat, menuju ruangan berlangsungnya akad nikah setelah menanyakan kepada petugas, "Ben pake peci Lo," ucap Alex mengingatkan, ia memberikan peci hitam untuk sahabatnya, "Ben dasi Lo mana?"


"Gue lupa, kayaknya ketinggalan di mobil Lo,"Benedict menepuk jidatnya.


"Nggak ada waktu, Lo pake dasi gue aja,"ujar Alex melepaskan dasi yang ia kenakan, dan membantu Ben memasangnya, beruntung dasinya cocok.

__ADS_1


Semakin mendekati ruangan, rasa gugup tiba-tiba menyerangnya, "Lex kok gue gugup banget ya!"ujarnya.


"Tunggu Ben, berhenti dulu, tarik nafas, hembuskan, sampai relaks  baru kita kesana,"tutur Alex menenangkan sahabatnya.


Benedict mengikuti saran sahabatnya, dirasa tenang, ia mulai berjalan memasuki ruang akad di KUA itu.


Terlihat calon istrinya sangat cantik dengan kebaya dan make up khas pengantin, ia sempat tertegun sejenak, namun tepukan di bahunya menyadarkannya.


"Buruan ditungguin sama pak penghulu,"ucap Oscar menghampiri sahabatnya yang hanya terdiam mematung di pintu masuk ruangan itu.


Benedict duduk berdampingan dengan Ayudia, bude memakaikan selendang putih berenda pada kepala calon mempelai, di seberang meja Ada penghulu, sebelah kiri Ada Rama yang menjadi saksi dari pihak Benedict, di sebelah kanan ada Samsul saksi dari pihak Ayudia.


Setelah pak penghulu menanyakan identitas kedua mempelai untuk dicocokkan dengan data yang ada, penghulu bertidak sebagai wali hakim untuk Ayudia, dikarenakan tidak ada wali dari pihak mempelai wanita.


Penghulu sempat meledek Benedict, dikarenakan tangan lelaki itu dingin dan berkeringat, tentu saja yang hadir di sana tertawa.


Tak berlama-lama, akad nikah berlangsung, dengan satu tarikan nafas Benedict mengucapkan kalimat akad dengan lantang, setelahnya pak penghulu menanyakan kepada saksi apakah akad tadi sah atau tidak, dengan kompak kedua saksi dan seluruh yang hadir mengucapkan kata "sah" dengan lantang.


Setelah mengucapkan doa untuk pengantin, penghulu mempersilahkan mempelai perempuan untuk mencium tangan mempelai laki-laki, sedangkan mempelai laki-laki mencium kening mempelai perempuan.


Seluruh kegiatan tadi di abadikan oleh kamera milik Nando, juga ponsel milik sahabatnya.


Ada tangis haru di sana, para adik-adik Ayudia memeluk kakaknya erat tak lupa memberikan selamat, diikuti dengan orang-orang yang hadir di sana.


Setelah urusan di KUA selesai, rombongan kembali ke kediaman Ayudia, mereka makan ala kadarnya, mereka  membubarkan diri sebelum waktu shalat Jum'at, karena ada hari esok yang akan lebih sibuk dibandingkan hari ini.


Tidak ada istilah malam pertama untuk kedua mempelai, malamnya Ayudia dan Benedict tidur di ruang tamu beralaskan karpet bulu, dan bantal yang baru Ayu beli kemarin, "maaf ya mas, tidurnya seadanya dulu," ucapnya tak enak.


"Aku nggak peduli ay, yang penting aku bisa sama kamu, udah yuk tidur, kamu pasti lelah kan?" Ujarnya memenangkan.


Sejujurnya Benedict juga kelelahan, sebenarnya sedari tadi kepalanya sangat pusing, mungkin akibat menempuh perjalanan cukup jauh.


Keesokan harinya, dari subuh rumah Ayudia sudah sibuk, Benedict berpindah tidur di kamar si kembar dilantai atas.


Pesta pernikahan mereka diadakan dari pukul sebelas hingga pukul dua siang, banyak tamu yang hadir memberikan ucapan selamat, seluruh hidangan di sediakan oleh ibu Rama.


Para sahabat Benedict plus Satria hadir beserta sang istri dan kedua anak  mereka.

__ADS_1


Mempelai mengenakan pakaian adat Jawa, Benedict semakin tampan dan Ayudia semakin cantik dengan dandanan itu.


Dalam pesta itu, undangan tidak diperkenankan memberikan amplop, pengantin hanya menerima hadiah dalam bentuk kado, sedangkan untuk sovenir pernikahan ada logam mulia seberat 0,5gram, diberikan untuk para tetangga yang hadir, lagi-lagi ibu Rama, dibalik semua itu, tentu saja atas permintaan Benedict.


Hal itu membuat heboh perkampungan itu, para tetangga ikut bergembira menyambutnya.


Ada sebagian membicarakan keberuntungan seorang anak Yatim piatu yang mendapatkan suami kaya raya lagi tampan, ketampanan suami Ayudia mendapatkan perhatian dari para tetangganya terutama wanita-wanita muda, belum lagi para sahabat mempelai pria yang juga tampan.


Malam harinya, lagi-lagi pengantin baru itu tidur di karpet bulu di ruang tamu.


Esok paginya Benedict mengajak Ayudia dan ketiga adiknya mengunjungi apartemennya, tentu saja hal itu disambut dengan suka cita oleh mereka.


Rencananya mereka akan berenang di apartemen, Ada kolam renang besar khusus untuk penghuni unit apartemen.


Benedict juga membawa mereka makan di restauran yang masih dalam area apartemen.


Ketiga adiknya tertidur di karpet apartemen lelaki itu.


Sore harinya Benedict mengantarkan ketiga adik iparnya kembali pulang ke rumah, di sana ada bude yang sudah menunggu.


"Biar adik-adik kamu, bude yang urus, kamu nikmati masa pengantin baru kamu," ucap bude kemarin saat acara pesta telah selesai.


Ayudia tak berani membantah ucapan budenya.


Saat Benedict mengantarkan ketiga adik iparnya, ia memberikan uang untuk jajan ketiganya.


Lelaki itu berpamitan setelah mengobrol sejenak dengan bude.


Benedict baru sampai di apartemen sekitar jam sembilan malam, istrinya tengah tertidur di sofa, ia tau, istrinya kelelahan dengan aktifitas padatnya bersama ketiga adiknya.


Benedict tersenyum bahagia, akhirnya gadis yang ia cintai menjadi miliknya.


Ia mengangkat tubuh kurus milik istrinya menuju lantai atas, tak lupa menyelimuti setelah membaringkannya di ranjang.


Ia mengecup dahi istrinya.


Lelaki itu turun lagi ke bawah untuk mandi, ia butuh badan yang segar, agar percaya diri memeluk istrinya.

__ADS_1


__ADS_2