Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
lima puluh dua


__ADS_3

Bertahun-tahun Ayudia sibuk menjalani hidup, mencari nafkah untuk kelangsungan hidup serta pendidikan adik-adiknya, tiada hari tanpa kesibukan.


Dulu saat libur berkerja, jika tak ada pekerjaan sampingan, maka ia akan menyibukkan dirinya untuk, bersih-bersih rumah orang tuanya, atau membantu bibinya berjualan nasi uduk khas Betawi.


Namun setelah sekian tahun hidup dalam padatnya kesibukan sebagai tulang punggung keluarga, untuk pertama kalinya, ia benar-benar menjadi pengangguran, yang pekerjaan hanya rebahan, tidur, makan, main ponsel, nonton tv, baru seminggu ia melakoni harinya di penthouse milik suaminya, ia sudah sangat bosan.


Walau fasilitas di penthouse ini cukup lengkap, namun Ayudia yang biasanya selalu keluar rumah untuk beraktivitas, lama kelamaan jadi bosan juga.


Suaminya terkadang bekerja dari rumah, Ayudia cukup tau diri, ia tak mungkin mengganggu lelaki itu, namun sudah dua hari ini, suaminya selalu berangkat bekerja agak siang dan pulang lewat jam makan malam.


Ingin memainkan media sosial, suaminya melarang, setidaknya ia bisa melihat aktifitas teman-temannya untuk mengurangi kebosanannya


Tutor yang di janjikan suaminya baru datang pekan depan, itupun hanya satu sampai dua jam.


Ingin bersih-bersih penthouse, suaminya melarangnya, dengan alasan dirinya sedang hamil.


Rasanya badan Ayudia menjadi pegal-pegal karena tak banyak bergerak, ia sungguh bosan.


"Mas, aku boleh jalan-jalan ke bawah nggak," ucap Ayudia sewaktu ia sarapan bersama suaminya esok harinya.


"Apa ada yang kamu butuhkan? Biar aku suruh asisten buat sediakan,"


"Aku pengen jalan-jalan aja sambil lihat-lihat pemandangan kota, masa udah seminggu aku belum kemana-mana,"ujarnya beralasan.


Benedict yang sedang mengunyah croissant, menghentikan kunyahannya, ia menatap istrinya, "kalau mau lihat pemandangan kota, dari sini juga kelihatan Ay, kalau mau jalan-jalan, tunggu aku senggang ya, aku lagi sibuk banget, kan kemarin-kemarin aku di Indo kerjaan aku udah numpuk banget, aku juga lagi ngerjain proyek baru, jadi nanti ya,"


"Kalau nggak aku kerja ditempat kamu deh, jadi OG atau tukang bersih-bersih,"


"Ay, emang kamu lagi butuh uang? Berapapun yang kamu minta, pasti aku kasih,"


Ayudia menghela nafas, sepertinya benar kata ibu mertuanya, suaminya itu kepala batu, "aku udah selesai sarapan, aku mau ke kamar,"ucapnya bangkit, meninggalkan suaminya yang sedang sarapan.


Benedict yang melihat kepergian istrinya, hanya menghela nafas, ponselnya berbunyi, ada panggilan masuk dari asistennya.


Sejak perdebatan itu, Ayudia jadi lebih pendiam lebih tepatnya malas berdebat dengan suaminya, ia hanya berbicara seperlunya saja.


Beberapa hari kemudian, tutor yang dijanjikan Benedict datang, seorang wanita paruh baya, berwajah bule namun fasih berbahasa Indonesia, namanya Maria.


Wanita itu mengaku, dulunya dia adalah tutor Benedict sewaktu masih kecil, sangat menyenangkan diajari oleh Maria.


Kehadiran Maria membuat Ayudia sedikit terhibur, wanita paruh baya itu juga membawakan makanan khas Indonesia yang dibelinya disalah satu restoran tak jauh dari tempat tinggalnya.

__ADS_1


Bukan hanya diajari bahasa Inggris, Ayudia juga diajari tentang tata Krama pergaulan kaum elit kota itu.


Dari Maria juga, Ayudia jadi tau cerita masa kecil Benedict yang mempunyai sifat keras kepala dan berkemauan kuat, sedari kecil lelaki itu selalu menjaga dengan hati-hati sesuatu yang menjadi miliknya.


Dulu saat Tuan Wright masih hidup, Benedict yang saat itu masih menjadi cucu satu-satunya, benar-benar sangat disayangi oleh kakeknya itu, namun kakeknya meninggal bersamaan dengan Daddy-nya dalam kecelakaan lalu lintas lebih dari dua puluh tahun yang lalu.


Sebulan sudah Ayudia tinggal di penthouse milik suaminya, tidak pernah sekalipun ia keluar dari sana, Benedict sibuk bekerja, bahkan saat weekend pun lelaki itu keluar kota atau keluar negeri  untuk mengurusi bisnisnya.


Untuk pemeriksaan kandungan, ada dokter Natasha yang rutin memeriksanya seminggu sekali, salah satu sahabat suaminya itu sampai pindah ke sini atas permintaan Benedict, tentunya dokter itu juga bekerja di rumah sakit milik keluarga Wright.


Pernah beberapa kali Ayudia meminta diajak keluar kepada dokter Natasha, namun dokter itu menolaknya.


Beberapa hari ini Maria tidak mengunjungi penthouse, wanita paruh baya itu sedang menjaga cucunya yang sedang dirawat di rumah sakit.


Hari-hari Ayudia sepi lagi, bosan sekali.


Malam itu, wanita yang hamil dua bulan itu, terbangun, perutnya tiba-tiba lapar, padahal tadi sebelum tidur, ia sudah makan malam dengan nasi goreng seafood yang dibawakan oleh Natasha.


Ayudia berjalan menuju dapur, sepertinya ia akan memakan buah-buahan saja untuk mengganjal perutnya.


Namun langkahnya terhenti saat mendengar pembicaraan suaminya di telepon, ia tau ini tak sopan,


Benedict berbicara dengan bahasa Inggris, terdengar lembut dan mesra.


"..."


"Apapun untuk kamu,"


"...."


"Love you too,"


Ayudia menutup mulutnya tak percaya, ia tak menyangka suaminya menduakannya, tak mau ketahuan, wanita hamil itu pergi dari sana dengan langkah pelan.


Tak lama Ayudia masuk, Benedict memasuki kamar, ia merebahkan tubuhnya disamping istrinya, ia memeluk dan mencium istrinya yang tidur dengan posisi membelakangi pintu masuk, tak lupa lelaki itu mengelus perut Ayudia lembut, ia juga membisikan kata-kata cinta untuk istrinya.


Ayudia yang pura-pura tidur, menjadi mual setelah mendengar kata-kata cinta itu, padahal hampir setiap malam lelaki itu, selalu membisikkan kata-kata yang sama.


Wanita hamil itu, benar-benar tak bisa tidur, pikirannya melayang kemana-mana.


Waktu sarapan di pagi hari, seperti biasa keduanya sarapan bersama, tak banyak pembicaraan yang terjadi Antara keduanya.

__ADS_1


Karena sudah tak tahan, Ayudia akhirnya angkat bicara, "mas, nanti malam kamu pulang jam berapa?"tanyanya.


Benedict terdiam sejenak, "belum tau Ay, tergantung kerjaan aku,"


"Bisakah nanti, kita  makan malam bersama?"Tanya Ayudia.


"Aku usahakan ya,"jawab Benedict lembut.


Keduanya menyelesaikan sarapannya.


"Mas, dimana paspor aku?"tanya Ayudia saat suaminya hendak bangkit meninggalkan meja makan.


"Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan paspor kamu?"tanya Benedict balik.


"Apa aku tidak boleh bertanya? Bukankah itu milik aku? Kenapa malah kamu yang menyimpannya?"


Benedict bangkit berjalan menuju istrinya yang duduk diseberang meja, ia membungkuk dan mencium kening Ayudia, "karena kamu istri aku, jadi lebih baik aku yang  menyimpannya,"


Ayudia berdiri meninggalkan suaminya, namun belum sampai pintu kamar, wanita hamil itu berbalik, "kembalikan paspor dan dompet aku, itu punya aku, aku yang berhak menyimpannya,  kamu nggak berhak untuk barang privasi aku,"teriaknya.


Benedict yang diteriaki oleh istrinya, langsung menghampirinya, ia menyentuh kedua bahu istrinya, ia menunduk dan menatap dalam mata istrinya, "kamu kenapa Ay, kenapa kamu sepertinya marah, hanya karena paspor,"ucapnya lembut.


Ayudia menepis kedua tangan suaminya, bahkan ia mendorong nya, "hanya kamu bilang? Itu barang pribadi aku, kamu nggak berhak untuk itu,"protesnya.


Benedict menghela nafas, "Apa yang akan kamu lakukan setelah aku kembalikan paspor kamu? Apa kamu mau lari dari aku?"tanyanya dengan nada mulai naik.


"Kalau iya, memang kenapa? Itu hak aku, kamu aja bisa bebas keluar dari sini Bahkan kamu bisa berada diluar seharian, sedangkan aku? Aku hanya diam di sini, bahkan selama lebih dari sebulan disini, aku hanya berada di penthouse kamu, setiap aku meminta diajak keluar, kamu beralasan kalau kamu sibuk, berangkat pagi pulang malam,"


Ungkap Ayudia panjang lebar.


"Aku kerja Ay, aku lagi sibuk banget,"


"Oke kalau memang kamu kerja, apa benar-benar sampai malam kamu bekerja? Nggak menemui kekasih kamu diluar? Janjian makan malam misalnya, atau kalian malah tidur bersama?"


"Kamu mencurigai aku Ay?"


"Iya aku curiga sama kamu, kenapa? Apa kamu mau menyangkal? Aku dengar dengan telinga aku sendiri, kamu ngomong mesra di telpon, apa aku nggak boleh curiga?"


Ayudia menarik nafas, "kalau memang kamu punya kekasih disini, setidaknya jangan kamu nikahi aku, kamu bisa menikah dengan dia, apa lebih baik sekarang kita bercerai saja? Supaya kamu bisa bebas bersama kekasih kamu,"teriaknya tepat dihadapan suaminya.


Benedict mematung mendengar ucapan istrinya,

__ADS_1


"Kamu cuman bisa diam kan? Sekarang kembalikan barang-barang aku, paspor, dompet, handphone lama aku, aku mau pulang, aku urus perceraian kita di negara aku,"


__ADS_2