Ayudia (Penakluk Hati CEO)

Ayudia (Penakluk Hati CEO)
seratus tujuh


__ADS_3

Begitu sampai rumah kayu, Ayudia bergegas memasuki kamar mandi, ia sangat risih dari kemarin tidak mandi.


"Kamu kok nggak ngomong kalau mau mandi sih, kan kita bisa barengan,"protes Benedict melihat wanita itu baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya.


"Aku tau mas, kita nggak cuman mandi, aku malas, aku capek," gerutunya sambil berlalu menaiki tangga menuju lantai atas.


Benedict tertawa keras mendengar gerutuan wanita itu, setelahnya ia memasuki kamar mandi.


Ayudia sedang menggosok rambutnya agar cepat kering, ketika Benedict datang dengan handuk melilit memperlihatkan setengah tubuhnya.


"Sini aku bantu,"ujar lelaki itu mengambil alih handuk ditangan wanita itu.


"Sayang apa kamu mau, jika aku ajak berkeliling?"tanya Benedict.


"Sejak kapan kamu bolehin aku pergi keluar melihat dunia luar? Bukankah mau kamu aku selalu terkurung di dalam rumah kamu?"


"Apa kamu menolak tawaran aku?"


"Bukan menolak, heran aja, apa aku harusĀ  melakukan sesuatu nantinya, sebagai bayaran karena kamu mengajak aku berkeliling,"


"Kenapa kamu ngomong begitu?"


"Bukankah kamu sendiri yang bilang, jika kamu seorang pebisnis, yang selalu mencari keuntungan dari hal yang kamu lakukan?"


Benedict tertawa, "kalau kamu mau, tentu saja kamu bisa memberikan aku keuntungan, bukankah kamu tau bayaran apa yang aku harapkan dari kamu?"


"Sudah aku duga, kamu nggak murni mencintai aku, kamu hanya menginginkan tubuh aku,"


"Terserah penilaian kamu sayang, bukankah kamu tau, aku tidak peduli penilaian juga penolakan kamu, yang aku pedulikan, kamu selalu ada disamping aku tapi sayangnya sekarang berbeda, kamu sudah mencintai aku,"


"Nggak usah kepedean kamu,"


"Ternyata masih mau menyangkal ya, apa perlu aku beri waktu lagi buat kamu berfikir tentang perasaan kamu ke aku?"


"Untuk apa?"


"Kamu masih belum tau, jika sekarang kamu juga mencintai aku? Cinta aku berbalas sayang, tak lagi bertepuk sebelah tangan,"


Mendadak wajah Ayudia memerah, namun ia menyembunyikannya dengan kedua tangannya,


Melihat hal itu Benedict menyunggingkan senyumannya, usahanya selama ini tidak sia-sia, ia berhasil memiliki hati wanita yang ia cintai,


"Apa ucapan aku benar sayang? Kamu mencintai aku bukan? Kenapa wajah kamu memerah?"


"Nggak usah meledek, cepat pakai baju kamu, aku tunggu dibawah,"ujarnya sambil berlalu.


"Tunggu sayang, ada yang kamu lupakan,"ucap Benedict menahan pergelangan tangan wanita itu.


Ayudia menatap lelaki itu bingung, dan Benedict langsung menarik pinggang juga tengkuk wanita itu, ia mencium serta ******* bibir merekah itu,


Lelaki itu bahkan mengeram disela-sela ciuman yang mulai memanas itu.


Merasakan tanda bahaya, Ayudia mendorong dada lelaki itu, dan segera lari turun ke bawah.

__ADS_1


"Sayang tanggung jawab, dia bangun,"teriaknya dari lantai atas.


Ayudia memakai kemeja kebesaran milik lelaki itu, tak ketinggalan celana bokser yang ia kenakan sebagai bawahan,


Wanita itu menunggu Benedict di dekat yacht yang terparkir, sekian menit berlalu lelaki itu terlihat menghampiri Ayudia, masih bertelanjang dada dengan celana pendek setengah pahanya.


Ayudia mengamati penampilan lelaki itu, "mas, kamu mau pergi dengan penampilan kayak gitu? Emang baju kamu kotor semua?"tanyanya heran.


Benedict melihat dirinya sendiri, "kenapa emang? Kamu pengen aku peluk karena lihat tubuh seksi aku?"tanyanya balik.


"Mas kalau masalah tipe cowok yang aku sukai, harusnya kamu tau seperti apa kan?"ungkap Ayudia mengingatkan lelaki soal Pradikta.


Benedict menaikan sebelah alisnya, "maksud kamu Pradikta?"


"Kamu yang ngomong loh,"


Lelaki itu berkacak pinggang, "tapi pada akhirnya kamu memilih aku dan mencintai aku bukan?"


"Karep mu cah?"


"Kamu ngomong apa sih?"


"Masa ibunya orang Jawa, kamu nggak ngerti,"


"Tapi ibu nggak pernah ngomong pakai bahasa Jawa sama aku,"


"Lupain, ayo berangkat, keburu siang,"


Ayudia memasuki yacht mengikuti Benedict menuju ruang kemudi kapal yang menyatu dengan dining room, juga ada dapur dan ruang meeting,


"Memang selama beberapa hari kita disini ada orang selain kita? Tentu aku yang akan menjadi nakhoda kamu,"jawab Benedict sembari mempersiapkan diri untuk memulai mengemudikan yacht,


"Emang kamu bisa mas?"tanya Ayudia tak yakin.


Benedict yang memulai menyalakan mesin mendadak menoleh pada wanita yang berdiri tak jauh darinya, "kamu meragukan aku Ayudia?"


"Bukannya ragu, cuman bingung aja,"jawabnya gugup karena lelaki itu mulai berjalan mendekatinya.


Benedict mengelus kepala juga rahang wanita dihadapannya, lalu mengecup bibir merah muda itu, "mulai sekarang kamu akan tau seperti apa suami kamu sebenarnya, jadi persiapkan diri kamu, dan kali ini tak akan ada kesempatan kamu untuk lari,"


Usai mengatakan hal itu Benedict berbalik menuju kemudi lalu mulai mengemudikan yacht itu.


Ayudia dibuat takjub, ia melihat bagaimana cekatannya lelaki itu, ia berjalan mendekatinya dan duduk tak jauh dari kemudi.


"Jadi selain mengurusi perusahaan, jadi arsitek, mengemudikan yacht, apa ada lagi kemampuan kamu yang tidak aku ketahui?"tanya Ayudia penasaran.


Benedict melirik wanita itu sekilas, "ya kamu lihat aja nanti, kan aku bilang tadi, persiapkan diri kamu,"jawabnya.


Hening sejenak, hanya terdengar suara mesin yang halus, juga angin yang berhembus,


"Dulu sebelum aku ketemu kamu, aku sedikitpun tidak pernah berfikir akan menjalani hidup seperti ini, yang aku pikirkan hanya gimana caranya aku bertahan hidup untuk mencari uang demi makan dan sekolah adik-adik aku, kayak nggak percaya aja, aku malah nikah sama orang seperti kamu yang hidupnya sangat berbeda sama aku,"


Ayudia menghela nafas, "jujur aku terkejut saat tau sebenarnya kamu seperti apa, ingat sepulang kita dari Bali, aku sampai kabur sama ibu, aku kayak nggak percaya, ternyata kamu punya private jet juga bisa mengosongkan resort hanya karena tak ingin diganggu,"

__ADS_1


"Aku juga merasakan tinggal di Penthouse dan rumah mewah yang kolam renangnya dilantai dua, bisa pergi ke Amerika dengan mudahnya, juga mansion yang buat aku sampai nyasar, rumah ditepi hutan, yang hutannya punya kamu dan sekarang aku bisa lihat dengan mata kepala aku sendiri kamu bisa mengemudi yacht dengan mudahnya, setelah ini apa lagi mas?"


"Tunggu saja sayang, akan banyak kejutan menunggu kamu didepan, persiapkan diri kamu,"


Ayudia menghela nafas, "Entah harus bersyukur atau kufur, ini berlebihan banget buat aku yang dulu saking menghematnya, aku hanya makan roti seharga dua ribu rupiah buat ganjel perut aku yang kelaparan,"


"Ya kamu syukuri saja yang kamu terima sekarang, toh ini hasil kerja keras suami kamu, jadi sekarang kamu cukup nikmati saja, pergunakan kekayaan suami kamu dengan baik, hargai kerja keras aku, dan selalu ada di samping aku apapun keadaannya,"pinta lelaki itu.


"Kayaknya nggak bisa deh mas, kalau aku harus jadi nyonya sosialita, yang kerjaannya belanja barang-barang mewah, liburan mewah,"


"Lalu apa mau kamu?"


"Aku cukup jadi ibu rumah tangga yang baik, mengurus anak-anak dan suami dengan baik, menyiapkan bekal buat kalian di pagi hari, menyelesaikan pekerjaan rumah saat kalian diluar rumah, dan menunggu kalian pulang setelah menjalani hari diluar, malam hari aku menyiapkan makan malam, membacakan buku sebelum anak-anak tidur, dan yang terakhir, memijat kaki kamu, karena dengan kaki kamu itu kamu mencari nafkah untuk kami,"


"Simpel sekali sayang, tapi sepertinya hanya hal terakhir yang akan kamu lakukan kedepannya,"


"Maksud kamu?"


"Menyiapkan bekal sudah ada maid, bolehlah kamu menyiapkan sekali-kali, lalu mengurus rumah juga maid yang akan mengerjakannya, nggak mungkinkan kamu membersihkan mansion sendirian, untuk makan malam, ada maid atau chef yang akan memasak untuk keluarga kecil aku, membacakan buku tentu saja itu harus dilakukan, dan yang terakhir kamu bisa memijit aku lalu menghangatkan ranjang kita,"ucapnya diakhiri dengan tawa.


"Lalu selama kamu dan anak-anak diluar, aku ngapain?"


"Tentu saja kamu selalu sama aku,"


"Maksudnya?"


"Kamu temani aku kemanapun aku pergi,"


"Masa kerja ditemani sih, aneh kamu,"


"Sayang kalau saat aku kerja aku menginginkannya bagaimana?"


Tau apa maksud yang dibicarakan lelaki itu, Ayudia menghela nafas, "emang di otak kamu kalau tentang aku, isinya begituan doang mas, nggak ada yang lain apa? Dasar mesum,"


"Iya, bahkan aku menginginkannya sekarang, lihat puncak dada kamu menonjol dibalik baju aku yang kamu pakai,"


Ayudia melihat dirinya sendiri, ia langsung menutupinya dengan kedua tangannya, "kan nggak mungkin kamu menyimpan Bra di lemari kamu, makanya beberapa hari ini, aku nggak pernah pakai, terus bra yang waktu aku pertama masuk sini, kamu simpan dimana?"


"Tentu saja aku sembunyikan, biar gampang saat kita melakukannya,"


"Dasar otak mesum dikasih hati minta ************,"ucap wanita itu kesal.


"Hanya kalau dekat kamu, pikiran ku kesana sayang, abis kamu buat kau jadi candu sih,"


"Aku nggak melakukan apapun kok,"ujarnya gugup saat lelaki itu menghampirinya setelah menyalakan mode auto pilot,


"Bagaimana kalau kita melakukannya disini, pasti sensasinya berbeda sayang,"


"Tapi kalau entar nabrak bagaimana?"


"Aku bisa melakukan dua hal dalam satu waktu, mau mencoba sayang,"


Ayudia menjadi gugup, lelaki itu benar-benar gila, bisa-bisanya memikirkan hal itu disaat mengemudi yacht, namun dirinya tak kuasa menolak.

__ADS_1


Kedua melakukannya di kursi kemudi, juga di berbagai tempat yang tak jauh dari kemudi, hingga lenguhan panjang keduanya, menandakan mereka mencapai kenikmatan secara bersamaan.


__ADS_2